Ketika Sukarno Kembali ke Batavia

Ir. Soekarno Tidak di Blitar

Beloem selang berapa lama tersiar kabar, bahwa Ir. Soekarno soedah datang di Kota Djakarta dan teroes pergi ke Blitar lewat mendjoempai iboenja di kota tersebut, dengan melaloei Soekaboemi, dan Bandoeng.
Dari fihak keloearga Ir. Soekarno “Antara” mendapat kabar, bahwa Ir. Soekarno sampai kabaran hari ini ditoelis tidak ada di Blitar. Djoega fihak keloearganya, teristimewa iboenja sangat menantikan kedatangan Ir. Soekarno.

Demikian kabar itoe tersiar ke mana-mana mengatakan Ir. Soekarno telah berada di tengah-tengah keloearganya di Blitar, dan orang-orang sama berdatangan, akan tetapi kemoedian merasa ketjiwa setelah dilihatnya Ir. Soekarno tidak ada.

Hingga Njonja Poegoeh saoedara perempoean dari Ir. Soekarno pada moelanja terpengaroeh oleh kabaran terseboet di kota Malang. Ternyata sekarang, bahwa Ir. Soekarno pemimpin rakjat Indonesia jang dinanti-nantikan orang ramai, beloem berada di tengah-tengah keloearga. (“Antara”)

Berita Oemoem, Raboe, 22 April 1942.

SUKARNO harus segera kembali ke Jakarta.

Ini adalah perintah Jenderal Imamura, Panglima Tertinggi tentara pendudukan Jepang yang bermarkas-besar di Jakarta. Perintah ini dikeluarkan karena para pemimpin bangsa Indonesia menolak membentuk pemerintahan sipil sebagaimana yang diinginkan Jepang, jika itu dilakukan tanpa Sukarno. Perintah itu dikirim lewat surat kepada Komandan Militer Jepang di Bukittinggi, Kolonel Fujiyama.

Hatta dan Sjahrir telah ada di Jawa. Orang-orang penting itu, para pemimpin yang terbuang oleh Belanda seketika amat diharapkan kehadirannya di Batavia oleh Jepang sang penguasa baru. Sungguh tak tertolak makna kearifan pepatah lama itu: sekali air gedang, sekali tepian beranjak. Tiap kali berganti penguasa, berubah sikap dan kebijakannya.

Jawa adalah pusat, di pulau inilah terkonsentrasi kekuatan tentara pendudukan, dan pucuk pimpinan yang mememang kendali utama. Tugas pemerintahan yang sesungguhnya ada di Jawa, tapi ternyata urusan sipil tidak berjalan dengan baik. Imamura menulis, kami sangat memerlukan bantuan dari orang yang paling berpengaruh. Surat itu akhirnya sampai pada satu kesimpulan tegas: Ini adalah perintah militer supaya memberangkatkan Sukarno ke Jawa!

 

Lima setengah bulan lamanya Sukarno menunggu, mencari atau tepatnya menunggu jalan untuk bisa kembali ke Jakarta. Dari kota internirannya Bengkulu, lalu dibawa Belanda ke Padang, hingga terakhir tertahan di Palembang. Satu bulan lamanya, Sukarno bertahan dengan kesal di Palembang, kota di Sumatera yang pertama diduduki Jepang. Sementara Sumatera dan Jawa dikuasai oleh dua kesatuan penguasa perang yang berbeda. Semua pelayaran dari kedua pulau dilarang.

Ketika saat kembali ke Jakarta itu tiba, yang bisa disediakan oleh pasukan Jepang di Palembang adalah sebuah perahu kayu bermotor dengan panjang delapan meter. Kapal itu tak terlalu besar dan kondisinya pun tak seberapa layak untuk mengangkut delapan penumpang – Sukarno, Inggit, anak angkat mereka Kartika yang masih berusia 8 tahun, pembatunya yang setia Riwu Ga, tiga orang jepang, termasuk seorang prajurit pengawal. Ah, tentu juga Ketuk Satu dan Ketuk Dua. Anjing hadiah dari sahabatnya, karena Sukarno tak mau menerima pemberian uang, setelah ia menjadi wali nikah sang sahabat, menantu Residen, dan pernah belajar Bahasa Jawa padanya.

