Strategi Disusun di Restoran Malabar

Oleh Hasan Aspahani

            “MENGAPA saudara-saudara memilih untuk bertemu dengan saya? Mengapa bukan perwira lain?” kata Shudancho Singgih kepada dua tamu yang sudah sangat dia kenal: Soekarni dan Chaerul Saleh. Pertemuan menjelang magrib, di markas PETA Daidan Jakarta.

Chaerul Saleh sudah memaparkan bagaimana situasinya, apa pendirian mereka atas situasi itu, apa rencana mereka, dan kenapa mereka ingin PETA ikut mengambil peran dalam rencana itu.

Soekarni dan Chaerul Saleh adalah utusan kedua yang hari itu, 15 Agustus 1945, menemui Shudancho Singgih. Sebelumnya, Jusuf Kunto dan Surachmat telah pula menemuinya, sekitar pukul 03.00 sore.  Yang mereka sampaikan adalah kabar takluknya Jepang kepada sekutu.  Juga disampaikan keinginan mahasiswa untuk mendapatkan senjata dari Daidan. Tentu saja Shudanco Singgih mengulur waktu atas permintaan itu. Perihal permintaan senjata ia mengarahkan agar kedua mahasiswa menemui komandan lain yang bertanggung jawab atas persenjataan.  Shudanco Hamdani, orang yang bertanggung jawab atas persenjataan itu, ditemui ketika sedang memperbaikin sebuah truk, sebuah power wagon Bedford.  Hamdani juga menolak.

Shudancho Singgih mencoba menghubungkan maksud mahasiswa yang menemuinya sore tadi, dan magrib itu.

“Jepang sudah menyerah, sudah kalah perang. Tapi kita belum merdeka. Jepang tak mungkin memenuhi janjinya untuk memberi kemerdekaan kepada kita. Ini kesempatan kita untuk berontak. Soalnya, para pemimpin kita masih ragu. Kami sudah menemui Bung Karno dan Bung Hatta, tapi mereka belum bersedia,” kata Chaerul Saleh.

“Jadi mengapa Saudara-Saudara mengundang saya untuk ikut rapat dengan Saudara-Saudara?” tanya Shudancho Singgih.

“Menurut kami, kami tidak datang kepada orang yang salah. Bantuan apa yang kami perlukan, nanti kita bicarakan dalam rapat kita,” kata Sukarni.

Memilih nama Shudancho Singgih adalah juga berdasarkan saran dan Chudanco Latief Hendradiningrat.  Dia adalah sosok prajurit yang nasionalisme tak perlu diragukan, juga seorang yang patriotik. Mereka juga sudah mengenal itu dalam kelas-kelas pengkaderan yang diberikan Shudanco Singgih.

Saat itu, Daidancho Kasman Singodimedjo sedang berada di Bandung menghadiri rapat PETA seluruh Jawa dimana dia menolak gagasan untuk melucuti persenjataan PETA, dan terlambat pulang karena mobilnya entah dibawa kemana oleh siapa, sedangkan Chudanco Latief Hendradiningrat juga sudah pulang untuk berbuka puasa di rumah.

Shudando Singgih tertarik pada rencana itu. Dan ia menyanggupi untuk hadir.  Sepulang dua tamunya, ia bicara dengan Hamdani, dan memilih beberapa prajurit yang dia tahu tangguh dan bisa dipercaya. Mereka memilih Shudanco Sutrisno.  Sementara Hamdani menyiapkan kendaraan, senjata, dan pakaian prajurit. Singgih bersama Sutrisno berangkat ke Menteng 31 dengan sebuah sedan Ford yang disupiri oleh Bundancho Sampun.

“Selamat jalan! Selamat bertugas!” Shudancho Hamdani mengantar dan melepas dari Markas di Jl. Jaga Monyet 2 hingga persimpangan Jalan Harmoni.  Apa yang mereka bicarakan, dan apa yang mereka putuskan untuk dilakukan malam itu, disepakati untuk dirahasiakan.

