Pertemuan Kembali Sukarno, Hatta, dan Sjahrir

Oleh Hasan Aspahani


Osamu Seirei No. 1

                            Fatsal 1: Karena Bala Tentara Dai Nippon berkehendak memperbaiki nasib rakyat Indonesia jang sebangsa dan setoeroenan dengan bangsa Nippon, dan djoega hendak mendirikan ketentraman jang tegoeh oentoek hidoep makmoer bersama-rakjat Indonesia atas dasar mempertahankan Asia Timur Raya bersama-sama, maka dari itoe Bala Tentara Dia Nippon melangsoengkan pemerintahan militer boeat sementara waktu di daerah-daerah jang telah didoedoekinya, agar soepaya pada keamanan jang sentaoesa dan segerah.

              Fatsal 2: Pembesar Bala Tentara Dai Nippon memegang kekoeasaan pemerintahan militer jang tertinggi dan djoega segala kekoeasaan jang dahoeloe ada di tangan goebernoer djendral.

              Fatsal 3: Semoea badan pemerintahan dan kekoeasaannja, hoekoem dan oendang-oendang pemerintah jang dahoeloe, tetap diakoei sah, boeat sementara waktoe asal sadja tidak bertentangan dengan atoeran pemerintah militer.

 Osamu Seirei No. 1  atau  Undang-undang Bala Tentara Jepang Dai Nippon.

 

PERTEMUAN kecil antara tiga tokoh besar ini adalah pertemuan penting yang nyaris menjadi mitos dan berdampak sangat besar pada nasib Indonesia. Pertemuan ini diyakini ada, dicatat, tapi tak kurang banyak alasan untuk menyimpulkan bahwa yang terjadi sesungguhnya bukanlah seperti yang dinyatakan dalam buku-buku sejarah.

Pada masa-masa bangkitnya pergerakan nasional – dan bangkit pula tensi represi pemerintah kolonial Belanda untuk meredamnya – mereka kerap berbeda pendapat.  Sukarno dan kawan-kawannya di satu kubu, dan Hatta-Sjahrir di kubu lain.  Polemik mereka terbuka lewat tulisan-tulisan di surat kabar, juga dalam pidato-pidato di rapat umum.  Perbedaan pendapat mereka meliputi bagaimana menjalankan politik ko dan nonko,  dasar ideologi partai, karakter pemimpin, bagaimana membesarkan partai, bagaimana mendidik kader atau massa pendukung partai, hingga memuncak pada pembubaran Partai Nasional Indonesia oleh Sartono ketika Sukarno ditahan.  Pembubaran itu disesalkan oleh Hatta, sehingga ia dan Sjahrir membangkitkan PNI yang lain, Pendidikan Nasional Indonesia. PNI Pendidikan.

shs2
Sjahrir, Sukarno, Hatta

Yang sungguh elok dan menarik adalah ketika mereka dibuang, komunikasi antarmereka sesungguhnya tak pernah putus.  Hatta sesekali masih mengirim surat ke Sukarno.  Di pembuangan, salah satu ‘hukuman’ pada mereka adalah tidak berpolitik. Dari surat, Sukarno tahu, Hatta mengisi hari-harinya di Banda Naira dengan mendalami filsafat Yunani. Sementara Sjahrir membuat kajian-kajian perbandingan kebudayaan Barat dan Timur.  Dan Sukarno sangat intens mendalami kajian-kajian Islam.

Malam itu, di hari pertama Sukarno menginjakkan kaki kembali ke tanah Jawa, mereka melupakan semua perbedaan pandangan di masa lalu.  Malam itu, di rumah Hatta di Jalan Orange Boulevard 57, Batavia, mereka bertiga – hanya bertiga – membicarakan bagaimana menghadapi dan manfaatkan kehadiran Jepang untuk kepentingan pergerakan nasional.

Sjahrir yang datang lebih dahulu menunggu bersama Hatta. Pukul 19.30 mereka mulai makan dan setengah jam kemudian mereka mulai bicara. Sukarno  – yang datang bersama Asmara Hadi – yang menunggu di luar ruang pertemuan –  membuka pembicaraan dengan keyakinaannya bahwa Jepang akan menang dalam Perang Kedua itu.  Dan pereang itu akan berlangsung sedikitnya sepuluh tahun. Situasi itu harus mereka pergunakan untuk bekerja sama membangun kembali pergerakan rakyat.  Soal kerja sama Hatta setuju, tapi soal berapa lama Jepang akan kuat menghadapi perang ia punya pendapat lain.

“Memang Jepang mendapat kesempatan untuk memukul lebih dahulu, tetapi industrinya ketinggalan dari industri Amerika. Amerika dapat memperbaiki alat perangnya dan beberapa waktu dapat muncul kembali sebagai kekuatan yang mengatasi Jepang,” kata Hatta.

Sjahrir sependapat dengan Hatta, “Aku kira perang ini tidak akan berjalan begitu lama.  Karena itu menurut saya, kita harus mengembangkan tujuan-tujuan revolusioner kita.”

