Armand Maulana: Band Gue Lebih Tua dari Sekolah Lo!

  • Catatan 4 Tahun Menjadi Penonton Sky Avenue

Oleh Hasan Aspahani*

BAGAIMANA sebuah pentas seni atau pensi di halaman sekolah berkembang menjadi sebuah ajang bagi sederet musisi nasional bak sebuah festival? Bagaimana pensi yang mula-mula hanya ditonton seribu orang lalu 12 tahun kemudian menjadi  sebuah  pertunjukan yang – senantiasa sold out – berhasil menjual 12 ribu tiket? Bagaimana sekelompok anak Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) menangani sebuah produksi pementasan dengan omzet miliaran, bernegosiasi dengan vendor-vendor peralatan konser,  penyedia tata cahaya, bekerja sama dengan agen penjualan tiket,  membayar manajer panggung profesional sebagai konsultan, memakai jasa keamanan dari perusahaan sebesar Nawakara?

Saya ingin bercerita tentang Sky Avenue.

Anak-anak Labschool Kebayoran (Labsky) dengan bangga menyebut pensi mereka itu dengan  “SkyAve”, dengan rancangan logo berupa stilisasi huruf S dan A yang gagah berenergi bagai sambaran petir.

MP-Sky-Avenue-2015-rev-5_9-utamaSabtu, akhir Agustus lalu, saya mengosongkan seluruh agenda,  untuk datang lebih cepat ke Indonesia Convention Exhibition (ICE), di Kawasan BSD, Tangerang.  Bahwa perhelatan tahun ini diadakan di sana, itu saja sudah menjadi sebuah lompatan besar. Ketika mengingat-ingat di mana SkyAve sebelumnya diadakan,  saya seakan baru saya bahwa saya – dan istri saya – sudah empat tahun berturut-turut menjadi penonton acara ini. Dan kami bukan satu-satunya orang tua murid yang menjadi “pelanggan” pertunjukan musik ini . Saya pertama menjadi penonton SkyAve pada 2014.  Gelanggangnya di Tennis Indoor Senayan.  Saya menjadi saksi bagaimana girangnya Armand Maulana ketika baru di lagu keempat atau kelima, “11 Januari”,  bisa membuat khalayak siswa SMA itu, bergemuruh ikut bernyanyi dan bertepuk tangan panjang sesudah lagu itu usai.

“Alhamdulillah, umur segini masih ditepukin anak SMA,” kata Armand berseloroh, tapi saya kira Armand Maulana memang benar-benar bersyukur dengan kalimat itu. Kelihatan sekali sejak dari lagu pertama, dia menanggung beban bagaimana menaklukkan massa yang tidak tumbuh bersama mereka.

“Gigi sudah tujuh tahun sekolah kalian baru ada, woi!” celoteh Armand, “band gue lebih tua dari sekolah lo…”

Begitulah SkyAve, sepertinya menjadi ajang bagi band-band Indonesia untuk mengukur apakah mereka “masih laku”, sedang dekat-dekatnya, atau sudah habis karena tak bisa lagi merelavankan diri dengan anak-anak SMA, konsumen musik yang mulai punya daya beli dan akan tumbuh menjadi konsumen musik potensial dalam tahun-tahun perkembangan mereka kemudian.  Musik yang saya maksudkan tentu saja bukan lagi fisik album. Anak-anak SMA, lewat pengalaman menonton SkyAve, kelak menjadi apresiator, menjadi penonton konser-konser musik di tanah air.

Sky-Avenue-PostKenapa SkyAve berhasil? Saya ingin menyebutkan beberapa hal.  Di kali kedua saya menonton SkyAve, pada 2015, saya sempat memperhatikan anak saya dan kawan-kawannya bekerja menjadi pemeriksa tiket. Ia memeriksa tas dan menggeladah penonton agar tak lolos ke arena – kali ini di Istora Senayan – dengan barang-barang terlarang: ikan pinggang, tongsis, senjata tajam, dll.  Mereka, siswa kelas 2 SMA, memeriksa penonton dari SMA Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Bandung, yang tentu saja  seumuran dengan mereka.

