Tan Malaka dan Kolonel Tan Malaka

Oleh Hasan Aspahani


Singapoera Diserang

             Berita extra dari Reuter menjatakan bahwa tadi pagi poekoel 4.14 pesawat-pesawat terbang Djepang melakoekan serangan kepada poelau Singapoera. Selain dari pada itoe di sebelah selatan dari perbatasan Thai dan Malaya, Djepang mendaratkan pasoekannja.

 Pemandangan, Senen 8 Desember 1941.

 

IA berada di Singapura ketika 125 pesawat tempur Jepang menyerbu kota pulau itu dan menewaskan 300 penduduk yang tak tahu apa-apa tentang perang.  Ia menjadi saksi kekalahan Inggris dan memutuskan inilah saatnya kembali. Jepang telah menguasai Singapura dan Semenanjung Malaya dan mengusir Belanda dari Hindia Belanda – negeri yang ia tinggalkan, yang kemerdekaannya ia impikan.

Inilah saatnya aku kembali. Tapi bagaimana caranya?

Sudah dua puluh tahun lebih ia meninggalkan negerinya, dan Singapura kini tak lagi aman. Di Singapura dia mengajar di sekolah Tionghoa, dan ia dikenal sebagai orang Tionghoa juga. 60.000 orang Tionghoa di kota itu hendak dihabisi Jepang. Mungkin itu hanya desas-desus mengingat permusuhan dan perang antara Jepang dan Tiongkok, tapi kemudian ia mendengar memang ada pembantaian itu. 2.000 pemuda Tiongkok dikumpulkan, dan dalam satu perjalanan, ketika seorang melawan, semua pemuda itu dihujani peluru!

803150324_Tan-Malaka
Tan Malaka

Ia dapat kesempatan memulai kepulangannya dengan menumpang kereta api Singapura menuju Penang. Dari Penang menyeberang ke Belawan, Medan. Bukan perjalanan yang mudah, karena buruknya sarana dan jalur transportasi di tengah kecamuk perang. Jalur rel kereta api banyak yang putus dan secara darurat disambung dengan jembatan kayu sementara karena Inggris sudah meledakkan jembatan untuk menghalangi gerakan pasukan Jepang.

Sebuah kapal kongsi dagang, sebuah tongkang, akhirnya membawanya berlayar ke Belawan. Ia sampai – dengan kombinasi antara ketidaksabaran dan kapal yang teramat lambat – setelah 20 hari berlayar hanya untuk menyeberangi Selat Malaka.

Medan bukanlah kota yang asing baginya. Ia sempat mengajar di kota itu sebelum ke Jawa dan kemudian menghilang. Tak banyak yang berubah dari kota ini, ia masih mengenali paras bangunan-bangunan bagus yang tampak masih itu-itu juga. Banyak surat kabar dan percetakan besar di Medan. Ia sampai juga pada kawasan pertokoan yang banyak menjual buku-buku, baru maupun bekas. Dia ikut berjejal di antara orang-orang yang ingin membeli, yang sekadar meninjau, atau benar-benar ingin membaca di tempat.

Seorang penjual buku tertarik padanya dan menyorongkan sebuah buku yang mungkin dipikirnya menarik baginya. “Ini buku yang baik dan laku,” kata si pedagang.

“Pacar Merah” oleh Matu Mona. Ia membolak-balik buku itu dan sedapat mungkin menahan keterkejutan. Itu buku berkisah tentang dirinya!

“Tuan tahu? Tan Malaka sudah berada di Padang. Dia sudah berbicara hari ini di tanah lapang Padang. Tinggi sekali pangkatnya dalam tentara Nippon.”

“Apa pangkatnya?”

“Kolonel, kata orang!”

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, ia sempat juga singgah di Bukittinggi, kota di mana enam tahun ia habiskan waktunya untuk menyelesaikan pendidikan Kweekschool di sana, dan membatalkan niat ke Padang karena situasi kota yang sebaiknya memang ia hindari saja. Perjalanan membawanya ke Palembang dan lalu Tanjungkarang.

Kini pertanyaannya bagaimana menyeberang ke Jawa? Jepang memperketat – bahkan nyaris memutus – hubungan Jawa dan Sumatera. Peraturan pelayaran amat ketat. Hanya orang dengan bawaan barang dagangan sedikitnya 300 kilogram yang diizinkan menyeberang ke Jawa lewat kapal dari pelabuhan resmi dengan persetujuan duane.

Pilihan lain adalah menyerang lewat pelabuhan gelap, yang nyaris saja ia putuskan dengan penantian yang tak pasti, hingga seorang pedagang dari Silungkang dikabarkan akan menyeberang dengan sebuah kapal yang sudah ia sewa untuk membawa barang dagangannya. Si pedagang memberi kesempatan pada 12 orang lain yang dengan akal-akalan bisa didaftarkan telah membawa 300 kg barang.

Kapal tauke Silungkang yang ia tumpangi benar-benar berlayar dalam arti yang sebenarnya. Jika tak ada angin, kapal itu hanya mengapung ikut arus laut. Itu sebabnya perjalanan tak bisa diperhitungkan kapan akan sampai di Pasar Ikan di Teluk Jakarta. Badai besar yang datang pada suatu malam membawa kapal mendekat ke pesisir Banten. Ia memilih turun di Banjarnegara, Banten. Lalu menempuh perjalanan darat, dua tiga kali berganti sado, sebelum tiba di Benteng, dan kemudian naik kereta api menuju Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s