Kami Ingin Merdeka dengan Berani!

Oleh Hasan Aspaani

            MEDAN perang adalah bagian dari hidup Kuniaki Koiso. Ia pernah menjadi wakil Menteri Perang, lalu Menteri Luar Negeri, dan menjadi Gubernur Jenderal Korea ketika negeri itu dikuasai Jepang. Ketika PM Hideki Tojo mundur dan pemerintahannya jatuh, 1944, Toiso dipilih menggantikannya.

kuniaki_koiso
Kuniaki Koiso

Toiso memimpin di saat-saat yang berat. Kekalahan demi kekalahan dialami Jepang di medan tempur. Karena itu pidato politiknya di parlemen Jepang tanggal 7 September 1944 – yaitu janji pemberian kemerdekaan di kemudian hari kepada Indonesia – bermuatan sangat strategis untuk mendapatkan dukungan kekuatan dari negeri-negeri yang diduduki oleh Jepang. Jepang sudah memberikan itu kepada Filipina dan Burma.

Setelah Derklarasi Koiso pembicaraan tentang Indonesia merdeka menjadi terbuka. Indonesia Merdeka, tak lagi dibicarakan dengan bisik-bisik ketakutan. Deklarasi itu ditindaklanjuti dengan pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada tanggal 28 Maret 1945. Itu terjadi kira-kira enam bulan setelah janji yang diberikan langsung oleh Tenno Haika. Badan ini diketuai oleh dr Radjiman Wediodiningrat beranggotakan 60 tokoh. Dua orang wakilnya adalah R.P. Soeroso dan seorang Jepang bernama Ichibangase Yoshio – sebelumnya dia adalah Residen Cirebon, dan Abdul Gafar Pringgodidgo sebagai sekretaris.

Kehadiran Yoshio di lembaga yang dalam Bahasa Jepang disebut Dokutritu Zyunbi Tosa Kai ini menarik. Mr. Ahmad Soebardjo salah seorang dari anggota BPUPKI tidak pernah melihat Yoshio hadir dalam sidang. Soebardjo melihat tokoh Jepang itu hanya berperan di balik layar sebagai pengawas dan penghubung antara Badan Penyelidik dengan Gunseikanbu.

Sebuah badan dengan 60 anggota berlatar belakang beragam sudah diperkirakan oleh Sukarno bakal menghadapi kemacetan dalam diskusi. Ia yang hanya duduk sebagai anggota mengusulkan membentuk suatu badan pekerja, yang hanya terdiri dari sembilan orang. Usul itu diterima, setelah berdiskusi dengan – tidak semua – hanya 38 anggota Badan Penyelidik. Maka disepakatilah anggota badan pekerja kecil itu terdiri dari Sukarno sebagai ketua, Muhammad Hatta sebagai wakil, dan anggota-anggotanya: Mr. Ahmad Soebardjo, Alex Andries Maramis, Mr. Muhammad Yamin, Haji Agus Salim, Abikoesno Tjokrosoejoso, K.H. Wachid Hasjim, dan Kyai Abdul Kahar Muzakkir.

 ***

            Badan Penyelidik berhasil menggelar dua kali sidang. Pertama, tanggal 21 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945. Sidang pertama ini ditutup dengan pemaparan cemerlang Sukarno yang menjadi dasar lahirnya dasar negara, apa yang dalam pidato Sukarno itu disebut Pancasila. Lalu, pada sidang kedua digelar pada tanggal 10 hingga 17 Juli 1945.

Antara kedua sidang itu, Badan Pekerja menuntaskan kerjanya yaitu menyusun teks pembukaan Undang-Undang, apa yang semula disebut Piagam Jakarta.

Mr. Soebardjo menyumbangkan pemikiran penting dalam rapat-rapat Badan Persiapan yang membentuk alinea pertama pembukaan UU Dasar 1945. Apa yang ia usulkan pertama adalah prinsip penentuan nasib sendiri. Inilah landasan utama perjuangan kemerdekaan nasional di negeri mana pun.

Gagasan lain ia ingat dari Kongres Menentang Imperialisme di Brussel pada Februari 1927 yang dulu ia hadiri bersama Hatta mewakili perkumpulan mahasiswa Perhimpunan Indonesia.

