Surat Sapardi dari Madiun untuk Goenawan Mohamad

 

Oleh Hasan Aspahani

Langit di kaca jendela bergoyang, terarah ke mana, wajah di kaca jendela yang dahulu juga, mengecil dalam pesona. Sebermula adalah kata baru berjalan dari kota ke kota demikian cepat kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada.

Tahun-tahun ketika menjadi dosen di Madiun, dan menikah tetapi terpisah dengan istri dan anaknya, adalah tahun-tahun yang melelahkan bagi Sapardi. Dan begitulah keadaan jiwa Sapardi sebagai penyair.

Ia kelelahan.

“Yang tidak saya sadari selama itu adalah bahwa keletihan fisik itu juga secara langsung mempengaruhi jiwa kita, letih dan ngah-ngoh,” ujar Sapardi.

Barangkali ini masalah yang masih terasa hingga bertahun-tahun kemudian di negeri ini, soal pesona pusat dan keterbatasan daerah. Di Madiun Sapardi adalah penyair daerah, sementara Goenawan ada di Jakarta, kota yang menjadi pusat segala-galanya.  Madiun terlalu sempit dan terlalu kecil bagi gagasan-gagasan besar Sapardi.

“Seperti dulu-dulu selalu saya katakan padamu, udara daerah semakin lama semakin rendah langitnya,” kata Sapardi. Lalu buru-buru ia merendahkan diri. “Ah, barangkali saya saja yang terlampau menghargai diri sendiri. Saya yang selama ini mengalami intellectual solitude, sungguh harus buru-buru saya akhiri meskipun hanya dengan cara bersuratan denganmu.”

Sapardi kesepian. Ia tak menemukan kawan membicarakan gagasan-gagasannya tentang bagaimana menumbuhkan sastra – dan khususunya puisi – Indonesia.

Pilar-pilar besi kekal menanti, di sebelahnya: kita yang mempercayai hati,  seakan putih semata, senantiasa, seakan detik lupa meloncat tiba-tiba. Sepi pun lengkap ketika kereta tiba, sebelum siap kita menerima, hari di mana, hari tak ada, ketika kita menyusun kata-kata.

Kesepian, letih perjalanan, kota-kota yang harus disinggahi, imaji stasiun kereta api, dan pemandangan dari bis kota, menghiasai ucapan-ucapan dalam sajak Sapardi pada tahun-tahun itu. Sebermula adalah kata baru berjalan dari kota ke kota.

Surat kepada Goenawan itu mengungkap satu fakta lain yang amat menarik. Sapardi mengakui tahun itu sulit sekali baginya menulis sajak. “Akhir-akhir ini sulit sekali bagi saya untuk secara mengalir menulis puisi. Ada keletihan jiwa yang aneh. Dan pemberontakan yang gagal itu hampir saja mempengaruhi saya untuk menjadi seorang neo-lekrais,” tulis Sapardi.

Pemberontakan yang gagal itu? Maksudnya pasti Gerakan 30 September.

Neo-Lekrais? Dan Sapardi menyadari bahwa dia hampir saja menjadi penyair yang ia sebut sebagai neo-Lekrais?  Penyair yang menulis dengan aliran realisme sosial dan menolak sajak liris yang individualis?

Hampir saja. Sapardi sudah menulis sajak seperti itu dan beberapa sudah pula dimuat di koran-koran. Ia juga mengirim sajak-sajak itu ke Horison.  Sapardi larut dalam arus massa yang seakan harus menghantam balik apa yang sebelumnya menjadi panglima, juga dalam sastra.  Lalu ia menyadari baginya itu salah. “Untungnya beberapa bulan yang lalu saya tahu bahwa saya jebulnya hampir saja menjadi pengikut Mansur serta Bur, meski tak ekstrim,” ujar Sapardi. Dan Sapardi malu karena itu, malu pada Goenawan dan malu pada teman-teman sastrawan di Jakarta.

Momen menyadari “ketersesatan” dari jalan puisinya, benar-benar disyukuri Sapardi. “Saya berterima kasih pada-Nya!” kata Sapardi, menuliskan kalimat itu secara khusus di suratnya.  Tapi situasi yang menghantam itu  membuatnya tak lagi bisa menulis puisi selancar sebelumnya.

