C. Simanjuntak, Maju Tak Gentar, dan Peluru yang Menembus Paha

Oleh Hasan Aspahani

TULISAN ini dikembangkan dari tulisan Asrul Sani yang mula-mula terbit di lembaran budaya “Gelanggang” di majalah “Siasat”, lalu diterbitkan lagi di “Gema Suasana” Nomor 6, Juni 1948.  Di kedua majalah itu, keduanya diberi nama oleh Chairil Anwar dan kemudian ia tinggalkan, Asrul adalah anggota sidang redaksi.  Nadanya seperti  obituari. Asrul dengan cermat menceritakan kesan-kesan dari pertemuan-pertemuannya dengan Cornel Simanjuntak.

Cornel meninggal pada usia muda. Ia lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 1921, tanpa catatan tanggal, dan meninggal pada 15 September 1946. Kita mengenal dia lewat lagu-lagu perjuangan yang hingga kini masih kerap dinyanyikan, antara lain “Maju Tak Gentar” dan “Indonesia Tetap Merdeka”.

c. simanjuntak
C. Simanjuntak

“Perkenalan saya dengan komponis ini tidaklah begitu lama, ya, demikian singkatnya sehingga tidak akan mungkin saya dapat menulis suatu sejarah hidup seniman muda ini. Ia terlampau lekas meninggalkan kita,” ujar Asrul dalam artikelnya.

Asrul menebak-nebak usia Cornel – baru kira-kira 27 tahun ketika meninggal, – dan tebakannya kita tahu kurang pas. Tapi yang jelas, “Saya kenal Simanjuntak dalam kemauannya yang keras.”

Asrul berkenalan dengan Cornel Simanjuntak di Pusat Kebudayaan Jepang. Ini memang tempat yang mempertemukan banyak seniman dari berbagai cabang kala itu.  Di situ juga Chairil membacakan sajak “Aku” pertama kali di depan publik.  Asrul datang untuk mendaftarkan ikut kursus teori musik. Kursus itu diasuh oleh seorang dirigen Jepang bernama Nobuo Iida.

“Waktu berkenalan yang mula-mula orang akan menyangkan bahwa dia adalah seorang kasar, yang mempunyai hati sebagai batu,” ujar Asrul.

Asrul berhadapan dengan seorang yang sinis. Potongan mukanya kasar. Ekspresinya sinis. Rambutnya keriting dan kusut. Pandangannya mengejek dan sikapnya seakan tak mau tahu.

“Saudara mau belajar musik?” kata Cornel. “Apa yang telah saudara ketahui tentang musik? Apa instrumen yang saudara kenal? Bukannya Saudara datang ke sini hendak melancong saja? Mau lihat-lihat saja?”

Asrul lekas menjawab, “O, tidak” Ia merespon pertanyaan tajam Cornel yang terakhir itu. Asrul mungkin datang dengan celana pendek. Usianya kala itu baru 17 tahun. Cornel meragukannya.

Cornel lantas berdiri, lalu menelepon ke administrasi di lantai bawah gedung Pusat Kebudayaan. Ia memberi tahu ada yang mendaftar ikut kursus musik dan kemudian menyuruh Asrul mencatatkan namanya ke sana.

“Datang Kamis depan,” kata Cornel. Lalu kembali ke mejanya dan memandang manuskrip musik yang sedang ia kerjakan.

Asrul ragu. Ia tadi berhadapan dengan seorang seniman atau seorang penguasaha yang pelit omong? Asrul membayangkan akan berurusan dengan seorang yang tak menarik untuk menjadi mentor. Tapi dia salah. Cornel hanya tampak keras dan kasar dan kering di luar. Di dalam jiwanya ia seorang yang hangat. Suatu kali Asrul dan Cornel pernah terlibat pembicaraan yagn sedemikian serunya hingga mereka tak sadar sudah mengobrol enam jam lamanya, dari pukul 6 sore hingga 12 tengah malam.

“Kalau sekali ia telah mulai dengan mempercakapkan musik, maka susahlah menghentikannya. Seolah-olah ia hidup antara suara dan melodi yang bertukar-tukar, seolah-olah hidup ini baginya tak lain daripada musik,” kenang Asrul.

Sepanjang pembicaraan, Cornel mengeluarkan imajinasi musiknya, sesekali ia berdiri ke arah pianonya, dan meningkahi pembicaraan dengan memainkan beberapa not dari sepotong komposisi musiknya.

