Mari Mengenal (dan Mematikan) Hantu Komunisme Itu

Oleh Hasan Aspahani

KOMUNISME mula-mula muncul sebagai hantu. Hantu yang revolusioner. Kalimat pertama Manifesto Partai Komunis Marx dan Engels (1848) dimulai dengan pernyataan ini: Ada hantu berkeliaran di Eropa. Semua kekuatan lama di Eropa bersatu mengusir hantu itu. Kalimat itu pasti ditulis dengan bangga. Yang ingin dikatakan ialah komunis sudah menjadi satu ketuatan yang menakutkan.

alimin
Alimin

 

Ide dasar komunisme adalah semangat pertentangan kelas. Marx dan Engels berangkat dari sosialisme utopis, prinsip sama rata sama rasa yang sebelumnya dikembangkan sejumlah filosof, pemikir, dan penyair. Semua teori dan rumusan itu berangkat dari titik awal filsafat Aristoteles yang membagi manusia dalam dua golongan: yang budak dan yang merdeka.

Komunisme mengembangkan itu dengan bahan situasi yang aktual pada saat ia dilahirkan. Pertentangan kelas yang ada itu lalu dirumuskan oleh Marx dan Engels sebagai borjuis dan proletar. Golongan kaum yang menindas dan mereka yang ditindas.

Kedua golongan itu sepanjang sejarah manusia selalu terlibat dalam pertikaian. Pihak yang menindas senantiasa berusaha untuk berada pada posisi sebagai penindas. Maka, kaum proletar harus bersatu untuk melawan itu. Itulah pembuka jalan perjuangan kelas. Belenggu penindasan hanya bisa dihancurkan dengan perjuangan sendiri oleh mereka yang tertindas, terjajah, tersisih, dan yang kalah. Dengan semangat itulah kalimat akhir Manifesto Komunis menjadi jargon yang terkenal: Kaum proletar seluruh dunia, bersatulah!

Dan, catatan pertama tulisan ini adalah: jika kita ingin memastikan bahwa komunisme itu tak lagi menarik dan relevan maka kita harus bekerja terus untuk membangun masyarakat yang sejahtera, mengurangi kesenjangan kemakmuran, dan memastikan negara hadir untuk melayani rakyat yang miskin.

muso
Muso

 

Apabila hal-hal itu terus-menerus diabaikan, maka komunisme akan tetap menjadi hantu bagi penguasa yang tak adil. Atau dijadikan hantu oleh pengusaha untuk menutupi ketidakberesannya sendiri. Adalah omong kosong saja apabila kita terus-menerus menyebutkan bahwa komunisme adalah bahaya laten, tanpa mematikan penyebab yang bisa membuat bangkit apa yang laten itu.

Gagasan komunisme lahir dan memikat karena titik tolak ideologinya hadir jelas di depan mata dunia: penjajahan, kolonialisme, penguasa yang lalim. Situasi itu pula yang ada di Hindia Belanda ketika Henk Sneevliet datang ke tanah jajahan ini pada 1914. Ia memulai menyebarkan ide komunisme di Semarang, kota buruh. Bersama beberapa kawan Belanda segagasan ia mendirikan perkumpulan Indische Sociaal Democratische Vereneging (ISDV). Ini adalah organisasi cikal-bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). ISDV gencar menyebarkan pikiran-pikiran sosial demokratis dan – dengan kalimat Sneevlet – membangkitkan sentimen revolusioner. Ide komunisme nyatanya diterima dengan baik, tumbuh dengan subur, menyebar luas, dan benar-benar menjadi hantu.

Ada sebuah artikel di mingguan “Pembangoenan” (terbit tiap Kamis), media yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Artikel ditulis oleh L.M. Sitorus. Judulnya: Partai Komunis Indonesia (PKI), dan disebutkan sebagai bagian dari risalah yang akan terbit “Sedjarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia”. Artikel itu terbit pada 1 Mei 1947. Republik Indonesia baru berumur dua tahun.

