Operasi dengan Kata Sandi ‘Beres’ Yang Nyaris Saja Tidak Beres

KATA sandi operasi penculikan Sukarno dan Hatta, malam itu adalah ‘BERES”. Artinya jika kontak PETA di Rengasdengklok menelepon ke kontak PETA di Jakarta, dan mendapat jawaban “BERES”, maka itu berarti perintah bagi Shodancho Soebeno di Rengasdengklok untuk melucuti tentara Jepang di daerahnya, sebagai bagian dari persiapan menyambut “tamu” dari Jakarta.

Operasi dimulai dengan bergeraknya Singgih sang komandan operasi, Soetrisno sang prajurit yang dipilih Singgih, Sampun yang menyetir mobil, disertai Sukarni dan Surachmat menuju rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur. Dalam perjalanan Singgih menghitung kebutuhan kendaraan, ia merasa kurang. Dia lalu bicara kepada Soekarni. “Bung Karni, apa saudara bisa usahakan sebuah mobil lagi?”

dengklok           Surachmat justru yang secara spontan menjawab. “Saya ada kawan yang punya mobil. Dia pasti mau meminjamkan!” Perjalanan pun dibelokkan ke sebentar ke alamat kawan yang disebutkan oleh Surachmat. Dengan mobil tambahan itu, rombongan melanjutkan perjalan ke sasaran: Rumah Sukarno. Soetrisno dan Sampun mengatami keadaan dan pengamanan seperlunya, sebelum mereka mengetuk pintu. Hari sudah pukul 03.00.

Bung Karno membuka pintu lebih karena suara langkah sepatu yang ramai di serambi depan, bukan karena ketukan. Jangan-jangan para mahasiswa lagi. Apa lagi maunya mereka? Ia belum tidur, atau sudah bangun untuk makan sahur. Ia agak terkejut karena yang subuh itu menghadap adalah seorang prajurit PETA, dengan pakaian lengkap dan pedang samurai.

Shodancho Singgih dengan sikap tegap seorang militer memberi hormat kepada Bung Karno, yang tampak menyambut si tamu dengan sikap tenang. Ia telah mengenal Singgih.

 

“Ada apa malam buta begini datang ke rumah?”

“Kami dari PETA ingin bicara dengan Bapak, tapi tidak di sini,” jawan Singgih.

“Oh, tidak di sini? Lalu mau bicara di mana?

“Yang jelas tidak di sini,” kata Singgih, kali ini dengan ketegasan yang bernada memaksa.

“Saya tidak bisa pergi, karena besok ada rapat PPKI mengenai proklamasi.”

“Kami mohon perhatian, Pak. Kalau tidak genting dan gawat waktu malam buta begini, kami tidak akan datang. Keamanan di Jakarta sudah tidak aman untuk Bung Karno dan Bung Hatta. Oleh karena itu, kami dari tentara PETA ingin bicara dengan Bapak.”

Soekarni yang juga mengenakan pakaian tentara PETA menambahkan, “Nanti pagi sebelum matahari terbit akan ada pemberontakan rakyat yang dipimpin oleh tentara PETA diikuti mahasiswa, pemuda, pelajar, dan Heiho. Tujuannya untuk melucuti Jepang. Pertempuran akan hebat dan revolusi akan berkobar.”

“Kami mohon Bapak percaya kepada PETA untuk mengamankan Bapak sebagai pimpinan kami,” kata Singgih.

Bung Karno terdiam. Kepada PETA dia percaya. Lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi Hatta harus ikut.”

“Ya, tentu saja! Sekarang berpakaian, Bung. Kami akan menjemput Hatta!”

Dari dalam kamar Fatmawati mendengar percakapan itu. Disusul sedikit suara gaduh dari ruang makan. Ia mengintip, ia melihat beberapa pemuda menyandang pistol dan samurai. Beberapa pemuda itu ia kenal. Sukarni salah satu di antaranya.

Bayi Guntur terbangun. Fatmawati lekas menggendongnya. Menenangkan bayinya, tapi sesungguhnya dia menenangkan dirinya sendiri. Ia ingin memastikan tidak akan ada yang terjadi padanya, pada anaknya, dan pada suaminya Sukarno.

Ketika Sukarno masuk ke kamar itu dengan wajah tertekan, Fatmawati belum tahu apa yang sedang dan akan terjadi.

“Fat, pemuda-pemuda itu akan membawaku ke luar kota. Fat ikut apa tinggal?”

