Nakano Gakko, Maruzaki Yoshio, Yanagawa Motoshige

Oleh Hasan Aspahani


 

Semua digerakkan oleh perang.  Pada 1938, sebuah badan pendidikan bagi personel untuk tugas informasi – alias intel – dibentuk di Jepang. Dua tahun kemudian, lembaga pendidikan itu berganti sebutan yang kemudian sangat terkenal namanya dalam sejarah militer dan perang Jepang, Nakano Gakko.  Mereka yang dididik di sana banyak ambil peran.

Nama Nakano diambil dari nama kawasan kecil, setingkat kecamatan, di Tokyo, di mana lembaga itu bertempat. Pergantian nama  itu juga menandai pergantian pihak yang mengelola, jika sebelumnya dibina oleh Biro Urusan Militer, Kementerian Angkatan Darat, maka selanjutnya diambil alih oleh Seksi Delapan Staf Umum Angkatan Darat.

Salah seorang lulusan dari pendidikan itu yang kelak mewarnai sejarah Indonesia adalah Maruzaki Yoshio. Ketika Jepang mempersiapkan serbuan ke Asia Tenggara, para alumni Nakano Gakko diberdayakan sepenuhnya. Mereka diikutkan dalam delegasi resmi, lalu menyebar, menyamar, bekerja sebagai intel.

Itu terjadi pada 1940. Menyusul sebuah nota dagang,  Jepang lalu mengirim delegasi perundingan ke Batavia. Perundingan ini punya misi keras yaitu menekan Hindia Belanda untuk menyetujui tambahan besar sekali atas kuota dagang sejumlah komoditas yang penting bagi Jepang untuk menggerakkan mesin perangnya.  Selain tentu saja itu adalah bagian dari rencana penyerbuan. Perundingan delegasi yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan dan Industri Kobayashi Ichiro itu berakhir buntu. Hindia Belanda menolak.

Pada tahun itulah, untuk pertama kalinya, Maruzaki Yoshio, dengan pangkat Kapten, bersama seorang rekannya sesama lulusan Nakano Gakko, dipimpin oleh Mayor Kuriyo Tsugenori, menginjakkan kaki di Hindia Belanda. Ia ditanam di konsulat Jepang di Surabaya.

Maruzaki  bekerja dengan sangat baik. Dengan imbalan gaji dan tambahan pendapat besar dari perusahaan dagang Jepang  –  yang memang berkomitmen mendukung kerja-kerja intelijen  –  ia bisa hidup mewah.  Hingga tahun 1940 itu di Surabaya, Bandung, dan Jakarta, sudah banyak berdiri toko-toko dan perusahaan dagang Jepang.  Juga Shinju rumah yang menyediakan geisha.  Maruzaki ambil kursus bahasa Indonesia dan Belanda.  Ia termasuk angkatan pertama Nakano Gakko, sebelum lembaga sekolah intel itu memakai nama tersebut, dan sempat menjadi instruktur di sana, sebelum dikirim ke Surabaya.

Bahan-bahan laporan awal Maruzaki membalikkan informasi yang ia kumpulkan sebelumnya dari catatan Belanda. Orang Indonesia yang ia kenal tak seterbelakang apa yang dikesankan oleh orang-orang Belanda. Ia juga mencatat kebencian orang Indonesia pada Belanda. Dari situ Maruzaki menyusun sebuah tesis yang kelak dipakai oleh penguasa kolonial Jepang: bahwa jika Jepang ingin memperoleh dukungan orang Indonesia dalam perang melawan Barat maka orang Indonesia harus lebih dahulu dibangkitkan semangat Asia. Bahwa Asia sama sekali tak lebih rendah daripada orang Barat. Maruzaki juga menyimpulkan, jauh lebih mudah membangkitkan semangat juang orang-orang muda ketimbang orang-orang yang lebih tua.

Lalu perang terhadap Amerika dan kampanye militer di Asia-Pasifik Raya, dipernyatakan oleh Jepang setelah serbuan di Minggu pagi, 7 Deember 1941,  terhadap Pearl Harbour, pangkalan militer Amerika Serikat di Hawaii. Belanda yang memihak pada blok Barat bereaksi dengan menangkapi orang-orang Jepang di Hindia Belanda termasuk Kapten Maruzaki Yoshio. Ia ditahan bersama pejabat-pejabat konsulat Jepang di kamp tahanan Sukabumi.

Di Tokyo sebagai kelanjutan dari persiapan menduduki Hindia Belanda dibentuk satu tim intelijen ahli Indonesia. Kepalanya Letnan Kolonel Murakami. Ia perintahkan anggota stafnya Mayor Kuriya  untuk pekerjaan itu.  Lagi-lagi beberapa alumni Nagano Gakko berperan penting di sini. Beberapa nama masuk tim salah satunya Letnan Yanagawa Motoshige, seorang yang sangat bersemangat.

Ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang, Maruzaki melaporkan diri kepada penguasa militer Jenderal Imamura yang membuka markas sementara di Bandung, sebelum pindah ke Jakarta. Di situ itu bertemu dengan atasannya yang lama Mayor Kuriya yang baru saja diangkat menjadi Kepala Intelijen Tentara Keenam Belas. Kuriya tentu dengan senang menerima kembali Maruzaki, bahkan menugaskannya menjadi pemimpih kesatuan khusus intel, Takubetsu Han, yang terkenal dengan sebutan Beppan. Orang Indonesia menyebut anggota kesatuan khusus ini sebagai Bepang, dengan sebutan kagum, segan, dan takut.

Letnan Yanagawa datang ke Jakarta membawa pemikiran yang sudah disimpulkan oleh Maruzaki sejak di Surabaya, bahwa pemuda Indonesia punya kemampuan untuk dipergunakan di bidang intel militer.  Ia datang pada saat yang tepat, yaitu ketika Beppan mewujudkan konsep itu dengan membuka pusat latihan pemuda, yang terkenal dengan nama Seinen Dojo. Di Tangerang tempatnya. Inilah yang kemudian berkembang menjadi Sukarelawan Pembela Tanah Air, alias PETA.  Letnan Yanagawa dipercaya untuk menjadi komandan Seinen Dojo.  Pelatihan dimulai Januari 1943.  Pesertanya 40 orang, berasal dari seluruh Jawa.  Kemal Idris adalah salah seorang dari peserta pertama itu.

Kemal Idris lahir di Bali, tepatnya Singaraja. Ayah dan ibunya orang Minang. Gagal menjadi dokter karena dikeluarkan dari STOVIA, ayahnya berhasil menjadi dokter hewan, lulus Sekolah Dokter Hewan di Bogor, dan sempat menambah ilmu di Utrecht, Belanda.  Sebagai dokter hewan, Mohammad Idris, berpindah-pindah tugas, termasuk empat tahun di Singaraja, di mana Kemal lahir sebagai anak kedua.

Setelah enam bulan mengikuti pelatihan di Seinen Dojo, Kemal dan 40 peserta pertama itu dinyatakan lulus pada bulan Juni. Letnan Yanagawa turun tangan langsung dalam pelatihan-pelatihan itu.  Hasilnya melampaui standar yang diharapkan.  Letnan Yanagawa dipuji. Maka, pada bulan Juni itu pula diterima angkatan kedua. Kali ini jumlahnya lebih banyak, 60 orang.  Salah seorang di antaranya adalah Daan Mogot. Seorang pemuda dari Minahasa yang kelak menjadi sahabat Kemal Idris.

Pada tahun yang sama dengan dimulainya Seinen Dojo, hanya berselang empat bulan kemudian, pada bulan April 1943, penguasa Jepang juga mulai menerima tenaga untuk Heiho. Sebenarnya persetujuan Tokyo untuk itu sudah keluar sejak akhir 1942. Heiho adalah pembantu prajurit, orang-orang yang dilatih untuk melakukan pekerjaan kasar membantu pasukan Jepang. Mereka juga dipersenjatai pun mendapat pelatihan militer.

Apa yang diajarkan di Seinen Dojo?  Pertama, sejarah dunia, sejarah Hindia Belanda, situasi aktual dunia, sejarah perang, taktik, komunikasi, yang digolongkan sebagai kuliah umum; Kedua, mata pelajaran khusus seperti spionase, muslihat, kontra-spinonase, propaganda, dll; Ketiga, latihan praktis seperti gerak badan, senam, gulat, sumo, berenang, anggar, dll; Keempat,  pelajaran teknik seperti menembak, pengintaian, perhubungan, penyamaran, kamuflase, dll; Kelima, – nah ini dia,  juga ada – berwisata, mengunjungi pabrik, perkebunan, dll; dan akhirnya juga diajarkan lagu-lagu dan menyanyi lagu perang.  Kegiatan yang keenam ini tergolong ekstrakurikuler yang lumayan mengasyikkan.

Di luar semua materi pelatihan itu, yang pertama-tama diajarkan adalah pelajaran Bahasa Jepang. Semua pelajaran kelak disampaikan dalam Bahasa Jepang. “Kalau diprosentasi, pendidikan militer dan latihannya sekitar 70 persen, sementara pengetahuan lainnya sebanyak 30 persen,” ujar Kemal Idris.

Di Seinen Dojo, para pemuda Indonesia diajarkan tabiat dan etos militer Jepang.  Latihan berjalan sangat keras, menuntut disiplin tinggi, dan ketahanan mental dan fisik.  Seinen Dojo angkatan kedua menyelesaikan latihannya pada bulan Oktober 1943.  Dari dua angkatan ini dihasilkan 100 orang terlatih.  Dari sinilah cikal-bakal sejarah PETA dimulai.  100 orang inilah yang menjadi sebagian menjadi instruktur dan selebihnya menjadi korps perwira PETA yang pertama.


 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s