 

radjiman
dr. Radjiman

Di kongres Brussel itu disimpulkan bahwa imperialisme dan kolonialisme adalah sumber penderitaan bagi rakyat negeri yang terjajah di Asia Afrika. Dua hal yang diusulkan Soebardjo itulah yang dirumuskan dalam kalimat: Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh karena iitu penjajahandi atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Di mata pemimpin tua, Gerakan Angkatan Baru yang digagas oleh pemuda-pemuda radikal bisa dimaklumi sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap para pemimpin tua yang mereka nilai lamban bekerja mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pada hemat mereka, setidaknya diwakili oleh pendapat Soebardjo, Angkatan baru BM Diah dan kawan-kawan bukanlah sebuah organisasi yang kompak, meskipun dianggap sangat penting daya desaknya. Keberanian mereka mengorganisasi diri, melawan usaha Jepang dengan frontal telah mereka buktikan. Jepang menawarkan Angkatan Muda, para pemuda mendirikan Angkatan Baru. Ah, Jepang rupanya belum habis akal. Mereka lalu menggagas sebuah gerakan yang mempersatukan para pemimpin nasional itu dengan para pemuda, maka digagasnya Gerakan Rakyat Baru. Ya, mirip dengan nama yang sebelumnya dipilih oleh para pemuda itu.

Gerakan Rakyat Baru dirancang beranggotakan 80 orang, terdiri dari nama-nama tokoh di Badan Persiapan dan organisasi lain yang diusulkan dan dipilih oleh Sukarno. Baru kali ini nama-nama pemuda radikal itu masuk dalam lembaga resmi. Baru kali ini, di lembaga yang hendak dibentuk itu, para pemuda dan pemimpin tua berada di satu lembaga yang sama. Ya, Adam Malik, Sudiro, Harsono Tjokroaminoto, B.M. Diah, Soekarni, Asmara Hadi, Supeno, Wikana, dan S.K. Trimurti duduk di organisasi itu. B.M. Diah, karena aktivitasnya sebagai wartawan, dipercaya sebagai sekretaris.

Berhasilkah usaha itu menjinakkan para pemuda? Gagal, bersama gagalnya pembentukan Gerakan Rakyat Baru! Di rapata pertama lembaga itu, para pemuda menunjukkan ketegasannya. Itu terjadi pada sebuah sidang di gedung bekas Volksraad, di Pejambon. Sukarno memimpin sidang. Hatta dan Soebardjo duduk mendampingi Sukarno.

“Kami mengusulkan agar dalam piagam Gerakan Rakyat Baru kita ini disebutkan dengan jelas bahwa tujuan kita adalah membentuk Republik Indonesia,” kata Soekarni.

“Saudara, Badan Penyelidik belum memutuskan mengenai bentuk negara apa yang sesuai bagi negara Indonesia yang sedang kita bentuk ini,” kata Sukarno.

Rapat pun buntu.

Sukarno menskor sidang untuk meminta pendapat Hatta, Yamin, Abikoesno dan Soebardjo. Mereka berunding secara tertutup. Mereka sebenarnya sangat bersimpati dengan gagasan tegas itu, tapi ini soal yang masih agak rawan untuk diputuskan.

Ada banyak gagasan yang masih liar. Bahkan di tengah skorsing rapat itu, seorang pegawai Jepang memberi selembar nota kepada pemimpin rapat. Isinya peringatan: bahwa hanya Kaisar Jepanglah yang dapat menentukan bentuk negara bagi Indonesia! Sukarno, Hatta, dan Soebardjo saling berpandangan. Memang dalam beberapa percakapan dengan petinggi pemerintahan militer Jepang, dalam upaya menerjemahkan bagaimana bentuk kemerdekaan yang akan diberikan Jepang kepada Indonesia itu, ada pemikiran untuk bentuknya adalah semacam monarki, seperti yang dibentuk Jepang di Manchukuo. Gagasan itu pernah diusulkan resmi kepada Jepang oleh tokoh-tokoh di Bali. Tentu saja ditengah suasana rapat yang panas pada hari itu, gagasan ini pasti akan ditolak oleh pemuda yang sudah tegas-tegas menginginkan bentuk republik. Republik Indonesia!

Sukarno berusaha memberi jalan tengah. Ia mengusulkan kata “Republik Indonesia” akan ditulis sementara dalam tanda kutip. Jalan tengah antara ketegasan pemuda, dan mengikuti arahan Jepang. Ketika taka da kesepakatan, rapat memutuskan untuk memutuskan hal itu dengan pemungutan suara. Ide tandingan “republik dengan tanda petik” diterima oleh sebagian besar rapat. Para pemuda itu kecewa dan marah!

“Tuan-tuan para pemimpin tua, ini dualisme sikap Tuan-Tuan. Kalau hanya untuk menulis kata republik saja kita tidak berani tegas, kami menolak pembentukan Gerakan Rakyat Baru,” kata Adam Malik, angkat suara dengan berapi-api sebelum ia meninggalkan rapat itu.

            Chairul Saleh tak kalah garang, “Tuan-Tuan terlalu berhati-hati terhadap Jepang. Kenapa takut? Merdeka sekarang kata Bung Karno dalam pidatonya 1 Juni kemarin! Bung masih ingat apa yang Bung ucapkan sendiri itu? Kalau Tuan-Tuan terus begini, kami akan mensabotir semua usaha untuk melanjutkan rencana ini. Kami ingin merdeka dengan berani. Dengan gagah! Kami tidak bertanggung jawab terhadap hasil pemungutan suara tadi.”