Kenapa mereka menonton SkyAve? Saya kira karena inilah pensi rasa festival yang orangtua manapun dengan mudah memberi izin kepada anaknya untuk menonton. Yang menyelenggarakan adalah anak-anak SMA, harga tiket terjangkau (2015 itu tiket dibandrol cuma Rp65 ribu, sebelumnya Rp50 ribu) untuk anak-anak SMA, dan di sana mereka bisa menyaksikan aksi musisi yang dipilih dengan selera mereka.   Mungkin SkyAve adalah konser pertama dalam hidup mereka. Mungkin di SkyAve itulah pertama kalinya mereka menyaksikan langsung musisi yang lagu-lagunya menemani masa-masa mereka memasuki masa remaja.  Konon itulah era ketika musik yang mereka dengarkan tertanam paling kuat dalam memori sepanjang hidup mereka nanti.

Maka pada puncaknya malam itu seakan bergetarlah Istora dengan lagu-lagu Tulus – bintang baru yang lahir sebagai bintang seakan-akan memang untuk mereka, setelah sebelumnya panggung diisi oleh Raisa, DJ Cream, Yovie and Nuno, Teza Sumendar, White Shoes & The Couple Company, hingga Sore.

Sky Avenue 2016Liputan media umumnya ramah pada perhelatan SkyAve ini. Ada media besar yang  mencap ini sebagai “pensi paling legendaris di Jakarta”.   Media lain menyebut SkyAve selalu tumbuh menjadi bigger and better dari tahun ke tahun penyelenggaraan.  Dan itu benar. SkyAve 2015 lebih besar dari SkyAve 2014. Di Istora pensi ini benar-benar terasa sebagai festival. Ada foodtruck, barisan stan merchandise dan terutama pembagian panggung outdoor dan indoor dengan suguhan grup musik yang kaya. Saya sempat sangat takut ketika mencoba melihat bagaimana arus masuk penonton diatur pada jam penonton membanjir selepas petang. Handy talkie bersahut-sahutan, seksi keamanan berteriak menenangkan masa. Pada situasi itu kerusuhan mudah sekali pecah. Tak ada seorang pun guru yang saya lihat ada di sana.  Petugas keamanan membantu mengatasi situasi genting itu.  SkyAve malam itu berlangsung mulus hingga usai.

Anak saya bercerita di ruangan OSIS sekolah mereka di Jalan Ahmad Dahlan, tertulis angka jumlah penonton SkyAve dari tahun ke tahun. Angka-angka itu seakan menjadi tantangan bagi pengurus OSIS berikutnya untuk melampauinya. SkyAve adalah program wajib bagi pengurus OSIS di Labsky. Ketuanya sudah ditunjuk sejak pengurus OSIS terbentuk, dan selalu menjadi program terakhir bagi pengurus. Gagal tidaknya OSIS seakan gongnya ditentukan oleh penyelenggaraan SkyAve.

Sekolah sangat mendukung SkyAve. Ini faktor penentu penting lain dari keberhasilan perhelatan ini.  Kepala Sekolah Labchool Kebayoran Risang Danardana, berdiri tak jauh dari stan penukaran tiket, beberapa hari menjelang hari-H, SkyAve 2016. Saya menyalaminya.  Cemas? “Yah, sudah biasa. Ini bawa nama sekolah, dan melibatkan orang banyak. Tapi kita pihak sekolah percaya penuh pada anak-anak,” katanya. Di sampingnya berdiri ketua OSIS, dengan sama cemasnya.

IMG_6558 Ini SkyAve ketiga saya. Secara emosi saya semakin banyak terlibat karena anak saya lagi-lagi ikut jadi panitia. Dia bertanggung jawab mengurusi Sheila on 7!  Dari  cerita dia saya tahu bagaimana rapat-rapat digelar, daftar musisi ditentukan dan dikeluarkan satu per satu seiring penandatanganan kontrak,  akun medsos dimanfaatkan untuk promosi, dan saya ikut menemani istri saya mendadak membeli sejumlah makanan ringan, kopi, minuman ringan, yang harus disediakan atas permintaan artis. Kami tahu, orang tua lain banyak yang juga terlibat mendukung jauh lebih repot dari kami yang sekadar belanja mendadak. Uang belanja kami kelak diganti oleh panitia.

