Kemayoran, New York, dengan Bayi dalam Keranjang Rotan

Oleh Hasan Aspahani

SCHIPHOL telah gelap ketika pesawat milik K.L.M. terakhir mendarat. Pendaratan yang terlambat jauh dari jadwal. Udara buruk dan pesawat Skymaster itu harus berputar-putar dahulu. Sejak menjejaki tangga keluar pesawat, Mien, perempuan berkain dan kebaya itu nyaris tak tahan disergap udara dingin. Tapi ia tak hanya mencemaskan dirinya sendiri. Di ruang kedatangan, ia mengeluarkan bayinya dari dalam keranjang rotan, memastikan bayi lima bulan itu terhangatkan dengan cukup. Ia sudah hampir satu jam menunggu. Lalu lalang orang. Tak ada yang ia kenal dan sebaliknya juga tak ada mengenalnya. Bayinya menangis. Ia hanya berdua dengan bayinya. Mien lekas-lekas menggendongnya. Dalam pelukan ibunya, tangis sang bayi mereda. Kini justru Mien yang menangis. Malam kian larut di Schiphol. Sang penjemput tak ada. Mien tiba-tiba seperti menyadari situasi buruknya: ia seorang diri di negeri asing ini, negeri yang sedang berperang dengan negerinya. Dan karena perang itulah ia terpisah dengan suaminya. Karena keterpisahan itulah ia harus menempuh perjalanan jauh – transit di lima negara – perjalanan yang penuh risiko dan menyengsarakan bagi seorang perempuan dengan seorang bayi. Dan ini pun bukan negeri yang ia tuju. Dan perjalanannya belum selesai.

Suaminya sebenarnya telah mengatur perjalanan itu. Semuanya semula berjalan lancar. Dari Kemayoran pesawat transit dan bermalam di Bangkok. Issaach Mahdi, telah menunggu dan menemani Mien selama menanti pesawat lanjutan terbang ke Karachi. Di Karachi keluarga Idham telah pula menunggu di bandara. Juga ketika mendarat di Kairo. Mien benar-benar terbantu dengan keberadaan kawan-kawan suaminya, wakil resmi negara Indonesia di negeri-negeri asing itu. Keterlambatan pesawat di Schiphol telah mengacaukan ketenangan Mien. Selarut itu tak ada lagi kendaraan umum ke Amsterdam. Dalam jadwal perjalanannya ia memang harus bermalam di kota itu. Tapi bagaimana ia bisa mencapai Amterdam? Di mana dia harus menginap? Berapa jauh Amsterdam dari Schiphol? Mien tak tahu harus bertanya ke mana.

Bayinya menangis lagi. Ia tahu bayinya haus. Tapi tak ada air panas untuk membuat susu. Dan air susunya kering. Serombongan pramugari dan awak pesawat K.L.M. melewati Mien dan bayinya. Tangis bayi dalam gendongan Mien makin keras oleh dingin yang makin parah dan lapar yang makin menyiksa. Seorang pramugari berhenti dan berbalik arah. Ia mendekati Mien. Mien mengenali pramugari yang di pesawat tadi sempat membantunya membuatkan susu untuk bayinya.

“Er is niets te halen, Dame?” Tak ada lagi penumpang lain, kecuali Mien. Dan itu adalah pesawat terakhir yang mendarat.

“Misschien gingen voor een late vliegtuig…” Mien masih bisa bicara dengan ramah meskipun ia sebenarnya ingin mengutuki keterlambatan pesawat tadi.

“U wilt gaan? Amsterdam?”

“Ja…” Memang begitu rencana yang sudah diatur suaminya. Tapi menginap di mana di Amsterdam ia pun tak tahu. Pramugari itu menawarkan Mien untuk ikut bis K.L.M.. Ia diturunkan di sebuah hotel kecil dan dilayani seorang lelaki tua yang baik, yang menawarkan air panas untuk susu dan botol-botol air panas lain untuk menghangatkan diri. Pemanas ruangan tak terlalu berfungsi di kamar itu. Tapi seburuk apapun kamar itu, bagi Mien itu lebih baik dari pada ruang kedatangan Sciphol. Mien tertidur karena lelah penerbangan.

Ketika terbangun pagi sekali, lewat telepon kamar si kakek penjaga hotel mengabari seseorang sedang menunggunya di lobi. Mien turun menggendong bayinya. Nugroho berulang kali meminta maaf.

“Saya semalam tak bisa menunggu lebih lama dari jadwal bis terakhir ke Amsterdam. Lagi pula kabarnya pesawat yang Anda tumpangi mendarat di tempat lain dan akan sampai pagi ini,” kata Nugroho. Dialah orang yang harus menjemputnya Mien semalam. Ia pagi-pagi itu telah ke Schiphol yang sebenarnya hanya kurang lebih 22 kilometer dari Amsterdam. Nugroho mendapatkan informasi penumpang terakhir yang meninggalkan bandara yang menginap di hotel itu, menumpang bis KLM.

Mien tak tahu harus omong apa kecuali mengiyakan dan memaafkan. Nugroho tidak salah. Cuaca semalam memang buruk, dan jadwal penerbangan dibuat jadi kacau. Lagi pula ia masih membutuhkan Nugroho untuk mengantarkannya lagi nanti ke Schiphol, melanjutkan penerbangan. 

