Coretan-Coretan Sukarno pada Teks Proklamasi Itu

 Oleh Hasan Aspahani

SOEKARNI sudah siap dengan rancangan proklamasi yang ia susun bersama kawan-kawannya. Ia mengusulkan itu: Bahwa ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Segala badan-badan pemerintahan yang ada harus direbut oleh rakyat dari orang-orang asing yang masih mempertahankannya.

Soekarni ingin dalam rumusan proklamasi kemerdekaan itu seluruh rakyat merasa ikut menjadi bagian di dalamnya. Langkah setelah kemerdekaan itupun jelas: mengambil alih semua badan-badan pemerintahan. Dan itu juga dilakukan oleh rakyat.

“Terlalu radikal, Bung!” kata Hatta.

“Memang harus tegas!” kata Soekarni.

Sukarno dan Hatta berpandangan, sama-sama mengingat tadi pembicaraan mereka dengan Sumobucho.

“Terlalu berisiko kalau begitu kalimatnya. Kita bisa membuat susunan dan pilihan kata yang lain dengan menghindari risiko bahaya yang sama-sama tidak kita inginkan,” kata Laksamana Mayeda, dengan suara rendah tapi cukup tegas, seakan ingin menurunkan tegangan suasana di antara mereka. Terutama ketegangan dan kekerasan sikap Soekarni.

“Kami tadi sudah bicara dengan Sumobucho,” kata Sukarno kepada Soekarni, “saya sependapat dengan Tuan Mayeda.”

“Oh, kalau sudah ada pembicaraan saya minta di ruangan ini tak perlu lagi hadir Tuan-Tuan ini,” Sukarni menunjukkan pandangannya pada orang-orang Jepang yang hadir di ruangan itu.

Seketika ketegangan itu meninggi lagi di ruangan itu, sampai akhirnya beberapa orang-orang Jepang itu mengerti dan meninggalkan ruangan.

Mayeda, Yoshizumi, Miyoshi, dan Nishijima bertahan di ruangan itu. Jika kehadiran mereka di sana, pada saat proklamasi itu dirumuskan seakan-akan dihapuskan dari catatan sejarah, maka begitulah yang disepakati.

Kehadiran Nishijima pada saat itu penting karena ia sedikit mengerti hukum international. Jika teks seperti yang diusulkan Soekarni yang kemudian disetujui, sama saja itu bunuh diri bagi Jepang. Sekutu akan menghukum Jepang lebih berat karena melanggar kesepakatan status quo. Maka teks proklamasi yang akhirnya disepakati adalah teks yang menimbang kepentingan kedua belah pihak: memuaskan semangat revolusi para pemuda (yang bagaimana pun caranya toh akhirnya tak bisa dicapai), dan keamanan pihak Jepang!

laksamana maeda
Laksamana Mayeda

Di luar segala soal berkompromi dengan Jepang soal isi, kata proklamasi adalah pilihan kata yang gagah.

Prok – la – ma – si.

Kata itu tak berarti sekadar pernyataan, pengumuman, atau pemberitahuan. Dalam Bahasa Latin dari mana kata itu berasal, pada kata proclamare, terkandung makna ‘jeritan’, ‘teriakan keras’, ‘panggilan’, bahkan ‘tantangan untuk bertarung’.

Proklamasi. Hari, tanggal, bulan, dan tahun yang kekal tercatat sebagai sejarah: pukul 10 pagi yang hangat, Jumat, 17 Agustus 1945, hari ke-10 bulan Ramadan 1364 Hijriah, adalah puncak dari segala akumulasi keberanian, pengorbanan raga dan jiwa, resultan dari rencana-rencana, kerja keras, kenekatan – juga kenaifan, untuk berteriak lantang kepada dunia, menyatakan keberadaan sebuah negeri, menandai kelahiran sebuah bangsa; juga panggilan bagi seluruh rakyat negeri yang telah ratusan tahun menanggung derita yang sama; dan tantangan untuk siapa saja yang menghalangi jalan yang hendak dibuka dengan pernyataan kemerdekaan itu.

“Prok… la… ma… si,” Sukarno seakan mengejanya per suku kata, sambil menuliskannya.