“Apa maksud saudara dengan dengan bunyi itu, Bung? Agak ganjil bunyinya terdengar kepada saya…” kata Asrul.

“Malam datang sebagai elang melayang dari jauh hendak pulang ke sarangnya. Yang saya lukiskan ialah elang itu. Ia rindu kepada anaknya, ia ingin tahu apakah anaknya yang ditinggalkannya tadi pagi masih hidup, apakah tidak mati oleh gangguan binatang lain. Ia seolah-olah berlomba-lomba dengan malam yang turun itu, seolah-olah ia takut, malam akan lebih dahulu turun ke bumi, dari dia sampai ke sarangnya,” Cornel menjelaskan panjang lebar.

Asrul berusaha menyimak dan memahami penjelasan itu.

“Saudara tidak mendengar keindahan malam dalam motif ini, karena bagi saya kedatangan malam itu sama dengan kedatangan malam bagi elang tadi. Saya menggambarkan takut dan ragu,” Cornel melanjutkan.

asrul
Asrul Sani

Komposisi-komposisi Cornel di mata Asrul selalu terasa gelap, kala itu, diliputi bayangan mendung. Koornya kebanyakan ditulis dalam tangga suara mineur. Cornel tak pernah menganggap hidup ini main-main tapi selalu ia mencari ke sebalik sesuatu benda atau kejadian. Darimana kecenderungan itu datang?

“Apakah makna benda itu? Itulah yang hendak saya lukiskan dengan musik saya. Makna itu, Bung” katanya. Cornel Simanjuntak beragama Katolik dari keluarga pensiunan polisi kolonial. Ia tamatan HIS St. Fransiscus Medan, 1937, HIK Xaverius College Muntilan 1942. Kemudian, jadi guru di Magelang beberapa bulan. Pindah ke Jakarta, jadi guru SD Van Lith, sebelum sepenuhnya bekerja untuk musik dan bergabung dengan Pusat Kebudayaan Jepang. Asrul menangkap pengaruh lagu-lagu gereja pada aransemen koor-koor yang digubah Cornel.

Bekerja untuk Pusat Kebudayaan Jepang, Cornel tak bisa menghindar dari kewajiban untuk menggubah lagu untuk kepentingan penguasa epang. Maka dari tangannya lahirnya lagu-lagu “Lagu Menanam Kapas”, “Ke Paberik”, ” dll, yang benar-benar menjadi bahan propaganda.

“Apakah Bung tidak merasa berkhianat kepada diri sendiri sebagai seorang seniman?” tanya Asrul.

“Saudara, ini bukan lagi khianat, tapi saya telah menidakkan diri saya sendiri. Barang bestelan ini janganlah Saudara anggap sebagai suaru seni. Dlaam hl ini saya sudah menajdi seorang tukang pembuat lagu, asal ada orang yang minta dibuatkan saya buatkan,” kata Cornel.

Cornel menegaskan itulah pengorbanan yang harus ia ambil. Ia melihat posisi dia dan seniman sezamannya adalah perintis yang harus menempuh jalan yang tak nyaman.

“Saya hendak membawakan perasaan musik modern ke dalam hati rakyat. Rakyat kita hanya mengenal toonladder yang mempunya 5 suara. Bagaimana mereka akan dapat mengerti dan menghargai lagu yang terdiri lebih dari 5 suara itu, apalagi simfoni-simfoni dan musik-musik klasik yang berat?” papar Cornel.

Asrul melihat ada kebenaran dalam penjelasan Cornel. Lagu-lagu gubahan Cornel yagn dibestel Jepang itu masuk ke desa-desa, diperdengarkan kepada rakyat, diputar di radio, dinyanyikan sambil bekerja di parit, di kebun, oleh orang-orang yang selama ini hanya mengenal tangga nada bersuara 5 itu.

“Jadi jangan lihat ini bestel atau gubahan murni. Lihat hasilnya, toonladder yang 7 itu telah sampai ke lapisan rakyat kita yang paling bawah,” kata Cornel.

Maka, kata Cornel, kita sementara tak usah mengarang simfoni, kenapa? Karena belum waktunya. Schubert atau Stravinsky lama baru akan lahir di Indonesia. Wakttu Bethoven lahir, ia sudah mendengar Handel dan Bach.