Dan penyeberangan itu memakan waktu tiga hari tiga malam! Mereka tidur sambil duduk, tak mempedulikan semburan air laut, juga angin yang membawa uap garam, juga sengatan panas matahari. Perahu itu disekat dengan sedikit dinding seperti menyediakan sebuah bilik kecil. Juga sedikit atap. Pelayaran menelusuri laut di pesisir Sumatera itu sempat juga dihadang badai di laut dekat Pulau Bangka.
Perahu itu nyaris tenggelam ketika menabrak pulau karang dangkal yang tak tampak dari permukaan laut. Di perahu itu, Sukarno tak sempat membagi kecemasannya pada Inggit yang tampak jauh lebih tabah. Sukarno tak pernah belajar berenang. Sukarno mabuk laut. Bekal nasi seperiuk, ikan kering dan lauk dalam stoples, dan sayuran yang sudah dimasak tak sempat mengisi perutnya. Yang membuatnya bertahan hanyalah sedikit air jeruk, dan kenyataan bahwa ini adalah pelayaran kembali tanah kelahirannya, kembali ke tempat di mana dia akan meneruskan perjuangan yang terputus karena pembuangan, kembali ke Pulau Jawa, kembali ke Jakarta.

Inggit amat mencemaskan Sukarno yang tampak seperti mayat, pucat, kulit bibirnya pecah, kering dan terkelupas.

Pelayaran berisiko maut itu berakhir di sore yang panas, 9 Juli 1942, di pelabuhan Pasarikan, Tanjungpriok. Ini memang sebuah pasar ikan. Sejak semula, kapal-kapal layar dan perahu sampan nelayan seakan menyambut. Juga aroma amis dari air laut yang kotor oleh bangkai ikan yang terbuang. Sukarno harus dibantu ketika melompat dari perahu ke tangga batu, lalu naik dermaga. Mengingat perjalanan yang amat tidak mudah, aroma busuk, pelabuhan yang becek dan semrawut di mata Sukarno adalah pemandangan indah yang tak pernah bisa ia lupakan. Di ujung pelabuhan, di sebuah ruang kantor emperan yang kosong. Penjaganya mempersilakan Sukarno sejenak menenangkan diri dan menunggu di situ.

Seorang nelayan di pelabuhan itu tak lagi berpikir panjang bagaimana caranya ia bisa membantu Sukarno, ketika ia diminta menghubungi tiga orang: bekas iparnya Anwar Tjokroaminoto, pengacara yang dulu membelanya Sartono, dan sahabatnya Muhammad Hatta.

Kabar kedatangan Sukarno itu disampaikan oleh si nelayan lewat cabang toko Johan Johor di Pasarikan. Toko itu milik paman Hatta, sosok yang ia sangat dihormatinya, dan banyak berkorban membantunya. Paman yang ia sapa sebagai Etek Johor.

Anwar Tjokroaminoto yang pertama tiba di Pasarikan. Ia dan Sukarno berpelukan erat, dan saling menyentuhkan pipi yang basah oleh air mata. Keduanya tercekat. Beberapa waktu tak bisa saling bicara. Sukarno dan anak-anak Tjokroaminoto sudah seperti saudara, meski pernikahannya dengan Utari harus diakhiri dengan perceraian.
Sukarno yang lebih dahulu bisa mengatasi keterharuan pertemuan itu memulai bicara: “Bagaimana Harsono?”

“Baik.”

“Utari?”

“Semua baik. Yang lebih penting lagi saya menanyakan bagaimana keadaan Bung sendiri?”

“Akupun baik. Terima kasih. Sudah menyambut kedatanganku. Aku juga menunggu Hatta dan Sartono,” kata Sukarno. Keduanya kemudian saling berdiam lagi.

