Yang Terjadi Setelah Hatta Mundur!

Oleh Hasan Aspahani

Tiap keadaan menimbulkan syarat yang mesti mengubah keadaan itu sendiri – Muhammad Hatta.

Sukarno dan Hatta adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Perbedaan itu telah tampak sejak keduanya muncul lewat tulisan-tulisan menyampaikan gagasan mereka tentang bagaimana harus berjuang mencapai kemerdekaan.

Sukarno meyakini harus ada seseorang yang tampil ke hadapan massa, menjadi pemimpin, menggelorakan dan menggerakkan semangat rakyat.  Sementara Hatta percaya pada gerakan politik yang mendidik rakyat, menciptakan banyak kader politik, memperlebar jejaring  pejuang.

Polemik antara mereka sering kali  menajam, dan bahkan menjadi kasar.

Sukarno punya cara untuk menjelaskan siapa Hatta, lewat sebuah anekdot. “Suatu sore ketika dalam perjalanan ke suatu tempat dan satu-satunya penumpang lain dalam kendaraan itu adalah seorang gadis yang cantik. Di suatu tempat yang sepi dan terasing ban pecah. Jejaka Hatta adalah seorang yang pemerah muka apabila bertemu dengan seorang gadis. Ia tak pernah menari, tertawa, atau menikmati kehidupan ini,” kata Sukarno.

Ketika dua jam kemudian, kata Sukarno dalam buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” (Cindy Adam, 1966), supirnya kembali dengan bantun  ia mendapati gadis itu terbarng enak di sudut yang jauh dalam kendaraan itu dan Hatta mendengkur di sudut yang lain.

“Ah, susah orangnya. Kami tak pernah sependapat mengenai suatu persoalan,” begitulah di mata Sukarno, Hatta adalah orang yang ‘susah’. Selera mereka beda.

Juga dalam hal cara memandang dan memperlakukan perempuan, sebagaimana kisah yang ia pakai untuk menggambarkan bagaimana dan siapa Hatta. Dan karena itu mereka tidak cocok.

Sementara Hatta memandang Sukarno, yang katanya ia kutip dari penilaian orang,  seperti Hamlet.  “Prins Hamlet yang senantiasa hidup dalam keraguan, dan menamai dia juga seorang anak komedi yang pintar main di atas podium,” kata Hatta dalam tulisannya di Daulat Ra’jat No. 81, 10 Desember 1933. Tulisan itu adalah serangkaian serangan Hatta kepada Sukarno yang menyatakan mundur dari politik dan pergerakan setelah ditangkap Belanda.

Hatta selalu berdiri pada keyakinannya bahwa janganlah pemimpin itu terlalu didewa-dewakan dan janganlah kita menggantungkan nasib pergerakan kepada salah seorang pemimpin.

“Pergerakan yang tinggal pergerakan pemimpin saja, yang hilang timbul dengan pemimpin itu, melainkan haruslah menjadi pergerakan rakyat,” kata Hatta.

***

Adakah Dwitunggal itu sebenarnya?

sukarnopidato
Sukarno
Tentu saja ada.  Merekalah berdua yang atas desakan pemuda kasih teken pada teks proklamasi itu.  “Dalam hampir semua dokumen-dokumen Pemerintah RI, biasanya kami berdua bertanda tangan bersama,” kata Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” (Gunung Agung, Jakarta, 1978).

***

Puncak dari tajamnya perbedaan Sukarno dan Hatta terjadi pada tahun 1956. Pada 20 Juli tahun itu Hatta menyatakan mengundurkan diri sebagai wakil Presiden mulai tanggal pembukaan sidang Konstituante kelak pada 10 November 1956. Ia menyampaikan hal itu secara resmi lewat surat kepada Ketua Parlemen yang kemudian ia sendiri akan membacakan pernyataan itu di siding pleno.

Inilah isi surat Hatta:

              Kepada Ketua DPR Jakarta,

              Bersama ini saya memberitahukan dengan hormat bahwa sekarang setelah DPR yang dipilih Rakyat mulai bekerja dan waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Segera sesudah Konstituante dilantik saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi. Saat itu saya pilih karena sesuai dengan penerimaan saya dulu waktu diminta menjadi Wk. Presiden kembali yang menurut dugaan saya di waktu itu, jabatan sementara ini tidak akan lebih lama dari setahun dua tahun.

 

Surat Hatta ditembuskan ke Presiden dan Dewan Menteri.

“Hatta ingin memberi fair chance kepada Sukarno untuk membuktikan dia dapat membawa Republik Indonesia, bangsa dan masyarakat Indonesia mencapai kemajuan,” kata Oei Jong Tjioe, dalam pengantar buku kumpulan surat-surat Bung Hatta kepada Presiden Sukarno 1957-1965.

Oie adalah kawan Hatta sejak sekolah Belanda, dan selalu bersama Hatta sejak keluar dari tahanan Jepang,  dan ketika Hatta menjabat wakil Presiden sejak 1945, Oei membantu di bidang ekonomi dan keuangan.