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Kalimat ini dipetik langsung oleh Sukarno dari ingatannya pada preambule undang-undang dasar. Dari piagam Jakarta. Tak ada keraguan pada kalimat dengan delapan kata itu. Inilah kami, Bangsa Indonesia, yang berhak menyatakan sendiri kemerdekaan kami, Kemerdekaan Indonesia.

Hatta menyetujui pilihan kata-kata itu, Soebardjo memberi masukan, menajamkan makna pada susunan kalimat ringkas itu, dan Sukarno yang menuliskannya dengan pensil pada secarik kertas bloknot bergaris-garis biru, yang sama sekali tidak istimewa. Kertas catatan yang biasa dipakai anak-anak sekolah rendah. Tadi, Sukarno menawarkan bagaimana proklamasi itu harus dirumuskan dan semua yang hadir menyepakati.

“Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah,” kata Sukarno.

“Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan,” kata Hatta kepada Sukarno, “aku mendiktekannya.”

Untuk merumuskan naskah proklamasi itu, Sukarno, Hatta, juga Soebardjo dan Sudiro, juga Soekarni, dan B.M Diah, menyisih ke ruang tamu kecil, meriung di sebuah meja kecil, di bagian lain rumah Laksamana Mayeda – memisah dari semua anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang berkumpul menunggu di ruang tengah – untuk merumuskan teks singkat proklamasi itu. Pintu ruangan itu dibiarkan terbuka lebar. Mereka duduk menghadap ke ruang tengah itu. Sudiro kemudian keluar ruangan.

008096400_1439356399-mpnp
Gedung Perumusan Naskah Proklamasi

Di sebelah kanan Soebardjo, B.M. Diah dan Soekarni mengambil tempat. Soebardjo tepat di sebelah kanan Sukarno yang membelakangi jendela kamar tamu yang dini hari itu dibiarkan terbuka. Hatta tepat di sebelah kiri Sukarno. Sepoi angin leluasa masuk. Lumayan, itu bisa menyejukkan udara ruangan itu yang terasa sesak. Di luar, embun pukul empat subuh sudah turun.

Beberapa pejabat militer Jepang, hadir di sana.

Para pemuda sesungguhnya sangat tidak nyaman dengan kehadiran Laksamana Mayeda si tuan Rumah, dan Nishijima penerjemahnya, Yoshizumi, dan Tuan Miyoshi dari Angkatan Darat, tapi jika mereka berkeras hendak mengusir mereka, yang ditakutkan adalah gagalnya perumusan dan pengumuman proklamasi. Ini adalah bentuk kompromi yang paling masuk akal. Jepang menutup mata atas kemerdekaan yang segera diumumkan, termasuk proses persiapannya dini hari itu, dan mereka juga harus hadir agar isi pernyataan itu tak membawa akibat yang menyusahkan Jepang di hadapan sekutu.

Sejak semula, di riuangan kecil itu, wajah Sukarno tak tenteram. Dia tegang dan gelisah.

“Bagaimana sebaiknya proklamasi kita ini kita rumuskan?” kata Sukarno membuka tukar pendapat yang bersejarah itu. Ia menoleh pada Soebardjo. Akhirnya Sukarno mengusulkan seperti apa yang disepakati oleh Hatta.

Semula, yang hendak dijadikan rujukan adalah pembukaan UUD 1945 yang dikenal sebagai Piagam Jakarta yang sudah dirumuskan pada 22 Juni 1945. Proklamasi semula hendak dipetik atau dirumuskan dari pembukaan UUD 1945, yang didudukkan dan dihormati sebagai Declaration of Independent. Tapi, tak seorang pun di ruang kecil itu yang membawa naskahnya. Soebardjo bukan anggota PPKI, tetapi dia ikut merumuskan UUD 1945. Karena itu dia memberi masukan, penajaman, dan pendapat yang penting pada kalimat-kalimat yang disusun Hatta.

 

Sesudah pernyataan kemerdekaan, tentu harus ada pernyataan bagaimana caranya menyelenggarakan kemerdekaan itu. Itulah yang dirumuskan Hatta pada kalimat ke-2. Ada dua kata di kalimat ke-2 proklamasi yang melewati pertimbangan dan penggantian.