Masih ada waktu bagi Nugroho untuk membawa Mien dan bayinya berkeliling Amsterdam. Mien melihat Nugroho merasa amat bersalah dan ingin membayar kesalahannya itu dengan menghiburnya berkeliling kota. Juga makan siang di rumah keluarga Nugroho tentu saja dengan masakan Indonesia yang membuat Mien merasa tak lagi terlalu terasing di negeri asing itu. Nugroho juga berhasil mengupayakan Mien untuk bisa menelepon suaminya di New York.
Idlewild Airport, New York. 20 September 1949. Inilah akhir bandara tujuannya, setelah meninggalkan Schippol dan sekali lagi transit di Gander, New Foundland. Tapi ia tak bisa segera lega. Ada kemungkinan ia tak diizinkan masuk ke Amerika dan dikembalikan ke negeri asal. Indonesia. Itulah persoalannya. Itulah juga sebenarnya misi perjalanannya. Mien adalah orang Indonesia pertama yang memegang paspor Indonesia. Di Schippol ia sodorkan paspor Hindia Belanda, yang juga ia bawa. Ke New York barulah paspor berlogo Garuda itu dipakai.

Ini taktik Sjahrir. Sejak menyuruh Sekjen Kemenlu Soerjotjondro meneken paspor itu, Sjahrir sudah berpesan bahwa Mien akan kesulitan di imigrasi Amerika. Justu itulah yang hendak diuji. Izin visa Amerika atas paspor itu diteken oleh Wakil Konsul Amerika di Jakarta C.H. Walter Howe. Tetapi apakah Mien bisa lolos dari meja imigrasi Idlewild, New York?

Bayinya telah lebih dahulu menemui suaminya. Petugas imigrasi memperbolehkan petugas KLM – atas permintaannya – membawa keluar bayi itu. Mien duduk menunggu. Ia mendengarkan saja perdebatan petugas imigrasi. Sesekali ada yang menelepon ke pejabat yang lebih tinggi. Bagi Mien, jurus terakhir adalah menyorongkan saja paspor Hindia Belanda-nya. Habis perkara. Ia lolos, tapi misinya gagal. Ini bukan sekadar lolos dan bertemu Darpo, suaminya. Ini soal apakah paspor, lambang keberadaan negaranya, diakui oleh negara adidaya itu. Dari Sjahrir juga dari Darpo suaminya, Mien tahu pengakuan itu sangat penting bagi perjuangan diplomasi bangsanya.

Di ruang imigrasi itu kini tersisa dia. Kini petugas imigrasi, seorang lelaki yang lebih muda, dan lebih ramah dari petugas sebelumnya yang menangani Mien.

“We never received the arrival of people with passport like this before, Mississ Soedarpo…” Tentu saja, pikir Mien, ini memang paspor pertama yang dikeluarkan oleh negaraku.

“Tapi konsul negeri Tuan sudah memberi kami visa berkunjung ke sini… Ada masalah dengan itu?” Mien mengagumi sendiri ketenangannya. Ia tahu dia akan lolos, karena ada Darpo di luar, dan tentu dia tak tinggal diam.

“Sebagai istri dan anak petugas pemerintah asing yang tidak diakui oleh pemerintah Amerika…”

“Jadi apa masih ada masalah yang membuat saya harus ditahan lebih lama lagi?”

“Oh, tidak. Cuma kalau tidak ada pengakuan kami tak bisa mengenakan pajak imigrasi kepada Anda.….”

“Jika harus bayar, saya akan bayar…”

Seorang petugas lain mendekati meja di mana Mien diproses, dan berkata pada si petugas muda. “Sudah selesaikan saja. Izinkan dia masuk…”

“Pajak masuk? 10 dollar?”

“Tak usah.”

Berulang kali Mien mengucapkan syukur dalam hatinya. Ucapan yang sama tersuarakan pada mulutnya. Hari itu dia keluar dari kantor Imigrasi New York sebagai pendatang terakhir. Ia datang sebagai penduduk negeri baru bernama: Indonesia. Negeri yang sedang diperjuangkan oleh suaminya di negeri asing bernama Amerika ini.

Darpo menggendong bayinya. Keranjang rotan di sampingnya, bersama barang-barang istrinya. Puluhan wartawan – sebagian wartawan televisi yang memanggul kamera besar – mengelilinginya. Sepertinya telah banyak yang dikatakan Darpo pada mereka. Kepungan wartawan, sorotan kamera, dan sorongan mikropon beralih menyerbu Mien. Semua bertanya soal pemberontakan Partai Komunis Indonesia di Madiun, seharis setelah keberangkatan Mien dari Kemayoran. Mien memandang pada Darpo. Darpo mengangguk dan tersenyum menenangkan Mien. Mien tidak tahu apa-apa tentang peristwa itu jika Darpo tak memberitakannya lewat telepon di Amsterdam semalam.

“Pemeritah kami sudah mengatasi itu. Itu pemberontakan sudah ditumpas. Rakyat kami memilih setia pada presiden kami Sukarno,” kata Mien.

Darpo mengangguk lagi. Tersenyum setenang mungkin. Mien memeluk lengan Darpo. Mereka menatap bayi dalam gendongan Darpo.

Bayi itu adalah aku: Shanti Lasminingsih. Nama yang tertulis pada visa ibuku. Kelak orang lebih mengenalku sebagai Shanti Soedarpo. []

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s