Artikel ini menarik karena ditulis sebelum peristiwa Madiun 1948. Apakah Sutan Takdir si pemilik media yang memuat tulisan itu seorang komunis? Kita tahu, jawabannya tidak. Bersimpati mungkin. Tapi, pada tahun itu belum ada bias pandangan pada PKI, yang tentu saja akibat kecerobohan dan kesalahan mereka sendiri. Menulis dan membaca tulisan tentang PKI pada tahun itu tentu beda dengan tahun-tahun setelah 1948, apalagi 1965.

Saat itu, setidaknya dari tulisan L.M. Sitorus itu, kita bisa melihat PKI adalah partai dengan pendakuan memiliki peran besar pada revolusi kemerdekaan.

Kontak ISDV dengan beberapa orang Syarikat Islam cabang Semarang terjadi tiga tahun kemudian pada 1917. Salah seorang di antaranya Semaun yang masih berusia 20 tahun. Menyusul Darsono. Keduanya membawa corak sosialis pada Syarikat Islam.

semaun
Semaun

 

Komunisme, dengan semangat transnasionalismenya, dengan Komintern itu, di manapun ia tumbuh tak lepas dari kejadian manapun di dunia. Revolusi Bolsjwik Oktober 1917 menginspirasi gerakan komunis di mana-mana. Keberhasilan Lenin menumbangkan Tsar Rusia adalah bukti bahwa proletar bisa menghabisi borjuis. Moskow lalu jadi kiblat pergerakan.

Pada 5 Maret 1919, digelar pertemuan komunisme sedunia “Internationale” di Moskow. Ini adalah perhelatan ketiga dengan semangat baru, semangat kemenangan. Dua pertemuan sebelumnya digelar di London (1864) dan Paris (1889).

Proletar. Buruh. Budak jajahan. Massa-actie. Siapa saja. Bangsa apa saja. Agama apa saja. Semuanya dihimbau. Hendak disatukan. Karena:…. kemerdekaan bagi negeri jajahan hanya dapat dicapai dengan kemerdekaan kaum buruh seluruh dunia.  Dan kepada budak jajahan di Asia dan Afrika diserukan “pada saat diktatur kaum jajahan tegak di Eropa, pada saat itu pulalah kamu akan memperoleh kemerdekaan!”

Momen Revolusi Oktober terus dimanfaatkan untuk meluaskan gerakan komunisme. Pada Agustus 1920, Komintern ke-2 digelar di Petrograd. Fokus pertemuan antara lain untuk membangkitkan perasaan revolusioner di hati bangsa-bangsa Asia. Sebulan kemudian segera digelar pula pertemuan khusus bangsa-bangsa timur di Baku.

Pada pertemuan di Baku itulah dipersatukan “perjuangan kelas kaum komunis” dengan “perjuangan kemerdekaan nasional” dari para aktivis pergerakan nasional dari bangsa-bangsa yang terjajah.

tandar
Tan Malaka dan Darsono

 

Kalau kita mau memahami, di titik itulah, komunis sebagai teori, filsafat, ideologi dan gerakan menjadi sangat memikat, juga bagi orang pergerakan di Hindia Belanda. Ditambah pula situasi ekonomi dunia yang memburuk pada tahun 1920-an itu. Sitorus menulis: …tidaklah mengherankan kalau dalam keadaan yang demikian orang mudah dimasuki propaganda-propaganda yang revolusioner dan sosialistis.

Jadi, sekli lagi jika kita ingin mempelajari dan memahami, maka bahaya laten bernama komunisme itu memang mencari tempat subur bernama rakyat proletar yang kecewa, dan pertumbuhan dipercepat oleh kemiskinan serta kesenjangan kesejahteraan.

Reaksi cepat ISDV atas situasi itu adalah membentuk Perserikatan Komunis di India (PKI) pada 23 Mei 1920. Semaun ketuanya, Darsono wakilnya. Membela nasib rakyat jelata cita-citanya. Desember 1920, PKI menggabungkan diri dengan Komintern. Pada masa itu langkah ini tentu saja sangat strategis. Perjuangan melawan penjajah Belanda mendapat tautan dan secara tak langsung dukungan dunia lewat Komintern. Tindakan frontal yang kemudian dilakukan adalah memboikot Volksraad dan mengambil sikap nonkoperasi. Menolak kerjasama.

