Sukarno, Hatta, dan Hadikusumo Bertemu Tenno Haika di Tokyo

 

2
Count Kodama, Hatta dan Sukarno, 1943, sebelum bertemu PM Tojo, dan kemudian Tenno Haika.

Apa yang dikhawatirkan Sjahrir tentang akibat buruk dari artikel Hatta terbukti. Ada pembisik yang memanfaatkan artikel itu untuk menyingkirkan Hatta. Hatta pun berkali-kali dipanggil ke kantor Kempetai untuk menjelaskan soal artikel itu. Situasi memang seakan menjadi buruk bagi Hatta. Dia dikabarkan akan ditangkap dan dihukum mati oleh Kempetai.

Hatta mengakui bahwa ia memang menulis artikel tersebut.

“Saya menulis di artikel itu bahwa apa yang dilakukan Jepang mengikuti apa yang dilakukan imperialisme Barat. Apa itu? Menduduki negara-negara lain. Apakah itu salah?”

“Jepang beda dengan Barat. Kami ingin membebaskan Asia Raya. Itu yang tertulis dalam buku Nippon Seisin,” ujar petinggi Kempetai.

Memang Hatta tidak ‘dihukum’ sebagai mana isu yang santer berhembus. Ia dianggap tidak memahami Jepang. Untuk itulah maka ia harus melihat langsung untuk bisa memahami Jepang. Ia harus diberangkatkan ke Tokyo. Sesungguhnya inilah ‘hukuman’ itu.

November 1943, Hatta berangkat ke Tokyo, tapi ia tidak sendiri. Sukarno dan Ki Bagus Hadikusumo juga diberangkatkan dengan tujuan yang berbeda.

“Tuan Hatta, Tuan dikirim ke Tokyo untuk mempelajari Nippon Seisin atas kehendak Kempetai. Supaya Tuan bisa menulis buku untuk dibaca oleh Bangsa Indonesia. Ini tugas yang tidak main-main. Kalau perlu Tuan tinggal lebih lama di Jepang. Tuan harus tetap tinggal di sana sepuluh bulan untuk mempelajari buku itu. Biarlah Tuan Sukarno dan Tuan Hadikusumo pulang lebih dahulu,” ujar pejabat Kempetai (????). Tak ada yang boleh tahu alasan keberangkatan Hatta itu.

Hatta tak boleh membicarakannya bahkan dengan Sukarno sekalipun. Hatta, dengan demikian, merasa sekali lagi akan dibuang. Diasingkan! Yang diketahui Sukarno keberangkatan mereka ke Tokyo adalah untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Tenno Haika atas kemurahan hati Sang Kaisar.

Dalam situasi serba tak menentu seperti saat itu,   keberangkatan Sukarno bersama Hatta itu menggelisahkan kaum pergerakan. Ada ketakutan bahwa itulah cara Jepang membunuh pemimpin pergerakan, yaitu nanti di tengah penerbangan akan dicelakakan dan dijatuhkan dari pesawat. Konon, banyak pemimpin negeri yang diduduki Jepang yang diundang menghadap Tenno Haika dan tak pernah kembali lagi. Dengan desas-desus menakutkan seperti itulah, Sukarno, Hatta dan Ki Bagus Hadikusumo berangkat ke Tokyo.

 

***

 

Pesawat ke Tokyo terbang dengan persinggahan masing-masing satu hari menginap di Manila dan Taipei. Miyoshi dan Terada menyertai mereka. Di bandara Tokyo mereka disambut oleh Count Kodama – penasihat pertama pemerintah militer Jepang di Jawa, dan beberapa pembesar Jepang lainnya. Sukarno dan Hatta dibawa dengan satu mobil sendiri, diiringin mobil kedua yang membawa Ki Bagus Hadikusumo, Miyoshi dan Terada.

Tamu-tamu dari Jawa diinapkan di hotel amat mewah: Imperial Hotel. Sukarno dan Hatta disediakan kamar presidensial dengan dua kamar terpisah, dilengkapi satu ruang duduk bersama untuk menerima tamu. Terpisah empat kamar dari situ, berhadap-hadapan adalah kamar yang ditempati Ki Bagus Hadikusumo, Miyoshi dan Terada.

Hari kedua di Tokyo, tamu-tamu dari Jawa dibawa menghadap Perdana Menteri Tojo. Dua menit menunggu, PM Tojo menyambut mereka dengan hangat dan segera mengajak masuk ke ruang kerjanya. Miyoshi menyertai sebagai penerjemah. Sang Perdana Menteri menyampaikan ada satu agenda penting yaitu bertemu dengan Kaisar yang didahului dengan berkunjung ke istana untuk lebih dahulu menerakan tanda tangan. Tentu setelah itu banyak waktu luang. Setelah makan tengah hari di Hotel bersama Count Kodama – Hatta menyempatkan untuk meminta buku Nippon Seisin dalam bahasa Inggris – , mereka pun dibawa berkeliling Tokyo, melihat pameran krisan yang mahkota bunganya mekar amat besar – Sukarno tak pernah melihat bunga krisan sebesar itu, hingga ke daerah pinggiran Tokyo di mana mereka melihat betapa giatnya penduduk Jepang memanfaatkan tiap jengkal tanah dengan tanaman pangan. Mereka juga sempat meninjau kawasan industri Jepang dan Sukarno terpukau.

