Angalai, Sekarang Giliran, Angalai, kata Sukarno kepada Riwoe Ga

Oleh Hasan Aspahani

Maklumat

             Kabar tentang Kemerdekaan Indonesia jg diproklamasikan tg. 17 Agustus 2601 disambut oleh seluruh rakjat Indonesia dengan riang gembira dan hendaknya djuga mengingat hal-hal jg dibawah ini:

1 Mengutjap terima kasih dan sjukur kepada Tuhan Jang Maha-kuasa;

2. Mendjaga nama dan kehormatan Bangsa dengan mendjauhkan segala pikiran dan per buatan jg djahat-djahat dengan memegang teguh ketenteraman umum;

3. Hendaknya hidup seperti biasa sehari-hari, bekerdja dan terus membuka perusahaan, warong2 dan toko-tokonja masing2.

 Djakarta 18 Agustus 2601

Komite Nasional Indonesia

(Berita “Domei”)

 Sinar Baru, 20 Agustus 2605.

 

SEBAGAI komandan PETA Daidan Jakarta, Daidancho Kasman Singodimedjo mula-mula tentu kecewa dan marah atas keterlibatan prajurit-prajuritnya dalam ‘operasi’ penculikan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok.  Kekecewaan dan penyesalannya ia sampaikan kelak ke Ahmad Latief Hendradiningrat.  Kunci tersimpannya rahasia operasi malam itu memang pada Latief, meski dia sendiri tak ikut bergerak.

Jika ingin dianggap sebagai upaya membayar utang kesalahan, maka upaya maksimal PETA mengawal jalannya proklamasi, telah menulasi utang itu.  Shudancho Soetrisno telah bergerak dari markas Daidan di Jl. Jaga Monyet sejak subuh.  Sebelumnya telah bergerak pula pasukan yang dipimpin oleh Latief Hendradiningrat.  Lengkap dengan pakaian dan perlengkapan tempur.  Bulan puasa, perintah Daidancho Kasman Singodimedjo adalah mengurangi latihan berat. Tapi, subuh itu mereka seakan hendak menggelar sebuah latihan besar, perang pertahanan kota. Memang ini hanya kedok, karena sebetulnya mereka hendak mengamankan upacara pernyataan proklamasi.

Latif Hendraningrat
Latief Hendraningrat

 

Shodancho Soetrisno berjaga di tanggul rel kereta api, tepat di belakang Pegangsaan Timur.  Dua pasukan lain dibawah Shodancho Saleh Tedjakusumah dan Shodancho Mujrimi juga berpatroli di beberapa yang diperkirakan akan rawan. Di Pegangsaan Timur sendiri, yang terutama bertugas menjaga keamanan adalah Barisan Pelopor dibawah komando dr. Moewardi.  Yang paling diawasi oleh mereka adalah kemungkinan hadirnya orang yang mengganggu di antara sekitar 500 orang yang berkumpul pagi itu, menjadi saksi peristiwa bersejarah itu. Mahasiswa, pelajar, aktivis asrama Menteng 31 dan Prapatan 10, sudah tampak hadir.

Kehadiran prajurit PETA dalam jumlah yang cukup banyak itu, semula memang dikerahkan untuk menimbulkan rasa aman, tetapi dalam perkembangannya pagi itu, yang tereskalasi  justru rasa tegang.  Massa yang sudah hadir tak sabar menunggu jam yang sudah ditetapkan.  Ketakutannya adalah jangan-jangan apa yang akan dilaksanakan pagi itu akan digagalkan Jepang. Ini ketakutan yang sangat beralasan. Bukankah sikap resmi Jepang tidak mendukung, dan bahkan melarang? Hanya permintaan agar mereka pura-pura tidak tahu yang memungkinkan proklamasi hari itu terselenggara! Tapi, bagaimana kalau Jepang berubah pikiran?