Fatmawati menjawab tegas, “Fat sama Guntur ikut. Ke mana Mas pergi di situ aku berada juga.”

“Ya, kalau begitu, lekas siapkan apa yang perlu dan bisa dibawa.”

Fat sama sekali tak ingat untuk membawa pakaiannya sendiri. Ia hanya membungkus pakaian bayinya. Memakaikan topi pada Guntur, lalu menggendengnya dengan selendang panjang.

Shodancho Sutrisno diperintahkan untuk kembali ke Markas Daidan di Jl. Jaga Monyet 2, untuk memastikan rencana Shodanco Hamdani berjalan dengan baik demi kelancaran operasi malam itu.

Tiba di rumah Hatta. Beliau juga sedang sahur. Singgih dan Soekarni diajak makan sahur bersama. Mereka menolak untuk makan, kecuali ikut minum sekadarnya. Tentu mereka tak nyaman untuk makan, karena ketegangan yang merayapi mereka. Mereka mengulangi hal yang tadi disampaikan kepada Sukarno. Hatta setuju saja. Tak ada perdebatan. Lalu mereka bergerak kembali ke rumah Sukarno.

“Kemana kita akan pergi di malam buta begini?” tanya Hatta ketika sudah berada di rumah Sukarno.

“Itu soal nanti. Yang perlu sekarang kita mengikuti Shodancho Singgih. Sebab menurut laporan, keadaan Jakarta, sudah tidak aman lagi untuk kita. Sebentar lagi akan ada pemberontakan rakyat yang dipimpin prajurit PETA. Singgih menjamin soal keamanan karena dijaga oleh tentaranya,” kata Sukarno kepada Hatta.

“Lalu bagaimana rapat yang akan diadakan nanti dengan para anggota PPKI,” tanya Hatta.

“Kita tunda dulu sampai keadaan mengizinkan,” jawab Sukarno.

Hatta menjawab, “Baiklah, kalau memang itu keputusan Bung Karno.”

 

Sementara itu dari Markas Daidan PETA Jakarta, di Jl, Jaga Monyet 2, bergerak kendaraan ke titik pertemuan operasi yang sudah disepakati: Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Kendaraan pertama dikendarai oleh Shodanco Hamdani Arif, diikuti kendaraan kedua – dikemudikan oleh E. Iding bin Salmar sepuluh meter di belakang – yang membawa dr. Sutjipto. Mereka menempuh jalur yang tak melewati pos-pos atau asrama tentara Jepang. Sampai dititik pertemuan operasi, belum ada Shodancho Singgih di sana. Ini agak membingungkan. Seharusnya objek yang dijemput sudah ada di sana pada pukul 02.00 pagi itu. Sementara kendaraan Sutjipto menunggu, Hamdani bergerak maju, terus maju dan juga tidak menemui apa yang dicari. Ia pun memutar jalan dan kembali bergabung dan berhenti 25 meter di belakang kendaraan kedua tadi. Kedua kendaraan terparkir dengan terus menyalakan lampu depannya.

Kira-kira pukul 03.00 ada dua mobil datang. Hamdani memberi kode dengan mengedip-ngedipkan lampu. Tak ada reaksi. Kecurigaan meningkatkan kewaspadaannya, ia segera memintahkan pasukannya pada posisi siap menembak. Mobil yang datang itu mengurangi laju kemudian berhenti sepenuhnya tepat di samping mobil yang sudah menungguh. Singgih melompat. Hamdani pun lega. Yang ia lihat pertama kali justru Ibu Fatmawati, yang sedang menggendong putranya Guntur.

Hamdani segera menyerahkan tiga stel pakaian prajurit Peta kepada Singgih. Pakaian itu diberikan kepada Sukarni, Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka berganti baju prajurit supaya tak dicurigai patroli Jepang. Sukarno berangkat hanya mengenakan piyama.

Hamdani memerintahkan mobil Bedford yang ia kendarai kembali ke markas Daidan, dan dia sendiri akan ikut mengawal sampai Rengasdengklok. Tapi, tiba-tiba ia batalkan karena teringat peluru yang ia sembunyikan. Tak sempat lagi mengejar mobil yang sudah jauh bergerak, Hamdani kembali dengan menumpang becak. Maka, Singgih pun bertanggung jawab sepenuhnya dalam perjalanan bersejarah yang penuh risiko itu.

Seorang mengenali Hamdani dalam perjalanan pulangnya. Namanya dipanggil-panggil. Rupanya seorang kawan, bekas anak buahnya di Seinendan. Keduanya lalu singgah ke rumah Hamdani di Tanahabang.

