Satu Kemarahan, Seribu Keberanian, Sebuah Daidan, Enam Rapat, Satu Pemberontakan

Oleh Hasan Aspahani


Nippon hanja mau berdamai bila seluruh A.T.R
dibebaskan dari pendjadjahan Barat

 Tak menghiraukan maklumat bersama dari permusjawaratan Potsdam

 Stockholm, 27-7 – Menurut kawat dari Potsdam atas nama Perdana Menteri Amerika Truman, Perdana Menteri Inggeris Churchill dan Chiang Kai Shek diumumkan maklumat bersama kepada Dai Nippon, supaja Dai Nippon meletakkan sendjata dgn tidak memakai perdjandjian suatu apa.

 Akan tetapi pemerintah Sovjet dgn berdasarkan perdjandjian netral dgn Dai Nippon tetap memegang pendiriannya, dgn tidak menjetudjui adjakan Truman jg telah beberapa kali dikemukakan.

 Sinar Baru,
30 Djuli 2605


 

SEJUMLAH prajurit PETA di Blitar sempat  menyampaikan rencana memberontak terhadap Jepang kepada Sukarno, ketika dalam satu kunjungan si Bung singgah di kota yang sempat ia singgahi di masa kecilnya itu, kota tempat ayahnya dimakamkan.

“Kamu sudah merencanakannya. Tapi kami ingin mengetahui apa pendapat Bung sendiri?”

“Pertimbangkanlah masak-masak untung-ruginya. Saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan yang demikian itu tidak hanya dari satu segi saja.”

“Kita akan berhasil,” kata Supriyadi.

“Saya berpendapat, bahwa saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang.”

“Kita akan berhasil,” Supriyadi mengulangi lagi keyakinannya.

resolve
Poster imbauan bergabung dengan PETA

Sukarno memandangi wajah-wajah prajurit muda itu. Ia menangkap kilatan api di mata mereka. Sukarno merasa tak akan ada yang bisa menghalangi rencana para pemuda ini. “Kalau sekiranya saudara gagal, apasaudara sudah siap memikul akibatnya?”

Mereka saling pandang dan terdiam tapi api di mata mereka sama sekali tak redup.

“Jepang akan menembak saudara semua!”

“Apakah Bung Karno tak bisa membela kami?”

“Tidak. Saudara anggota tentara. Bukan orang preman. Bagi sauadara semua, hukum militer berlaku otomatis,” kata Sukarno.

Pemberontakan adalah pucuk dari gunung es kekecewaan.

Para prajurit PETA sejak direkrut oleh Beppan, dididik di pusat pelatihan di Bogor, lalu kembali ke daidan masing-masing, hidup bagai terisolir secara sistematis dari masyarakat luar.  Di bulan-bulan pertama isolasi itu adalah latihan keras, dari fajar hingga matahari tenggelam.  Pada kuartal kedua 1944 masa keluar dari markas itu datang juga.  Mereka diberi kesempatan untuk menemui sanak-keluarga dan dari situ kekecewaan itu mulai membenih. Rakyat makin susah. Petani dipaksa menjual beras dengan jumlah dan harga yang sudah dipatok oleh Jepang.  Ternak dan telur dibeli paksa. Kekayaan lain pun dirampas.

“Kata mereka itu untuk prajurit PETA,” kata seorang penduduk. Nyatanya mereka tak pernah melihat itu di piring ransum mereka, kecuali grontol atau nasi jagung.

Perempuan-perempuan muda, saudara-saudara mereka dibawa paksa. Katanya untuk belajar di Tokyo, tetapi nyatanya mereka dipekerjaan di kamp-kamp tentara untuk melayani nafsu seksual tentara-tentara Jepang.  Sementara para pemuda dikirim untuk mati tak berkubur.

Kembali ke markas, lepas dari masa cuti, prajurit-prajurit muda itu kini tak lagi datang dengan isi kepala yang sama.  Dan tugas mereka semakin berat, bersama para pekerja paksa  mereka diperintahkan membangun kubu-kubu di Lembah Ngantang, di antara Gunung Kelud, Kawi, dan Anjasmara.  Kini dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan saudara-saudara mereka mati dalam keadaan yang tak pantas untuk mati.

PETA di Karesidenan Kediri membentuk dua daidan. Sebuah di kota Kediri dan sebuah di Kota Blitar.  Daidan Blitar diperkuat kurang lebih 600 orang termasuk pekerja sipil yang bekerja sebagai sopir, juru masak dan pekerjaan lainnya. Anggota Daidan Blitar diasmarakan di bekas sekolah MULO.

Di hari-hari awal setelah kembali dari Bogor, para prajurit PETA harus menjalani latihan keras, dan yang paling berat adalah lari dari Blitar ke Kaliputih kurang lebih 15 kilometer. Setiap hari.  Untungnya, sampai tiga bulan pertama makanan ransum mereka lumayan bagus. Tapi setelah itu mutu makanan makin merosot saja. Pagi makan grontol, atau jagung putih yang direbus. Siang disajikan gaplek, dicampur sedikit nasi kalau ada atau lagi-lagi grontol. Sementara itu latihan terasa semakin keras.