“SkyAve ini kan terbukti jadi tempat belajar kerja sama, manajemen, entepreneurship, tanggung jawab, dan pengalaman menyelenggarakan event besar,” kata sang kepala sekolah. Saya teringat kalimat itu ketika SkyAve 2016 batal dihantam situasi  force majeur. Badai melanda Jakarta, termasuk lapangan Aldiron, di mana panggung megah, dengan tata cahaya dan tata suara raksasa, sudah dihadirkan di sana. Sesungguhnya inilah lompatan berikutnya dari SkyAve, tahun itu penyelanggaraanya digelar diluar ruangan, outdoor. Tiket seperti biasa sudah lama sold out. Yovie Widianto yang puas setelah tampil bersama Yovie and Nuno, tahun itu menawarkan Kahitna yang tampil, dan panitia setuju.  Pilihan pada Aldiron, karena risiko menjawab tantangan “bigger and better” tadi. Apalagi Tennis Indoor Senayan dan Istora Senayan tak disewakan untuk kepentingan selain olahraga, ada pekerjaan persiapan Asian Games di sana.  Saya mengikuti di akun medsos panitia, bagaimana protes yang mengarah ke cacian dan hujatan para penonton yang kecewa dan bagaimana panitia menghadapinya.  Jika SkyAve adalah ajang belajar, maka anak-anak itu juga belajar lebih banyak dari apa yang terjadi di luar kuasa mereka yang membuyarkan kerja persiapan mereka sepanjang tahun.

Sky AvenueKembali ke akhir Agustus 2017 lalu.  Tiga hal di ICE BSD diborong oleh SkyAve. Dua untuk gelanggang konser, satu untuk deretan foodtruck. Dari gerbang masuk berderet stan-stan promosi pihak sponsor dan gerai kreativitas lainnya. Saya membeli CD terbaru Changchuters. Setelah tarian dan aksi perkusi, saya tak melewatkan Barasuara. Iga Massardi CS langsung menggeber empat lagu tanpa basa-basi. Iga baru menyapa di awal lagu kelima.

“Awal 2000-an banyak banget pensi-pensi di Jakarta. Tapi yang bertahan dan jadi sebesar ini kayaknya cuma SkyAve. Salut buat teman-teman panitia, salut buat Labschool. Ini ajang bagus buat kalian untuk menikmati perkembangan musik dari musisi Indonesia,” kata Iga.

Endah n’Ressa, Changcutters, Yovie N Nuno, Aditya Sofyan, dan Raisa. Saya menunggu Kahitna.  Inilah band yang terbukti bisa mempermuda diri tetap bisa terhubung dengan anak-anak SMA yang memenuhi hall 9-10 ICE malam itu.  Hedy Yunus, Carlo Saba, Mario Ginanjar, sama sekali tak kesulitan meraih atensi dan berkomunikasi dengan penonton meski jelas usia mereka terpaut jauh.  Apalagi ketika Arsy Widianto, putra Yovie diselipkan dengan serangkaian medley lagu-lagu ayah dan  om-omnya.  Anak saya yang kali ini jadi penonton baru saja masuk kuliah, sementara Kahitna adalah band yang kaset album pertamanya dulu saya beli juga ketika saya baru kuliah di tahun pertama. Dan mungkin saya mencatat ini sebagai seorang ayah yang bangga, tapi saya cuma hendak menyebut diri sebagai penonton yang setia yang ingin melihat bagaimana konsistensi sebuah kegiatan dipertahankan, bagaimana konsep diperbaharui dan dikembangkan. Saya juga ingin mengatakan satu hal:  Sky Avenue – asal tahu saja ini adalah singkatan dari Labsky Art Event for Unity and Equality –  memang telah menjadi legenda dan itu – mungkin juga seperti pensi-pensi bagus lainnya – lahir dari kerja hebat anak-anak SMA.

*  Hasan Aspahani adalah jurnalis, penyair, penulis, yang menikmati musik untuk menahan penuaan :).

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Armand Maulana: Band Gue Lebih Tua dari Sekolah Lo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s