Aku & Balada Si Roy, Setelah 22 Tahun

akutopeng-3

Laki-laki artinya mempunyai keberanian
Mempunyai martabat. Itu artinya percaya
pada kemanusiaan. Itu artinya mencintai
Tanpa mengizinkan cinta itu menjadi jangkar
Itu artinya berjuang untuk menang

Alexandros Panagoulis

SI BOY terlalu berjarak dengan kami. Ia terlalu kaya. Kemana-mana mengendarai mobil mewah. Kami kala itu, bermimpi punya mobil pun tidak berani. Lagi pula sosok fiktif yang mula-mula muncul dalam kisah serial di radio itu harus kami temui di bioskop. Tiket bioskop buat kami adalah barang mewah. Kata yang berhasil dipopulerkan oleh sosok ini adalah: tajir! Apa itu tajir? Kaya, tampan, digilai perempuan, plus – ini yang rada kontradiktif – rajin beribadah. Ingat, gantungan tasbih di kaca depan mobil mewahnya itu!

Kami jauh lebih akrab dengan Lupus, sosok khayalan yang dikarang oleh Hilman Hariwijaya. Lupus pas mewakili kehidupan kami – para pelajar SMA kala itu. Dia tidak kaya, pergi ke sekolah harus berebut tempat di bis, dia bukan pelajar yang pintar, dia tidak pernah serius berpacaran, dan dia menjalani hidup dengan ringan, riang, gembira, seakan tidak pernah serius, tapi kreatif. Lupus memperkenalkan dengan satu kata yang susah dilepaskan dari sosoknya : cuek!

Lupus terbit dalam cerita serial di majalah Hai. Saya kelas satu SMA saat itu dan sudah bekerja sebagai kartunis lepas di surat kabar lokal. Honor saya cukup untuk mengongkosi gaya hidup yang menurut saya waktu itu “paling wah”, yaitu membayar sendiri ongkos langganan majalah Hai dan sesekali beli majalah Intisari.

Lalu, di Majalah Hai, muncullah sebuah cerita serial baru: Ballada Si Roy. Kami langsung jatuh cinta sejak bacaan pertama dan mengidolakan tokoh ini. Pengarangnya Gola Gong. Nama yang gagah. Ini jelas nama samaran. Sampai beberapa lama, sosok si pengarang bagi kami masih misterius. Banyak rumor tentangnya, yang justru membuat si pengarang makin bikin penasaran.

Roy, lelaki kelas 2 SMA itu dideskripsikan begini:….. Dia memang keren. Badannya jangkung atletis. Tampan tapi tidak kolokan. Berbeda dari orang kebanyakan. Senyumnya memang memabukkan, bandel dan khas berandal. Ya, itulah Roy. Kalau ingin menyimpulkan dia dalam satu kata, dia itu: bandel!

Serial Ballada Si Roy dimulai dengan seri pertama dengan teknik berkisah yang sangat efektif. Ada pengenalan sekilas tentang topografi dan sejarah Kota Banten (yang sekarang jadi Provinsi sendiri). Ada penjelasan alasan kenapa Si Roy dan mamanya pindah ke kota itu. Dan tentu saja pengenalan siapa Si Roy dan kenapa dia tidak betah, dan kelak kerap meninggalkan mamanya sendirian demi memenuhi hasrat avonturirnya, siapa kawan-kawan dan siapa yang kelak jadi musuhnya. Juga siapa saja cewek-cewek yang naksir berat padanya dan kemudian telak patah hati dibuatnya!

Begitulah, bertahun-tahun Si Roy menjadi sosok yang hidup dalam mimpi-mimpi kami. Roy yang rajin mengantar hasil jahitan ibunya ke para pelanggan, yang ke sekolah naik sepeda balap, dan diiringi anjing herder warisan almarhum papanya. Roy yang hidupnya pedih. Roy yang disingkirkan keluarga besar ayahnya. Makam ayahnya bahkan dibiarkan tidak bernisan dan ditumbuhi alang-alang. Dalam sebuah pertemuan keluarga Roy kecil disemprot air ledeng oleh para sepupunya. Roy yang anjing herdernya tewas dibenamkan di laut oleh musuh-musuhnya dalam sebuah perkelahian di pantai. Roy yang ditinggal mati sahabat-sahabatnya. Tapi, dia adalah Roy kami yang berani. Roy yang berpetualang – meninggalkan ibunya sendirian, ibu yang merestui petualangan anaknya meski dengan hati pedih terluka – dari kota ke kota menyandang ransel birunya.

