Proklamasi, Kenapa Pindah dari Dari Ikada ke Pegangsaan?

Oleh Hasan Aspahani

Malam Hiboeran “Tjahaja Timoer”

 Tepat dengan soeasana gembira oentoek menjamboet hari Kemerdekaan, maka sandiwara “Tjahaja Timoer” tadi malam di Siritu Geki Syoo mengadakan malam hiboeran, terdiri dari beberapa njanjian, tarian dan moesik.

 Teroetama moesik dari konser seni soeara “Kalimanah” mendapat samboetan hangat. Dari tari-tarian jg mendapat perhatian ialah Tari Piring dan Tari Tempoeroeng, joega tari Bali (Pertapaan).

 Asia Raya, 16 Agoest 2605.

 

TENGAH malam itu, dr. Moewardi datang lagi menemui Soediro di rumahnya. Ada sedikit kekacauan. Tapi situasi masih bisa mereka kendalikan. dr. Moewardi baru saja kembali dari Rengasdengklok dan di sana ia tak menemui Sukarno-Hatta.

“Di mana mereka, Mas? Kawan-kawan kita di mana?”

 

Sudiro,_Pekan_Buku_Indonesia_1954,_p8
Soediro

“Sudah kembali ke Jakarta. Saya tidak bertemu di tengah jalan. Tapi sekarang mereka sedang ada di Rumah Laksamana Maeda. Saya ke sini memastikan Mas Diro teruskan saja menyampaikan pesan untuk berkumpul besok di Lapangan Ikada.”

“Sudah, Mas. Pesan sudah disebarkan. Apa saya perlu ke rumah Laksamana Maeda?”

“Tidak usah, kawan-kawan kita sudah di sana.” Setelah itu, dr. Moewardi langsung bergerak lagi, menyiapkan pengamanan untuk peristiwa penting yang akan terjadi besok pagi.

Hingga pagi, Soediro tak memejamkan mata. Waktu yang lekas berjalan itu ia manfaatkan bersama beberapa kawan untuk memastikan pesannya sampai dan dijalankan.

Kabar tentang akan ada “peristiwa penting” pada tanggal 17 Agustus 1945, besok, disebarkan oleh Soediro lewat jaringan Barisan Pelopor. Ia betul-betul ingin menghadirkan sebanyak-banyaknya orang di Lapangan Ikada menyaksikan peristiwa itu. Ia menyebarkan selekas-lekasnya lewat instruksi tertulis, telepon atau lewat kurir yang disebarkan langsung untuk menyampaikan secara lisan.

Perintahnya jelas:

  1. Supaya dengan berkelompok dan berbaris menuju ke lapangan Ikada dan sampai di tempat itu keesokan harinya tanggal 17 Agustus 1945 pukul 9.30 waktu Indonesia.
  2. Keperluan: menghadiri upacara yang sangat penting.
  3. Tidak perlu membawa panji-panji Barisan Pelopor atau bendera.

Memang tidak ditegaskan dalam perintah itu bahwa ini adalah pernyataan kemerdekaan. Itu semata-mata demi keamanan, bukan karena rencana itu belum matang. Larangan untuk membawa bendera juga bagian dari taktik agar Jepang tidak mencurigai pengerahan massa itu.

 

dr Moewardi
dr. Moewardi

Ketika fajar terbit, 17 Agustus 1945, Soediro mengayuh sepedanya ke Pegangsaan Timur. Ia menemui Suhud sang pengawal Sukarno. Suhud sudah tahu apa yang sedang direncanakan di Lapangan Ikada. Sudiro pun mengarahkan laju sepedanya ke lapangan itu. Apa yang ia temui adalah serdadu Jepang dengan senjata lengkap!

“Oh, bocorkah rencana besar itu?” Soediro terperanjat.

Ia gentar.

Ia lalu menemui dr. Moewardi di rumahnya. Sang tuan rumah juga baru saja datang dari tempat lain.

“Jadi, apakah rencana di lapangan Ikada diteruskan?”

“Tidak jadi di Ikada, Mas. Barisan-barisan supaya disuruh terus menuju rumah Bung Karno!”

            Sudiro bergerak cepat.  Beberapa anggota Barisan Pelopor diminta menempelkan kertas pengumuman instruksi tertulis tentang perubahan rencana di pohon-pohon di sekitar lapangan Ikada. Sudiro sendiri segera melaju ke rumah Sukarno. Kepada Suhud ia meminta agar disiapkan seperlunya apa yang diperlukan untuk “peristiwa penting” yang pindah tempat mendadak itu.

Bendera?  Tiang bendera?

Fatmawati sudah menyiapkan bendera itu kira-kira sepuluh bulan sebelum dikibarkan pada  hari itu.  Ia memotong kain, menjahit kelim tepiannya, dan menyatukan potongan merah dan putih itu ketika sudah lewat sembilan bulan usia kandungan Guntur. Ia sudah menunggu saat-saat kelahiran.  Ada seorang perwira Jepang mengantarkan kain dua gulung, merah dan putih.  Ia menduga itu pasti dari kantor Jawa Hokookai.  Ia meyakini saja bahwa Sukarnolah yang memerintahkan untuk mengantar kain itu. Karena hamil pertama itu agak berat, ia tak boleh banyak mengaktifkan kaki termasuk untuk menjahit, maka Fatmawati mengerjakan itu dengan mesin jahit tangan: selembar bendera besar. Bendera yang kelak menjadi sangat bersejarah.  Selembar bendera pusaka.

Ketika prosesi proklamasi dipersiapkan pada pagi hari itu, dan ia mendengar seseorang berteriak belum ada bendera untuk dikibarkan, Fatmawati  mengambil bendera yang ia jahit itu dari lemari, lalu memberikan serta-merta saja kepada seseorang yang yang ada di depan pintu kamar tidurnya.

