Sukarno, Hatta dan dr. Radjiman Terbang ke Saigon

Fuhrer Hitler Tewas Sebagai Ksatria
Laksamana Donitz Menggantikan Beliau

STOCKHOLM, 1-5 – Menurut radio Djerman Fuhrer Hitler ketika memimpin pertempuran di Berlin tanggal 1-5 sore tewas sebagai ksatria.

Karena itu Laksamana Donitz dengan segera diangkat menjadi fuhrer dan panglima tertinggi Angkatan Perang Djerman.

Sinar Baru, 3 Mei 1945

 

Oleh Hasan Aspahani

 

“To, besok kita pergi ke luar negeri. Bersama Bung Hatta.”

“Mas Karno hendak ke mana?”

“Ini rahasia! Pokoknya kita ke luar negeri,” kata Sukarno.

Bagi dr H.R. Soeharto kalimat singkat dari Sukarno itu adalah perintah.

Ia telah mengenal betul siapa tokoh ini.  Pada tahun 1942 dr. Soeharto menangani persalinan anak Ratna Djoeami dan Asmara Hadi di kliniknya.  Sukarno datang membezuk anak angkatnya itu  dan mereka menjadi akrab.  Sejak itulah ia melayani Sukarno sebagai dokter pribadi, juga bagi keluarganya.

Kelahiran anak Mr. Sumanang juga dibantu oleh dr. Soeharto. Karena kesulitan mendapatkan kain untuk popok, istrinya memanfaatkan kain spanduk bekas. Kain itu dicuci sampai catnya hilang, lalu dipotong-potong seukuran popok dan baju untuk bayi mereka. Sukarno rupanya mendengar kelahiran bayi laki-laki mereka juga dari dr. Soeharto. Ia dan Fatmawati yang saat itu belum hamil menyempatkan diri menjenguk bayi baru itu. Fatmawati menimang-nimang bayi itu dengan gemas.

“Aduuh, lucunya bayi ini. Saya juga ingin sekali punya anak seperti ini,” kata Fatmawati. Mungkin kebetulan saja, tak lama berselang Sumanang dapat kabar bahwa Fatwamati mengidam.

Bagi dr. Soeharto terbang ke luar negeri pada hari-hari itu nyaris sama saja dengan bermain-main menantang maut. Di mana ada wilayah udara yang aman?  Perang Asia Timur Raya sedang berkecamuk pada tingkat yang mendekati puncaknya.

Armada udara sekutu sedang ganas-ganasnya.

Mereka berhasil menghantam balik Jepang.  Pulau Iwojima dan Pulau Okinawa, tameng pertahanan Kepulauan Jepang telah bobol diduduki sekutu. Pesawat-pesawat pengebom B29 menghujani Tokyo dengan bom.  Api peperangan telah pula menjalar ke Indonesia. Armada tempur udara sekutu juga telah memberondong posisi Jepang di  Tarakan dan Balikpapan.

Dan Sukarno mengajak terbang ke luar negeri dalam situasi seperti itu?

Dokter kelahiran Tegalgondo, Surakarta, 24 Desember 1908 itu bisa saja menolak.  Ia bisa menyusun banyak alasan bagus yang tak akan bisa dibantah oleh Sukarno.  Tapi ada bagian dalam jiwanya yang mendorongnya untuk menerima ‘petualangan’ bersejarah itu.  Ya, bersejarah!  Ini pasti perjalanan penting yang tidak hanya berarti bagi Sukarno dan Hatta, atau bagi dirinya, tapi bagi seluruh bangsa Indonesia.

Maka pada subuh 9 Agustus 1945 itu, dia sudah ada di Pegangsaan Timur 56, di rumah Sukarno. Ia telah bersiap dengan kopor untuk perbekalan pribadinya, dan obat-obatan yang ia tahu akan sangat diperlukan.  Ia belum tahu juga mereka akan terbang ke mana, tapi melihat ketegangan di wajah Sukarno, ia juga tak mau bertanya.

Sejak berpraktik sebagai dokter mulai tahun 1935, H.R. Soeharto secara ekonomi sesungguhnya telah mapan.  Semua ukuran sukses material ada padanya. Buick, Oldsmobile, dan Austin ada di garasinya.  Juga rumah dan sawah di kampung kelahirannya.  Menjadi dokter pribadi Sukarno, baginya, bukan soal hubungan pasien dan dokter secara profesional lagi, ini adalah caranya mengabdi kepada pemimpin dan negeri yang sedang diperjuangkan ini. Ia melihat Sukarno sebagai pemimpin Indonesia, sekarang dan kelak, dan rakyat membutuhkan kehadirannya.   Tetapi apakah pengabdian itu harus juga mengambil risiko maut?