Dalam manuskrip tulisan tangan Sukarno, ada terbaca coretan penggantian pada dua kata itu. Kata ‘pemindahan’ dan ‘diselenggarakan’, keduanya semula adalah kata lain, yaitu ‘pengambilan’ dan ‘dioesahakan’. Itulah kata yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Kata-kata ‘penyerahan’, ‘pemberian’, apalagi ‘perebutan’, – sebagaimana yang diusulkan Soekarni – dengan tegas ditolak oleh Jepang. Kata ‘pemindahan’ adalah kata yang membuka jalan tengah. Jepang bisa berkilah nanti kepada pihak Sekutu, pemindahan itu seharusnya menunggu mereka datang.

Pergantian dari kata ‘pengambilan’ ke ‘pemindahan’ menyita perdebatan yang lama. Kenapa tidak ‘pengambilan’? Karena itu berarti Jepang berdiam diri saja dan itu salah, karena mereka harus melawan setiap upaya melawan status quo sebagai mana syarat takluknya mereka kepada Sekutu.

Secara keseluruhan, teks proklamasi mengesankan bahwa pemindahan kekuasaan itu dilaksanakan dengan damai. Pilihan kata lain yang diputuskan tanpa keraguan menegaskan itu: dengan cara saksama – tidak terburu-buru, tidak dengan paksaan, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ini kalimat bisa ditafsirkan sesuai kepentingan pihak Jepang dan Indonesia, bagi Jepang ini artinya itu bisa dilakukan sambil menunggu datangnya sekutu, yang memang tak lama lagi, tapi sebaliknya bagi Indonesia itu berarti harus jangka waktu sesingkat-singkatnya itu adalah sebelum Sekutu mendarat! Demikianlah, naskah proklamasi itu selesai dengan kepuasan pada pihak Jepang, dan telah cukup bagi pihak Indonesia. Meskipun baga para pemuda, naskah proklamasi itu mengecewakan, sama sekali tak revolusioner. Tapi lagi-lagi mereka menahan diri, karena tujuan utamanya adalah pengumuman kemerdekaan Indonesia, dan mereka tinggal menunggu hitungan jam.

Setelah koreksi pada dua kata itu, semua pejabat militer Jepang meninggalkan rumah Laksamana Mayeda, dan naskah yang sudah disepakati dibacakan kembali oleh Sukarno di ruang rapat besar. Saat itu sudah pukul 4.30.

Sukarno memulai lagi sidang besar itu.

Ini bukan rapat PPKI, tapi rapat wakil-wakil rakyat Indonesia. Pada hari ini, tanggal 17 Agustus, sebelum jam 12 siang saya kuatir akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Untuk hal yang tidak diharapkan dan untukjangan membawa malu bangsa Indonesia, saya majuka satu resolusi. Rapat ini akan mendengarkan bunyi resolusi itu dan PPKI kemudian melaksanakannya jika telah menjadi keputusan sidang,” papar Sukarno.

Sukarno kemudian membacakan isi Proklamasi itu. Perlahan-lahan. Kata demi kata tersuarakan dengan sangat jelas. Keterkejutan tampak membias di wajah-wajah mereka yang hadir di ruangan itu. Mereka terpukau dan membayangkan akibat dari pernyataan kemerdekaan itu, sebagaimana kemudian dijelaskan oleh Sukarno.

Di ruang tengah, Sukarno membuka sidang, dengan teks proklamasi yang baru saja dirumuskan. Ini bukan lagi sidang PPKI – meskipun yang hadir adalah seluruh peserta PPKI yang pada hari-hari itu dijadwalkan bersidang – karena sudah bergabung hadir anggota Cuo Sangi In yang berada di Jakarta, dan pimpinan-pimpinan kelompok pemuda yang sebelumnya menculik Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak keduanya untuk segera menentukan tanggal pernyataan kemerdekaan.

“Dapatkah ini Saudara-Saudara setujui?” tanya Sukarno setelah ia beberapa kali membacakan teks proklamasi, perlahan-lahan, berulang-ulang.

Apa yang dicatat dengan cermat oleh B.M. Diah adalah sebuah perdebatan yang sangat dinamis. Soekarni meski tadi ketika ikut menyusun teks itu lebih banyak berdiam diri, kini menunjukkan sikap kritisnya. Tampaknya ia belum puas dan melihat peluang untuk merumuskan ulang teks itu.

