Esai dan Foto: Bertahan di Legian

: Mereka Punya Cara Sendiri Berpesta

Foto dan Teks Oleh Fatih Muftih, Tanjungpinang

2

AROMA bir menguar di sepanjang pedestrian. Oksigen di Legian, Bali jadi terasa berbeda. Sepanjang penghirupan napas, hidung dipaksa berakrab dengan bebauan bermacam minuman alkohol. Sensasi ini sudah terasa di muka pintu masuk. Tidak peduli hidung kelas borju atau kere. Aroma ini adalah kata-kata ramah ala brosur pariwisata; selamat datang di Legian.

Sepelangkahan kemudian, giliran telinga mendapat sambutan. Asal suaranya serabutan. Dari kiri-kanan jalan. Bar, kelab, pub, diskotik, cafe, adalah nama-nama tempat yang susah dibedakan di Legian. Semuanya membunyikan musik. Keras dan lantang. Lirik-lirik lagu tumpang-tindih. Teriakan pengunjung bersahutan. Sehingga telinga tidak tahu mesti mendengarkan musik mana satu. Seperti sekawanan singa di masa kawin, musik-musik itu tak henti-henti mengaum. Bahkan sampai jam tangan menunjuk pukul tiga pagi.

Legian adalah cara Bali merayakan malam. Tidak ada hening di sini. Tidak berasa dingin di sini. Juga tanpa ketakutan. Malam-malam seketika jadi panjang. Seraya berharap, matahari pagi tidak keburu datang.

Ribuan orang hilir-mudik di Legian. Seperti barikade semut. Tidak putus-putus. Mereka berdatangan ke bilangan ini dengan tiap tujuan yang sudah dikemas rapi dalam kepala masing-masing. Tidak peduli warna kulit, jenis kelamin, maupun status warga negara. Tidak ada yang benar-benar datang ke Legian dengan kepala kosong.

Kebanyakan memang masih seputar pesta ke pesta, minum ke minum, goyang ke goyang. Legian memang memberi ruang seluas-luasnya bagi yang hendak merayakan malam sedemikian. Cocokkan saja dengan isi dompet. Pilih tempat duduk. Pesan satu-dua botol bir. Setelah itu, silakan merayakan malam.

Tidak ada yang benar-benar mutlak di dunia. Apalagi di Legian. Sehingga rasa-rasanya amat naif bila kemudian menghakimi Legian sebagai kawasan urakan. Karena nyatanya, ada banyak dari mereka yang datang ke Legian memikul harapan, demi lebih baiknya sebuah kehidupan. Satu di antara yang datang punya mimpi itu bernama Ateng Wijaya.

Tahun 1989 jadi penanda ingatannya kalau menginjakkan kaki kali pertama di pulau dewata. Pak Ateng, begitu ia memperkenalkan diri. Selama lebih dari seperempat abad hidupnya, lelaki bertopi yang senantiasa menenteng koper ini merawat mimpi tentang hidup yang lebih baik buat istri dan anak-anaknya di kampung halaman.

“Saya pulang ke Jember sebulan sekali,” katanya.

Sebuah kepulangan yang selalu dinanti keluarganya. Apatah tidak, kepulangan lelaki ini ke Jember bukan sekadar tentang melepas rindu. Tapi juga pertanda ada beras yang bisa terbeli, ada uang bulanan sekolah yang dapat segera dibayarkan, ada kepastian listrik rumah bisa nyala sebulan hadapan, dan yang paling penting, ada seorang bapak yang begitu dibanggakan.

Kebanggaan mengayomi keluarga dikemas rapi oleh Pak Ateng dalam sepetak koper hitam. Sesuatu yang oleh keluarganya di rumah disebut sebagai kesejahteraan itu tertata rapi di dalam kopernya. Tanpa itu semua, Pak Ateng tidak mungkin berada di Legian.

89

Koper itu tidak besar-besar amat. Sepenaksiran saya, tidak lebih dari 22 inci. Warnanya hitam legam. Ada tulisan berwarna kuning terang di dua sisi permukaannya. Di bagian depan tertuliskan ‘Service Massage’, dilengkapi dengan layanan ‘pijat/urut menerima pangilan” lalu di baris terbawah adalah nomor kontaknya. Di sisi baliknya dan dengan warna yang sama, terbaca identitas Pak Ateng sekaligus pekerjaan yang sudah dilakoninya lebih dari dua dekade.

Penghasilan begadang di Legian rupanya yang menguatkan kaki Ateng menyusuri jalanan Legian. Bila ditakar bekerja sebulan penuh, sepaling-paling tidaknya ia bisa mengantongi duit lebih besar dari gaji bulanan pegawai negeri golongan 3A. “Paling sepi, saya bawa pulang satu malam itu Rp 150 ribu,” bebernya tanpa ragu.

Dengan penghasilan sebesar itu lalu kesulitan mencari lapangan kerja di kampung halaman, Ateng lebih memilih bertahan di Legian. Bertahan adalah tentang kemauan dan kemampuan. “Kalau capek, pasti. Saya cukup ingat muka anak-anak dan istri di rumah. Langsung hilang capeknya,” katanya lantas nyengir. Lebar sekali.

Ateng adalah satu dari sepersekian orang yang datang ke Legian bukan untuk berpesta. Karena sebenarnya, ada banyaaak sekali mereka yang datang ke Legian untuk sekadar menyambung hidup atau menunaikan tugas negara. Ini tentu menjadi pandangan yang sangat kontradiktif di tengah telingkah tawa-tawa yang tumpah dari mereka yang menggenggam botol atau gelas bir di tangan.

Di hadapan sebuah tugu peringatan, saya menggumam; adalah kesalahan besar membom Legian. Apa pun alasan. Apalagi membawa nama Tuhan.

 

1

3

4

5

 

6

 

7

 

10

 

11

 

12

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s