Ketika meninggalkan kota tempat SMA saya, ke kota kuliah saya, duduk di kursi penumpang Fokker – pesawat berbaling-baling milik maskapai Bouraq kala itu – saya membayangkan kisah-kisah petualangan Si Roy dan saya terberanikan karenanya. Saya mengingat-ingat bait sajak Alexandros Panagoulis – sajak itu saya kutip di awal kolom ini – yang ditampilkan di kisah pertama Ballada Si Roy: “Joe”. Ya, Gola Gong selalu memulai kisah serialnya dengan kutipan sajak.

***

Kamis, 28 Oktober 2010 lalu, saya bertemu Gola Gong, si pengarang Si Roy. Sosoknya tentu tak misterius lagi. Roy sudah tidak ditulis lagi setelah buku ke-10, Epilog. Saya sudah tahu nama aslinya adalah Herry Hendrayana Harris. Saya sudah tahu dia meninggalkan pekerjaan bergengsi di sebuah stasiun televisi, dan memilih menetap di kampung kelahirannya, mengelola komunitas yang menggalakkan kreativitas menulis dan memabaca bagi siapa saja, terutama anak-anak orang yang tidak mampu menempuh pendidikan formal.

Petang itu, saya duduk semeja-seperkopian bersama Joko “Jokpin” Pinurbo, Afrizal Malna dan AS “Sulak” Laksana. Kami bicara soal puisi, tentu saja. Soal kenapa sejak tahun 1996, sejak Wislawa Szimborska, tak pernah lagi penyair menjadi pemenang Nobel Sastra . Dia tiba-tiba mendekati kami. Saya tak langsung melihatnya, karena kursi saya membelakangi pintu masuk restoran Hotel Pelangi tempat kami menginap. Saya hanya menebak-nebak dengan takut. Ini pasti mimpi petang hari. Saya tak tahu ada atau tidak nama Gola Gong di daftar peserta Temu Sastra Indonesia (TSI) ke-3 Tanjungpinang.

“Eh, Gola Gong!” Saya tak tahu itu tadi yang menyapa Sulak atau Jokpin. Saya lekas menoleh. Gola Gong malah menyapa saya. “Hasan Aspahani ya?” Saya berdiri menyalaminya, tak bisa mengatakan apa-apa. “Akhirnya ketemu juga. Saya mau ketemu kamu,” katanya. Nada bicaranya rendah, tegas dan santun.

Wajahnya letih. Ia memang baru saja menempuh perjalanan panjang dari Jambi dan akan banyak lagi kota yang akan ia kunjungi. Ia punya pekerjaan besar mengerakkan kebiasaan membaca di tanah air. Ia perlu menemui komunitas-komunitas penggerak literasi yang seide-sepergerakan dengan program itu. Dari Jambi ia ke Batam dan ke Tanjungpinang. Perjalanan yang justru menyehatkan tulang-tulangnya. Ia sempat terancam lumpuh karena pengapuran tulang.

Gola Gong yang saya temui adalah sosok yang sungguh sederhana. Baju dan jinsnya saya kira bukan bahan termahal yang bisa ia dapatkan. Ia tampak tak terbebani popularitas dan nama besarnya sebagai pengarang serial cerita yang punya ratusan ribu pemuja – termasuk saya. Rambutnya yang ikal itu kurasa tak banyak berubah sejak ia membuka diri, setelah lama menyembunyikan identitas: ia gondrong, dan sebagian rambutnya menutup wajah.

Kami tak sempat bicara panjang saat itu. Dia mengenalkan Toto St Radik, nama sahabatnya yang sajaknya kerap dikutip di serial Si Roy. Gola Gong dan Toto petang itu ingin menelusuri Tanjungpinang. “Nanti malam kita ngobrol!” katanya, berlalu. Aha! Setelah 22 tahun…

(2)

BALADA Si Roy adalah panggung. Panggung itu berdiri kokoh, bukan hanya bagi Gola Gong, pengarangnya, tapi, juga bagi ratusan ribu – ah, bisa mungkin jutaan – pembaca yang menggemarinya. Mereka, para pembaca itu, mengidentikkan diri dengan si Roy dan semua lakon yang terbentang di atas panggung itu. Mereka melihat kisah mereka sendiri di situ.