Di Asrama Menteng 31, Shudancho Singgih bergabung dengan para pemuda, sementara dua rekannya berjaga saja di depan.  Para pemuda pun membatasi jumlah yang hadir.  Sukarni dan Chaerul Saleh memaparkan lagi semua rencana. Shudancho Singgih sepenuhnya menyetujui  dengan beberapa tambahan saran darinya, menilik kemampuan militer yang memang diharapkan oleh para pemuda darinya.

“Kalau begitu rencananya, saya janji akan saya bantu sampai tuntas,” kata Shudancho Singgih. Seketika, suara hembus nafas kelegaan serentak terdengar di ruangan itu.

“Ini hanya memerlukan satu pleton. Satu shudan. Antara 30, dan tak lebih dari 50 prajurit,” kata Shudanco Singgih. Itu tak keluar dari wewenangnya sebagai komandan pleton, sebagai Shudancho.

“Bagaimana dengan permintaan kami untuk melengkapi diri kami dengan senjata?” tanya Sukarni.

“Kami tentu tak bisa sembarang mengeluarkan senjata, sebelum tahu persis seperti apa rencana operasinya. Sekarang saya sudah tahu, dan jangan kuatir, Shudanco Hamdani segera menyiapkannya.

Jadi, misi operasinya adalah: membawa Sukarno dan Hatta keluar Jakarta, memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada kaitan dengan Jepang, dan untuk itu penculikan keduanya juga dimaksudkan untuk menggagalkan rapat PPKI yang akan digelar 16 Agustus 1945.  Shudancho Singgih, tahu bahwa sebagai orang militer dia dan pasukannya sudah terlibat satu gerakan politik yang berbahaya. Tapi, dia mengambil risiko bahaya itu.  Dia dengan patriotismenya, setuju dengan jalan pikiran para pemuda.  Dia juga meminta Soekarni untuk ikut mendampinginya dalam operasi itu. Soekarni mengiyakan. Tanpa diminta, ia memang sudah menyiapkan diri untuk pekerjaan itu.

Rapat bubar. Shudanchi Singgih kembali ke Markas Daidan Jakarta di Jl. Jaga Monyet 2.  Karena lapar, malam itu mereka sempat singgah di Rumah Makan Malabar di Jl. Hayam Wuruk.  Ketegangan mulai menghinggapi mereka, dan itu membuat mereka tiba-tiba merasa sangat lapar. Di restoran itu, dengan suara rendah, mereka tak bisa menahan diri untuk memikirkan operasi yang akan mereka jalankan.  Di situ mereka menyusun strategi. Memilih kemana akan membawa Sukarno dan Hatta.

“Saya usulan kita bawa ke Markas Peta di Tangerang, saya punya kenalan seorang kyai yang sakti di sana,” kata Sampun. Itu artinya mereka bergerak ke barat Jakarta.

Sutrisno mengusulkan agar mereka memilih Markas Peta di Bogor.  “Disana ada keluarga saya yang bisa membantu kita menyembunyikan dua pemimpin itu,” katanya. Di kedua kota itu, mereka tak bisa membayangkan PETA setempat dapat membantu tanpa diketahui oleh pihak Jepang.

Shudanco Singgih akhirnya memilih Rengasdengklok. Ia kenal dan sudah sangat akrab dengan beberapa prajurit PETA di sana, terutama Shodancho Umar Bachsan. Mereka sama-sama bersekolah di AMS. Kesepakatan memilih Rengasdengklok itu ditutup dengan sumpah dan penentuan waktu dan titik pertemuan: 00.30 dini hari, di sebuah titik di Jl. Cipinang yaitu antara Stasiun Jatinegara dan rumah penjara.  Tepatnya, 1/3 jarak dari rumah penjara.

Lalu ia menelpon Shodancho Hamdani. Ia meminta Hamdani membersihkan daerah di titik pertemuan itu, dan menyiapkan perlengkapan operasi, yaitu: dua buah kendaraan power wagon “Bedford”, lengkap dengan awak, dan bensin penuh, ditambah cadangannya; dua penembak jitu dengan senapan masing-masing, dua granat, dan senapan mesin kecil; serta obat-obatan dari dr Soetjcipto dan sang dokter pun harus diajak serta.