“Naskah proklamasi itu tidak bernilai pernyataan kekuatan rakyat Indonesia. Dan sama sekali tidak bersemangat revolusioner. Kita tidak perlu dengan Jepang untuk merdeka. Kita harus merebut kekuasaan. Jepang tidak akan memindahkan kekuasaannya dengan suka-rela!” kata Soekarni. Lantang. Ia masih memakai seragam peta. Rupaya tak sempat berganti dengan baju yang tadi dipinjamnya dari Hatta. Entah bagaimana caranya dia tak ditangkap Kempetai dengan seragam itu.

Ruangan seketika senyap dengan tanggapan Soekarni. Kesenyapan itu seakan menambah keberaniannya, yang tadi sempat jatuh karena dimata Hatta dan Sukarno. “Kita rapat di sini bukan sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Ini rapat pegawai-pegawai pemerintah balatentara Jepang….,” ujarya sinis.

Jika pernyataan itu membelah peserta rapat menjadi dua kubu adalah hal yang wajar, ada yang menentang, dan sebagian mendukung. Banyak yang hadir sepertinya tak percaya bahwa Jepang sudah menyerah kepada sekutu, sementara sebagian besar dari mereka memang masih aktif sebagai pegawai pemerintah Jepang.

Lagi-lagi soal kata ‘pemindahan’ jadi pokok bahasan.

“Apa maksudnya pemindahan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya? Apakah sebelum jam 12 siang nanti pemindahan kekuasaan dapat dilakukan?” tanya Prof. Supomo.

“Jika itu kita nyatakan begitu, maka itu harus dilakukan,” jawab Sukarno.

“Bagaimana pemindahan kekuasan itu dapat dilakukan?” tanya Otto Iskandar Dinata.

“Tanpa kekerasan. Jepang akan membiarkan saja kita menyatakan kemerdekaan dan mengambilalih kekuasaan,” kata Sukarno.

“Saya bisa menerima kata pemindahan. Kalau penyerahan ada kesan itu dilakukan dengan terpaksa,” kata Otto Iskandar Dinata. Sukarno setuju. Peserta rapat lain pun setuju.

Kata ‘diselenggarakan’ adalah kata yang sejak semula diusulkan oleh Sukarno.   Perdebatan subuh itu mengusulkan pilihan kata lain yaitu “dioesahakan”. Sukarno lalu mencoret kata ‘diselenggarakan’ itu.   Atas usul Mr Iwa Kusumasoemantri kata ‘diselenggarakan’ dikembalikan ke dalam teks.. Ini berkaitan dengan kata “pemindahan”, katanya, yang tentu lebih cocok dipasangkan dengan kata “diselenggarakan”.

Bung Hatta, mungkin karena lelah, tak banyak bicara. Ia hanya menambahkan beberapa keterangan yang perlu. Rapat subuh itu diselingi dengan makan sahur. Mayeda menyediakan roti dan ikan sarden. Memang hanya itu yang ada di rumahnya saat itu.

Pertanyaan penting tapi menggambarkan memang ada masalah di kalangan pejuang tua diajukan oleh dr. Radjiman Wediodiningrat. “Ini….” Katanya dengan kalimat yang selalu bercampur dengan Bahasa Jawa, “kudune harus terang. Apakah Saikoo Sikikan sudah tahu? Sudah setuju?” ia menatap kepada Sukarno. Akan tetapi Hatta yang tampaknya gusar.

Sukarno, “Marilah kita proklamasikan diri kita sebagai satu bangsa. Proklamasi ini ditujukan kepada Belanda…”

Radjiman: “Saikoo Sikikan harus diberi tahu dan menyetujuinya, karena ini menyangkut “internasional erkenning” dan “consequentie”. Betul juga, memang pernyataan kemerdekaan itu menyangkut pengakuan internasional dan konsekuensi yang terjadi sesudahnya.

Soekarni, Chaerul Saleh, dan para pemuda lain di rapat itu kini merasa di atas angin. Benar belaka apa yang mereka cemaskan, pemimpin tua itu benar-benar tak bisa melepaskan diri dari pengaruh Jepang. Pada titik itu, mereka berada pada sisi yang sama dengan Sukarno dan Hatta.

Sukarno, “apakah naskah dengan perubahan terakhir tadi sudah disetujui?”

“Setuju!”

“Siapa yang akan menandatangani?” tanya seseorang dari yang hadir saat itu.