Ia masih punya waktu untuk membatalkan keikutsertaannya ini. Di tengah kecamuk pikiran sebelum berangkat ke Lapangan Terbang Kemayoran, tiba-tiba datang sosok yang sangat ia kenal – terutama dari kebiasaannya mengenakan adat busana Jawa Surakarta: dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.  Apakah beliau ikut juga dalam penerbangan ini?  Melihat dr. Radjiman juga tampak siap untuk bepergian tiba-tiba terusir semua ragu dalam diri dr. Soeharto.  dr.Radjiman adalah pensiunan dokter pribadi Sri Susuhan Pakubuwono X.  Sudah 66 tahun usianya. Ia telah terjun aktif dalam pergerakan, bahkan sejak ia muda.  Dokter ahli penyakit pes itu adalah salah seorang yang  ikut mendirikan Boedi Oetomo, bahkan menjadi ketuanya pada tahun 1914-1915. Kini  pun dia memimpin Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), memimpin sidang-sidang pembahasan pembentukan negara Indonesia sebagai ketua.

Masih dalam ketegangan yang amat terasa, berangkatlah mereka berempat: Sukarno, Hatta, dr. Soeharto, dan dr. Radjiman.  Dingin udara Jakarta pukul 5 pagi mengiringi mereka.  Sukarno meminta dr. Soeharto untuk memberi perhatian pada dr. Radjiman yang sedang kumat rheumatiknya, juga membantu beliau mengenakan pakaian Jawa.

“Ya, Mas,” kata dr. Soeharto, pendek.

“Kita, ke Dalat. Vietnam,” kata Sukarno akhirnya, menjawab, meskipun dr. Soeharto tak lagi bertanya. Tapi, tampaknya memang di antara mereka berempat hanya dia yang belum tahu kemana penerbangan itu.

“Kita akan menemui Marsekal Terauchi di sana.”

Apapun tujuan penerbangan itu, tak ada alasan lagi bagi dr. Soeharto untuk urung ikut terbang.  Marsekal Terauchi adalah Panglima Tertinggi Pasukan Jepang di Asia Tenggara.  Ia bermarkas-besar di Dalat, sebuah kota kecil, berjarak kira-kira 300 km di sebelah utara Saigon, ibukota Vietnam. Jika Sukarno tak memberi tahu apa tujuan memenuhi panggilan Terauchi, sesungguhnya dia sendiri pun tidak tahu pasti.

Sukarno sendiri sesungguhnya amat gentar. Ia cemas. Ada baiknya. Dengan begitu dia punya alasan untuk mengajak dr. Soeharto, yang keikutsertaannya bisa sedikit menenangkan Sukarno. Lagi pula, dokter pribadinya itu bisa pula sedikit berbahasa Jepang.

Tak ada tokoh pergerakan yang melepas mereka di Kemayoran. Yakinlah dr. Soeharto bahwa penerbangan ini memang benar-benar dirahasiakan. Ia melihat di landasan telah siap pesawat yang akan membawa mereka. Sebuah pesawat penumpang biasa bermesin dua, yang tampak sudah agak butut dan sama sekali tidak meyakinkan. Beberapa penumpang lain adalah orang-orang Jepang.  Letkol Nomura dari Gunseikanbu menyertai mereka, mengantarkan hingga ke Dalat. Seorang lain yang dikenal dr. Soeharto adalah Kolonel Sunkichiro Miyoshi, penerjemah yang sering mendampingi Sukarno. Dia menyapa Miyoshi-San.  Ketenangan sosok yang sudah berumur yang selalu tampak rapi ini cukup menambah ketetapan hati dr. Soeharto.

Satu per satu penumpang dipanggil untuk naik pesawat, tetapi kenapa nama dr. Soeharto tak dipanggil?  Tak mungkin!  Ia tak mungkin tak mendampingi tiga tokoh tadi. Ia pun berdiri mendekati petugas.

“Nama?”

“Dr. Soeharto.”

“Tidak ada dalam daftar penumpang.”

“Saya dokter rombongan Indonesia.”

“Tidak perlu dokter Indonesia. Kami punya banyak dokter yang pandai-pandai.” Ah, kesombongan Jepang!

