Sukarno: Pakailah Peci sebagai Lambang Indonesia Merdeka

Oleh Hasan Aspahani

AKHIR Juni 1921 Sukarno dengan memaki peci – apa yang belum lazim saat itu dan membuat orang-orang menoleh padanya – dan langkah gagah keluar dari Stasiun kereta Bandung. Ia memulai babak baru dalam sejarah hidupnya setelah tamat HBS Surabaya.

Kenapa Bandung? Karena ibunya melarangnya kuliah ke Belanda. Lulusan HBS umumnya melanjutkan ke Belanda. Sukarno tahu benar tentang hal itu dan sempat meminta izin pada ibunya.

“Tidak. Tidak bisa. Anakku tak akan pergi ke negeri Belanda,” kata ibunya.

Ibunya memikirkan keuangan, tapi lebih penting dari itu adalah ia ingin anaknya tetap tinggal di antara bangsa sendiri. “Jangan lupa sekali-kali, Nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulauan ini,” katanya. Dan Sukarno menurut.

Kenapa peci? Sukarno senang dan menikmati benar kota Bandung. Itu misalnya ia wujudkan dengan membeli pipa rokok, apa yang tak ia lakukan di Surabaya. Sukarno datang ke Bandung dengan kepercayaan diri penuh. Itu ia wujudkan dengan memutuskan untuk tetap memakai peci itu, apa yang ia perkenalkan sebagai identitas diri, bangsa, dan perjuangan, dalam kongres Jong Java di Surabaya, beberapa saat sebelum ia berangkat ke Bandung.

Peci adalah cara Sukarno mengkritik kaum intelektual pada masa itu yang seakan meninggalkan rakyat. Peci dan blangko hanyalah pakaian tukang becak, petani, pendek kata itu adalah penutup kepala dengan kaum jelata dan rakyat biasa.

Dalam beberapa pertemuan bersama kawan-kawannya kaum terpelajar kala itu Sukarno memperhatikan, umumnya mereka hadir tanpa menutup kepala atau istilahnya ‘buka tenda’. Sukarno sampai pada satu kesimpulan: itu sebuah kesalahan. Sebuah keangkuhan. Keinginan tampil beda dengan rakyat jelata sama saja dengan memisahkan diri dengan mereka.

“Orang-orang ini bodoh dan perlu belajar, bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin rakyat banyak jika tidak menyatukan diri dengan mereka,” ujar Sukarno dalam biografinya “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat” (Gunung Agung, 1966).

Sukarno memutuskan hal yang beda. Dengan memakai peci ia ingin mempertalikan dirinya dengan sengaja kepada rakyat jelata. Maka dalam pertemuan-pertemuan Jong Java ia memakai peci, meski sempat ragu juga pada mulanya.

Pikiranku agak tegang sedikit. Hatiku berkata-kata. Untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang-terangan memang memerlukan keberanian.

Pada hari ketika Sukarno memutuskan memakai peci pada forum-forum resmi, ia sempat mengumpet di balik gerobak tukang sate tak jauh dari gedung pertemuan. Hari mulai gelap. Kawan-kawannya satu per satu lewat, tak ada yang berpenutup kepala.

Sukarno ragu. Sukarno menegur dirinya sendiri. “Jadi pengikutkah engkau? Atau jadi pemimpinkan engkau? — “Aku pemimpin,” ia jawab sendiri — “Kalau begitu, buktikanlah!” — “Hayo, maju! Pakailah pecimu!”

Seperti pandangan heran orang di Stasiun Bandung, malam itu Sukarno dan pecinya juga mengundang tatapan penuh tanya. Tapi bukan Sukarno jika ia tak memanfaatkan situasi itu untuk sebagai kesempatan untuk menjelaskan pendiriannya. “Janganlah kita melupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat!”

“Maksudmu apa, Bung?”

Sukarno sedikit tercekat sehingga perlu mendehem kecil, melegakan tenggorokan, sebelum melanjutkan bicara, “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci yang memberikan sifat khas perorangan ini, seperti yang dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu, adalah asli kepunyaan rakyat kita.”

Orang-orang mulai mengerti.

“Bahkan, namanya pun berasal dari para penakluk kita,” ujar Sukarno, makin percaya diri. “Pet” dalam bahasa Belanda berarti kopiah atau songkok. “Je” berarti kecil. “Petje”, sebenarnya begitulah sebutannya dalam bahasa Belanda.  “Hayolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi-tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Dan Sukarno berhasil.  Ia memakai peci saat membaca proklamasi, ketiak bersalaman dengan Che, ketika duduk di sebelah Kennedy di mobil terbuka yang menjemputnya, ketika berdiri di samping Kaisar Hirohito.  Peci, hingga kini menjadi simbol nasionalisme yang dipakai pejabat di acara-acara resmi kenegaraan. Juga ketika disumpah saat dilantik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s