Esai: Nasi

FIKSI LOTUS

Jhumpa Lahiri

Ayahku, yang kini berusia 78 tahun, adalah orang yang metodis. Selama tiga puluh sembilan tahun, ia hanya punya satu pekerjaan: menyusun daftar buku-buku di perpustakaan kampus. Setiap pagi, ia minum dua gelas air putih, lantas berjalan kaki selama satu jam dan menghabiskan jumlah waktu yang sama untuk membersihkan giginya menggunakan benang sutera setiap malam sebelum tidur. Ketika menggambarkan sosok ayahku, “spontan” bukanlah kata yang cocok. Saat dia berkendara ke tempat-tempat baru, ia tidak pernah bisa menikmati rasanya tersesat.

Di dalam dapur pun kebiasaannya tetap sama. Ia punya peraturan sendiri, seperti menghitung butir kismis yang ia campur ke dalam bubur oatmeal (lima belas) dan ia tidak pernah memasak air lebih dari yang dibutuhkan saat hendak menyeduh teh. Ayahku sudah hafal luar kepala berapa takaran beras yang dibutuhkan untuk memberi makan empat, atau empat puluh, atau seratus empat puluh orang. Dia juga punya reputasi untuk meng-andaj — kata Bengali yang…

Lihat pos aslinya 1.049 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s