Sapardi bosan pada Madiun dan rindu pada Jakarta, tepatnya rindu pada atmosfer berkesenian di Jakarta yang menggairahkan: majalah Horison yang tumbuh menjadi majalah dengan pengaruh besar, diskusi-diskusi yang mempertajam dan menambah wawasan, perayaan Hari Chairil Anwar.  Yang sedikit menghiburnya dan tetap membuatnya punya semangat untuk menulis adalah: (untung) ada beberapa tunas baru yang sekaligus bisa berdiri melampaui saya di daerah; dan kabar perkembangan majalah Horison yang padanya Sapardi menitip pesan agar dalam soal seleksi puisi saya berharap agar kau serta Mas Taufiq bisa menentukan, setidaknya mempengaruhi.

“Dan jangan sampai orde lama dalam penilaian, meski gaya baru, masih terpakai,” pesan Sapardi.  

Mungkin lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri, dalam surat itu ia juga mengatakan bahwa ia tetap setia kepada puisi. Setia. Dan saya berterima kasih bahwa saya masih memiliki kesetiaan itu. Itu sudah cukup menyenangkan saya.

Nyatanya, dengan kesetiaan itu ia berhasil melewati masa-masa kritis dalam perjalanannya kepenyairannya.  Sapardi menghasilkan sajak-sajak liris yang monumental, yang mengukuhkan namanya sebagai penyair besar, justru pada tahun-tahun itu. 1967-1968, tahun di mana sajak-sajaknya ditulis dan kemudian dibukukan dalam Duka-Mu Abadi. Dan Goenawan Mohamad memuji buku itu dalam satu artikel yang jernih.

Jalan menggelombang di bawah angin, berguguran daun asam, barangkali ada yang masih akan kaukatakan padaku, sebelum kaututup kopormu. Atau diamlah sementara burung-burung di atap rumah mengibaskan teriknya kemarau. Sekali waktu kita harus memilih kata-kata dalam ruang hampa udara. Aku pun menabikmu: selamat. Di mana akhirnya kita ucapkan kalimat terbaik, sewaktu daun-daun diayunkan angin, sebelum kaututup kopormu.

***

 Goenawan Mohamad adalah kawan seangkatan, kawan yang dipercaya dan sangat dikagumi – juga diperirikan –  oleh Sapardi.  Mereka berdua hanya berselisih satu tahun, Sapardi lebih tua.   Banyak hal mengenai perkembangan sastra di Jakarta dikonfirmasikan oleh Sapardi lewat Goenawan. Sebaliknya perkembangan pemikiran, bahkan kerja menyairnya di Madiun disampaikannya kepada Goenawan.

Sapardi kagum pada Goenawan yang ia nilai punya kemampuan menulis esai dengan sangat baik. Ada satu surat lain yang dikirim dari Madiun ke Jakarta pada tahun yang sama berselisih tak sampai dua bulan. Surat pertama Juni, yang kedua Agustus.  Wawancaramu degan LK Ara sudah saya baca. “Puisi Partisan”-mu juga sudah. Kau ternyata tak lain dari suara saya sendiri. Hanya kau bisa menulis essay yang bagus, sedang saya hanya “marah-marah” saja.

“Saya kadang berpikir kenapa mesti iri-hati padamu; pada essay-essay serta puisimu. Kenapa mesti selalu ngah-ngoh hasil-hasil yang saya tulis, dan malahan hampir saja menjadi seorang ‘demonstran penyair’,” kata Sapardi.

Ini mungkin titik terendah dalam perjalanan kepenyairan seorang Sapardi dalam hal semangat berkarya. Sapardi sangat tidak percaya diri.  Bersama surat kedua itu ia sertakan sajak untuk dibaca oleh Goenawan dan jika layak ia bilang muat saja di Horison. Sapardi berulang kali bilang bahwa sajak-sajaknya itu jelek.  Jangan marah padaku kalau buruk. Saya sudah cukup payah memarahi diri sendiri.