Inggit menyela percakapan itu menanyakan keberadaan Ratna Djuami.
“Ada. Dia sebentar lagi akan datang,” kata Anwar.

Sukarno memperhatikan jas potongan double breast warna gading yang dikenakan Anwar. Seketika itu juga ia menyadari betapa tertinggalnya potongan jas yang ia kenakan. Jas model sepuluh tahun lewat, sebab itu memang ia bikin sebelum pembuangan.

“Mas Anwar, jasmu bagus sekali potongannya!”

“Oh, ini bikinan De Koning.”

“Itu penjahit paling terkenal di Jakarta. Bagaimana kau membayarnya?”

Anwar tertawa. Mengangkat bahu. Kekakuan telah cair di antara mereka berkat pembicaraan tentang jas itu. “Saya masuk lewat pintu belakang. Tak terlalu tinggi ongkos yang harus kubayar. Ada seorang kawan bekerja sebagai penjahit pembantu di De Koning.”

“Apa kira-kira kawan itu mau membikinkan jas untukku?”

“Oh, tentu mau. Cari waktu senggang nanti saya bawa ke sana.”
“Sukarno sudah di Pasarikan. Baru saja datang. Orang kita di cabang toko di sana baru saja menelepon,” kata Etek Johor meneruskan kabar itu ke Hatta, lewat telepon.

“Ya, Etek. Kabarkan paling lambat, satu jam dari sekarang, pukul 14.00 nanti saya sudah ada di sana!” kata Hatta. Ia ingin selekasnya menemui Sukarno. Tapi ia juga orang yang disiplin dan cermat menghitung waktu ketika membuat janji.

Satu jam. Hatta memperkirakan itu waktu yang cukup untuk menelepon sahabatnya ketika kuliah di Rotterdam, Dr. Tjoa, kepala sekolah teknik pertukangan, IVEMO, di jalan Salemba. Di sekolah itulah, anak angkat Hatta dan Sjahrir, yaitu Des Alwi menjadi murid. Des Alwi bersama beberapa sekolahnya ia lalu berangkat dengan tram dari Stasiun Kota ke Tanjungpriok, lalu kemudian berjalan kaki ke Pasarikan, dan berkumpul di restoran yang amat terkenal di sana Setinjau Laut.

Inilah cara Hatta memberi penghormatan kepada Sukarno. Kabar kedatangan Sukarno lekas menyebar di antara rakyat di kawasan Tanjungpriok itu. Ratusan orang berkumpul, seakan ingin menuntaskan kerinduan pada sosok sang pemimpin pergerakan, Sukarno.

Berselang setengah jam dengan kedatangan Anwar, Sartono dan Hatta sudah tiba juga di Pasarikan. Bertahun-tahun Sukarno dan Hatta terpisah oleh pembuangan, dan mereka tak saling mengirim surat. Banyak yang ingin segera dipercakapkan. Kabar pribadi. Masa-masa di pembuangan. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah apa yang ditanyakan Hatta dengan berbisik, tentang pendudukan Jepang yang malam itu juga akan mereka bicarakan bertiga: Sukarno, Hatta, dan Sjahrir. Ya, hanya bertiga.

Momentum itu dengan lekas menggambarkan siapa sosok Sukarno di mata rakyat, kepada para petinggi penguasa Jepang yang kemudian juga datang ke Pasarikan. Shimizu, Kepala Propaganda Resimen Militer Jepang, dan Letnan Jenderal Imamura Sikikan. Juga Mr. Samsoedin yang sudah diangkat oleh Jepang menjadi Ketua Gerakan Tiga-A, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Mansyur, Sukarni, dan beberapa tokoh pergerakan pemuda.

“Rakyat Indonesia di Jakarta sangat merindukan Bung Karno yang sudah sepuluh tahun diasingkan oleh penguasa kolonial Belanda. Hari ini, hari di mana Bung Karno kita kembali ke Jakarta adalah momentum yang tepat, bersamaan dengan keluarnya Belanda dari Bumi Indonesia terusir oleh militer Jepang.

