Berbakti dalam Kebaktian Djawa

Oleh Hasan Aspahani


Makloemat

              Tentara Nippon sekarang berada dalam keadaan membentoek Soesoenan Baroe di Azia Timoer. Dan oleh karena itoe Pemetintah Nippon berhadap soepaja rakjat jang insjaf soeka bekerdja bersama-sama dalam soal bahan-bahan dan lain-lain keperloean oentoek mentjapai toedjoean itoe.

              Siapa-siapa jang menjemboenjikan bahan-bahan akan dihoekoem berat dan terhadap mereka jang soeka bekerdja bersama-sama dengan Pemerintah Nippon dengan memberikan keterangan tentang bahan jang bergoena oentoek hidoep sehari-hari dan djoega bahan-bahan keperloean militair akan mendapat perhatian jang besar.

Berita Oemoem, 21 Maart 1942


 

TIBA-TIBA saja tangan kapten polisi Jepang  itu melayang ke pipi Sukarno.  Inggit berteriak antara kaget dan marah.

“Jangan tampar dia. Ini rumah saya. Saya yang bertanggung jawab. Saya yang lalai tidak mematikan lampu. Ini bukan salahnya!” kata Inggit berdiri dan berteriak lantang di depan si Jepang.  Sukarno sementara itu mengelap darah yang mengalir dari bibirnya yang pecah.

Lalai tak mematikan lampu pada malam hari adalah pelanggaran. Waktu itu memang berlaku sebuah aturan bahwa malam hari semua rumah penduduk di Jakarta harus memadamkan lampu. Yang boleh dinyalakan hanya lampu minyak, seperlunya saja.  Sukarno malam itu lupa. Lampu yang menyala terang mengundang polisi.

Setelah si penempeleng tadi pergi, Sukarno menelepon Kolonel Nakayama. Kepala Bagian Pemerintahan Gunseikanbu itu lekas meminta maaf. “Kapten itu tidak mengetahui siapa Tuan Sukarno. Segera akan kami ambil tindakan terhadapnya,” kata Nakayama.

Nyatanya, si kapten terus-menerus mengawasi Sukarno dan rumahnya.  Terlepas dari soal si kapten Jepang itu tahu atau tidak tahu, nyatanya  Sukarno adalah pemimpin Djawa Hookookai, Himpunan Kebaktian Djawa, sebuah wadah baru yang dirancang Jepang untuk memanfaatkan para pemimpin nasional untuk kepentingan mereka, setelah gerakan 3A gagal, dan Poetera berkembang pesat tapi lebih menguntungkan Indonesia.

Banyak tokoh penting bergabung di Djawa Hookookai.  Inilah kekuatan Sukarno yang menjadi ketua dan Hatta yang duduk sebagai penasihat, termasuk Soewirjo yang di kalangan pejuang politik waktu itu terkenal sebagai ahli menyusun struktur dan membuat anggaran dasar organisasi.   Mr. Sartono yang resminya duduk di bagian pendidikan, adalah orang yang paling sibuk di kantor itu.  Dia seakan tangan kanan Sukarno yang memastikan semua administrasi berjalan lancar.  Soediro bergabung untuk mengembangkan organisasi cabang dari Djawa Hookookai, yaitu  Barisan Pelopor atau Shuishintai.  Di sini pun Sukarno juga didudukkan sebagai Pemimpin Umum dan mengajak  Chaerul Saleh dan Asmara Hadi untuk bergabung. Kemudian juga bergabung Aidit, Lukman, Djohar Noer, Harsono Tjokroaminoto, dan Sarwoko.  Barisan Pelopor cepat sekali berkembang dengan sejumlah cabang di beberapa kota. Di Jakarta dr. Muwardi dan Mr. Wilopo menjadi penggeraknya.

Bersama Djawa Hookookai, Sukarno makin sering melakukan tourne, perjalanan keliling Jawa, menemui rakyat. Bagi Jepang ini adalah propadanda untuk kepentingan mereka.  Bagi Sukarno ini kesempatan untuk menggelorakan semangat juang rakyat.  Soediro menjadi saksi bagaimana lihainya Sukarno mengakali pada pemimpin Jepang. Dalam satu rapat besar, berpidatolah Jenderal Imamura. Sukarno mendampinginya, mengulangi kata-kata Jenderal Imamura dalam Bahasa Indonesia. Karena tidak mengerti Bahasa Jepang, dan disampaikan dengan datar pidato Jenderal Imamura disambut dingin. Ketika Sukarno menyampaikannya tampak benar gairah dan semangat rakyat menyambutnya.  Sorakan dan tepukan bagai tak berhenti.  Sudiro mendampingi Sukarno ke kantor Kempeitai setelah pidato itu. Mereka rupanya curiga Sukarno menerjemahkan pidato Imamura dengan isi yang berbeda.