Hatta, “Kalau saudara semuanya setuju, baiklah kita semuanya yang hadir di sini menandatangani naskah Proklamasi Indonesia Merdeka ini.” Bagi Hatta, ini adalah dokumen yang sangat bersejarah. Juga bagi yang hadir. Semua yang diminta untuk bersama-sama menandatangani naskah itu. Hatta meyakinkan, betapa berartinya kehadiran semua yang hadir bersidang pada malam itu. Ia memberi contoh bagaimana naskah dokumen pernyataan kemerdekaan Amerika.

“Semuanya yang memutuskan ikut menandatangani keputusan mereka bersama,” kata Hatta.

Ia dengan penjelasannya itu meminta semua yang hadir, antara 50 hingga 60 orang jumlahnya, untuk bersama-sama membubuhkan tandatangan pada naskah Proklamasi Indonesia. Dan memang pada lembar yang ditulis tangan Sukarno – sebelum diketik oleh Sayoeti Melik – nama pembuat pernyataan yang dicantumkan di situ adalah: wakil2 bangsa Indonesia! Bukan Sukarno-Hatta – atas nama bangsa Indonesia.

Usulan Hatta disambut oleh kebisuan.

Chaerul Saleh merasa punya peluru untuk menyerang. Ia berdiri. “Mereka (sambil menunjuk pada Sukarno dan Hatta), ingin semua yang hadir di sini menandatangani naskah proklamasi. Bagaimana pendapatmu Diah?”

B.M. Diah yang sedang mencatat itu tak siap dengan jawaban. “Menurut kamu sendiri bagaimana, Rul?”

Ada seorang peserta rapat yang entah kenapa sangat tak disukai para pemuda. Chaerul mempertanyakan kehadirannya di sana, dan tak ikhlas kalau dia ikut juga menandatangani naskah itu. “Semua yang berkumpul di sini… pegawai-pegawai Jepang ini… apa mereka mesti ikut menandatangani Proklamasi kita? Bagaimana pendapatmu Soekarni?” Saat itu Chaerul Saleh sudah berdiri di tengah-tengah ruangan rapat, gagah di antara para peserta rapat.

“Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menandatangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menandatangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta,” kata Soekarni lantang.

Semua setuju. Tapi tak ada yang bertepuk tangan. Sukarno dan Hatta lega. Soekarni dan Chaerul Saleh juga lega, dengan alasan yang berbeda. Sidang berakhir menjelang azan subuh.  Bung Karno mengacungkan naskah proklmasi itu, “siapa tik ini dengan baik?”

Ia lantas bergerak ke sebuah ruangan. Di sana ada Sayuti Melik yang menyiapkan mesin ketik yang ada di ruangan itu. Huruf-hurufnya berdebu. Tak bisa. Ini mesin ketik huruf kanji. Satzuki Mishima, sekretaris Laksamana Mayeda lalu bergegas keluar rumah. Ia kembali membawa mesin ketik milik dr. Hermann Kandeler dari kantor Angkatan Laut Jerman yang tak jauh dari situ.

Dengan mesin ketik itu naskah itu diketik oleh Sayoeti Melik. B.M. Diah menemaninya. Bung Karno membaca sekali lagi hasil ketikannya dan menandatanganinya di atas sebuah piano Jerman. Juga Hatta. B.M. Diah menyimpan naskah asli dengan tulisan tangan Sukarno tadi. Hingga bertahun-tahun kemudian, sebelum ia kembalikan ke negara.

Hatta yang mengingatkan kepada kelompok pemuda yang hadir hingga dini hari itu, terutama kepada wartawan, B.M. Diah. Hatta meminta agar teks proklamasi itu diperbanyak dan disebarkan ke seluruh Indonesia, secepat-cepatnya. ***

Iklan

2 pemikiran pada “Coretan-Coretan Sukarno pada Teks Proklamasi Itu

  1. Membaca kronologisnya bikin merinding. Mantap Pak, ditunggu artikel-artikel selanjutnya, terutama seputar perjuangan kemerdekaan. Kalau bisa tulis artikel ttg Amir Syarifudin. Terima kasih.

    Suka

  2. Kami sedang memburu buku langka semacam biografi Amir Sjarifuddin. Belum ketemu. Ada beberapa bahan lain yang sudah kami punya. Tunggu saja…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s