“Kita sedang ada operasi. Saya tak bisa ceritakan lebih banyak, tapi saya perlu bantuanmu. Tolong amati keadaan di Prapatan, Menteng, Kali Pasir, dan Cikini. Laporkan ke sini, ya ke rumah saya ini, sementara jadi pos penghubung. Terutama markas Kempetai di Gambir,” kata Hamdani. Secepat itulah Hamdani bertindak. Ia tahu tak mungkin mengandalkan kawan-kawannya di PETA untuk pengintaian itu. Akan terlalu banyak pertanyaan.

“Buka mata, buka telinga, tutup mulut. Ingat benar apa saja yang dilihat dan didengar, dan segera laporkan kepada saya,” kata Hamdani. Si Kawan mengiyakan lalu Hamdani bergerak lagi ke markas Daidan. Yang mula-mula ia pastikan adalah apakah Soetrisno sudah menerima senjata dan peluru yang ia titipkan. Semua berjalan sesuai rencana. Dia pun pulang.

Pukul 11.00 siang, kawan yang tadi diminta untuk mengamati situasi melaporkan apa yang ia lihat. “Kelompok-kelompok pemuda di mana-mana sedang membicarakan satu hal. Kapan kemerdekaan diumumkan. Saya dengar tidak ada yang tahu kapan dan di mana,” kata si pelapor.

 

Waktu pada hari itu berjalan berat dan lambat bagi Hamdani dan Soetrisno. Pukul 20.00 malam ia menyiapkan lagi pasukan dan senjata untuk mengamankan titik-titik yang sudah ditentukan. Tapi, hingga pukul 24.00 belum ada kabar dari rombongan Singgih. Soetrisno uring-uringan ketika Hamdani meminta pasukan untuk menyusul Singgih. Ia tidak langsung mengiyakan. Ia masuk ke markas Daidan dengan kesal. Hingga pukul 01.00 Soetrisno pun tak tahan lagi. Ia berteriak kesal. “Ah, kurang kompak! Ayo, kita susul saja ke sana.”

Saat itu Hamdani sudah setengah tertidur karena lelah.

“Ham, Bedford bisa dipakai kan?” Belum sempat Hamdani menjawab, tiba-tiba ada teriakan dari jalanan. “Merdeka! Merdeka! Besok pagi kemerdekaan Indonesia akan diumumkan, Merdeka!”

Hamdani dan Soetrisno berpandangan. Mereka membatalkan niat menyusul Singgih ke Rengasdengklok tapi operasi belum selesai.

“Tris, buatlah penjagaan di sepanjang rel kereta api, di belakang gedung sana. Saya dengan pemuda yang membawa titipan tadi akan pergi mengambil senjata yang disembunyikan,” kata Hamdani.

“Ya. Kau sajalah yang pergi. Tembak siapa saja yang menghalangi,” jawab Soetrisno. Ketidakpastikan kabar Sukarno dan Hatta membuatnya gampang marah. | Hasan Aspahani

 

Apa yang sebenarnya terjadi di sepanjang perjalanan menuju Rengasdengklok? Kenapa sampai mereka kembali lagi ke Jakarta komunikasi antar prajurit PETA seakan putus? Perjalanan dilanjutkan dengan satu kendaraan power wagon Bedford saja, dimulai setelah Sukarni, Hatta, dan Sukarno bertukar baju mengenakan seragam prajurit PETA. Sukarni dipersenjatai sebuah pistol.

“Singgih, kau belum mau juga memberi tahu kemana akan membawa kami?” Tanya Sukarno.

“Saya harus merahasiakannya Bung, sampai kita sampai di sana. Percayalah itu adalah tempat yang paling aman dalam situasi sekarang ini,” jawab Singgih tenang.

Bedford disopiri Iding bin Salimar, di sebelahnya duduk Fatmawati yang memangku Guntur. Di belakang, berderet di jok sebelah kiri, Bung Karno dan Bung Hatta dikawal seorang penembak jitu. Sedangkan di deretan kanan duduk Singgih, dr. Sutjipto, dan Soekarni.

