Sapardi, Setelah Duka-Mu Abadi

Berita kecil di rubrik Peristiwa Budaya di Kompas, Selasa, 21 Januari 1975, halaman 6, itu cukup menjadi gambaran betapa besar perhatian media atas sastra khususnya puisi, dan terutama kepada Sapardi Djoko Damono.

Berita tanpa judul itu selengkapnya berbunyi begini: Setelah “Dukamu Abadi” dan “Mata Pisau”, penyair Sapardi Djoko Damono kini berhasil menyelesaikan kumpulan puisinya yang ketiga, dengan judul “Akuarium”. Selain pertanda Sapardi produktif, juga mengesankan, ada pergeseran gaya ekspresinya dalam berpuisi. Sajak-sajaknya kini pendek-pendek, dan lebih banyak mengundang pikiran kita. Diangkatnya segala sesuatu yang nampak tidak berarti dari alam benda kecil-kecil, tapi akhirnya membawa kita teriak dalam hati dan bisa menikmati.

“Mata Pisau” dan “Akuarium” adalah dua kumpulan sajak terpisah yang kelak disatukan di bawah satu buku berjudul “Mata Pisau”.

Apa pertimbangan sebuah koran umum pada waktu itu, menyiarkan berita, sependek apapun itu, tentang seorang penyair yang menerbitkan lagi sebuah buku puisi? Disertai sedikit analisa ringkas soal pergeseran gaya menyajak, tema, dan pilihan-pilihan objek yang disajakkan? Sekadar promosikah? Rasanya bukan, karena penerbit buku itu dipastikan tak ada hubungannya dengan surat kabarnya. Tapi pasti itu karena Sapardi Djoko Damono, si penyair yang menerbitkan buku itu, memang telah menjadi “sesuatu”, menjadi “seseorang”. Ia tidak lagi berada di wilayah sempit sastra dan khususnya puisi. Ia telah membawa puisi jauh ke ruang-ruang kehidupan lain, dan karena itu berita tentang dia, tentang puisinya, tentang bukunya adalah berita yang menarik.

“Waktu itu, Kompas dan koran-koran lain suka sekali memuat telaah-telaah sajak, dan panjang-panjang. Seringkali malah bersambung. Bukan hanya pada hari minggu. Itu bagus sekali buat perkembangan puisi dan sastra. Juga berita tentang peristiwa-peristiwa sastra,” kata Sapardi.

Dan seperti biasanya, buku Sapardi nyatanya lagi-lagi memang disambut ramai. Abdul Hadi W.M menulis “Buku Puisi Sapardi Djoko Damono”, di Berita Yudha, Sabtu, 14 Juni 1975), dengan kesimpulan, “Kata-kata dalam sajak Sapardi bulat dan utuh, meskipun tidak semua sajaknya berhasil dan kadang-kadang masih kelihatan mentah seperti ‘Akuarium’ misalnya, namun yang menarik daripadanya, sebagai kekuatan yang mungkin tidak dimiliki oleh penyair-penyair lainnya sekarang ini, ialah kemampuan observasinya terhadap alam dan peristiwa kecil-kecil, dan kemudian diangkatnya menjadi sajak yang bermakna.”

Kau yang mengatakan: matanya ikan! Kau yang mengatakan: matanya dan rambutnya dan pundaknya ikan! Kau yang mengatakan: matanya dan rambutnya dan pundaknya dan lengannya dan dadanya dan pinggulnya dan pahanya ikan. “Aku adalah air,” teriakmu, “adalah ganggang adalah lumut adalah gelembung udara adalah kaca adalah…”

            Di hadapan akuarium – obyek sajaknya kali ini – Sapardi dengan mata penyairnya yang unik melihat akuarium itu, bukan pada ikan yang ada di dalamnya. Ia bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Ia meninjau dirinya, membagi dirinya menjadi aku dan engkau. Si aku menegur si engkau yang sibuk memberhatikan ikan pada akuarium itu, sesuatu yang dilihat oleh mata semua orang awam yang bukan penyair. Itu saja sudah sesuatu yang mengejutkan dan menyenangkan kita.. Itu saja adalah suudut pandang yang tak biasa, lalu pembaca kemudian dikejutkan dengan bait akhir yang menohok, “Aku adalah air!” Dan adalah-adalah yang lain, yang membuat akuarium itu lengkap dan utuh sebagai akuarium. Dan yang terpenting dalam sebuah akuarium itu adalah air, bukan? Apa yang membuat ikan-ikan itu hidup. Tema kecil itu berhasil diangkat menjadi penting. Cara mengucapkan tema itu telah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sangat unik dan segar. Dan dari situ, serta-merta termuat kandungan makna yang kaya.