“Bung Sjahrir, Pemerintahan Jepang tidak akan mengizinkan perkembangan pergerakan Indonesia. Sejak mereka datang, semua partai dibubarkan!  Dan pergerakan yang sedikit saja beraroma kemerdekan dilarang!”

“Kita harus bekerja sama dengan mereka?” tanya Sjahrir. Ini soal sensitif, soal yang dulu menjadi polemik mereka ketika menghadapi Belanda.

“Ya. Bekerja sama. Pura-pura bekerja sama. Jepang harus kita hadapi dengan taktik yang halus,” ujar Sukarno.

“Itu yang saya lakukan sekarang. Dengan itu aku mencoba meringankan tekanan tentara Jepang kepada rakyat. Saya menerima kerja sama dengan Jepang sebagai penasihat,” kata Hatta.

“Ya, Bung berdua tak mungkin mengelak tawaran kerjasama. Bung berdua terlalu popular di mata rakyat. Itu yang ingin dimanfaatkan Jepang untuk propaganda mereka,” kata Sjahrir.  Ya, bagi Hatta dan Sukarno,  menolak kerja sama itu bagai mengendap di balik ilalang sehelai.  Sia-sia menghindar. Tak akan bisa bersembunyi.

“Untuk memperoleh konsesi-konsesi politik yang berkenaan dengan pendidikan militer dan jabatan-jabatan pemerintahan bagi orang-orang kita, kita harus memperlihatkan diri dengan cara kolaborasi,” tambah Sukarno.

“Bung Karno harus bekerja sama dengan terang-terangan. Jelas, kekuatan Bung Karno adalah untuk menggerakkan massa,” kata Hatta.

“Betul. Bung Hatta harus membantu saya. Bung juga terlalu terkenal untuk bisa bekerja di bawah tanah,” kata Sukarno.

Peran itu diambil oleh Sjahrir. “Biarlah saya yang melakukan itu. Biar saya yang membangun gerakan bawah tanah itu.  Saya yang tidak terlalu terkenal, masih bisa mengelakkan diri untuk  berkerja sama dengan Jepang.”

Sukarno menegaskan lagi, ini adalah kesempatan besar dan bagus untuk mendidik dan mempersiapkan rakyat menuju kemerdekaan.  Semua pegawai Belanda ditawan, sementara jumlah tentara dan pegawai Jepang pasti tidak akan cukup untuk mengisi seluruh kebutuhan pegawai di seluruh Hindia Belanda.

“Bagaimana dengan gerakan 3A? Apakah ada baiknya saya mulai saja dengan bergabung di situ?” tanya Sukarno.

“Saya sarankan Bung Karno tidak usah bergabung ke situ. Rakyat membenci gerakan tersebut.  Lebih banyak menyulitkan rakyat daripada menolong,” kata Hatta.

“Gerakan itu tidak betul,” kata Sjahrir, “tujuannya tadinya hendak mengumpulkan bahan makanan dari kita, mengaut kekayaan alam kita, dan bahkan mengumpulkan tenaga rakyat kita.”

Hatta menambahkan, “Akan tetapi bagi kita gerakan itu tak memberikan apa-apa sebagai balasannya. Ditambah lagi dengan propagandanya yang dibesar-besarkan. Lebih baik Bung menjauhkan diri dari gerakan itu.”

“Saya pikir malah sebaiknya saya memasukinya.”

“Kenapa?” Tanya Sjahrir.

“Ya. Untuk merombaknya. Memperbaikinya dari dalam. Atau membubarkannya, juga dari dalam.”

Mendampingi Sukarno dalam pembicaraan di rumah Hatta malam itu, ikutlah Asmara Hadi, murid politiknya, dan suami anak angkatnya. Ia menunggu di luar ruangan, tak mengikuti apa yang dibicarakan ketiga tokoh tersebut.  Tapi ia bisa membayangkan betapa kerasnya mereka berpikir, menganalisa situasi, dan lebih berat lagi menimbang segala risiko dan dilema dari setiap keputusan langkah yang akan diambil. Sesekali, Asmara Hadi, menemui Des Alwi, yang berjaga di depan pintu rumah Hatta.

Sesekali terdengar langkah orang berjalan dengan gelisah dari dalam ruangan.  Juga bayangan yang melintas dari celah pintu.  Sukarnolah yang berjalan hilir mudik itu.

“Kita tahu, Jepang itu kejam. Mereka tak segan memenggal kepala rakyat kita.  Saya melihat sendiri di Palembang. Ketika menunggu berangkat ke Jawa, betapa mudahnya mereka menempeleng rakyat. Tak pernah semudah itu dilakukan oleh polisi Belanda.  Saya pernah meminta kepada komandan prajurit Jepang yang saya lupa siapa namanya, yang pasti perutnya buncit, supaya jangan berperilaku begitu. Dia bilang itu tentara Korea yang kasar, bukan Jepang. Nyatanya di mana-mana saya dengar memang demikian perilaku mereka,” kata Sukarno.