Teriakan-teriakan tak sabar mulai terdengar. Teriakan yang meminta supaya Proklamasi lekas dibacakan. Teriakan yang bahkan setengah memaksa agar Sukarno saja yang membacakan sendiri, tak usah menunggu Hatta. Terbawa ketegangan situasi dr. Moewardi sempat memaksa Sukarno untuk meninggalkan Hatta. Kedua orang ini memang tak segan berdebat. Moewardi cukup cerdas dan berani untuk menjadi lawan diskusi Sukarno. Karena itu Sukarno menyukainya. Tapi tidak dalam situasi pagi itu.

“Saya tidak akan membacakan Proklamasi kalau tidak bersama Hatta! Kalau Mas Moewardi tidak mau menunggu baca saja sendiri!”

Moewardi terdiam.

 

Sukarni
Soekarni

 

Sukarno tahu, Hatta adalah orang yang disiplin. Ia percaya Hatta akan datang pada jam yang sudah disepakati.  Meskipun begitu, terdorong oleh kecemasan, PETA mengutus Daidancho A. Kadir dan A. Latief Hendradiningrat untuk menjemput ke rumahnya.

Soediro sudah menyusun senarai acaranya: Pertama, adalah Proklamasi Kemerdekaan disambung dengan pidato singkat dari Bung Karno. Kedua, Pengibaran bendera Merah Putih. Ketiga, sambutan Walikota Jakarta Suwirjo, dan terakhir pidato dr. Muwardi sebagai Ketua Barisan Pelopor.

“Bung Hatta datang!” Teriakan itu menyambut kedatangan Hatta.  Kurang tiga menit dari waktu yang ditetapkan.  Sukarno saat itu sebenarnya sedang sakit malaria. Latief dan Hatta segera menemuinya di dalam rumah. Keduanya kemudian bersama-sama telah siap untuk membacakan proklamasi.

Kekhidmatan Jumat pagi itu tak terpermanai.  Massa yang tanpa dikomando  sambung menyambung menyanyikan lagi “Sorak-Sorak Bergembira”. Lagu itu, pada hari-hari itu  dinyanyikan orang di mana-mana. Para pejuang menyanyikannya. Anak-anak sekolah menyanyikannya. Siapa saja. Di mana saja. Padahal notasi dan liriknya baru saja dimuat di surat kabar Asia Raya. Lagu itu digubah  Cornel Sumanjuntak: …sorak-sorak bergembira, bergembira semua. Pasti bebas negeri kita, Indonesia Merdeka. Indonesia Merdeka, menuju bahagia. Itulah tujuan kita, untuk s’lama-lamanya.

Saudara-saudara sekalian…!  Sukarno telah mengatasi gemetar akibat malaria yang sedang menguasai tubuhnya.

….Saya telah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun.  Gelombangnya aksikita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. 

            Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti. Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita  menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada  hakekatnya, tetak kita menyusun tenaga kita sendiri.

            Sekarang tibalah saatnya ktia benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.

            Maka kami, tadi malam, telah mengadakan musyawat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seiya-sekat berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

            Saudara-saudara! Dengan ini kami nyatakan kemerdekaan kita. Dengarlah proklamasi kami.

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Jakarta, hari 17 boelan 8 tahun ‘05

Atas Nama Bangsa Indonesia

Sukarno – Hatta

Demikianlah, Saudara-saudara.

            Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita. Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia, merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan membekati kemerdekaan kita. 

 

Suhud dan Latief Hendradiningrat lalu mengerek bendera merah putih. Tanpa dikomando, ini tak dicatatkan sebagai bagian dari prosesi pagi itu,  seluruh yang hadir pada peristiwa itu menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengiringi bendera yang pelan-pelan meninggi dan berkibar gagah.

Riwoe Ga, di antara orang yang hadir, menangis dengan dua alasan: apa yang diperjuangkan Sukarno akhirnya tercapai, tetapi pada situasi itu pembantu yang setia itu terkenang Bu Inggit, yang seperti dia, tahu benar saat-saat susah masa-masa perjuangan itu.  “Harusnya Bu Inggit menyaksikan apa yang terjadi hari ini…,” ujarnya dalam hati.

Usai proklamasi, Mr. Sartono kembali ke rumahnya. Sementara Sarwoko bergabung bersama anggota Barisan Pelopor untuk menyebarkan selebaran tentang proklamasi yang baru saja dibacakan. Riwoe Ga, pembantu dan pengawal Sukarno sejak di Ende ikut dalam tugas menyebarkan berita itu.