“Mari, melalui kerjasama dengan Jepang, kita akan menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik,” ujar Hatta, dalam pidato kecilnya di hadapan rakyat yang menyambut Sukarno.
Dan Sukarno pun berpidato. Ia antara lain mengatakan: “Asia Raya, tidak akan bisa raya kalau Indonesia belum Raya!” Pidato yang dengan ringkas, tepat, segera menggelorakan semangat revolusioner.
Apa yang diinginkan Jepang dari dan setelah kedatangan Sukarno tergambar dalam pidato Shimizu: “Indonesia musti berterima kasih kepada Jepang karena telah berjasa mengusir Belanda. Indonesia harus mendengar apa kata Jepang sebagai saudara tua!”

Penyambutan itu dimeriahkan dengan nyanyian-nyanyian pro-Asia Raya yang dipropagandakan Jepang. Hari itu Sukarno dijemput mobil sedan biru tua, supirnya Muhasim. Hari itu juga Jepang mengumumkan pemakaian tahun Jepang, 1942 Masehi diganti dengan bilangan 2602.

Tidak ada Sjahrir. Dan tidak ada A.M. Hanafi di antara mereka yang menjemput Sukarno di Pasarikan. Jika ingin mencari A.M. Hanafi, carilah dia di kawasan Tanjungpriok, kalau tidak di Marunda, di Tugu, atau Kampung Ambon. Tanyalah pada jago-jago pencak silat di sana. Cari saja nama Gantang, Samud, atau Rohman. Para jago-jago silat itu, dengan gemblengan dan semangat juang yang disuntikkan oleh Hanafi – itulah kerja yang ditugaskan kawan-kawan sepergerakan padanya – mengerahkan anak-anak muda pemberani berhasil mencuri, merampas, dan menyimpan banyak sekali senjata bekas serdadu KNIL yang lari setelah Jepang mendarat di Banten.

Kelak di awal perang revolusi, berkat aksi jago silat itu, Tanjungpriok menjadi kawasan pemasok persenjataan pertama bagi rakyat dalam pertempuran melawan NICA.

Hanafi sendiri menjadi pemuda yang berjuang dengan kesadaran penuh, seakan tak berhitung lagi risiko bahaya, karena Sukarno. Karena itu, kabar bahwa Sukarno akan segera kembali ke Jakarta dari pembuangan di Bengkulu adalah kabar besar, kabar gembira yang sangat ia tunggu.

Dia ingat bagaimana pada tahun 1937 ia menemui Sukarno di Hotel Centrum. Hari itu adalah hari pertama masa-masa pembuangan kedua Sukarno, setelah dipindahkan dari Ende, Flores. Hanafi adalah klerk di kantor Residen Bengkulu. Nama Sukarno punya arti lebih baginya. Hanafi adalah adik, Asmara Hadi, pemuda yang secara politik dididik langsung oleh Sukarno, sampai-sampai ikut jadi orang buangan ke Ende, dan kelak menikahi Ratna Djuami, anak angkat Sukarno.

“Berapa umurmu sekarang?”

“19 tahun, Bung!”

“Siapa namamu?”

“Hanafi.”

“Kenapa tidak ke Jakarta atau Bandung seperti abangmu?”

“Kami ini turunan Kepala Marga. Dari keluarga kami selalu ada yang menjadi pegawai negeri pada pemerintahan Hindia Belanda.”

“Kau masih muda. Sayang sekali jika umurmu kau habiskan hanya untuk mengabdi pada pemerintah yang menjajah negeri kita ini. Kenapa tidak ke Jakarta saja? Lanjutkan pendidikan di sana. Pergilah kesana untuk mereguk air suci pergerakan nasional. Negeri ini perlu anak-anak muda seperti kau, agar bisa segera bebas dari penjajahan,” kata Sukarno.