“Ya, kami menolak dengan hasil pemungutan suara tadi,” kata B.M. Diah.

Rapat yang kacau.

Sukarno akhirnya memutuskan untuk menunda pertemuan itu. Tapi, tak pernah ada pertemuan lanjutan. Jurang perbedaan sikap menganga, meski tujuannya sama belaka: Indonesia Merdeka! Para pemuda makin merapatkan barisan dengan rapat-rapat dan pertemuan rahasia mereka.

Jepang sangat kecewa dan marah dengan gagalnya pembentukan Gerakan Rakyat Baru itu. Soekarni dan Chairul Saleh dipecat dari pekerjaan mereka di Sendenbu!

 

***

 

Sidang-sidang kedua Badan Penyelidik yang terlaksana pada tanggal 10 hingga 17 Juli 1945 membahas pertanyaan-pertanyaan Sukarno, Supomo, dan Mohamad Yamin yang dicatat dengan cermat oleh para stenografer selama sidang pertama. Teks Piagam Jakarta juga diserahkan sebagai laporan dan diusulkan menjadi pembukaan undang-undang dasar negara. Keputusan-keputusan penting rapat adalah: penolakan terhadap teori-teori Individualisme seperti yang melandasi konstitusi Amerika dan Prancis. Tetapi rapat para pendiri bangsa itu juga menolak teori kelas Marx, Engels, dan Lenin. Rapat juga sepakat tidak membangun Indonesia sebagai negara Islam.

Lalu apa bentuk negara Indonesia? Trauma penjajahan berabad-abad, dengan pengalaman diadu domba, dipecah-belah melandasi pilihan untuk mendirikan Indonesia di atas sebuah Negara Kesatuan. Bukan monarki. Bukan negara serikat. Bukan negara agama.

Soebardjo mencoba mencari landasan – setidaknya untuk mengukuhkan pendapat dan persestujuan sendiri atas pilihan itu – pada ide-ide Perhimpunan Indonesia, apa yang dulu bersama Sjahrir dan Hatta ia gerakkan semasa mahasiswa di Belanda, dan apa yang kemudian dicetuskan oleh Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda. Bangsa satu. Tanah air satu. Berbahasa satu, bahasa yang menyatukan semuanya.

“Apa yang penting adalah kehidupan bangsa keseluruhan. Negara kita tidak bersandar pada kelas terkuat ataupun pada kelompok mayoritas. Negara kita tidak menciptakan kepentingan individu perorangan sebagai tumpuan kepentingan keseluruhan. Tapi sebaliknya, negara menjamin kepentingan keamanan bangsa menyeluruh, sebagai satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan,” kata Soebardjo dalam suatu diskusi dengan para pemuda.

Ia tetap berhubungan dengan para pemuda-pemuda yang kecewa itu. Ia tetap dekat dengan mereka. Kepadanyalah para pemuda itu bertanya, mencari rujukan, dan dari Soebardjo perkembangan rapat-rapat Badan Penyelidik bisa diikuti oleh pemuda. Selain tentu dari surat kabar, Asia Raya, satu-satunya surat kabar yang terbit, tapi tentu saja tak banyak yang mereka dapat dari situ.

Langkah penting Bandan Penyelidik adalah inisiatif menyusun sebuah draf konstitusi yang terdiri atas Pembukaan, 16 bab dan 37 pasal pada tubuh konstitusi itu dan sebuah – karena kesadaran bahwa tak ada hasil kerja yang sempura dan perlunya dibuka peluang untuk penyempurnaan – sebuah Aturan Peralihan (4 pasal), dan Aturan Tambahan (2 bagian), yang dibentuk terutama berdasarkan pemikiran-pemikiran dan penjelasan Dr. Supomo.

Memang, Badan Penyelidik dibentuk dan bekerja setelah ada pernyataan Tokyo untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Tapi seluruh isi draf konstitusi yang disusun oleh komite ini sepenuhnya digali dari pemikiran orang-orang Indonesia, disarikan dari kearifan bangsa Indonesia, dan untuk kepentingan negara Indonesia yang direncanakan itu.   Sikap tegas pemuda yang menolak apa saja yang berbau Jepang, sangat mungkin, mempengaruhi dan menjadi pertimbangan oleh Badan Penyelidik.

Dan, situasi perang mewarnai isi draf konstitusi itu, dan itu dituangkan dalam aturan tambahan, yang menegaskan bahwa, 1. Dalam batas waktu enam bulan setelah berakhirnya peperangan AsiaTimur Raya, Presiden Indonesia akan mengatur dan mempersiapkan segala hal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar; dan disebutkan pada bagian 2. Dalam batas waktu enam bulan setelah terbentuknya Majelis Permusyawartan Rakyat, Majelis tersebut akan bersidang untuk menetapkan Undang-Undang Dasar. |

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s