Sehabis Sukarno membacakan teks proklamasi, ia memanggil Riwoe, “Angalai, sekarang giliran angalai. Sebarkan kepada rakyat Jakarta, kita sudah merdeka. Bawa bendera.” Angalai artinya sahabat, panggilan istimewa Sukarno kepada Riwoe Ga.

Maka, hari itu, menjelang salat Jumat, Sarwoko mengendarai sebuah jip terbuka membawa Riwoe dan beberapa pemuda lain yang berdiri di jok belakang, mengibar-ngibar bendera merah putih, memekikkan kata merdeka sepanjang jalan yang mereka lewati.

“Kita sudah merdekaaaaa! Kita sudah merdekaaa!” Mereka berteriak bergantian, atau bersamaan. Tapi, sudah bagi penduduk Jakarta untuk mempercayai kabar itu begitu saja, di tengah polisi Jepang yang masih siap siaga di Jakarta. Situasi Jakarta memang tak berubah pada tanggal 17 Agustus itu.

“Iya, Bung. Betul! Kita sudah merdeka!

Lalu, yang terjadi berikutnya adalah kejadian-kejadian spontan, termasuk pendaftaran untuk menjadi anggota Pasukan Berani Mati yang digagas oleh Barisan Pelopor. Ramai sekali yang mendaftar.  Pidato susulan Bung Hatta adalah juga sesuatu yang terjadi diluar rencana.  Itu ia lakukan untuk memenuhi permintaan S. Brata yang bersama kira-kira 100 prajurit PETA datang terlambat, meskipun sudah berlari mengejar momentum itu. Betapa kecewanya mereka.  Sukarno yang setelah upacara itu segera kembali berbaring bangkit juga untuk menemui mereka.  Ia berpidato, tapi tentu tak akan mengulangi pembacaan proklamasi.

“Proklamasi kita hanya sekali saja tetapi itu berlaku untuk selama-lamanya,” kata Sukarno di depan mikofon.  Tak puas dengan pidato itu, mereka minta Bung Hatta juga berpidato.  Setelah itu Bung Hatta pulang. Dr. Radjiman, dan beberapa anggota PPKI yang lain, ada yang datang kemudian, sangat terlambat, tapi mereka masih menemui massa Barisan Pelopor dan para pemuda lainnya.  Dr Muwardi memilih enam orang yang paling berani, dan jago silat menjadi pengawal Sukarno.

Tiga  perwira Jepang datang tak lama setelah kepergian Hatta.  Sudiro mempersilakan mereka menunggu di ruang belakang. Tak ada kursi di sana. Mereka berdiri menunggu. Di kamar Sukarno yang sudah berganti piyama terpaksa mengenakan pakaian resminya lagi.  Sementara itu, tiga perwira Jepang tadi tampak kerepotan dikepung oleh anggota Barisan Pelopor, tanpa melepaskan gantungan golok dan selipan pisau di pinggang mereka. Ini aksi spontan, tanpa perintah.  Menegangkan. Kepungan itu hanya menyisih pada satu sisi ketika Sukarno datang.

“Kami diutus Gunseikan Kakka, datang kemari, untuk melarang Sukarno Kakka mengucapkan proklamasi,” kata salah seorang perwira itu. Sudiro yang mendampingi Sukarno berpikir, betulkah ada perintah larangan itu? Mungkin saja betul. Tapi buat apa? Betul-betul sebuah larangan? Mungkin tidak. Mungkin itu hanya sekadar upaya melepas kewajiban, bahwa mereka sudah berupaya melarang, dan datangnya pun disengajakan setelah proklamasi sudah dibacakan!

“Proklamasi sudah saya ucapkan,” kata Sukarno tenang.

“Sudahkah?”

“Ya, sudah.”

Para pemuda yang mengepung tadi bagai dikomando serentak memegang gagang senjata masing-masing, memperkasar tatapan mata. Sebuah ancaman massal yang efektif. Tiga perwira Jepang itu pergi, dengan ketakutan, tanpa berpamitan. []

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s