Pada awal tahun 1944, anggota PETA Blitar mulai ditugaskan membangun benteng dan kubu pertahanan. Karena diperkirakan sekutu akan menyerang dari pantai selatan Jawa, maka di sejumlah titik ke arah selatan itulah benteng dan kubu dibangun. Supriyadi, perwira yang sensitif itu, mendapat tugas mengawasi para romusha yang bekerja bersama mereka. Ia tak sampai hati melihat saudara sendiri yang kurus, tak bertenaga karena makanan yang sangat kurang, tetapi terus dipaksa untuk menggali tanah, mengangkat batu. Beberapa pekerja itu mati di depannya. Lalu disingkirkan begitu saja. Tak ada waktu bahkan untuk sekadar menghormati mayat saudara-saudaranya sendiri.

Dan Supriyadi lalu merancang sebuah pemberontakan. Rapat pertama di kamar Bundanco Halir.  Sebuah regu kecil terbentuk. Muradi dan Halir akan menghubungi dan mengajak para perwira di Daidan Blitar. Sumardi hubungi teman-teman tentara PETA di daidan-daidan lain.

“Saya menghubungi tokoh-tokoh pemuda masyarakat..,” kata Supriyadi.

Rapat kedua kemudian mereka adakan juga di kamar Halir. Setiap kali rapat amat rahasia itu berlangsung Bundanco Tarmuji berjaga-jaga di depan kamar dan mengantar hidangan bagi anggota rapat.

“Kita harus rela berkorban. Risiko perjungan paling ringan dihukum tahanan. Paling berat dihukum mati. Jangan berharap pangkat dan kedudukan ataupun gaji yang tinggi,” kata Supriyadi.

Sementara itu akan  ada rencana latihan perang di Tuban.  Sepuluh Daidan PETA berkumpul. Keadaan semakin memburuk. Rakyat semakin susah. Desas-desusnya mereka akan dikirim berperang ke luar negeri. Ini yang mereka tidak mau. Jika harus antara mati nanti karena  membela Jepang mereka lebih memilih mati sekarang untuk mengusahakan kebebasan negeri sendiri.

“Jepang juga berencana membunuh pemimpin kita, menghabisi orang-orang Indonesia terpelajar lainnya dan menjadikan negara Indonesia negeri satelit Jepang,” ujar Muradi. Entah dari mana kabar itu ia dengar, tapi memang santer terdengar.

Mereka makin yakin dengan rencana pemberontakan yang sudah dua kali mereka rapatkan.

“Kita harus sungguh-sungguh dengan rencana ini. Saya usul kita bentuk suatu organisasi perlawanan. Yang meskipun sangat sederhana sifatnya, tapi bisa jadi pegangan dalam tugas-tugas berikutnya,” ujar Halir.

Supriyadi setuju. “Ya, apakah kita harus menunggu sampai Indonesia sudah ambruk sama sekali? Tidak kan? Nasib kita dan bangsa ini tidak akan berubah kecuali kita sendiri yang mengubahnya… Lebih baik mati dariapda kehilangan ibu pertiwi.”

Usul Halir segera ditindak lanjuti. Maka disusunlah satu organisasi pemberontakan dipimpin Supriyadi. Komandan tempur dipegang Muradi. Lima Komandan pasukan diangkat. Juga ditunjuk penanggung jawab perbekalan, keungan, peralatan, angkutan, perdudangan. Serta dua penasehat dr, Ismangil dan Mangkudijaya.

Pada tanggal 5 Februari 1945, Daidan Blitar berangkat  dengan kereta api menuju Tuban.  Makanan peralatan dan amunisi diangkut bersama kereta api tersebut.  Di Tulungagung peluru dibagi. masing-masing dapat 15 butir.

Apa yang mereka lihat di Tuban adalah pemandangan yang menciutkan nyali. Bangkai-bangkai tak terurus berserakan di pinggir jalan. Romusha mati kelaparan.

Tapi latihan batal.  Sepuluh hari berkemah di sana, mereka diperintahkan untuk kembali ke Blitar.  Apa penyebab latihan itu batal? Tak pasti, tapi yang mereka dengar adalah ada seorang Daidanco Bojonegoro mati. Tak jelas sebabnya, tapi kabar yang sampai membuat para prajurit itu harus memendam amarah: Daidancho itu dibunuh oleh tentara Jepang.  Latihan dan dengan demikian rencana pemberontakan kelompok Supriyadi di Tuban sementara gagal.

Setelah itu kehidupan di markas makin ketat, peraturan makin keras. Kini ada larangan untuk  berkumpul lebih dari lima orang. Tidak ada lagi libur di ujung pekan.  Mereka juga dilarang bicara tentang kondisi daidan kepada tamu atau keluarga yang berkunjung.

Tapi situasi di markas sudah tak tenang.

Lalu merebak lagi kabar bahwa seluruh amunisi akan dibawa ke Surabaya.  Soeprijadi pun kembali mengajak kawan-kawannya untuk mematangkan pemberontakan yang sudah lima kali mereka rapatkan. “Tanpa amunisi, pemberontakan yang sudah kita rencanakan sudah gagal sejak awal.