Darsono segera menjadi tokoh global. Ia hadir di Kongres Komintern III, 22 Juni – 21 Juli 1921 di Moskow. Pada saat yang sama juga digelar kongres organisasi buruh. PKI sebagai partai mendapatkan pelajaran penting untuk apa yang mereka sebut “tahun menyempurnakan susunan dan mempertinggi kecakapan kerja”.

sneevliet
Sneevliet

 

PKI yang semakin besar membuat Sjarikat Islam tidak nyaman. Hingga nanti keluar aturan tidak boleh merangkap partai, kecuali untuk sementara PKI, maka Semaun dan Darsono masih menjadi anggota SI. Ini ciri khas lain dari bagaimana kaum komunis bekerja, menyusup ke organisasi lain. Selain SI, yang sejak awal dimasuki oleh tokoh-tokoh awal bahkan sebelum bergabung dengan PKI, mereka juga menyusupi banyak serikat pekerja.

Pada 1922, dengan tambahan tenaga baru Tan Malaka, PKI menyerukan pemogokan. Ini aksi mogok pertama di Hindia Belanda. Tan berusaha keras agar pemogokan itu menjadi gerakan umum. Aksi. Aksi. Aksi. Inilah yang diyakini Tan Malaka. Perjuangan tak cukup dengan perkataan.

Reaksi pemerintah Hindia Belanda keras dan tegas. Aktivis pergerakan, sebagian besar komunis, diinternir ke Digul, atau dieksternir keluar negeri, seperti yang dialami Tan Malaka. Sementara Tan menggerakkan pemogokan di dalam negeri, Semaun berkeliling Rusia, mempelajari model gerakan seperti apa yang cocok untuk melawan kolonialisme. Revolusi Oktober adalah inspirasinya.

Tan dieksternir, Semaun pulang, dengan kesimpulan: di Hindia Belanda gerakan perjuangan PKI tak bisa sepenuhnya mencontoh revolusi Rusia. Himbauan Semaun adalah pertegus persatuan, pertinggi disiplin, semua tindakan harus dengan kepala dingin mengukur kekuatan ekonomi dan situasi politik.

Friedrich_Engels-1840-cropped
Engels

 

Konflik SI dan PKI pecah pada 1923. SI menuduh orang-orang PKI itu tak beragama. Karena itu tak pantas bernaung di bawah organisasi yang menyandang nama Islam. PKI menuduh SI semakin kapitalistis. Bila sebelumnya SI masih kasih kebolehan pengurusnya mendua ikut PKI, sejak itu tak ada lagi kader dan pengurus yang boleh ikut partai lain. SI bersih-bersih. Tindakan pendisiplinan partai itu artinya menyingkirkan mereka yang ikut PKI. Mereka yang dikeluarkan bikin SI Merah, yang kemudian menjadi underbow PKI. itu diputuskan pada Kongres PKI, di Jakarta, 1924.

Pada 1924 itu juga digelar Pan Pacific Conference di Kanton. PKI mengutus Alimin dan Budisitjitro. Di sana dibicarakan strategi pemogokan untuk melawan kapitalis yang bersandar pada kekuasaan negara. Itulah cara kaum buruh untuk memenangkan pertentangan kelas, sebuah pelaksaan ide dasar Manifesto Partai Komunis.

Pulang dari Kanton, Alimin membawa strategi baru yang dipresentasikan di kongres serikat sekerja di Jakarta, Desember, 1924. Darsono dan Muso hadir di kongres itu. Fokus PKI sejak itu memang mengumpulkan tenaga buruh perdagangan, industri, dan pengangkutan. Di Surabaya digelar kongres buruh perkapalan dan pelabuhan.