Dan tugas penyair pun selesai!

Dengan cemerlang.

Sajak yang masih mentah, kata Abdul Hadi tanpa menjelaskan bagaimana itu bisa lebih dimatangkan, tapi ia tambahkan bahwa kata-kata di situ , tidak lagi hanya sekadar untuk mendukung cita dan visi penyair, tapi juga bertugas sebagai pendukung citra, irama, mood, dan pada pokoknya dunia intuisi penyair, yang – kalau kita mau setuju apa yang disebut dunia intuisi – dunia kejiwaan seseorang tempat realitas-realitas di alam secara langsung, tidak melalui proses penginderaan dan penalaran yang berbelit-belit, tapi kepada dunia intuisi itu suatu realitas datang secara langsung dan diikuti oleh jawabanlangsung pula oleh intusi itu.

Sapardi Djoko Damono adalah salah seorang di antara penyair kontemporer yang kini penting. Sikapnya terhadap alam dan lingkungan sekitarnya romantik. Sajak-sajaknya kompleks dengan pengalaman-pengalaman kemanusiaan: pertempuran diri dengan dunia sekitarnya, arti kehadiran manusia dan misteri. Sajak-sajak Sapardi lebih daripada itu kebanyakan merupakan percakapan diri, percakapan dunia-dalam penyair,” ujarnya. Abdul Hadi WM, adalah penyair kuat dan juga penulis kritik yang bagus yang berkembang hampir paralel bersama Sapardi. Di antara mereka berdua – sebagaimana dengan para penyair lainnya juga – ada rivalitas, tapi ketika harus memuji, Abdul Hadi bisa berdiri pada posisi netral sebagai pengamat yang jeli, seperti pada esainya ini.

“Dan barang siapa membandingkannya dengan Amir Hamzah, Sitor Situmorang, dan Goenawan Mohamad, maka akan kita temui suatu jejak perkembangan persajakan Indonesia di mana lirik bisa muncul di mana saja dan kapan saja, apakah pada jaman dinasti T’ang di Tiongkok, abad ke-8, pada zamannya Goethe, atau sekarang ini di tanah air kita,” kata Abdul Hadi.

Abdul Hadi ingin mengatakan bahwa sajak lirik itu abadi. Ia bisa muncul dari tangan penyair yang kuat, di mana saja, kapan saja. Tentu saja itu bisa jadi basi dan buruk, justru di situlah tantangan menyair kapan saja puisi dituliskan. Dan Sapardi pada masa itu telah meghadirkan itu dengan sangat baik.

 

Apakah Sapardi makin dimengerti dengan perkembangannya sejauh hingga menerbitkan “Akuarium”? Handrawan Nadesul, seorang penulis dan penyair muda pada waktu ia menulis sebuah artikel di Kompas, 20 Mei 1975, “’Akuarium’ Sapardi yang Tanpa Ikan”.

            Mula-mula ia melihat buku kumpulan puisi itu ibarat lompatan seekor kijang di tengah padang tandus, ketika ia merasa tiba-tiba senja semakin menjadi nyata. Handarawan memakai analogi dari salah satu sajak di buku tersebut. Telaga dan sungai itu kulipat dan kusimpan kembali dalam urat nadiku. Hutan pun gundul. Demikianlah maka kawanan kijang itu tak mau lagi tinggal dalam sajak-sajakku sebab kata-kata di dalamnya berujud anak panah yang dilepas oleh Rama. Demikianlah maka burung-burung tak betah lagi dalam sarang di sela-sela kalimat-kalimatku sebab sudah begitu rapat tak ada lagi tersisa ruang. Tinggal beberapa orang pemburu yang terpisah dari anjing mereka menyusur jejak darah, membalikkan dan menggeser setiap huruf kata-kataku, mencari binatang korban yang terluka pembuluh darahnya itu.