Sebuah insiden kecil – tapi amat mencurigakan – turut mengeskalasi rencana pemberontakan menjadi lebih lekas. Suatu siang, sidokasikan atau bintara pelatih Hosino menghunuskan pedang mencari Supriyadi sambil berteriak: “Shodanco mau berontak ya?”  Diulang-ulang pertanyaan seperti orang yang sedang mabuk. Saat itu, Supriyadi menelinap keluar daidan menuju Bendo, satu kilometer dari Blitar.  Ia menemui Mbah Kasan Bendo, guru spiritualnya.

“Saat ini sebenarnya belum waktunya untuk melawan tentara Jepang. Tunggu empat bulan lagi. Akan tetapi kalau anak mau juga meawan tentara Jepang sekarang, saya hanya dapat memberikan restu padamu. Karena pejuanganmu itu adalah mulia yakni untuk melenyapkan penderitaan dan penjajahan dari bumi tanah air kita,” saran Mbah Kasan.

Kembali dari Bendo, malam harinya Supriyadi mengumpulkan 25 orang prajurit. Ini rapat terakhir di kamar Halir.

“Melihat beberapa peristiwa dan desas-desus yang sengaja dihembuskan, saya yakin rencana kita memberontak sudah diketahui oleh Jepang. Kenapa tidak ada tindakan pada kita mungkin karena tidak ada bukti saja.  Karena itu sebaiknya pemberontakan itu kita lakukan saja secepat mungkin. Kita tidak perlu menunggu-nunggu lagi. Karena keadan dan penderitaan rakyat Indonesa sudah tidak tertahan lagi,” kata Supriyadi.

Siang itu, ada satu gerbong Kempeitai datang dari Semarang ke Blitar. Sebagian dari mereka menginap di hotel Sakura, hotel yang biasa ditinggali oleh petinggi tentara Jepang.

“Apakah kedatangan pera anggota kenpetai itu tidak bermaksud untuk menangkapi kita? Mengingat bahwa renana pembertontaankita sudah bocor, mungkin sekali merka memang sengaja didatangkan ke Blitar untuk menangkapi kita semua,” papar Supriyadi.

Dengan situasi seperti itu, rapat terakhir menyepakati untuk  memberontak malam itu juga.  Semua pasukan disiapkan. Begini strateginya: Shodanco Dasrip bertugas di dalam kota meghancurkan orang-orang Jepang di pantai selatan. lalu bertemu pasukan Shodanco S Jono di Ngimut untuk bersama-sama menuju Tulungagung. Pasukan Shodanco S Jono menuju Srengat lewat jalan raya menghadang tentara Jepang dari Kediri. Ini dimaksudkan untuk membantu pasukan Bundancho Jarwadi yang bertugas di dalam kota agar leluasa menuju pertahanan Jembatan Grondong mencegat tentara Jepang yang mengejar dari arah Blitar. Shodanco Suparyono menugaskan Bundanco Adi Widayat melepaskan orang-orang hukuman dari penjara. Membinasakan orang-orang Jepang di dalam kota termasuk orang Jepang di Hotel Sakura, lalu melucuti senjata polsi yang tidak akan membantu dan menghalani perjuangan kemudian bergabung dengan pasukan S Jono menghadang di Kalipucung menghadang Jepang dari Kediri.

Shodanco Muradi menuju ke jurusan Ponggok lalu menuju pertahanan di hutan Panceran. Kantor Kenpetai dan mes sidokan adalah sasaran penyerbuan. Hujani dengan peluru. Lalu Bundanco Sumanto harus bergerak ke timur, menghalangi bala bantuan Jepang dari Malang.

Peluru dan granat dibagikan, setiap prajurit dapat 150 peluru dan 4 granat tangan. Supriyadi dengan pakaian preman membawa keris dan sepucuk pistol, Pujianto memutuskan hubungan telepon dari semua jurusan.

Shodanco Partoharjono membawa sehelai bendera yang sudah lama disiapkan. Ia sempat mengibarkan bendera itu di lapangan besar seberang jalan Daidan. Ia lalu sujud tiga kali. Bendera itu ia jahit sendiri dan disimpannya sejak ia pulang dari latihan PETA di bogor.

Pemberontakan yang dimulai pukul 03.00 itu ditandai dengan delapan tembakan mortar.

Dinihari itu kantor Kempeitai ditembaki dari tiga jurusan!

Tapi, pembrontakan itu lekas ditumpas oleh Jepang.

Pada 16 April 1945, dr, Ismangil, Moeradi, Soeparjono, Soenanto, Halir Mangkoedidjaja, Soedarmo dijatuhi vonis mati oleh pengadilan Mahkamah Militer Jepang, setelah diadili secara marathon bersama 55 prajurit PETA yang memberontak. Selebihnya, mereka dijatuhi hukuman seumur hidup, 15 tahun, lalu bervariasi penjara hingga 2 tahun.

Dan Soeprijadi menghilang.

Mungkin ia sebenarnya tertangkap lalu diam-diam dihabisi agar semangat pemberontakan tak menyebar ke seluruh satuan PETA di tanah air. |

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s