Tak ada yang mengira Hatta akan menempuh langkah itu. Banyak pihak mencoba merayu agar ia mengurungkan niatnya, tapi mereka juga tahu Hatta adalah orang yang konsisten. Sekali ambil keputusan ia tak akan surut. Ia telah memperhitungkan baik-buruk langkahnya. Tak kurang dari seorang Bung Tomo, dengan orasi-orasinya yang berkobar-kobar,  meminta agar Hatta membatalkan keputusannya itu.

sukarno
Sukarno, Hatta dan sejumlah tokoh di teras rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56.
Yang ingin dikatakan Hatta adalah posisi dalam pemerintahan, jabatan politik, pangkat dan kedudukan bukanlah segalanya.  Hatta menampar kesadaran politisi kala itu untuk mengendalikan syahwat berkuasa. Kedudukan menteri di kabinet seakan-akan menjadi rebutan partai. Demikian juga posisi perdana menteri atau wakil perdana menteri di kabinet parlementer.  Itu yang membuat republik tak bergerak maju.

Sebelum mundur, Hatta sebenarnya diharapkan menjadi solusi dari kebuntuan politik saat itu. Kabinet Ali Sastroamodjojo jilid 1 dan jilid 2 tidak memuaskan. Padahal inilah kabinet pertama yang dibentuk setelah pemilu pertama pula.  Beberapa partai menarik menterinya sebagai tanda penarikan dukungan. Hatta diharapkan membentuk kabinet presidensil. Itu antara lain diusulkan oleh Masyumi dan IPKI.  Padahal kabinet Ali jilid 2 itu baru berusia 9 bulan.

Krisis politik di ibu kota diperparah oleh ketidakpercayaan dan perlawan daerah. Terutama Sumatera.  Pada titik ini banyak yang menyalahkan Hatta dengan langkah mundurnya. Hatta dituding makin mengacaukan situasi politik.  Hatta dituding menyerah kepada kekuatan Sukarno yang sepeninggal Hatta tak dapat dicegah lagi menjadi semakin terlalu kekiri-kirian.

***

Yang paling senang dengan mundurnya Hatta memang PKI. Pihak komunislah yang paling menginginkan Dwitunggal pecah. Mereka jago memproduksi olok-olok. PKI selalu menyebut: Dwitanggal. Dua yang terlepas!  Bahkan dengan gencar PKI mencoba menghapuskan nama Hatta pada teks proklamasi, yang mana menimbulkan kemarahan Sukarno. Tapi PKI tetap saja bergerak. Dalam perhitungan politik mereka Hatta harus disingkirkan. Buku “Demokrasi Kita” karya Bung Hatta pun sempat dilarang peredarannya.

 ***

Tanggal 14 Maret 1957 PM Ali Sastroamidjojo pun menyerah. Ia mengembalikan mandat kepada Presiden Sukarno. Kenapa? Ali telah gagal memenuhi janjinya di depan sidang  parlemen untuk me-reshuffle kabinet. Sebelum pernyataan mundur beberapa partai pun sudah menarik menteri-menterinya.

sh
Sukarno dan Hatta
Pada hari itu juga, hari pembubaran kabinet, Presiden Sukarno mengumumkan keadaan bahaya perang atau SOB, Stat van Oorlog en Beleg.  Artinya semua kekuatan sipil untuk mengatur negara diserahkan kepada Penguasa Perang Pusat.  Dan Presiden Sukarno menunjuk KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution sebagai Ketua Penguasa Perang Pusat.  Kelak Sukarno menyadari lewat SOB dan kekuasan sebagai Penguasa Perang Pusat, Nasution mengembangkan kekuatan luar biasa di tubuh Angkatan Darat.  Ia melihat dan memanfaatkan jalan untuk memperbesar peran militer dalam politik. Ia membentuk berbagai badan kerja sama dengan kelompok sipil: BKS Wanita-Militer, BKS, Pemuda-Militer, BKS Buruh-Militer, BKS Tani-Militer.

Ironis, memang.  Pemilu yang dikenang sebagai pemilu pertama dan paling demokratis itu tak menghasilkan apa-apa bahkan negara berujung pada situasi darurat perang, yang undang-undangnya berasal dari warisan pemerintahan Hindia Belanda. Yang dilakukan pertama oleh Penguasa Perang Pusat pada akhir Maret itu adalah memerintahkan menangkap sejumlah nama dengan berbagai tuduhan, terutama korupsi!

Mereka yang ditangkap adalah lima orang bekas Menteri, beberapa anggota Konstituante, anggota parlemen, Komisaris Polisi, Jaksa,  juga pengusaha. Jumlahnya 60 orang.  Salah satu nama yang diburu adalah Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Dia menolak diperiksa dan menghindari penangkapan dengan terbang ke Sumatera.

  ***

Apa yang dilakukan Hatta setelah mundur? Ia ternyata tidak bisa diam. Ia tetap mengingatkan Sukarno, menegur, memberi masukan lewat surat dan sesekali mereka juga bertemu untuk berdiskusi.

