Zijn Julie Helemaal Gek Geworden

Oleh Hasan Aspahani


 Pengoemoeman Badan Penerangan
Oetjapan hormat “Merdeka”

Perhebatkanlah pemakaian oetjapan hormat “MERDEKA” boekan di dalam kalangan pemoeda sadja, tetapi di dalam kalangan segenap lapisan Rakjat.

Perloe ditegaskan di sini, bahwa oetjapan hormat “MERDEKA” itoe ialah oetjapan hormat KEBANGSAAN, oetjapan hormat NASIONAL.

Salam setjara Islam soedah tentoe tetap “ASSALAMOE ALAIKOEM”.

Asia Raja,
Kamis Legi,
6 September 2605


 

APA kalian sudah benar-benar gila!

Tak pernah mereka melihat Bung Hatta semarah itu. Mereka tahu, Hatta bukan orang yang kasar. Tetapi ia tentu saja bisa marah. Untuk membungkus kekasaran marahnya, jika itu tak bisa ia tahan untuk tidak ia luapkan, maka ia akan memaki-maki dalam Bahasa Belanda.

“Zijn Julie helemaal gek geworden!!!”

Tapi anak-anak muda itu berpikir bahwa mereka  memang harus gila! Sudiro, Latif Hendraningrat, Dr Muwardi, yang kena marah-maki Hatta itu berkesimpulan: lain kali kalau punya rencana tak usah minta izin dulu pada Bung Hatta, apalagi Bung Karno.

Rencana mereka mungkin memang gila.

Latief sudah menyiapkan diri dengan selembar peta, dan denah aksi. Mereka sudah beberapa hari mengamati berapa jumlah serdadu Jepang yang mengawal Istana yang jadi pusat pemerintahan, dan simbol kekuasaan itu. Dulu Belanda, kini Jepang. Padahal proklamasi sudah dibacakan, dan seharusnya Sukarno dan Hatta berkantor di sana! Mereka sudah menghitung berapa pasukan yang diperlukan, dan menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan sergapan dan perebutan itu.

Rencana itulah yang hendak mereka paparkan ke Bung Hatta. Pagi itu dengan semangat penuh mereka mengayuh sepeda ke rumah Hatta. Yang dicari sedang berkunjung ke rumah Mr. Soebardjo di Cikini. Mereka pun menyusul ke sana.  Pertemuan di rumah Menteri Luar Negeri itulah yang menghasilkan kemarahan Hatta.

Soebardjo tak tahan untuk tidak tersenyum.

Seberapa lekaskah tempo yang sesingkat-singkatnya itu? Setelah proklamasi para pemuda itu menunggu. Dan mereka sampai pada titik ketidaksabaran baru. Dan itu membuat mereka sekali lagi menunjukkan kemampuan untuk mengorganisasi diri dengan baik.

Pada tanggal ketika pemerintahan baru di Jakarta memerintahkan agar seluruh rakyat mengibarkan bendera merah putih dan menganjurkan pekik “Merdeka!” sebagai salam perjuangan, lima belas hari setelah proklamasi, sebuah organisasi pemuda dibentuk.

Mereka menamakan diri Angkatan Pemuda Indonesia (API).

Orang-orang yang sama sebelumnya sebenarnya sudah membentuk apa yang mereka namakan Komando Revolusi. Kelompok lain membentuk Barisan Rakyat, dan satu kelompok lain lagi menyusun Barisan Buruh.  Tiga organisasi ini bergerak di bawah pengawasan Komite van Aktie!

“Tujuan kita menyusun diri dalam barisan API ini adalah memperteguh Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Kedaulatan Rakyat dengan memperjuangkan masyarakat yang sama-sama, sama-rasa,” kata Chaerul Saleh, yang oleh kawan-kawannya dipercaya menjadi ketua.

Mengikut masa darurat, markas API pun berpindah-pindah, dari Vliegveldlaan 66, lalu pindah ke Kebon Sirih, kemudian ke Prapatan 10, dan akhirnya kembali ke gedung bersejarah, gedung perjuangan: Menteng 31.

Apa yang harus direbut dengan lekas sebagai wujud dari merebut kekuasaan dalam tempo sesingkat-singkatnya itu? Jawatan Kereta Api!

“Kita jemput ketua serikat buruh kereta api, bawa ke markas kita,” ujar Maruto Nitimihardjo.

Maka dijemputlah, pada pukul 12 malam itu, dengan setengah diculik, dua pejabat penting di Jawatan Kereta Api di Jakarta, Gunari dan Abdul Kadir.  Mereka melaju dengan sebuah mobil besar yang entah dari rumah petinggi Jepang mana mereka rampas.

“Kami harus membawa Bapak ke markas. Kawan-kawan kami sudah menunggu,” kata Djohar Nur.

“Nak, besok saja. Saya baru saja datang dari Bandung…” kata Gunari.