Di pos penjagaan PETA Tanjungpura Kedung Gedeh, kendaraan ditahan. Singgih turun kendaraan dan menemui Bundancho Sodik yang menjaga pos itu. Singgih dan Sodik sudah saling kenal. Dia segera mengerti operasi apa yang sedang dikawal oleh Singgih. Dari pos itu pula Singgih menghubungi markas Chudan Rengasdengklok, berbicara dengan Chudancho Soebeno. Adalah kehendak sejarah juga yang membuat bahwa pada saat itu Chudancho Soebeno dan Shodancho Umar Bahsan pagi itu sedang bertugas ke Purwakarta. Telepon diterima oleh Shodancho Affan. Ia mengijinkan rombogan Singgih untuk memsuki wilayah Chudannya. Itu juga berarti ia harus menurunkan bendera Jepang, serta melucuti dan menangkap prajurit Jepang di wilayah mereka.

Maka, inilah upacara dengan penghormatan militer pertama dalam suasana Indonesia merdeka. Sukarno dan Hatta disambut upacara di sebuah markas dengan kibaran bendera merah putih. Singkat tapi khidmat. Mereka lalu diterima di markas kompi. Tak ada kursi. Tak ada meja. Mereka duduk di lantai beralasa tikar. Ini adalah asrama prajurit PETA.

Ketika Guntur menangis kehausan, Singgih memerintahkan anak buahnya untuk mencari susu.

“Bung, kita sekarang berada di Chudan PETA Rengasdengklok, dibawah Daidan Purwakarta. Inilah tujuan kita. Mohon maaf karena komandan di sini, yaitu Chudanco Soebeno dan Shodancho Umar Bahsan sedang menghadap Daidancho Purwakarta. Tapi, percayalah kami membawa Bung berdua karena mereka dan semua prajurit di sini adalah adalah prajurit nasionalis. Camat Hadipranoto, camat di sini juga orang nasionalis. Kita di daerah yang paling aman.”

Affan berjaga di pintu ruang pertemuan di markas kompi itu. Seorang prajurit datang bersama Camat Hadipranoto yang namanya baru saja disebut Shudancho Singgih. Ia tampak gugup, tapi juga gembira karena bertemu dengan dua tokoh pemimpin perjuangan yang ia kagumi.

“Aduh, aduh. Ini kenapa Tuan-Tuan pemimpin kita di bawa ke sini?”

“Kita ini di sini ditawan karena pemuda mau mengadakan revolusi dan menggempur serta menangkapi Jepang yang ada di Jawa ini. Pemuda sudah mulai berani sebab Jepang sudah menyerah kepada sekutu,” jawan Sukarno.

Camat Hadipranoto kebingungan. “Apa mungkin?”

Sukarno dan Hatta memandangi bergantian Sukarno dan Shodancho Singgih. Keduanya berdiam saja. Berhadap dengan diam itu redalah kekesalan Sukarno dan Hatta.

“Jadi, apa yang ingin dibicarakan dengan kami,” tanya Sukarno.

“Apakah Bung Karno dan Bung Hatta bersedia untuk segera memproklamasikan kemerdekaan kita? Tanpa campur tangan Jepang?” kata Singgih. Sukarno tampak tegang. Ia mungkin marah pada Singgih, seorang prajurit militer yang kini di hadapannya, dengan pertanyaan itu sudah terlibat dalam kegiatan politik. Ia mengalihkan padangan pada Sukarni yang sejak semula tetap diam berdiri.

Di luar ruangan justru semakin ramai prajurit dan rakyat Rengasdengklok. Sesekali ada yang bereriak, “Hidup Bung Karno! Hidup Bung Hatta! Modar Jepang! Indonesia merdeka!”      Singgih dan Soekarni sekali lagi menegaskan pendirian mereka. Mereka terus meyakinkan Sukarno dan Hatta bahwa Jepang sudah menyerah kepada Sekutu, dan tak mungkin lagi Jepang memenuhi janjinya untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.       “Ada dua pilihan, Bung. Pertama, mengumumkan kemerdekaan untuk memenuhi kehendak rakyat, dengan risiko mendapat kesulitan dari pihak Jepang. Atau sebaliknya mengikuti kehendak Jepang, meneruskan persiapan kemerdekaan yang dijanjikan Jepang, dengan akibat mengecewakan rakyat,” kata Singgih, sudah mendapatkan lagi kepercayaan dirinya.

Bung Karno akhirnya mengangguk setuju. “Ya…” Saat itu Hatta sedang pergi ke belakang.

Singgih dan Sukarno menarik nafas lega. Tugas mereka selesai. Ia melihat jam, pukul 09.00 waktu itu. Ia tahu yang harus ia lakukan selanjutnya adalah mempersiapkan apa-apa yang diperlukan untuk pernyataan proklamasi itu.