“Tidak hanya kepada kita pribumi, terhadap orang Belanda pun mereka sangat kejam,” kata Sjahrir. Dia ingat pada mayat kontrolir Belanda di Sukabumi yang dipertontonkan di tepi jalan.

“Ya.  Meskipun sakit dan pahit buat kita, tapi Jepang setidaknya memberikan kepada kita kepercayaan kepada diri sendiri. Bahwa bangsa Asia tidak lebih rendah dari Bangsa Barat!”

“Nah, ini yang akan membuka mata rakyat kita. Kondisi inilah yang akan menciptakan suatu kebulatan tekad. Kalau rakyat kita betul-betul ditekan, maka akan datanglah revolusi mental. Setelah itu, kita bisa membangkitkan revolusi fisik!”

Hatta dan Sjahrir mengangguk, menyetujui apa yang diuraikan Sukarno.

“Kita tidak bisa membangkitkan semangat rakyat kalau tidak ada pergerakan rakyat!” kata Sukarno, memberi garis bawah tebal pada kalimat yang diucapkannya itu.  “Saya tidak bisa duduk saja di belakang meja secara pasif.  Kalau hanya sebagai penasihat seperti Hatta, itu tidak cukup bagi saya. Saya harus ada bergerak.”

“Saya kira, kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Pembagian tugas seperti apa yang bisa kita sepakati,” kata Sjahrir. Hatta mengangguk.

“Ya, kita tidak bisa menyuruh rakyat berjoang, melawan, sekalipun dengan diam-diam, tanpa bimbingan dari kita sebagai pemimpin. Kalau saya tidak bisa membentuk suatu gerakan sendiri, saya akan menginfiltrasi gerakan A3, gerakan yang dibentuk Jepang itu!”

Yang mereka sepakati dalam pertemuan malam itu, sebagaimana disimpulkan oleh Sjahrir, adalah Sukarno dan Hatta akan masuk ke dalam kerjasama dengan Jepang dan melakukan segala sesuatu yang mungkin dalam batas-batas hukum penguasa Jepang untuk memberikan ruang lingkup legal yang lebih leluasa bagi pergerakan nasional. Tak akan jadi bungkuklah mereka karena harus menyuruk terlebih dahulu, dan secara rahasia mereka berdua dan siapa saja nanti yang terlibat dalam kerja sama itu membantu perlawanan revolusioner.  Sjahrir sendiri akan bekerja di luar, bergerak di bawah tanah.

Sukarno malam itu benar-benar ingin agar mereka melupakan perbedaan sikap mereka, dan memulai kebersamaan yang baru. Toh, apa pula yang hendak digaduhkan kini? Ibaratnya bagi mereka sekarang sama pengayuh di tangan, dan sama pula perahu di air.

“Bung Hatta dan saya di masa lalu telah mengalami pertentangan yang mendalam. Memang di satu waktu kita tidak berbaik satu sama lain,” ujar Sukarno,  “ akan tetapi sekarang kita menghadapi satu tugas yang jauh lebih besar daripada yang dapat dilakukan oleh salah-seorang dari kita. Perbedaan dalam hal partai atau strategi tidak ada lagi. Pada waktu sekarang kita satu. Dan kita bersatu di dalam perjuangan bersama.”

Hingga pukul 23.30, mereka masih terlibat dalam pembicaraan yang seru. Tak melulu soal  strategi perjuangan, mereka juga saling bertukar kisah soal masa-masa sulit selama masih berstatus interniran.  Sukarno juga bercerita soal krisis rumah tangganya.

Sjahrir lalu pulang dan Sukarno menginap di rumah Hatta.

Malam itu Sukarno tidur dengan gelisah.  Esok dia harus bertemu dengan Jenderal Imamura.  Dari pertemuan itu akan jelas apa maunya Jepang terhadap dia.  Pembagian tugas perjuangan antara mereka bertiga yang baru saja dibicarakan, cukup membantu menentukan sipak, tpai mau tak mau ia menanggung beban yang berat.  Ia sudah membayangkan akan banyak mengorbankan rakyat, mengingat tentara Jepang yang ia tahu kejam tak segan memenggal kepala orang, sebagaimana mereka pertunjukkan ketika mengusir orang-orang Belanda.   Tapi memang tidak ada pilihan. Perjuangan harus terus diteruskan, dan jalan yang ditempuh adalah konseuensi dari apa yang sudah masing-masing mereka sumbangkan.

Pagi harinya ada dua kali telepon berdering di rumah Hatta. Pertama,  untuk Sukarno dari Pemimpin Redaksi Asia Raja Soekardjo Wirjopranoto. Satu-satunya surat kabar di Jakarta yang boleh terbit pada masa Jepang, penjelmaan dari Soeara Oemoem itu, ingin mewawancarai Sukarno.  Telepon kedua, dari Shimizu yang akan menjemput Sukarno untuk bertemu Imamura.

Ketika Shimizu datang, Hatta memberi tahu bahwa Sukarno belum punya mobil dan dia perlu sebuah untuk dia pakai terus.  Shimizu berjanji akan mengusahakannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s