Di bawah Djawa Hookookai dibentuk banyak wadah lain. Dengan pertimbangan bahwa perlu mengambil kesempatan untuk belajar mengelola organisasi apapun bentuk dan tujuannya, maka banyak pemuda ikut aktif bergabung di sana.  Olahraga sangat digalakkan oleh Djawa Hookookai pada masa itu. Ada bagian khusus yang menangani ini.  Aktivitasnya diberi nama Gerakan Latihan Olah Raga yang kemudian mempopulerkan kata Gelora, akronimnya. Pencak silat diajarkan di mana-mana. Banyak permainan tradional dipopulerkan.  Ada satu kegiatan yang paling terkenal adalah mengadakan gerak jalan beranting dari Banyuwangi, Kalianget, Merak sampai ke Jakarta.

 

Apa yang akan terjadi jika di tengah situasi yang bergairah itu seorang pemimpin nasional dihukum mati oleh Jepang?  Hatta memikirkan itu. Yang sedang menunggu hukuman mati pada saat itu adalah Mr. Amir Sjarifoeddin.

Hatta mengingat apa yang terjadi pada bulan April 1942. Waktu itu seorang mahasiswa hukum dari Semarang datang padanya dengan pesan dari Mr. Amir Sjarifoeddin, bahwa dia sedang bersembunyi karena sedang dicari Kempeitai untuk dibunuh.  Hatta juga mengingat kunjungan terakhir Mr. Amir Sjarifoeddin ke Sukabumi, pembicaraan terakhir mereka, selebaran yang akan dicetak dan uang belanja yang ditinggalkan.  Benarkah dia menggalang kekuatan melawan Jepang untuk kepentingan Belanda ? Kalaupun itu benar, toh itu dilakukan  untuk Indonesia juga? Karena itu Hatta berkeyaninan bahwa Amir harus diselamatkan. Ia datang menemui Miyoshi.

“Tuan, Kempeitai akan mengeksekusi mati Tuan Amir Sjarifoeddin. Saya kira itu tidak perlu.  Dia salah satu pemimpin kami. Saya ingin membawa dia bekerja di kantorku,” kata Hatta.

“Tapi dia itu agen Belanda yang ditinggalkan di sini untuk menghasut rakyat Indonesia membenci Jepang,” kata Miyoshi.

“Itu tidak akan terjadi kalau dia bekerja untukku,” kata Hatta.

“Tuan Hatta bisa jamin?”

“Ya. Tuan Miyoshi jangan lupa dia dulu pemimpin pergerakan rakyat. Sama seperti saya dan Sukarno. Saya ditangkap, Sukarno ditangkap.  Tuan Amir juga dan padanya diberi pilihan, dibuang ke Digoel atau mau bekerja untuk Belanda. Dia memilih bekerja untuk Belanda tapi tidak boleh berpolitik lagi menentang Belanda,” kata Hatta.

Mr. Amir Sjarifoeddin waktu itu masih diperbolehkan menjadi penasihat bagi partai Gerindo. Di mata rakyat dan di mata Belanda, posisinya unik, ia menjadi semacam penghubung.

Miyoshi menerima penjelasan Hatta. Mr. Amir Sjarifoeddin lalu kembali ke Jakarta.  Ia tak jadi bergabung ke kantor Hatta tapi diajak oleh Shimizu di gerakan 3A dan  membantu badan propaganda Jepang.

Seperti pejuang nasionalis lainnya yang  bekerja sama dengan Jepang, Mr. Amir Sjarifoeddin tak menghentikan perlawanannya, ia tetap menjalankan misi perjuangan bawah tanahnya dengan dana 25 ribu gulden – ini jumlah yang sangat besar – yang ditinggalkan Belanda.  Dana itu diserahkan oleh Dr. Charles van der Plas, Gubernur untuk wilayah Jawa Timur pada masa Hindia Belanda yang dekat dengan Gubernur Jenderal Van Mook. Amir bisa mengembangkan organisasi perlawanannya terhadap Jepang menjadi besar.

Amir Sjarifoeddin ditangkap Jepang di Surabaya pada awal tahun 1943, bersama 53 orang – umumnya orang-orang yang beraliran anti-fasis dan anggota partai komunis ilegal – yang  menjadi penyokong-penyokong pergerakannya.  Pembantu-pembantunya itu dihukum tembak.  Sekali lagi Hatta tetap melihat Mr. Amir Sjarifoeddin sebagai bagian dari pemimpin pergerakan yang penting, dan ia merasa perlu menolongnya.  Mr. Amir Sjarifoeddin ditahan di penjara Malang dan sejak itulah hanya menunggu waktu  untuk ditembak mati.

Bagi Soekarni dan lain-lain, Amir Sjarifoeddin adalah guru, di sekolah Perguruan Rakyat. Ia mengajar Bahasa Inggris, sebelum akhirnya dilarang mengajar oleh Belanda, karena dianggap berbahaya sebab menularkan benih-benih perlawanan di dalam diri murid-muridnya.  Salah satu muridnya ya Soekarni itu, yang karena aktivitasnya di perkumpulan pelajar, menjadi radikal, sehingga harus  membagi waktu antara belajar di sekolah dan  ditahan di penjara di Percetakan Negara, di daerah Rawasari.  []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s