“Mas, tiangnya satu atau dua?” Soeiro sempat naik emosi karena pertanyaan Suhud itu.

“Satu saja!”

Buat apa lagi menyandingkan Merah Putih dengan Hinomaru? Di muka rumah Bung Karno memang ada dua tiang bendera dari besi. Tapi untuk hari itu hanya perlu disiapkan satu tiang saja. Satu tiang baru yang ditegakkan tak jauh dari teritis, dari ujung atap rumah Sukarno. Di depan panggung kecil yang secara posisi aman bagi Sukarno untuk membacakan proklamasi.

Soediro lalu pulang sebentar, setelah memastikan persiapan itu telah cukup.  Sebelum berangkat lagi, ia berbagi tugas dengan istrinya. Ia harus datang ke Pegangsaan Timur, dan istrinya menjaga anak-anak, empat sekarang sudah, karena anak dalam kandungan yang dibawa ketika pulang dari Plaju sudah dilahirkan. Ia tahu istrinya sangat ingin melihat proklamasi dibacakan.  Tapi, ia belum pasti seberapa aman nanti situasinya.  Dia sendiri sudah menyisihkan sebagian dari gajinya yang besarnya Rp250, untuk membayar asuransi jiwa, Olmy Boemi Poetera, kantornya di Jl. Kramat.

Kabar tentang rencana pembacaan proklamasi  sudah beredar lekas pada tanggal 16 Agustus 1945. Misalnya, dr Bahder Johan mendapatkan kabar itu dari rekan sejawatnya dr. Halim yang datang ke rumahnya.

“Besok kita akan mengarakan proklamasi kemerdekaan. Tentu saudara bersedia untuk hadir, kan?”

“Sudah tentu. Buat apa kita berjuang begitu lama, kalau bukan ingin menjadi bangsa yang merdeka?”

“Itu peristiwa penting yang harus disaksikan oleh segala golongan. Sepertinya dari golongan Islam belum ada yang akan hadir.”

“Baiklah, nanti akan saya hubungi beberapa kawan.”

Lalu dr. Bahder Djohan pun pergi menemui beberapa kawan yang ia kenal sebagai pemimpin Islam.  Yang terlintar di pikirannya adalah Mohamad Natsir, tetapi sedang bepergian ke Bandung, lalu Mr. Mohammad Roem di kantor advokatnya di Kwitang tapi juga tidak ada di tempat. Terakhir ia menemui Prof. Abd. Kahar Muzakir, yang tak bisa hadir karena sudah beberapa hari sakit.

Bahder Djohan sudah hadir di Pegangsaan Timur No. 56 pada pukul 06.00 pagi. Ia datang bersama Haji Sutan Adam Bachtiar, sepupunya. Ia menunggu di serambi depan, karena saat itu belum tampak ada orang yang hadir. Mereka adalah orang-orang yang pertama hadir. Apakah orang-orang itu ada di halaman belakang? Sempat ada keraguan di hati dr. Bahder.

“Kalau nanti ada yang menanyakan siapa kita, dan kenapa kita hadir, jawab saya kita mewakili golongan Islam,” katanya kepada sepupunya.

Mereka berdua kemudian duduk di teras kiri rumah, dekat kamar depan rumah. Tak berselang lama kemudian datang beberapa orang yang mereka kenal. Ada Soekarni, Soediro, dan dr. Moewardi.

Pertanyaan yang menggantung di benak mereka adalah: kenapa proklamasi harus diselenggarakan di Pegangsaan Timur? Kenapa di halaman rumah Sukarno?

Soekarni yang menjelaskan bahwa semula pembacaan proklamasi yang sebentar lagi akan mereka saksikan direcanakan di Lapangan Ikada atau Lapangan Gambir. Itu yang mereka inginkan. Tetapi di sana telah disiagakan polisi Jepang dengan senjata lengkap.

“Bagaimana kalau nanti polisi Jepang datang ke tempat ini?” Ada yang mengajukan pertanyaan begitu.

Dari dalam rumah tiba-tiba keluar dr. Soeharto. Ia baru saja mengecek kesehatan Sukarno. “Bung Karno kelelahan. Ia letih sekali,” katanya cemas.

            “Tapi dia harus membacakan proklamasi sekarang. Kalau perlu, kita baringkan di atas brankar!” kata Soekarni.

Ketika proklamasi dibacakan, dr. Bahder Djohan berdiri kira-kira dua meter dari Bung Karno. Terhalang beberapa orang lain.

Mr. Sartono, sahabat dan advokat Sukarno, hilang kontak dengan sahabatnya itu sejak Sukarno pulang dari Da Lat. Selalunya, kabar apapun tentang Sukarno sampai padanya lewat Sudiro.  Kabar tentang raibnya Sukarno-Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 sampai kepada Sartono lewat adiknya, Sarwoko.  Sarwoko adalah anak buah Soediro di Barisan Pelopor. Dari dia pula Sartono tahu kalau keduanya sudah kembali dari sedang berkumpul di rumah Laksamana Maeda.  Tentu saja Sartono tak datang ke sana karena ia menganggap itu adalah rapat PPKI, dan dia tidak duduk di lembaga itu.

Tapi Sartono tak bisa untuk tidak hadir saat Proklamasi dibacakan di halaman rumah Sukarno.  Ia berjalan kaki, karena rumahnya memang tidak jauh.  Rumah yang ditempati Sukarno di Pegangsaan Timur itu, bekas rumah petinggi Belanda, dialah yang memilihkan bersama Achmad Subardjo dan istrinya, sekembalinya mereka dari pembuangan di Bengkulu. []

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s