Sebuah panggung, adalah sebuah tempat bagi kita untuk tampil. Sebuah tempat untuk mengabarkan kepada orang lain tentang siapa diri kita. Sebuah tempat aktualisasi, agar kita tidak terkubur oleh zaman yang lekas berlalu dan kejam.

Kisah Balada Si Roy adalah sebuah panggung yang tidak mewah, tidak megah, tidak juga tinggi, tapi ia kokoh, kuat dan terbentang sangat luas. “Saya mempersiapkan cerita Si Roy enam tahun,” kata Gola Gong, malam itu, di dataran Anjung Cahaya, Tanjungpinang. Sebuah persiapan yang lama, matang, menguji daya cipta, menantang, dan saya kira pasti menggelisahkan.

Angin laut bersaing dengan hingar-bingar pengeras suara dan cemerlang tata cahaya. Kami berdiri saja di sisi kiri panggung pembukaan Temu Sastra Indonesia. Mendengarkan nama-nama sastrawan disebutkan: termasuk nama kami. Gubernur Kepri dan Walikota Tanjungpinang bergantian berpidato. Kami tidak duduk. Berdiri saja di tempat yang tak tersorot cahaya. Saya mengkonfirmasi banyak hal tentang Balada Si Roy, padanya, ya, pada pengarangnya sendiri, Gola Gong, yang malam itu berdiri di kiri saya!

“Kalau pakai skala sepuluh, dalam sosok Si Roy itu saya empat bagian, selebihnya gabungan dari beberapa kisah dan karakter lain,” kata lelaki yang kini sudah berusia 47 tahun itu. Joe, si anjing herder itu fiktif. Ia sengaja menghadirkan hewan setia itu, yang dalam kisah Roy digambarkan sebagai warisan dari ayahnya yang bandel, tewas karena mencari jalur pendakian lain di sebuah gunung. Joe, yang tewas dalam sebuah perkelahian di pantai, berhasil mengajarkan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang dicintai dan amat berharga buat kita.

Gola Gong sangat tahu apa arti kehilangan. Sejak kanak-kanak tangan kiri Gola Gong diamputasi sebatas siku. Ia pernah bertanya pada mamanya, apakah tangannya itu akan tumbuh lagi. Mamanya mengiyakan, tapi sedikit demi sedikit memberi pengertian bahwa dia tak akan pernah punya tangan yang utuh lagi.

Satu hal terkonfirmasi: sebagai pengarang, Gola Gong adalah perekam kehidupan. Ia menyerap tragedi manusia yang ia alami sendiri, atau pengalaman orang lain yang ia dengar, ia saksikan, lalu dengan imajinasinya sebagai pengarang, kisah-kisah itu ia ramu. Dengan begitu kisahnya, jadi kaya, unik, tapi sekaligus juga jadi bisa dimiliki oleh banyak orang. Saya kira, itu sebabnya kisah itu punya banyak penggemar. Balada Si Roy, telah menjadi panggung bagi banyak orang.

Enam tahun persiapan bukanlah waktu yang singkat. Gola Gong memulai persiapan kisah itu saat kuliah di Fakultas Sastra Unpad Bandung. Kuliah itu tidak dia selesaikan. “Dari kuliah saya, ilmu yang saya dapat, cukuplah untuk dapat sarjana muda,” kata Gola Gong, sama sekali tanpa penyesalan.

Tapi, dia tahu pasti – dan itu jauh lebih penting – bagaimana sastra bisa mempengaruhi dan membentuk karakter. Jika semua serial Si Roy dimulai dengan petikan puisi, Gola Gong memang punya misi khusus.

“Saya ingin Si Roy menjadi sastra perantara. Sastra yang mengantar pembacanya untuk mencintai sastra yang lebih serius. Ya, lewat petikan-petikan puisi itu,” katanya. Dan saya kira, dia sangat berhasil. Saya, termasuk orang yang terantarkan oleh pengantar itu.

“Saya ingat almarhum bapak. Tahun 1974, tangan saya diamputasi. Bapak mengajak saya ke pasar Senen beli buku. Ke Sarinah naik lift dan eskalator. Kata bapak, buku akan membuatmu lupa bahwa tanganmu buntung. Juga hal-hal baru seperti lift dan eskalator itu akan membuatmu percaya diri. Setelah dewasa saya memahami inilah bagian dari pendidikan karakter,” kata Gola Gong.