“Industri mereka memang hebat sekali. Kalau perlawatan ini dimaksud hendak memberi kesan kepada saya, mereka telah berhasil,” kata Sukarno kepada Hatta. Mereka berdua tengah rehat di ruang tamu kamar mewah mereka.

“Ini perjalanan Bung Karno yang pertama ke luar negeri,” kata Hatta sedikit menyombong, mengoda sahabatnya itu, “kalau dipandang dalam hubungan itu, memang perbedaannya besar sekali. Dan mereka mengetahuinya. Itulah sebabnya Bung diundang kemari. Akan tetapi saya sebelas tahun lamanya tinggal di Eropa, di mana saya lihat pabrik-pabrik yang lebih besar.”

Di ruang itu, hiasan bunga-bunga dan sajian buah yang berlimpah justru menggelisahkan Sukarno dan Hatta. Untuk apa semua keramahan itu? Apa yang ingin dibeli oleh Jepang dari mereka berdua?

“Untuk memberi kesan bahwa Jepang kuat dalam segi militer dan bahwa mereka pasti akan menang?” kata Hatta.

“Atau untuk membungkam kita? Ah, menurutku itu tidak mungkin. Jepang sangat tahu bahwa hasrat kita di bidang politik mewajibkan kita untuk menyatakan secara terang-terangan di muka umum apa yang kita yakini,” kata Sukarno.

Sukarno menambahkan, “ini hanya mungkin kita lihat sebagai cara Jepang untuk memastikan bahwa kita mau bekerja sama dengan mereka, karena perkembangan keadaan perang yang mereka hadapi sesungguhnya lebih buruk dari yang mereka duga.”

Jamuan makan bagi tamu kehormatan sang Tenno Haika adalah sajian dengan lima jenis lauk pauk yang disajikan satu per satu di kediaman PM Tojo. Duduk bersila di sekeliling sebuah ruang makan, masing-masing menghadap sebuah meja pendek dan tatasantap ala Jepang. Lalu dilengkapi lagi dengan makan ala barat dengan hiburan gadis-gadis penari.

Kejutan bagai tak henti menyergap tamu-tamu dari Jakarta. Setelah dipersiapkan bagaimana tata cara bertemu dengan Tenno Haika, pagi itu mereka menghadap. Tata krama yang merepotkan. Mereka harus mengenakan celana bergaris-garis dan jas hitam. Cara berjalan pun diatur, beberapa langkah, membungkuk, selangkah lagi, membungkuk lagi. Mereka harus memastikan telah menguasai tata cara itu dengan berlatih sendiri di depan kaca.

Kejutannya adalah: Tenno Haika mengulurkan tangan menyalami tamu-tamunya. Bahkan para pejabat di istana itupun terkejut. Menyalami tamu-tamunya? Ini bukan hal yang lazim dilakukan oleh Tenno Haika. Ia hanya menyalami orang-orang besar. Lalu apa artinya itu?

Kelak di Jakarta, Shimizu menafsirkan, “Itu artinya Tenno Haika menganggap Bung Karno dan Bung Hatta sebagai kawan. Bukan sebagai abdi. Itu pertanda baik. Negeri Tuan tidak lama lagi akan merdeka.”

“Tapi kapan? Mengingat Tenno Haika tidak menyebutkan suatu tanggal yang pasti sebagai hari kemerdekaan kami. Bagaimana Tuan Shimizu bisa sampai pada kesimpulan itu?”

“Jikalau Tenno Haika menganggap Tuan sebagai orang yang terjajah, tuan menjadi abdi. Tentu dia tidak akan menjabat tangan tuan. Menyentuh tuan berarti bahwa dia menerima tuan pada tingkatan politik yang tinggi. Tenno Haika menganugerahi tuan medali, bukan?”

Ya, sehari setelah bertemu Tenno Haika, di Tokyo, Sukarno, Hatta, dan Ki Bagus dianugerahi Bintang Ratna Suci. Kelas II untuk Sukarno dan Kelas III untuk Hatta dan Ki Bagus. Ini penghargaan kelas tinggi yang membuat si penerima dianggap sebagai bagian dari keluarga istana.

Ada komunikasi yang kacau antara Pemerintah Balatentara Jepang di Indonesia dan Tokyo. Hatta yang seharusnya ditahan untuk tetap tinggal di Tokyo, setelah mendapat penghargaan itu dibiarkan untuk kembali ke Indonesia. Bagi Hatta penghargaan itu membuat Kempetai tak lagi berani mengusik keamanannya.

Setelah pertemuan dengan Tenno Haika, maka harapan untuk mencapai Indonesia mereka semakin besar, semakin dekat. Tapi bagi Sukarno dan Hatta ini kelak menjadi beban yang berat saat mereka harus membuat satu keputusan besar. | Hasan Aspahani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s