Sejarah Berbelok di Rengasdengklok

Rengasdengklok adalah sebuah kawedanan, berjarak 15 kilometer dari Karawang, dan 80 kilometer dari Jakarta. Daerah ini dibentengi oleh sungai Citarum tepat di sebelah baratnya.

Siapapun yang hendak menyerbu dari Jakarta ke Rengasdengklok, jalan manapun yang ditempuh, semua harus menyeberangi Citarum.

Maka pertimbangkanlah ini, betapa alam telah memberi benteng pertahanan yang strategis kepada Rengasdengklok.  Bahkan, pasukan Kerajaan Mataram yang diperintahkan oleh Sultan Agung, dalam beberapa kali serangannya untuk merebut kota Batavia, juga memilih Rengasdengklok sebagai garis batas dan basis pertahanan. Di akhir ujung masa kekuasaan Bala Tentara Jepang – sebagai bagian dari persiapan melawan sekutu – di bangun pos-pos pertahanan di beberapa titik di sepanjang Citarum, apa yang tak sempat mereka tempati.

Pos-pos itu kemudian direbut oleh para prajurit PETA yang bahu-membahu dengan milisi-milisi rakyat.

Sebuah pos di tepi Citarum, di Pisang Sambo, letaknya di utara Rengasdengklok, misalnya, bergabung beberapa pasukan gerilya: Benteng Wulung Macan Citarum, Sapu Mas, Pasukan Penjelajah, Pasukan Siluman, dan Pasukan Garuda Putih.

 

petarengas
Peta posisi Rengasdengklok.

Lebih ke barat, pada satu titik di anak sungai Citarum yang sudah masuk wilayah Bekasi, ada satu pos lagi, seakan sebuah sistem pertahanan yang berlapis. Pos ini menjadi semacam pos pengintai musuh, yang ditempatkan tak jauh dari sebuah jembatan. Ini yang membuat Rengasdengklok sulit ditembus.

Kelompok-kelompok milisi gerilya itu amat menyulitkan Jepang.

Rengasdengklok adalah contoh bagaimana di sebuah daerah perjuangan rakyat dikobarkan. Garnisun PETA di sini, terhubung dengan markas PETA lain di Bogor – yang menjadi pusat pelatihan seluruh PETA di seluruh Jawa, Purwakarta, Cileungsi, dan lain-lain daerah, tetapi yang terpenting adalah mereka selalu menyatu dengan milisi-milisi gerilyawan rakyat.

Apa yang membuat rakyat Rengasdengklok bangkit menjadi para pejuang yang militan?

Karena mereka merasa menjadi korban pertama dari kekejaman Jepang! Hasil panen padi mereka dirampas untuk tentara Jepang, perempuan-perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Apalagi ketika markas PETA dibangun disana dengan sebuah gudang beras untuk Jepang. Ya, pada mulanya kehadiran markas PETA di Rengasdengklok justru membangkitkan kebencian rakyat Rengasdengklok.

Pemuda dan prajurit PETA kerap terlibat bentrokan.

Yang menjembatani dua kekuatan itu adalah Masrin Hasani, Kepada Desa di Rengasdengklok. Ia dan beberapa kalangan terdidik di sana mencari akal bagaimana mengatasi kekacauan itu.

Masrin juga seorang pemimpin Seinendan di Rengasdengklok. Ia faham soal propaganda. Maka, lewat pertunjukan sandiwara ia menanamkan kesadaran kebangsaan kepada pemuda-pemuda, dan betapa pentingnya menyatukan kekuatan seluruh rakyat, termasuk saling membantu dengan prajurit PETA. Ya, mereka memang bekerja untuk Jepang, tapi itu bisa dimanfaatkan.

Masrin berhasil.

PETA diam-diam juga melatih pejuang rakyat. Bahkan sempat ada peraturan semua pemuda di sana diwajibkan mengikuti pelatihan militer bersama PETA. Empat bulan berjalan, latihan militer itu meluas, desa-desa di sekitar Rengasdengklok juga mengirimkan pemuda-pemudanya untuk digembleng. Inilah yang melahirkan para gerilyawan tangguh yang punya kesadaran kebangsaan di Rengasdengklok dan sekitarnya. Inilah yang membuat seluruh kampung di Rengasdengklok memiliki pos pertahanan yang kuat, yang mahir membaca situasi peperangan, tahu menggunakan senjata, dan gigih ketika bergerilya. Inilah yang melahirkan kesatuan-kesatuan perlawanan rakyat tadi: Benteng Wulung Macan Citarum, Sapu Mas, Pasukan Penjelajah, Pasukan Siluman, Pasukan Garuda Putih….

 ***

Suatu subuh, seseorang mengetuk pintuk rumah Masrin Hasani. Dalam situasi normal, ini saat yang tidak lazim untuk bertamu. Tapi ini perang. Masrin mengintip dari bukaan pintu dan dalam remang melihat pemuda yang kelelahan tapi masih tampak ada tatap beringas di matanya. Ia teringat pada salah seorang warganya, juga muridnya. Achmad Ginun? Betulkah itu dia?

“Pak Masrin, ini saya, Ginun. Achmad Ginun!” pemuda itu setengah berseru, setengah berbisik, menahan suaranya agak masih dalam batas kesopanan pada orang yang ia hormati, tak mengagetkan orang yang mendengar, tapi juga ingin memastikan bahwa ia didengar.

