Sesudah ‘DukaMu Abadi’: Apa Kabar Sapardi?

Oleh Hasan Aspahani

             Sapardi adalah penyair yang memanen perhatian besar dari pembacanya, dan karena itu karya-karya ditunggu. Setelah “DukaMu Abadi”, buku pertamanya yang sangat berhasil itu, ia tetap menulis dan mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar dan majalah. Dan orang-orang yang menunggu, menyambut sajak-sajak itu dengan antusias, seakan berebut membaca menemukan ke arah mana Sapardi bergerak. Jasa Sapardi bagi dunia perpuisian Indonesia, dengan demikian, salah satunya adalah: lewat sajak-sajaknya, berkembang kritik sajak yang baik, orang makin mahir memaknai sajak dan makin memahami apa itu sajak. Sajak-sajak Sapardi menggerakkan banyak orang menulis kritik, atau katakanlah artikel sastra. Tak banyak penyair kita yang mendapat perhatian sebesar Sapardi.

Lima tahun setelah “DukaMu…” penyair Yogyakarta Linus Suryadi AG menulis sebuah artikel, “Sesudah ‘DukaMu Abadi’: Apa Kabar Sapardi?” Rindu, barangkali, adalah juga sejenis penasaran. Linus, bisa dianggap mewakili publik penikmat puisi tanah air, menunggu, dan bertanya, apa lagi yang akan ditawarkan oleh Sapardi sebagai penyair.

Linus mengembangkan sebuah teorinya sendiri bahwa: dorongan kreatif seorang penyair kadang-kadang dan tidak kadang-kadang harus menabrak persoalan kreatif dirinya, yakni gaya penyampaian yang justru sebagai penyebab kebekuan kreatif sang penyair. Seseorang lantas dihadapkan pada alternatif yang bersifat majemuk.

“Apakah kecerdasan dirinya untuk tetap mampu bertahan pada satu pola pengucapan? Konsistensi gaya bakal menjelaskan bahwa seorang penyair bersetia dan berkembang dengan memperkembangkan dunia lewat gaya tunggal,” kata Linus.

Berbekal gaya tunggal namun mampu menghadirkan karya-karya yang utuh, ujar Linus, sudah merupakan prestasi tersendiri di tengah hidup yang dikelilingi kecairan-kecairan ini. Melangkah ke pola lain, berpindah ke gaya lain bila isyarat sudah mengarah pada menerima itulah juga kewaspadaan sebagai sikap korek terhadap diri sendiri.

Dengan titik tolak itulah Linus menyambut sajak-sajak Sapardi di Horison, Januari 1974. Tulisannya dimuat Kompas, 5 Nobember November 1974. Sajak-sajak yang ditulis 1971 antara lain Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari, sajak yang kemudian dimuat di buku “Mata Pisau”.

Linus memuji Sajak “Berjalan…”: “Siapa tidak menerima bahwa nuansa ide sajak ini genial?” Sapardi, kata Linus, sudah tidak seresah seperti ketika dirinya mencipta sajak “Prologue” (sajak pertama dalam DukaMu Abadi), ia sudah tidak terpaku pada perhatian bahwa stilistika bahasa merupakan persoalan sentral.

 

Setelah “DukaMu…” bahkan orang meninjau sajak-sajak Sapardi yang terbit sebelum buku itu terbit yang tak ia sertakan pada buku itu. Tetap dengan pujian-pujian atas keunggulan sajaknya. Herman KS, menulis di suratkabar Waspada yang terbit di Medan, 10 Mei 1975. Medan, adalah kota yang pada waktu itu bisa menyaingi dinamika Jakarta dalam kehidupan sastranya.

“Membaca sajak Sapardi kita seperti mendengar musik,” kata Herman KS. Ia membahas sajak-sajak Sapardi di majalah Budaya Jaya No. 22, tahun 1970, terutama bait: burung kepodang di pupus pisang, genta gerobak nyaringnya begini, di dusun sayang di dusun yang lengang, lama betul kau tak kembali.