            Nanti pada kesimpulan artikelnya si penulis tampaknya menyerah. Ia terengah-engah mengejar kijang yang tak lagi betah dalam sajak-sajak Sapardi. Mari kita beri bantuan pernafasan padanya. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Sapardi lewat sajaknya ini? Ini adalah sajak kedua dari rangkaian dua sajak, sajak tentang sajak. Judulnya pun “Sajak, 1” dan “Sajak, 2”. Yang khas pada Sapardi, bahkan sejak masa awal kepenyairannya, dia selalu rajin meninjau ulang apa sikap, pandangan, dan pendapatnya tentang sajak. Dua sajak ini adalah upaya kesekian, yang bisa mewakili tahun-tahun di sekitar penulisan sajak-sajak di buku itu. Ingat Sapardi kita kali ini adalah Sapardi yang telah melanglang Amerika. Kepercayaan dirinya sebagai penyair dan kritikus sedang bagus.

Ada sebuah surat Sapardi kepada Goenawan tentang upaya mereka “berikhtiar” membawa puisi Indonesia ke arah yang “benar” menurut keyakinan estetis mereka. Secara halus sajak Sapardi tadi bisa kita baca sebagai upaya “mengajarkan” bagaimana cara membaca dan menulis puisi. Kalau kata-kata dalam sajakmu kau perlakukan seperti anak panah dank au menganggap dirimu seorang Rama yang jago memanah itu, maka sajakmu hanya akan jadi padang yang gundul. Tak akan ada hewan buruan yang betah tinggal di sana. Taka da burung yang terbang dan hinggap karena mereka juga ketagukan berebut tempat sembunyi, dan itu membuat kalimat-kalimatmu sesak, sampai pada akhirnya mereka pun meninggalkan sajakmu. Kau, para pemburu makna sajak, adalah pemburu yang terpisah dari anjing. Dalam sajak yang demikian hanya akan kau temukan ceceran darah. Jadi, bukan begitu caranya memiliki kijang dan burung dalam sajak, bukan dengan datang sebagai pemburu.

 

Handrawan berhenti pada kesimpulan bahwa sajak-sajak dalam “Akuarium” dibiarkan tetap ternganga; seakan banyak menguakkan pintu asosiasi menuju labirin misteri serta falsafah; logika bahasa yang kendor dan pintang meregang sehingga sombolisasi yang ada jadi sedemikian lenturnya.

“Ia tidak hadir bulat-bulat di hadapan kita, tapi dalam banyak rupa yang harus diterka. Ada beban yang memberatkan lebih dari sekadaraintuisi, lantaran kita harus diajak lebih banyak berpikir daripada merasa,” katanya.

Sapardi, kata Handrawan, telah memancing kita untuk berkerut dari sebelum puisi-puisinya berhasil kita akrabi. Kenikmatannya terasa begitu sulit ditempuh dengan cara yang lebih jujur. Lalu ia bandingkan dua buku sebelumnya dengan buku yang sedang ia timbang, dengan kesimpulan buku ini tidak lebih jujur daripada dua buku Sapardi sebelumnya.

Handrawan menyerah. Di hadapan sajak-sajak Sapardi ia merasa seperti menonton seni instalasi berupa akuarium kosong, dan dia merasa dipaksa untuk membayangkan di situ ada ikan berbagai warna yang indah, air yang biru, tanaman-tanaman hias yang menarik.

“Tapi bagaimana?” tanyanya pasrah,menutup artikelnya dengan dua kalimat tanya itu.. Ia tak punya jawaban.

Padahal, Sapardi dan sajak-sajaknya mungkin hanya ingin didengarkan. Sebagaimana ia minta dalam “Sajak,1”. Begitulah, kami bercakap-cakap sepanjang malam: berdiang pada suku kata yang gosok-menggosok dan membara. “Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!” Baiklah, kami pun bercakap sepanjang malam: “Tetapi begitu cepat kata demi kata menjadi abu dan mulai beterbangan dan menyesakkan udara dan….”

            Membaca sajak adalah bercakap-cakap, berdialog, dengan demikian kata-kata saling menggosok dan membara, di kehangatan bara itulah kita mendapatkan hangat yang menyelamatkan kita dari dingin udara di luar sajak yang membunuh kita, dan membunuh bahasa kita. Sajak yang baik adalah sajak yang mengajak pembacanya untuk berdialog, agar pintu ke pemaknaan baru tidak terkunci dan kita terkurung pada kebekuan bahasa. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Menulis puisi adalah pekerjaan yang meresahkan karena kita dalam dialog itu, tak selalu penyair menemukan kata-kata yang berdaya bara tinggi, yang terus menyala, dan tak lekas mengabu ketika saling menggosok-gosokkan diri. Jadi dengarkanlah, dan fahamilah betapa meresahkannya pekerjaan menyair itu. | Hasan Aspahani

 Ilustrasi: Fish oleh  Liu Zhi

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s