Ketika Proklamasi Dibacakan, Dimana Sjahrir?

Oleh Hasan Aspahani

DIA ada di rumahnya. Pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, Maroeto Nitimihardjo datang ke rumah Sjahrir. Maroeto melaporkan perkembangan situasi.

“Soekarno-Hatta sudah menandatangani proklamasi di rumah Laksamana Maeda,” ujar Maroeto.

Komentar pertama Sjahrir adalah, “Bagaimana mempertahankan kemerdekaan dan meminta pengakuan  negara-negara lain bila pernyataan kemerdekaan itu dibuat di rumah seorang laksamana Jepang?”

Kisah ringkas ini dituliskan oleh Hadidjojo – anak dari Maroeto – dalam buku “Ayahku Maroeto Nitimihardjo, Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan” (Kata Hasta Pustaka, Jakarta, 2009).

Malam itu, Sjahrir dijemput untuk ikut datang berunding di rumah Laksamana Maeda. Tapi dia menolak datang.

“…suatu delegasi dari Panitia Persiapan Kemerdekaan datang kepadaku dan minta aku turut serta dalam rapat. Aku tentu saja tidak bisa menerima; kami menghendaki suatu proklamasi yang revolusioner, sedang kini proklamasi itu akan dirumuskan di rumah seorang laksamana Jepang,” ujar Sjahrir dalam bukunya “Renungan dan Perjuangan” (Penerbit Djambatan dan Dian Rakyat, Jakarta, 1990).  Bagian yang menceritakan soal ini adalah terjemahan dari “Out of Exile”. Buku ini diterjemahkan oleh H.B. Jassin.

Meski tak hadir, Sjahrir tahu, dalam rapat di rumah Maeda itu naskah proklamasi yang ia susun dibahas. Meski akhirnya tak dipakai karena terlalu revolusioner.

Tapi Sjahrir menyambut positif proklamasi Soekarno-Hatta itu. Ia menulis: Dampak proklamasi itu hebat sekali. Rakyat Indonesia seolah-olah mendapat semangat baru. Sebagian besar pejabat sipil Indonesia, pangrehpraja, polisi dan kelompok-kelompok tentara segera menyatakan dukungan mereka kepada Republik.

“Kekuatan dan kesatuan nasional mencapai puncak yang belum pernah tercapai sebelumnya,” kata Sjahrir.

Apa yang dilakukan Sjahrir kemudian? Ia mulai berkeliling Jawa. Ia ingin melihat langsung situasi dan bagaimana kemungkinan perkembangannya.  Hasil perjalanannya antara lain pengakuan pada popularitas Sukarno sebagai pemimpin nasional.

Sjahrir menyaksikan bagaimana rakyat Jawa mematuhi perintah Presiden Sukarno untuk mengibarkan bendera merah-putih dan menurunkan Hinomaru.  Untuk urusan bendera ini saja dimulailah pertikaian rakyat dengan penguasa Jepang di mana-mana. Itu kemudian berkembang menjadi pembentukan front rakyat dan dengan itu revolusi rakyat meluas. Kantor-kantor direbut. Fasilitas umum dikuasai. Jepang umumnya pasif tak banyak melakukan perlawanan.  Meskipun di beberapa tempat pertempuran tak terhindarkan. Di beberapa tempat tentara Jepang dilucuti.

Sjahrir menyaksikan itu dalam perjalanannya keliling Jawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s