“Saya baru kenal Bethoven waktu saya hampir dewasa. Semuanya barang usang yang masih baru buat kita. Yang pertama-tama dapat kita lakukan adalah memasukkan kesanggupan menangkap perasaan musik ke dalam dada rakyat kita. Menurut pendapat saya, dalam hal ini ada juga sumbangan saya,” kata Cornel.

Ada nada apologetik dalam penjelasannya. Tapi Asrul melihat hal lain: Cornel memandang dia sebagai orang yang tidak mau melepaskan dirinya dari suasana yang ada di sekelilingnya. Cornel seorang yang punya mimpi besar, punya gagasan besar.

Ada sekali waktu yang lain waktu, Asrul datang ke Pusat Kebudayaan. Hari sore. Orkes kecil yang dipimpin Cornel sedang bikin latihan untuk pertunjukan sandiwara. Namanya Perkumpulan Sandiwara Penggemar “Maya”. Pemain belum datang. Cornel duduk sendiri di depan vluegel. Asrul juga sendiri di sana. Tatkala melihat Asrul, Cornel pun bergaya.

“The maestro himself will play!” lalu Cornel mainkan komposisi komponis Italia Giuseppe Giordani (1744-1798) Caro Mio Ben. Dengan tenaga penuh. Lalu tiba-tiba berhenti.

Kepada Asrul ia bertanya. “Saudara tahu berapa usia saya sekarang?”

Asrul angkat bahu. Cornel juga tak menjawab.

“Saya hendak pergi ke Eropa dan tinggal di sana untuk mempelajari musik sampai saya berumur 35 tahun, lalu kembali ke Indonesia,” ujar Cornel.

Seakan lupa meneruskan lagunya ia bicara soal perlunya mempelajari langsung kesenian di pusat-pusat perkembangannya. Ia memimpikan Eropa. Seniman Indonesia, kata Cornel, tak pernah mendapat kesempatan mempelajari teknik sesuatu kepandaian dengan semasak-masaknya. Tak hanya di seni musik, seni lukis juga.

“Padahal kita hendak melukiskan perbawa diri, tapi bagaimana, kalau alat-alatnya belum kita kuasai benar. Perbawa diri ini sekarang menjadi tumpuan pikiran dalam ciptaan-ciptaan seniman-seniman Indonesia sekarang ini. Memang perbawa diri ini adalah pokok seni,” kata Cornel. Asrul, mencatat dalam pikirannya, satu hal penting lagi dari seniman yang ia kagumi itu.

Asrul tahu benar bagaimana Cornel memimpin orkesnya. Asrul beberapa kali pemain biola di sana. Cornel orang yang keras. Ia menguasa segala pemain yang sedang ia pimpin. Pukulan iramanya tegas.

Tak banyak komposisi yang digubah Cornel. Yang terkenal pada masa itu antara lain “Mekar Melati” dan “Citra”. Yang terakhir itu digubah dari lirik Usmar Ismail, untuk cerita panggung yang berjudul sama. Kelak nama itu menjadi nama piala untuk penghargaan film tertinggi di Indonesia.

Asrul terakhir kali bertemu Cornel di Jakarta. Sang komposer baru turun dari sebuah oto yang kotor kena lumpur. Asrul bertanya di mana ia tinggal, dan bagaimana perkembangan ciptaan-ciptaannya.

Jawaban Cornel, “Kalau mau cari saya jangan ke rumah. Ke Menteng 31 saja. Buat sementara waktu saya meninggalkan musik. Saya sekarang bebas. Sebebas-bebasnya. Tak akan saya halangi jiwa saya. Saya tak mau perasaan bebas ini hilang. Kalau kemerdekaan kita hendak diambil orang, kebebasan kita pun turut hilang. Maka sekrang saya bertempur untuk kebebasan ini. Saya terikut di dalamnya!”

Di Tanah Tinggi, Senen, Kramat, Cornel ikut bertempur. Sebuah peluru menembus pahanya. Cornel lalu pergi ke Yogyakarta. Asrul tak lagi mendengar kabarnya. Hingga surat kabar memberitakan di meninggal karena batuk kering, TBC, di sanatorium Pakem, Yogyakarta.

 


Saya tulis untuk sahabat Ananda Sukarlan yang sepertinya telah mewujudkan banyak mimpi-mimpi Cornel Simanjuntak.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s