Negara Islam Dahulu dan Kerajaan Arab Kini (1)

Oleh Hasan Aspahani

PADA tahun 536 Masehi, 35 tahun sebelum Muhammad bin Abdullah lahir di Mekkah, dunia mengalami apa yang disebut arkeolog Michael McCormick sebagai periode terburuk dalam dalam kehidupan manusia.

Apa yang terjadi? Kabut pekat menutupi langit Eropa, Timur Tengah, dan sebagian Asia. Dunia gelap. Seakan tak ada siang. Malam berlangsung 18 bulan lamanya!

Maka suhu pada musim panas pun anjlok ke 2,5 Celcius. Itulah suhu bumi terdingin yang pernah melanda bumi. Akibatnya, di Cina salju turun di musim panas. Panen gagal di mana-mana. Dan kelaparan melanda dunia.

Pada tahun-tahun berikutnya wabah pes melanda. Membunuh hampir setengah penduduk kerajaan Romawi bagian timur dan mempercepat keruntuhan emporium itu.

Situs berita BBC yang mengutip tulisan McCormick dari jurnal Science yang menjelaskan kenapa “Masa Kegelapan” itu terjadi. Berdasarkan penelitian atas temuan es dari era musim semi tahun 536 itu ditemukan partikel kaca vulkanik.

McCormick menyimpulkan, itulah jawabannya: ada letusan vulkanik dahsyat di Islandia, dan mungkin, menyusul ledakan lain di Amerika Utara. Dua ledakan itu menyemburkan asap yang menutup belahan utara bumi.

Asap dan debu itulah yang terbawa angin hingga ke Asia. Lalu dua letusan besar lain menyusul pada tahun 540 dan 547. Ekonomi Eropa lumpuh dan buntu, hingga 640, seabad kemudian.

Nabi Muhammad lahir di ujung masa kegelapan itu. Di tengah kebuntuan perkembangan ekonomi di benua Eropa. Beliau lahir 571 tahun setelah Nabi Isa, 1.610 tahun setelah Nabi Daud, 1.978 tahun setelah nabi Musa, dan 2.866 tahun setelah nabi Ibrahim.

Dengan jarak antarkenabian dari Ibrahim hingga Muhammad yang merentang nyaris tiga milenial itu, maka bisa kita maklumi ada beragam agama yang dipeluk bangsa Arab sebelum Islam datang. Ajaran-ajaran nabi terdahulu itu tidak berkembang, dilupakan, ditinggalkan, atau diingkari.

Maka sebagian besar orang Arab sebelum Islam adalah penyembah berhala. Ada pemeluk Kristen di daerah Hirah, Ghassan, serta Najran; pemeluk Yahudi di Taima, Wadil-Qura, Fadak, Khaibar, dan Yatsrib; dan pemeluk agama Zoroaster alias Majusi di bagian timur jazirah.

Sementara sebagian kabilah lain ada yang menyembah benda, fenomena alam, binatang, bahkan percaya pada jin. Hanya sekelompok kecil yang menjalankan ajaran monoteisme Ibrahim.

Di tengah negeri dan masyarakat Arab – salah satu dari rumpun bangsa Semit yang telah hidup menetap dan sebagian hidup nomaden – yang seperti itulah Muhammad diutus. Arab yang panas dan kering. Belum ada negara. Belum terbentuk pemerintahan. Bangsa Arab terpecah dalam kabilah-kabilah yang bertahan dari permusuhan dan peperangan yang berlangsung lama dengan ikatan kesukuan yang sangat kuat.

Sebagaimana bangsa lain pada masa itu, orang Arab hidup dengan berdagang hingga ke negeri Syam, Yaman, Irak, dan Persia. Sebagian mengembangkan ternak, atau bercocok tanam. Muhammad muda yang yatim-piatu dibesarkan oleh keluarga peternak. Kelak di usia dewasanya, beliau juga menjadi pedagang ulung.

Ketika Rasulullah wafat pada tahun 632 Masehi, ia telah menyatukan seluruh Semenanjung Arabia, menjadikannya sebagai negara di bawah Islam. Sebelumnya di Madinah, beliau mempersatukan beberapa kabilah di bawah Konstitusi Madinah.

Tiga tahun sebelumnya, pada tahun 629 Masehi, puncak dakwah dan perjuangan beliau ditandai dengan keberhasilan menaklukkan Mekkah. Kota yang orang-orangnya memusuhi, menyiksa, dan membuat beliau harus berhijrah ke Madinah, tempat lain di utara, 450 km lebih dari Mekkah.(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s