Masih ada waktu bagi Shodancho Singgih untuk berkeliling sebentar mengitari kota, sebelum rapat lagi di Jalan Cikini 71, pukul 12 pas tengah malam. Semua yang tadi rapat di Menteng 31 ada di sana: Soekarni, Chaerul Saleh, Aidit, Wikana, Jusuf Kunto, Surachmat, Johar Nur, Soebadio Sastrosatomo, Kusnanda, Darwis, Abdulrachaman, dan Dr. Muwardi.

 

Rapat berjalan tegang dan penuh emosi.  Utusan yang menemui Hatta dan Sukarno sama-sama gagal meyakinkan kedua pemimpin itu.  Menurut mereka, Sukarno belum yakin bahwa Jepang sudah menyerah.  Mereka jelas kecewa.

“Bung Karno seperti melihat hantu di siang bolong. Takut sekali. Pasti dia sudah diancam oleh Kempetai,” kata Sjarif Thayeb, “Kita harus melepaskan Bung Karno dan Bung Hatta dari ketakutan itu.” Ia sudah dua hari dua malam tidak tidur.

“Ya, sudahlah. Kita angkat saja mereka….” kata Johar Nur.

“Prioritasnya adalah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Itu mutlak. Taktik kita adalah fait accompli,” kata Soekarni.

Sikap mereka tidak berubah, proklamasikan kemerdekaan, tapi tidak di bawah pengaruh Jepang.  Urusan membawa paksa Sukarno dan Hatta seperti disepakati pada rapat di Menteng 31, diserahkan kepada Shodancho Singgih dan kawan-kawan dari PETA Daidan Jakarta, yang ikut rapat malam itu. Di rapat itu pula diberitahukan bahwa Sukarno-Hatta akan dibawa ke Rengasdengklok.

“Baiklah, saudara-saudara, kami dari pasukan PETA menerima tugas yang diputuskan dalam rapat ini. Kami bawa kemana, dan bagaimana caranya percayakan semuanya pada kami. Yang pasti tempat itu aman.  Bila operasi selesai, kami perlu satu orang siapa yang harus kami hubungi?”

“Hubungi saya,” kata Chaerul Saleh.

“Baik, kami akan hubungi Saudara Chaerul Saleh. Kami perlu dua orang dari saudara-saudara untuk ikut operasi penjemputan,” kata Shodancho Singgih.

“Saya dan Surachmat,” kata Soekarni.

Mereka berbagi tugas. Sjarief Thayeb minta Jusuf Kunto menggantikan dirinya. Dia ingin tidur. Tak ada yang meragukan Jusuf Kunto. Ia pernah menjadi pilot pesawat tempur Jepang. Lalu tertembak sekutu pada pertempuran di Morotai. Ia sembuh setelah dirawat di CBZ, lalu lari dari kesatuan dinas dan bergabung dengan para pemuda.  Ia disegani karena pengalaman hebatnya itu.

Adapun Shodancho Hamdani, segera setelah mendapat telepon dari Shodanco Singgih segera menyiapkan kendaraan, dan perlengkapan terutama senjata yang diperlukan.  Tidak ada masalah yang berarti. Sejumlah prajurit bekerja rapi dengan rasa saling percaya, merahasiakan operasi tersebut. Termasuk kepada komandan mereka Daicancho Kasman Singodimedjo.

Sejumlah senjata dipersiapkan dalam karung terigu: 8 buah senapan karabin, 16 buah granat, setengah peti peluru (yang sudah disembunyikan di pinggir kali tak jauh dari titik yang diamankan), dan setengah peti peluru yang akan dibawa oleh Shodancho Soetrisno.  Hamdani sendiri bergerak dengan kekuatan pasukan bersenjata 2 pistol Vickers, 2 pedang samurai, 60 butir peluru, 5 buah senapan, 5 sangkur alias bayonet. 25 bakhoders peluru, dan 5 stel pakaian prajurit, serta 5 buah granat. |

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s