Bukan Sukarno namanya jika dengan kharismanya dia tidak bisa mempengaruhi orang lain untuk jadi revolusioner. Itulah yang ia lakukan pada Hanafi. Pertemuan di Hotel Centrum itu mengubah seluruh arah hidupnya. Dia dipecat karena menemui Sukarno, yang oleh Belanda dicap sebagai ‘Bandit Politik Nomor Satu”.

Hanafi sama sekali tak pernah menyesali kejadian itu.

Bukan sesuatu yang mudah baginya. Beberapa waktu sebelum berangkat ke Jakarta, Hanafi menemani perjuangan Sukarno di Bengkulu. Dialah yang membantu Sukarno membenahi rumah bekas administrator onderneming pabrik kebun di Bengkulu di Jalan Anggut Atas yang ditempati Sukarno dan keluarga. Jika di kedua pangkal tangga rumah itu tumbuh perdu Kemuning, Hanafi dan Sukarnolah yang menanamnya.
“Hanafi, engkau gali itu lobang, kau tanam pohon kemuning. Nanti, kalau pucuk-pucuk pohon itu menjadi layu dan mau mati, engkau jangan rawat lagi pucuk-pucuknya atau dahan-dahanya itu, tapi kau harus cabut sampai ke akar-akarnya, lalu ganti dengan yang lain,” kata Sukarno.

“Ya, Bung. Apakah dalam perjuangan kita juga harus begitu?”

“Ah, benar. Kau memang pintar. Yang saya ingin kasih pelaran pada kau adalah soal radikalisme. Berjuang dengan radikal. Jadilahkau seorang radikal dalam perjuangan nasional. Engkau diberhentikan dari pekerjaanmu di kantor Residen itu karena berhubungan dengan saya. Kalau jadi orang pergerakan yang radikal, kita ganti pemerintah Belanda ini sekaligus sampai ke akar-akarnya denagn pemerintahan bangsa kita sendiri. Itulah radikal!

Sukarno menghadiahinya nama Anak Marhaen. Anak Marhaen Hanafi. A.M. Hanafi. Nama itulah yang ia sandang dengan bangga, seakan menjadi tanda dari kedekatannya dengan Sukarno, keberaniannya, dan kegigihannya berjuang untuk Indonesia.

Hari pertama Sukarno sekeluarga di Jakarta terpaksa harus singgah beristirahat di Hotel Des Indes. Terpaksa karena memang belum tersedia rumah untuk mereka. Tetapi malamnya mereka menginap di rumah Hatta. Sore harinya Asmara Hadi dan A.M. Hanafi menemui Sukarno di hotel itu. Kepada kedua anak muda itu, Sukarno meminta diberi gambaran bagaimana situasi pergerakan di Jakarta yang lama ditinggalkannya. Bahan itu ia perlukan karena malam itu dia akan bertemu dengan Hatta dan Sjahrir di rumah Hatta. Ini pertemuan penting pertamanya, sehingga Sukarno berkata kepada Hatta bahwa dia tidak akan bicara dengan siapa-siapa sebelum bicara dengan Hatta dan Sjahrir.

Kedua anak muda itu lalu meninggalkan Hotel Des Indes. Asmara Hadi dengan cepat menyiapkan bahan laporan dan dia kembali sendiri dengan konsep tertulis dan untuk Sukarno.

“Bawa ke mari. Akan saya kunyah sekaligus,” kata Sukarno.

Tukang yang cermat tidak akan membuang menyia-nyiakan kayu.

Laporan yang diberikan Asmara Hadi langsung dibaca oleh Sukarno. Ia membacanya dengan lekas bahkan sempat dibawa juga ke kamar kecil.

“Sekarang tidak ada waktu yang boleh terbuang,” kata Sukarno, “Bagaimana Hanafi?”

“Kalau mengenai situasi masyarakat, Hanafi akan bisa bercerita banyak kepada Bung, sebab organisasi ‘Barisan Pemuda Gerindo’ masih tetap in tact dan Bung akan bisa mendapat tenaga pemuda dari dia,” jawab Asmara Hadi. | Hasan Aspahani

 

Iklan

2 pemikiran pada “Ketika Sukarno Kembali ke Batavia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s