Surat pertama dalam buku “Hati Nurani Melawan Kezaliman”, yang memuat surat-surat Hatta kepada Sukarno dikirim pada tanggal 27 Februari 1957, tujuh bulan setelah pernyataan mundurnya atau tiga bulan setelah ia resmi mundur. Sukarno telah mendapatkan kesempatan untuk menjalankan konsepsinya.  Konsepsi Presiden.   Di lapangan, bertemu dengan rakyat biasa sebagai rakyat biasa Hatta merasakan ada yang tak benar dengan cara Sukarno memaksakan konsepsi yang ia yakini ini.

“…bahwa pemuda-pemuda bersenjata yang berpakaian militer giat sekali mengadakan teror  untuk menekankan supaya konsepsi Saudara diterima. Bung Tomo didatangi oleh seorang dengan bersenjata untuk memaksakan, supaya ia setuju ‘konsepsi Bung Karno’,” kata Bung Hatta kepada Sukarno di awal suratnya.

Ia memulai suratnya dengan tetap menyapa sahabatnya itu dengan sapaan “Bung Karno”.

Dalam suratnya Bung Hatta juga menyampaikan, yang dipaksa menerima dengan teror bukan hanya Bung Tomo tapi juga Djamaludin Malik (dua kali didatangi orang dan ditodong pistol), juga Maria Ulfa Santoso (dibawa paksa dengan jeep dari gedung sensor film), juga Mr. Natsir dan lain-lain. Kata Hatta, kota dikepung pamflet. Slogan-slogan dicoretkan di tembok-tembok rumah dan pada tiang.

“…apa yang baik pada tahun 1945, belum tentu baik sekarang, di masa kita harus membangun. Coret-coretan di dinding trem, kendaraan, rumah dan tembok tidak saja merusak estetika, tetapi juga merupakan kekusutan. Apa tidak ada jalan lain untuk menunjukkan kegiatan membela satu cita-cita?” kata Hatta dalam suratnya.

Apa jawaban Sukarno?

              Bung Hatta,

              Bung mengetahui segenap perasaan-perasaan saya personnlijk terhadap Bung! Bagaimanapun juga, saya tetap mengingini yang kita berdua ini bekerja-sama sebaik-baiknya dalam pengabdian kepada tanah-air dan bangsa.

              Kapan-kapan, marilah kita bertemu, untuk mengadakan perembukan bersama.

              Merdeka, Soekarno. 1/3 ‘57

Ada niat baik Sukarno dalam surat balasannya kepada Hatta. Tapi, politik Indonesia sejak saat itu tidak baik-baik saja. Tahun 1957 adalah kelanjutan dari dekade paling hitam dalam sejarah politik Indonesia.  Semuanya berakar dari pemilu 1955, lalu pemberontakan Darul Islam di Aceh, Sulawesi Selatan dan Jawa Barat pada tahun 1955 dan 1956.

Yang tampak pada tahun itu adalah PKI yang jeli memanfaatkan situasi. Mereka kuat. Mereka adalah pemenang ke-4 dalam pemilu.  Maka, sementara partai lain menghadapi Sukarno dengan kritis,  PKI mendukung konsepsi Sukarno nyaris tanpa tawar-menawar. Pemuda-pemuda yang digerakkan oleh partai itu dengan senjata yang meneror dengan cara-cara menculik, memaksa, menodongkan pistol.

Dan Sukarno terpesona dan tersanjung karena itu. PKI dan Aidit kelak dilimpahi anugerah kehormatan untuk militansi gerakan politik rakyat yang  dianggap Sukarno sebagai prestasi besar dalam menegakkan revolusi.

PKI dan Angkatan Darat, tumbuh menjadi dua kekuatan yang saling bersaing.  Sukarno mengira ia bisa mengendalikan keduanya, hingga kelak ia terlambat menyadarinya.

Pada akhir pekan pertama Desember 1957, tahun di mana Hatta mundur, pemimpin-pemimpin dari provinsi-provinsi yang bergolak oleh pemberontakan mengadakan pertemuan.  Hasilnya adalah tuntutan agar Dwitunggal Sukarno-Hatta dikembalikan pada kedudukan semula. Juga agar Hatta dijadikan Perdana Menteri lagi. Dua tuntutan lain yang paling penting: Bubarkan dan larang komunis dengan undang-undang juga ganti Kolonel Nasution.  

Semua tuntutan itu tak ditanggapi.

Itu terjadi setelah Hatta mundur. Dan itu terjadi delapan tahun sebelum 1965.

 


Bacaan:

  1. Hati Nurani Melawan Kezaliman (Surat-surat Hatta Kepada Presiden Soekarno 1957-1965), disusun oleh Mochtar Lubis, diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan,Jakarta, 1986.
  2. Untuk Negeriku, Mohamad Hatta, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2011.
  3. Jusuf Wibisono, Karang di Tengah Gelombang, Soebagijo. I.N, diterbitkan oleh Gunung Agung, Jakarta, 1980.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s