Tahun berikutnya, PKI makin solid sebagi partai. Pengurus diseleksi ketat. Yang tak disiplin dipecat. Setelah buruh, pemuda digarap. Dibentuk Barisan Pemuda di mana-mana. Selain memusatkan beberapa kota sebagai pusat pergerakan, PKI juga menjadikan Singapura sebagai basis untuk berhubungan dengan komintern.

Aksi-aksi pemogokan yang digerakkan PKI benar-benar mengganggu penguasa kolonial di Hindia Belanda. Pekerja percetakan, juru rawat di CBZ, buruh kapal. Belum besar tapi aksi-aksi itu meyakinkan PKI bahwa mogok adalah jalan perlawanan yang efektif. Maka disiapkanlah pemogokan besar. Dimulai dari Sumatera Barat lalu menjalar ke seluruh tanah air.

Ternyata aksi yang disiapkan belum benar-benar matang. Para pemimpin PKI berselisih pendapat soal seberapa kuat sudah massa proletar untuk bergerak. Yang terjadi adalah pemogokan yang tak cukup kuat. Mudah ditumpas. November 1926 meletus di Jawa. Lalu disusul Januari 1927 di Sumatera, tapi terlambat. Aksi itu terjadi setelah aksi sebelumnya di Jawa berhasil dibungkam. Efek menyeluruh dan berkesinambungan yang diharapkan tak tercapai.

Sampai sejauh itu PKI bisa dikatakan gagal total. Penguasa Hindia Belanda menindak keras. Diterapkan aturan darurat. Orang pergerakan ditangkap. Beribu-ribu orang dibuang ke Digul. PKI menyebabkan kemunduran dan kerugian besar pada pergerakan kemerdekaan nasional.

marx
Marx

 

Bukan hanya orang-orang komunis yang ditangkap. Sjahrir dan Hatta, juga Sukarno pun diinternir. Tahun-tahun setelah itu adalah masa suram pergerakan nasional, dan itu adalah dosa besar PKI. Mereka membuat orang yang berjuang lewat jalur perjuangan lain pun ikut terbungkam. Banyak kritik ditujukan pada orang-orang komunis. Tapi Rusia memuji dan mendukung apapun yang dilakukan PKI.

PKI sendiri mencatat itu dengan bangga tentu saja. “Tuduh-menuduh yang juga terjadi pada waktu dan sekarang ini antara kaum agama dan kaum pergerakan, penjajah sajalah yang beruntung,” tulis Sitorus.

Dalam tulisan pada tahun 1947 itu Sitorus menutup dengan sebuah apologi: … terbukti pula bahwa pemberontkan (yang gagal itu, Pen.) tidak dapat diganti (oleh kelompok pergeraka lain, Pen.) dengan rencana perjuangan yang memberi bukti yang nyata hanya merupakan tenagan yang sia-sia saja.

PKI dapat pelajaran penting bahwa pemberontakan harus berbenteng ideologi yang kuat. Digerakkan oleh organisasi yang rapi. Dan itulah yang mereka lakukan. Dengan lekas orang-orang komunis menyusun kekuatan lagi. Tetapi, kesalahan dan kecerobohan yang sama mereka lakukan lagi di tahun 1948. Dan kelak di tahun 1965.

Dua pemberontakan yang kemudian itu tentu berbeda dengan aksi mogok pada 1926, karena ditujukan pada pemerintahan sendiri yang sah, yang telah diperjuangkan oleh semua kekuatan pergerakan, dan karena itu tak ada pilihan yang lebih baik daripada menghukum ideologi itu untuk tak lagi hidup di Indonesia.

Komunisme, seperti disebut Marx dalam Manifesto Partai Komunis (1884) adalah hantu yang berkeliaran.  Karena itu, maka bagi bangsa Indonesia yang sudah berkali-kali ditikam dari belakang oleh komunis, jangan kita biarkan ada ruang gelap dalam sejarah perjalanan bangsa ini.  Hari ini, di kegelapan sejarah atau sejarah yang digelapkan itulah hantu-hantu berbiak, termasuk hantu komunis. Siapa saja bisa menunggangi hantu itu, untuk kepentingannya sendiri.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s