Penerimaan publik sastra atas sajak-sajak Sapardi pada waktu itu mengecilkan hati Sapardi.  Di sebuah forum diskusi di Yogyakarta, di mana seharusnya Goenawan hadir sebagai pembicara tetapi ia batal hadir (dan itu bikin Sapardi marah dan kirim kemarahannya itu dalam surat), Sapardi terpaksa menjadi pembicara dan ia harus membacakan referatnya atau makalahnya kemudian dibantai peserta diskusi yang merasa ditampar oleh Sapardi.  Makalah itu, kata Sapardi, harusnya memang tak ia bacakan di depan sidang penyair, kecuali ia baca saja di kamarnya sendiri.

“Pastilah subtitle yang lebih tepat bagi ‘referat’ itu adalah: Kemarahan seorang ‘penyair’ kepada dirinya sendiri lantaran ngah-ngoh!” tulis Sapardi.  Para pendiskusi yang merasa dihantam oleh kritik Sapardi kemudian dengan hebat mendebat Sapardi untuk membela sajaknya sendiri dan mencaci-maki sajak Sapardi. Padahal, kata Sapardi, makalah itu adalah kritik atas sajaknya sendiri.  Saya sudah terlebih dahulu tahu, jauh lebih dahulu, bahwa sajakku buruk daripada dia!

Begitulah situasinya saat itu. Sapardi tak pernah puas dengan perkembangan dan pencapaian perpuisian Indonesia sejauh itu. Dan ia bertanya, memang sungguh tak adakah orang-orang yang kreatif sekarang ini? Ketika ada yang menyebut puisi yang ia sebut sebagai ‘puisi otot’ sebagai perkembangan baru, Sapardi meragukannya. Tampaknya ‘puisi otot’ itu sedang banyak digemari saat itu.  Ia justru menyebut itu sebagai ‘penyakit’. Sepertinya ini istilah lain untuk menandai puisi-puisi khotbah, puisi-puisi demontrasi, yang ketika menuliskan juga puisi seperti itu, Sapardi malahan merasa menjadi seorang dengan estetika neo-lekrais.  Dan itu di mata Sapardi adalah konyol.

“Banyak memang yang mencipta ‘puisi otot’, tetapi banyak juga yang mencipta ‘puisi; tanpa otot; bahkan tanpa otot sungguh-sungguh sehingga rapuh! Dan kalau ini diserang mereka pun memberontak, ya, sebab memang baru senang-senangnya mencetak sajak,” kata Sapardi, menyenaraikan pendapat dan pengamatannya.

Di suratnya kita menemukan seorang Sapardi yang keras dan tajam kalau bicara soal puisi. Selain mengkritik penyair yang sedang kegandrungan “puisi-otot”, Sapardi juga mengkritik redaktur yang suka memuat sajak-sajak itu. Pemuatan itu mungkin dianggap sebagai penilaian baik dan bisa mengangkat nilai sajaknya. “Macam kanak-kanak saja,” kata Sapardi, “apalagi kalau pemuatan itu dengan alasan-alasan di luar sastra, misalnya alasan “mendidik” atau “memberi harapan”.

Sikap Sapardi jelas, jangan pernah memuat sajak buruk. Ia sangat keras dalam hal ini. Apapun alasannya. Kenapa? “Kalau sajak-sajak  itu dibiarkan saja seperti angin-pagi tak apa; tetapi kalau nasibnya buruk dan kemudian dicincang-cincang oleh kritikus malah membikin si penyair ‘muda’ itu bunuh diri!”

Terhadap sajaknya ia tak puas.

Terhadap kecenderungan perkembangan sajak-sajak di negerinya ia kecewa.

Ia sendiri merasa makin sulit menulis puisi.

Ia letih.

Pada keadaan sulit seperti itulah ia melahirkan sajak-sajak terbaiknya yang – sekali lagi kita sebutkan – kemudian dikumpulkan dalam kumpulan sajak yang monumental, tak hanya bagi Sapardi, tapi penting bagi perkembangan sajak Indonesia: Duka-Mu Abadi.***

 

Foto dari www.dw.com  | Artikel ini adalah draf awal dari bab yang akan jadi bagian dari buku biografi Sapardi Djoko Damono.

 

Iklan

3 pemikiran pada “Surat Sapardi dari Madiun untuk Goenawan Mohamad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s