“Tidak bisa, Pak. Kami perlu Bapak dan rekan Bapak Abdul Kadir malam ini juga.”

“Mana dia? Kalau dia ikut kalian saya juga ikut…”

Djohar Noer putar otak dengan lekas. Setengah berlari ia datangi Makriful yang duduk di belakang setir. Lalu membisikkan sesuatu. Mobil lantas pergi. Gunari masuk ke dalam rumahnya. Djohar Nur sembunyi di balik pagar. Lima belas menit kemudian mobil kembali.

“Pak Gunari, Pak Abdul Kadir sudah ada, Pak…”

“Suruh dia masuk dulu…”

“Wah, tak ada waktu, Pak. Kita berangkat sekarang.”

Di mobil Gunari tak menemukan Abdul Kadir. Djohar Nur tahu apa yang ada di benaknya. “Ya, sekarang kita jemput dia, Pak…”  Gunari menelan rasa kesal. Tapi ia tahu ia berurusan dengan orang-orang yang bahkan Sukarno dan Hatta pun mereka culik.

Di Manggarai kedua pejabat jawatan kereta api itu dipaksa meneken pernyataan: Menyokong aksi pemuda dalam mengambil alih kekuasaan Jawatan Kereta Api dari tangan Jepang ke tangan Republik.

“Dan ini artinya, Pak, kita pemuda Menteng 31 dan pegawai kereta api bekeja sama.”

“Kapan?”

“Besok!”

Berkas pernyataan itupun ditandatangani. Dan satu persatu, mulai 3 September 1945 itu, stasiun kereta api mereka rebut: Stasiun Kota, Stasiun Senen, Stasiun Kemayoran, Stasiun Tanah Abang, Stasiun Manggarai dan Mesteer Cornelis atau Jatinegara, Stasiun Trem Kramat, juga bengkel kereta di Manggarai.

Inilah cara mereka menerjemahkan proklamasi yang dengan modal salinannya di tangan, mereka bergerak, menuju kota, merebut stasiun kereta api itu satu per satu. Ada yang naik trem, naik sepeda jika ada yang sempat dirampas, menumpang mobil apa saja. Tanpa senjata. “Stasiun ini kami rebut untuk Republik! Teruskan bekerja, tapi ikut perintah kami! Dan mulai hari ini kami mengawasi stasiun ini!”

Tak selalu mulus begitu. Ada kalanya mereka berhadapan dengan opsir Jepang dengan sepatu lars dan seragam, dan  sepucuk pistol di pinggang.  Djohar Nur dan M Hasan Gayo mengepung sang opsir sebelum menyentuh pistolnya.

“Tuan Nippon. Indonesia sekarang sudah merdeka. Mulai hari ini Jawatan Kereta Api kami kuasai dan menjadi milik Negara Republik Indonesia. Tuan harus segera menyerahkan kekuasaan kantor ini kepada bangsa Indonesia. Untuk keselamatan Tuan, kami persilakan meninggalkan kantor ini,” kata Djohar Noer.

Sang opsir setengah tak mengerti bahasa Djohar yang mencampur kata-kata Indonesia dan Jepang seingatnya. Ia tampak bingung, tak tahu harus melakukan apa. Djohar lantas mendekatkan wajahnya ke wajah si Jepang lalu berteriak, “Merdeka!” Ia ulangi itu sampai tiga kali. Lantas disambut gemuruh salam dengan kata yang sama dari seluruh pemuda yang sudah memenuhi kantor stasiun itu.

Yang membuat opsir itu dan dua orang rekannya bergegas keluar adalah sahutan “Merdeka!” dari seluruh karyawan kereta api yang seketika berdiri serentak menjawab teriakan itu.

Sementara itu di luar, dinding stasiun, dinding trem dan di mana saja ada bidang kosong ditulisi: FOR THE RIGHT IG SELF-DETERMINATION; Life, Liberty, Pursuit of Happiness; We Fight for Democracy; We Have Only to Win; Indonesia Never Again The “Life-Blood of Any Nation! (dengan garis bawah pada “never”); Kereta Api Milik Rebuplik Indonesia; Hidup Indonesia Merdeka; Sekali Merdeka tetap Merdeka;  Merdeka 100%.

Setelah berhasil merebut stasiun dan jaringan kereta api mereka pun membentuk Angkatan Pemuda Kereta Api Republik Indonesia (AKMRI). M Hasan Gayo aktif di situ bersama Sukardjo, Mulyono, Legiman Haryono, bahkan sempat menerbitkan buletin yang tak bertahan lama.

Dan terbukti menguasai kereta api adalah langkah strategis. Para pemuda itu kini mudah bergerak kemana hendak, juga lekas mengirim morse dan berita-berita dari kantor-kantor dan stasiun-stasiun kereta api.  Mereka juga yang kemudian merebut kembali kantor berita Antara, percetakan uang, dan stasiun radio.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s