“Allahuakbar, Nak Ginun! Ayolah, masuk,” Masrin dengan lekas menebak pasti ada sesuatu yang membuat muridnya itu kembali ke rumahnya, di waktu dan keadaan tubuh yang tak lazim, Ginun tampak sangat lelah.

Achmad Ginun terakhir memberi kabar kepada Masrin, telah bergabung dengan Heiho dan bermarkas di Batalyon 10360 di Berlan, Jatinegara. Masrin tahu ia prajurit yang handal. Ginun pemuda yang berani, dan fisiknya kuat. Selama tinggal di asrama Heiho ia beruntung sempat mendapat suntikan nasionalisme langsung dari ceramah Bung Karno, Bung Hatta dan pemimpin pergerakan lain.

“Musuh kita yang terutama adalah musuh yang ada di depan mata!” kata Sukarno. Sebagaimana orasi-orasinya, ia selalu memilih kata-kata yang bersayap, berlapis maknanya. Bagi Ginun, kata-kata Si Bung, seakan memperingatkan dia agar menolak dikerahkan ke medan perang di Burma. Ia memang mendengar banyak kisah menakutkan, tentang kawan-kawannya yang tak lagi kembali, tewas di pertempuran di negeri orang, atau jika menolak berperang ditenggelamkan di laut. Maka, bulatlah sudah tekad Ginun. Bersama sebelas temannya seasrama, mereka melarikan diri! Kembali ke daerah masing-masing untuk berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Kalau pun harus mati, mereka mati untuk bangsa sendiri, bukan untuk kepentingan Jepang.

Heiho atau tentara pembantu adalah pasukan yang direkrut oleh Jepang dari pemuda-pemuda Indonesia berdasarkan instruksi Bagian Angkatan Darat Markas Besar Umum Kekaisaran Jepang, September 1942.

Perekrutan anggota Heiho dimulai April 1943.

Awalnya para pemuda anggota pasukan ini dikerahkan hanya untuk melakukan pekerjaan kasar militer seperti membangun kubu dan parit pertahanan, atau menjaga tahanan. Lalu peran itu oleh Penguasa Jepang dirasakan perlu untuk dikembangkan mengingat sengitnya pertempuran yang mereka hadapi. Apalagi jumlah anggota Heiho yang sempat mencapai lebih dari 40 ribu orang adalah kekuatan besar yang bisa diandalkan Jepang untuk menambah kekuatan tempur. Karena itu Jepang akhirnya juga pasukan ini, mempersenjatai mereka, dan dilatih berperang. Mereka yang terlatih inilah yang sebagian sempat dikerahkan ke medan tempur di Morotai dan Burma.

 ***

Pukul 01.00, 9 Agustus 1945, Ginun dan Zakaria rekan seperjuangannya dari Rengasdengklok, bersama kawan-kawannya asal Banten, Tangerang, Bogor, Sindanglaut, Pegadenbaru, Subang, Lentengagung, dan Pesing mengendap keluar, satu per satu dari markas Heiho. Tak banyak yang mereka bawa, kecuali pucuk pistol dan sedikit peluru yang sempat mereka curi, yang masih bisa diselipkan di lingkar pinggang. Mereka menuju Karawang dengan menumpang kereta api barang dari Stasiun Jatinegara. Dari situ Ginun berjalan kaki, 20 km, ke Rengasdengklok. Sampai di waktu subuh di depan pintu rumah gurunya, Masrin Hasani.

Dengan bekal pengalaman latihan militer yang lebih banyak selama di Heiho, Ginun adalah tambahan tenaga perjuangan bagi Masrin yang juga mengepalai Barisan Pelopor di Rengasdengklok. Sebelum Ginun kembali, ia sudah dibantu oleh Emong Sulasman. Ginun benar-benar menyuntikkan energi baru bagi Rengasdengklok. Tanpa ia rencanakan, ia datang pada saat yang tepat. Ginun mengajarkan pertempuran, maka latihan-latihan perang pun tiap hari digelar di kampung-kampung di Rengasdengklok. Simulasi serang-menyerang antarkampung, bagaimana membangun fasilitas pertahanan, benar-benar membuat rakyat di sana terlatih, mahir, dan siap menghadapi serangan atau bahkan menyerang musuh. Mereka menjadi pejuang-pejuang yang kuat, sekuat kayu rengas.

Kehadiran pemimpin perjuangan rakyat, keberanian, kesiapan berperang akhirnya benar-benar membuat jalannya sejarah Republik Indonesia berbelok di Rengasdengklok. Achmad Ginun yang bergabung dengan Barisan Pelopor dan prajurit-prajurit PETA, besar sekali perannya membantu para pemuda radikal di Jakarta, pada 16 Agustus 1945, membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Kedua pemimpin itu teryakinkan untuk memutus keterlibatan Jepang memerdekaan Indonesia, setelah melihat dengan mata mereka sendiri, betapa rakyat Rengasdengklok benar-benar kuat dan siap untuk mempertahankan kemerdekaan yang akan dipernyatakan. | Hasan Aspahani

Iklan

Satu pemikiran pada “Sejarah Berbelok di Rengasdengklok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s