Bukan soal jawaban yang merendahkan itu yang menggusarkan dr. Soeharto. Soalnya ia justru telah ada pada keyakinan bahwa ia benar-benar harus ikut dalam penerbangan itu.

“Apakah di antara dokter-dokter Nippon ada yang mengetahui cara berpakaian Jawa untuk membantu dr. Radjiman yang sakit rheumatik itu?” kata dr. Soeharto mengajukan dalih serius, masuk akal, tapi terdengar lucu untuk dikemukakan pada situasi tegang saat itu. Dr. Soeharto sendiri sedikit tersenyum dengan jawabannya itu.

Si petugas tak mengerti. Ia pergi menemui rekannya. Ini kesempatan dr. Soeharto untuk segera melompat ke dalam pesawat menemui Sukarno, tak peduli teriakan petugas tadi. Sukarno tersenyum. Sepertinya ia mendengar pertengkaran dokternya dengan petugas Jepang tadi.

Pesawat dengan kapasitas kursi penumpang itu kira-kira 25 orang itu hanya terisi separo. Dr Soeharto sengaja ambil tempat duduk bersebelahan dengan Misyoshi, sang juru terjemah.  Tadi Sukarno sempat berpesan agar dari Miyoshi, dr. Soeharto harus menggali banyak informasi. Apa sebenarnya misi penerbangan itu.

“Mas Harto, kau kenal dengan Miyoshi itu kan? Kalau dia mabuk sake dia tak bisa menahan bicaranya. Nanti hiburlah dia. Meluculah. Dia humoris. Suka disanjung. Nyanyikanlah lagu-lagu Jepang brengsek yang kau pelajari dari pasien-pasien Jepangmu. Permainkan dia untuk mencungkil sebanyak mungkin rahasia,” kata Sukarno.

Sukarno menemui petugas pencatat penumpang tadi.  Sementara dr. Soeharto dan Miyoshi tampak sudah terlibat dalam pembicaraan akrab. Sesekali keduanya tergelak lucu. “Dia dokter saya. Dia tidak berbahaya. Tak perlu curiga. Lihat, dia itu cuma pelawak. Jangan takut,” kata Sukarno.

Sukarno kembali ke kursinya.

“Gimana, Mas?” tanya dr. Soeharto.

Dengan senyum di wajahnya, Sukarno menjawab: “Sudah beres. Kita berangkat.”

Penerbangan ke Dalat memerlukan itu singgah dan bermalam di Singapura dan Saigon.  Di Singapura, mereka dijemput oleh Mayor Jenderal Shimura, seorang perwira penting staf Markas Besar Militer Wilayah Selatan.

Ketika mengudara lagi, dari Singapura, pesawat butut itu semakin bergoyang. Kadang membubung tinggi, lalu tiba-tiba turun mendadak. Sesekali zig-zag.  Sangat tidak meyakinkan apakah benar-benar bisa sampai ke Saigon. Itu harus dilakukan karena menghindari daerah-daerah yang berbahaya.

Jika penerbangan sedang tenang, sesekali dr. Soeharto pindah duduk ke sebelah Sukarno.  Pada saat itulah Sukarno memberi semacam instruksi agar di Saigon nanti dr. Soeharto mencari berita perang sebanyak mungkin dari  orang-orang Jepang.  Berita tentang perkembangan sebenarnya dari perang Asia Pasifik itu.  Betulkah Hiroshoma telah dibom atom pada tanggal 6 Agustus? Lalu menyusul Nagasaki? Radio sekutu menyiarkan kabar itu, tapi apakah itu bukan propaganda perang pihak Sekutu untuk melemahkan jiwa tentara Jepang?  Betulkah telah dimulai perundingan damai antara Amerika dan Jepang sebagai pihak yang kalah perang? Apakah benar pemimpin-pemimpin pergarakan Indonesia nanti akan ditangkap oleh sekutu karena seperti selalu diberitakan radio sekutu mereka adalah kolaborator Jepang?

Dr. Soeharto seketika itu menyadari betapa pentingnya penerbangan ke Dalat itu, dan betapa benar keputusannya untuk tak menolak perintah Sukarno, dan ia tak akan pernah menyesali ikut dalam misi itu. Baginya, mengikut tekad para pemimpin itu. Ibaratnya, mereka telah berlayar, maka pelayaran itu harus sampai ke pulau, mereka telah berjalan, maka perjalanan itu harus pula sampai ke batas.

Semua kerja yang telah dimulai, harus dituntaskan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s