            Herman menyebut banya sekali judul-judul sajak Sapardi sebelum “DukaMu…” yang ia sukai: Yang Teramat Lemah, Ketika Matahari Terbit, Lagu Duka Abang Beca, Liburan, Masa Bocah, Dari Atas Bukit Tidar, Dingin Benar Malam Ini, Orang-Orang Rendah Hati, Sebuah Sajak Bagi Mereka, Beterbangan, Nyanyian Lembut, Kepada Sebuah Sajak, Nyanyian Burung. Herman tampaknya seorang yang waktu itu cukup cermat mengarsipkan sajak dari majalah-majalah. Ia mengamati, dari sajak-sajak Sapardi yang ia simpan, ia sukai, dan ia hadirkan petikan-petikannya dalam artikelnya, lalu dibandingkan dengan “DukaMu…” ada lompatan yang jauh, walaupun dalam bentuk Sapardi masih mempertahankan gayanya yang lama yang merupakan ciri-cirinya.

 

Agus Dermawan T, tokoh yang terkenal sebagai kritikus seni rupa, pernah juga menulis esai memperbincangkan sajak-sajak Sapardi. Artikelnya dimuat di Kompas, Senin, 17 Desember 1979. Ia mengambil sajak Sapardi yang dimuat di Horison, Mei 1976, yaitu sajak “Bunga 1”, dan “Bunga 2”. Dua sajak itu nanti di tahun 1983 baru dibukukan dalam buku “Perahu Kertas”.

Bahkan bunga rumput itu pun berdusta. Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit; siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu; malam hari ia mendengar seru serigala. Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!”

            Bahkan bunga rumput itu pun berdusta. Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya meyadari bahwa tak nampa apapun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangkai dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api…. Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata.

            “Sebuah sajak yang lahir dari perasaan manusia terdalam, adalah sajak yang secara tak langsung telah melaksanakan ‘tugas moral’dengan baik,” kata Agus Dermawan T. Sebab, jelas, katanya, mau tak mau ia akan bersumber dari daya upaya pengamatan pencipta terhadap gejala-gejala kemanusiaan. Humanitas dengan serta-merta terketengahkan. Dan itulah sajak yang bertolak dari tenaga puitika yang sempurna. Jauh dari sekedar perguruan ritme bahasa atau mengotak-atik kata.

“Tugas moral”itulah yang ditangkap oleh Agus Dermawan T dalam artikelnya yang bertajuk “Mental Butut dalam Sajak Indah Sapardi Djoko Damono”. Penulis menautkannya dengan falsafah ajaran Jawa yang ditulis oleh Pakubuwono IV dalam Wulangreh Gambuh 4, yang memperingatkan tiga gunung cela pada manusia: Adigang, menyombongkan keberanian; Adigung, membanggakan martabat, asal-usul, silsilah; Adiguno, teriak akhu siapakah yang sepintar aku yang mampu memecahkan persoalan sendiri tanpa bantuan orang lain?

“Tata moral itu pula yang muncul dalam tubuh sajak Sapardi Djoko Damono, ia hadir sebagai persoalan yang ditawarkan. Dengan simbol-simbol yang diciptakan dengan jenial, penuh tenaga puisi dan imajinasi, sajaknya kuat melambar ke sisi hati dan alam pikiran kita,” ujar Agus Dermawan T.

Mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isyaratnya – tak ada alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma pendar-pendar di pemukaan kolam.

            “Sapardi Djoko Damono dengan jelas meletakkan sifat manusia yang telah ditatar oleh ‘kemajuan peradaban’, sehingga jauh dari sifatnya yang kodrati. Yakni egoism yang bergerak dahsyat dan merupakan awal dari kekerasan terhadap sesama,” kata Agus Dermawan memaknai “Bunga 2”.

Ia menilai, penyair telah menangkap sifat manusia yang menolak kebersamaan dan meluncurkan kesenangan pribadi dengan melebarkan rasa murung pihak lain.

“Kemunafikan dicetak menjadi alat pemenuhan kenikmatan duniawi – yang halus tapi mengerikan,” katanya.

Agus Dermawan T akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa dua sajak yang ia kupas, sebagai sajak yang bertolak dari sikap hidup manusiawi, dengan disertai tegaknya intelegensi pencipta dan intelektualitas tinggi, ia telah menyampaikan missinya secara menyeluruh. “Menyinggung segala sektor kehidupan ‘dunia dalam’ kita, kehidupan moral kita. Secara jernih, indah dan mengagumkan,” katanya. |

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s