Balada Si Roy dimulai dari buku pertama “Joe” hingga buku ke-10 “Epilog”. Setelah itu, Gola Gong memutuskan untuk menghentikannya. Tak ada lagi lanjutan kisah petualang bandel itu. “Banyak yang protes, ibu-ibu kirim surat ke saya. Anak-anaknya jadi bandel, gak nurut karena meniru Si Roy,” katanya.

Ini jadi beban buat dia. Ini jadi satu alasannya untuk menghentikan Si Roy. “Padahal kalau saya simpulkan sekarang, pembaca si Roy itu ada dua kelompok. Pertama yang meniru bandelnya. Cuma meniru bolos sekolahnya saja. Yang kedua yang seperti kamu (dia menunjuk saya dengan pandangannya). Kamu mengambil sisi beraninya, mengambil semangat kreatifnya,” kata Gola Gong. Ya, dan saya kira saya tidak sendiri. Saya yakin banyak pembaca yang terberanikan dan tercerahkan, terarahkan hidupnya oleh kisah-kisah Balada Si Roy.

Saya termasuk orang yang merasa dapat tempat dan bisa ikut berdiri di atas panggung yang dibentangkan oleh Gola Gong. Si Roy mengajari saya, dengan caranya sendiri, bahwa saya bisa meraih mimpi-mimpi saya sendiri, dengan tangan saya sendiri.

***

Panggung, di Rumah Dunia, bukan lagi cuma makna konotatif. Rumah Dunia, adalah sebuah tempat dan sebuah komunitas yang dibangun Gola Gong di kediamannya, di kampung Ciloang, Serang, Banten. Di sanalah, Gola Gong kini menghabiskan waktu-waktunya bersama istri dan empat anak-anaknya, setelah ia memutuskan berhenti bekerja dari sebuah stasiun televise swasta. “Anak saya dua paket, dua pasang perempuan-laki-kali,” katanya.

Abi, anak lelaki keduanya, waktu berumur 9 tahun, jadi saksi bagaimana ayahnya memetik buah manis dari kegiatan tulis-menulis. Gola Gong menceritakan kisah itu. Suatu hari mereka mengunjungi kota Bandung. Di kota itu ada penggemar kisah Si Roy yang menjamu seluruh kepentingan Gola Gong dan keluarga.

“Papah terkenal ya?” kata Abi.

Gola Gong hanya tertawa.

“Papah bukan terkenal. Tapi, banyak teman,” katanya. Nah, lihatlah, betapa luasnya bentangan panggung itu, kawan.

Maka, di Rumah Dunia, Gola Gong pun mendirikan sebuah panggung. Suatu hari , ada petugas dari Departemen Pendidikan Nasional, bertandang ke Rumah Dunia. Si Petugas bertanya perihal panggung yang ada di kawasan yang semula berdiri di tanah seluas seribu meter persegi itu.

“Itu buat apa?” tanya si pegawai.

“Untuk pendidikan karakter,” kata Gola Gong.

“Siapa saja yang boleh naik panggung?”

“Siapa saja boleh. Yang penting dia harus berani dan hebat. Hanya orang-orang yang luar biasa saja yang boleh naik ke panggung,” kata Gola Gong.

Begitulah. Gola Gong amat menyadari bahwa siapa saja berhak dan bisa menjadi hebat asal dia berani meluarbiasakan diri. Saat pertama kali anak-anak kecil di Kampung Ciloang datang ke Rumah Dunia, panggung sudah didirkan. “Saya perkenalkan ke pada mereka. Anak-anak saya kumpulkan, saya katakan hanya anak yang berani dan hebat yang boleh naik panggung. Anak-anak itu dengan polos bertanya maksudnya, saya jelaskan, bahwa anak yang berani dan hebat adalah yang mau menceritakan siapa dirinya. Lalu satu per satu mereka naik panggung walau malu-malu, menceritakan tentang diri mereka. Saya jadi tahu siapa mereka dan keluarga mereka,” kata Gola Gong.

Saya kira, kini, Rumah Dunia, adalah petualangan Gola Gong yang lain. Di situ dia menemukan banyak hal baru. Melahirkan nama-nama baru, dan ribuan kisah orang yang tercerahkan karenanya. Ada perhelatan Ode Kampung yang digelar di sana, setiap tahun. Sudah tiga kali hajatan itu terselenggara. Saya pasti akan singgah ke sana, Kang, tak harus menunggu 22 tahun lagi!

Catatan: Tulisan ini adalah gabungan dua kolom yang saya tulis pada 2006, yang terarsipkan di blog INI dan di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s