Komplotan Perampok Bernama Tentara Sukarno Sejati

Oleh Hasan Aspahani

ADA masa ketika ada sebagian para penjahat di negeri ini menyebut dirinya sebagai tentara. Ada masa ketika para perampok punya semangat heroik dan kesadaran politik yang tinggi, sehingga mereka mengaitkan gerombolannya dengan nama Sukarno. Kala itu, sepertinya, batas antara tindakan kriminal dan aksi heroik mungkin setipis lembar kantong plastik.

Soal itu, mari kita baca berita dari Kantor Berita Antara yang disiarkan kembali oleh Harian Rakyat, 8 Oktober 1952. Berita biasa, ada di halaman dalam. Isinya tentang sekawanan perampok beraksi di Serdang Hulu, Sumatera Utara. Iring-iringan mobil Jawatan Pekerjaan Umum ditahan di sekitar Tiga Johar, Serdang Hulu.

Perampok menyuruh para penumpang jongkok dan kemudian melucuti mereka. Uang gaji pegawai jawatan PU sejumlah Rp17.000 yang mereka bawa dan barang-barang lain dirampas.

Korban melapor ke polisi. Dari para pelapor inilah diketahui perampok berjumlah delapan orang dan mereka menyebut kelompok mereka sebagai “Tentara Sukarno Sejati”.

Dua dari kawanan perampok bersenjata pistol. Polisi menduga kawanan yang sama yang merampok mobil Jawatan Pekerjaan Umum di sekitar Pancurbatu, yang terjadi beberapa hari sebelumnya, yakni 30 September 1952. Terkait perampokan itu, polisi menahan seorang pegawai Jawatan PU, karena dicurigai menjadi informan para perampok tersebut.

Siapakah para perampok itu? “Mereka adalah orang-orang yng melarikan diri dari penjara Binjai beberapa waktu lalu,” kata polisi.

Sukarno pada masanya adalah pemimpin yang mempesona dan menginspirasi rakyat. Sukarno adalah nama yang dijadikan pembenar, melegitimasi tindakan kriminal.

Kemungkinan besar, para perampok yang menamakan diri “Tentara Sejati Sukarno” itu adalah bekas anggota laskar rakyat. Karena itu mereka punya senjata. Sejak program Restrukturisasi dan Rasionalisasi Hatta, 1948, jumlah laskar dikurangi. Ratusan ribu tak tertampung dan dengan marah mereka lalu merampok, karena tak banyak yang bisa dilakukan.

Atau menamakan gerombolan mereka dengan nama Sukarno adalah sebentuk protes? Tahun 1952, Republik baru berusia tujuh tahun. Perang revolusi baru berakhir dengan pengakuan kedaulatan dari Belanda pada tahun 1949. Artinya baru 3 tahun berlalu, di mana para laskar itu punya alasan untuk tetap pegang senjata.
Dulu mereka sedang berjuang. Musuhnya jelas: Belanda yang ingin kembali menguasai Republik. Tapi belanda tak ada lagi dan senjata yang dulu mungkin direbut dari Jepang masih ada di tangan kita. Dan kita Itu alasan dan situasi yang bagus untuk merampok.

Negara muda ini harus belajar menegakkan disiplin hukumnya sendiri. Yang merampok, tentu saja ditangkap, dan masuk penjara. Tapi kabar tentang penjara yang bobol juga ada di mana-mana. Yang membobol penjara itu umumnya juga sama: para perampok bersenjata.

***

Di Surabaya lain lagi ceritanya. H.R. Mohammad Mangoen Diprodjo menuliskan kisah perjuangannya dalam buku “Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan”.

Lelaki kelahiran Sragen, 1905 itu, ikut bertempur di Surabaya pada 30 Oktober 1945 an kemudian juga pada 10 November 1945, peristiwa yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Pada buku yang diterbitkan oleh Legiun Veteran RI itu mantan perwira PETA itu mengisahkan tentang darimana dana perjuangan didapat.

“Sebelum tentara sekutu memasuki kota, kami beserta beberapa kawan telah dapat mengambil alih alias merampas uang tunai sebesar 100 juta rupiah dari Escompto Bank di Jembatan Merah, Surabaya,” ungkapnya.

Uang itu kemudian dititipkan di rumah seorang haji di Porong di tepi sungai Brantas.

“Dengan uang tersebut kami dapat mempunyai pertempuran-pertempuran di dalam kota, malah yang 35 juta masih dapat dipergunakan oleh Pemerintah Pusat waktu hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta,” kenang Mangoen Diprodjo.

Mangoen Diprodjo jugalah yang berdua dengan Bung Tomo berunding dengan komandan pasukan Jepang di tangsi Don Bosco, Surabaya.  Tujuan perundingan: Jepang harus serahkan senjata mereka dengan sukarela, kalau tidak barisan rakyat akan menyerbu dan merampasnya. Perundingan pukul 3 dinihari itu berhasil. Dengan senjata itulah para pejuang Surabaya melawan sekutu.[]

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s