Tiga Fragmen di Tahun 1965

I.

            DAN Jassin pun bisa sedikit lega. Baru saja beberapa hari masuk tahun 1965, ia menyelesaikan pekerjaan menerjemah bab terakhir buku yang ia beri judul Api Islam, apa yang ia mulai sejak lima bulan lalu.

Pagi itu ia mengirimkan hasil pekerjaannya, menyusul bab-bab terdahulu dari buku karya Syed Ameer Ali yang berjudul asli dalam bahasa Inggris Spirit of Islam yang sudah ia kirim  ke Penerbit Pembangunan.  Ia kini bekerja di rumah saja, sejak menarik diri dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia.  Ia makin yakin keputusannya itu benar.  Ia bisa mencurahkan energinya penuh-penuh pada kerja menulis. Majalah Sastra pun berhenti terbit, tak sanggup ia menutup biaya produksi yang mencapai Rp500.000 per edisi.

Yang mencemaskan hanyalah ekonomi yang kian morat-marit.

Inflasi 500 persen.

Satu dollar Amerika yang kurs resminya Rp45, harus dibeli dengan nilai tukar Rp8.500!

Toh ia masih bisa menghibur diri bahwa dia tidak perlu menukar rupiah untuk bepergian ke luar negeri dan ini bukan soal dirinya saja, semua orang di negeri ini menghadapi kebrengsekan ekonomi yang sama. Sedapat mungkin Jassin berusaha bertahan dengan honor tulisan, royalti buku, dan kerja-kerja penyuntingan dan penerjemahan yang makin seret saja apalagi setelah buku-bukunya dinyatakan terlarang.  Tak ia tahu akan sejauh ini akibat dari membubuhkan tanda tangan bersama kawan-kawan pada pernyataan bernama Manifesto Kebudayaan itu.

Keadaan tak membaik sepanjang tahun itu.

Politik benar-benar telah menjadi panglima.  Kebudayaan sedang disurukkan untuk juga menghamba. Puluhan ribu lebih buku yang dianggap sebagai agen penetrasi kebudayaan imperialis Amerika Serikat dan piringan hitam The Beatles – yang dianggap merusak akhlak, cabul dan berbau Manikebu –  dibakar oleh apa yang menamakan kelompoknya sebagai massa rakyat revolusioner sambil menyanyikan lagu hancurkanlah Inggris dan Amerika, hancurkanlah musuh kita. Dan itu terjadi di wilayah teritori militer: yaitu di halaman Komdak VII Jaya! Ada buku Jassin di antara buku-buku  Sutan Takdir, Hamka, Balfas, Trisno Sumarjo, Mochar Lubis yang dibakar itu. Di kota-kota lain buku-buku mereka dirazia dan disita.

Sesungguhnya ia tak sedikitpun menyesali apa yang sudah ia putuskan, kecuali jika sudah mendengar keluhan istrinya setiap kali pulang dari pasar.

“Aduh, harga beras sekarang sudah Rp400 sekilo….” Jassin tahu istrinya adalah perempuan sabar yang tak mudah mengeluh.

“Masih cukup untuk belanja besok?”

Istrinya hanya menggeleng lemah dan berlalu.

Dan Jassin tahu kemana harus minta tolong: Mien Joebbar, minta honornya dibayar di depan. Mien adalah ketua bagian redaksi Penerbit Pembangunan.

 

II.

            Dan 37.000 pucuk senjata laras pendek masuk secara gelap.  Di Jawa Barat dan Jawa Tengah, tentara menyergap senjata itu di beberapa tempat: Mauk, Pangandaran, Tegal, dan Pacitan.  Ini jenis senjata yang larasnya bisa diganti dan untuk dicocokkan dengan peluru buatan Rusia, RRC, dan Amerika.

“Persis senjata yang digunakan pasukan Vietcong di Vietnam,” ujar seorang informan di kalangan tentara kepada wartawan Rosihan Anwar.

Siapa yang memasukkan senjata itu? Dari mana asalnya? Seorang pejabat negara dari Partindo disebut-sebut sebagai orang yang mendatangkan senjata itu dari Macao. Bagaimana pun, senjata-senjata itu belum dilengkapi dengan peluru, tapi kecurigaan lalu menjadi kian santer dan situasi politik pun kian memanas.

Apakah ini untuk mempersenjatai petani dan buruh sesuai ide membentuk Angkatan Kelima?  Siapa yang mendanai pembelian senjata itu? Jika ini bantuan gelap dari RRC, sudah sejauh itukah intervensi mereka?

Diplomasi RRC memang sangat aktif di Indonesia. PM Chen Yi pada perayaan 20 Tahun Kemerdekaan RI di Jakarta menjanjikan dan meyakinkan komitmen mereka membantu Indonesia. “Soviet itu sudah menjadi Nekolim. Lupakan saja.  Jangan berharap bantuan dari mereka. Jika Indonesia memerlukan suku cadang, kami sanggup mensuplai berapa pun yang dibutuhkan,” kata PM Chen Yi.

 

III.

            Deputy III Panglima Angkatan Darat Mayjen M.T. Haryono yang menangani urusan kekaryaan pada hari-hari di bulan Agustus 1965 menjadi orang yang paling sering diminta pendapat oleh atasannya Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani.

Ia pun kerap bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang sipil yang ia percaya dan bisa membantunya menganalisa situasi sosial dan politik dalam negeri.  Satu hal yang sama mereka rasakan adalah semakin nyata dan terasa kemerosotan Indonesia di semua bidang.

Harga sandang dan pangan melambung.

Inflasi makin menggila.

Rupiah makin tak punya harga.

“Kita tak bisa membiarkan keadaan terus berjalan begini. Kita harus mencari jalan keluar dari kemandekan politik dan ekonomi sekarang,” ujarnya dalam sebuah diskusi.

Pemerintah Sukarno membuat berbagai kebijakan. Tapi bagaimana menjalankannya?   “Tentaralah yang bisa kita harapkan,” kata seorang peserta diskusi.

“Kau tidak tahu betul bagaimana keadaan dalam kalangan Tentara sendiri sekarang ini. Banyak yang tidak beres di sana. Apa yang dapat dilakukan tentara sebagai alat dengan segala ketidakberesan itu?” kata Mayjen Haryono.  Ia memang dikenal sebagai sosok yang realistis, tapi cenderung memandang suram segala sesuatu. (Hasan Aspahani)

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s