Tamu-tamu penting dari Jakarta itu kemudian dipindahkan untuk beristirahat di sebuah rumah tak jauh dari markas kompi PETA itu. Kita-kira 300 meter ada rumah seorang Tionghoa. Beberapa prajurit menjaga mereka. Di halamannya berkeliaran babi peliharaan. Camat Hadipranoto tak diperkenankan menemani, ia diminta tetap di asrama prajurit tadi.

Pukul 12.30, Hatta minta pengawal untuk memanggil Soekarni.

“Ada apa, Bung?”

“Apakah revolusimu sudah dimulai? Apakah Jakarta sudah diserbu oleh rakyat, mahasiswa dan prajurit PETA?” kali ini sepertinya Hatta yang masih ingin melepaskan kekesalan hatinya.

“Belum dapat kabar, Bung!”

“Teleponlah ke Jakarta.”

“Baiklah,” kata Soekarni. Setengah jam kemudian ia kembali menemui Hatta.

“Bagaimana, Bung Karni?”

“Saya tak bisa menghubungi Jakarta.”

“Saya kira memang tidak terjadi apa-apa. Revolusi kalian sudah gagal. Buat apa kami beristirahat di sini kalau di Jakarta tidak terjadi apa-apa?”

Tanpa menjawab, atau membantah, Soekarni meninggalkan Hatta.

Pukul 15.00, Soekarni membawa Residen Soetardjo, setelah memberitahu Hatta dan Sukarno. Ia datang sebagai orang yang ditangkap oleh PETA, dan ditahan di markas itu.

“Eh, Bung Karno dan Bung Hatta juga di sini? Ditawan juga? Oh, rupanya karena Jepang menyerah pemuda kita makin berani.”

“Baik itu. Merekalah nanti yang akan menggantikan kita memimpin rakyat, kan? Bung Tardjo, tahukah Bung bahwa kita ini ditahan oleh PETA, yang daidanchonya anak saudara kita sendiri?” kata Hatta.

Soetardjo sedikit tertawa. “Ya, aku tahu, tapi gembira. Anak-anak kita sudah berani.” Soetardjo ditangkap ketika berkeliling memeriksa tanaman padi dan cadangan beras di rumah-rumah petani. Pemuda yang curiga menangkapnya dan membawanya ke markas PETA.

 

Sementar itu Shodancho Singgih, kembali ke Jakarta dengan kendaraan umum, karena Bedford sedang dipakai dr. Soetjipto ke Desa Cimalaya dan belum kembali. Singgih tiba di Jakarta pukul 13.00. Singgih mula-mula mencari Chaerul Saleh di asrama Menteng 31 untuk menyampaikan apa yang sudah terjadi di Rengasdengklok dan kesiapan Sukarno untuk membacakan proklamasi seperti yang mereka inginkan. Sayangnya, orang yang hendak ia temui tak berada di tempat. Ia pergi setelah menitip pesan. Pesannya adalah segera jemput Sukarno dan Hatta di Rengasdengklok, operasi meyakinkan Sukarno dan Hatta sudah selesai. Dan berhasil.

Singgih kemudian melapor ke Chudancho Latief Hendradiningrat. Oleh Latief, Singgih diperintah untuk menjemput Daidancho Kasman Singodimedjo yang tertahan di Bandung. Ada pesan tersirat dalam perintah itu. “Pergilah bersama Shudancho Sambas,” kata Latief.

Kepada Sambas Atmadinata, Singgih mula-mula menyampaikan keengganannya untuk berangkat ke Bandung. Sambas meyakinkan bahwa sebaiknya ia ke Bandung atau kemana saja asal keluar dari Jakarta. “Kau sudah dicurigai Kempetai. Dua hari ini mereka mencari-cari kamu. Dua kali sudah mereka datang ke markas kita,” kata Sambas. Maka Singgih dan Sambas pun segera berangkat dengan menyaru diri sebagai orang biasa, naik kereta api barang dari Stasiun Gambir. Sebagai buronan Kempetai.

Soalnya adalah, Soetrisno dan Hamdani seperti putus kontak dengan Singgih. Mereka tak sempat bertemu di Markas, dan pesan kepada Chaerul Saleh juga tak lekas sampai. Operasi dengan kata sandi ‘Beres’ yang rapi di perencanaan awalnya itu nyaris saja berakhir dengan tidak beres karena koordinasi yang kacau pada akhirnya. | Hasan Aspahani

Catatan:
Ilustrasi dari buku “PETA dan Peristiwa Rengasdengklok” oleh Oemar Bachsan, N.V. Melati Bandung, 1955.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s