Setelan yang Pantas untuk Penasihat Militer

 

Nippon dan Moh. Hatta
Pihak Nippon mengoemoemkan: Mohamad Hatta, pemimpin ternama di Indonesia jang bertoeroet-toeroet diasingkan oleh Pemerintah Belanda ke Nieuw Guinea, Banda Neira dan Ambon, telah dipindahkan ke Soekaboemi pada boelan Februari tahoen ini.
              Oentoenglah sekarang dengan pertolongan Balatentara Nippon beliau itoe telah dimerdekakan dari koengkoengan jg. sembilan tahoen lamanja itoe. Oleh karena masih sedikit lelah pada waktoe ini ia beristirahat di Hotel des Indes.
              Mohamad Hatta jang haroem namanja bagi rakjat Indonesia itoe, akan mendapat kesempatan lagi oentoek mengembangkan kesetiaannja terhadap Noesa dan Bangsa. Seperti oemoem telah mengetahoei, ialah “harapan Indonesia Moeda.
Berita Oemoem, 24 Maret 1942

 

 

DENGAN setelan pakaian yang tampan dan pantas hadiah dari Mak Etek Djohor yang dijahit di penjahit langganannya Nam Mie di Passer Baroe, hari itu Hatta bertemu dengan para petinggi Jepang di rumah Gunseikan atau Kepala Pemerintahan Militer Jepang Mayor Jenderal Hoichi Yamamoto.

Ia dijemput Miyoshi.

Hatta yang seorang diri dihadapi oleh opsir-opsir tinggi dan Sumobuco, para pembantu Gunseikan, lengkap. Kursi-kursi telah diatur amat formal, siapa yang akan duduk di mana pun telah ditentukan. Hatta duduk tepat di depan Gunseikan. Mula-mula ia ditanya soal masa-masa ia jadi orang buangan Belanda di Digoel dan Banda Naira. Ini pertanyaan diplomatis. Semacam strategi untuk mengingatkan Hatta betapa dulu telah menzaliminya sebagai pemimpin pergerakan terkemuka. Lalu akan dikontraskan dengan perlakuan yang akan ditawarkan Jepang. Semacam trik untuk memikat hati agar Hatta mau berada di pihak mereka. Hatta menjawab dengan seringkas-ringkasnya. Lalu seperti yang telah ia perkirakan, tak menunggu lama, Gunseikan bertanya soal tawaran untuk bekerja sama.

Pertanyaan itu diajukan dengan tegas dan berhati-hati, “Apakah Tuan Hatta bersedia bekerja sama dengan Pemerintah Militer Jepang?”

Hatta menanggapi dengan balik bertanya, “Apakah Jepang akan menjajah Indonesia?” Serasa ada selintas keheningan di ruangan dengan pertanyaan tegas itu.

Hatta Skets2           “Sama sekali tidak. Jepang datang kemari akan menolong Indonesia, memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Buktinya adalah kami sudah mengusir Belanda dari negeri Tuan.”

Hatta menyimak. Menimbang-nimbang apa arti jawaban itu. Semudah itukah? Ia tak memberikan tanggapan. Tapi diamnya tampaknya dibaca sebagai keraguan oleh lawan bicaranya. “Anggaplah perkataanku ini sebagai keterangan seorang serdadu,” kata Gunseikan menambahkan.

Hatta lalu mengucapkan terima kasih atas keterangan itu. Baginya ini adalah janji Jepang kepada rakyat Indonesia lewat dirinya. Ia sudah punya cukup bahan untuk menentukan sikap dalam pembicaraan selanjutnya.

“Jika begitu janji Jepang, seperti yang Tuan katakan, saya bersedia bekerja sama dengan Pemerintah Militer Jepang,” kata Hatta, ada hela nafas kelegaan pada lawan-lawan bicaranya, tak sangat jelas mereka menahan ekspresi kegembiraan, karena itu Hatta lalu lekas dan tegas tambahkan, “tetapi tidak sebagai pegawai pemerintah. Saya lebih baik menjadi penasihat saja. Dengan posisi itu saya bisa dengan bebas memberi masukan kepada Pemerintah.”

“Lalu dengan posisi itu kepada siapa Tuan bertanggung jawab?” tanya Gunseikan.

“Tentu saja saya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri, kepada lembaga penasihat yang akan saya pimpin. Dalam hal ini saya tidak diperintah oleh salah seorang dari pihak Tuan. Tentu saja kami bekerja sepenuhnya, sebaik-baiknya atas permintaan pihak Tuan,” kata Hatta.

Gunseikan setuju. Sejak awal tampaknya dia memang tak ingin membuat jalannya pembicaraan yang secara begantian diterjemahkan oleh Miyoshi dan Taniguci menjadi rumit dan berjela-jela. Itu pun sudah memakan waktu satu setengah jam. Mungkin karena bagi Jepang, ini adalah kontak resmi pertama pihak mereka dengan tokoh pemimpin Indonesia di Jakarta. Kepada Tuan Miyoshi ia langsung memerintahkan untuk mencari kantor untuk Hatta. Dijelaskan juga bahwa Hatta boleh mengangkat pegawainya sendiri untuk membantunya. Kantor Hatta itu bernama Kantor Cabang I Gunseikanbu.

Kembali ke Hotel Des Indes, Hatta lega. Terjawab sudah dengan jelas apa maunya Jepang, sejak dua hari lalu ia ditemui oleh utusan Jepang yaitu Kolonel Ogura di Sukabumi dan dengan setengah dipaksa diminta untuk ke Jakarta. Sebelumnya pun seorang Kempetai menemuinya bersama Sulaiman Effendi, ayah Rustam Effendi. Hatta sedikit merasakan kejutan, juga gentar, ketika si petinggi Kempetai itu mempertunjukkan pengetahuannya tentang diri Hatta. Banyak sekali yang ia ketahui.

“Sudah bertahun-tahun Tuan-Tuan berjuang dan berkorban untuk tanah air Tuan-Tuan. Sekarang Belanda sudah kami taklukkan,” ujarnya.

Ia lalu meminta Hatta untuk datang ke Bandung, ke markas tentara Jepang di sana, baru setelah itu ke Jakarta. Ia bicara soal pembagian pekerjaan. Hatta tentu saja belum begitu mengerti apa yang dimaksud.   Maka, ketika didesak untuk berangkat sore itu juga, Hatta masih bisa menolak dan meminta waktu seminggu. Hatta masih menimbang langkah. Apalagi Jepang, di Sukabumi, mulai menebarkan ancaman. Seorang kontolir Belanda ditembak dan mayatnya dipertontonkan di tepi jalan besar! Teror! Di dada mayat kontolir itu diberi kertas bertulisan: Inilah jadinya orang yang menentang perintah Jepang!

Ke Jakarta? Atau ke Bandung? Jepang mengatur pembagian kekuasaan pasukannya dengan menjadikan Bandung adalah pusat yang memerintah Jakarta. Tapi di Jakartalah kedudukan Pemerintah Militer, dan karena urusan Hatta nanti adalah dengan pemerintah Militer itu maka sebaiknya dia ke Jakarta saja, kata Tuan Ogura. Hatta minta Ogura yang menelepon Jakarta untuk memastikan itu.

Perjalanan Hatta ke Jakarta dari Sukabumi ia nikmati seperti plesir. Mula-mula ia singgah dan diinapkan di Hotel Salak di Bogor. Ia menikmati kopi susu di sana. Minta Koran pagi Java Bode, sarapan telur mata sapi dan yoghurt. Ia minta semua diantarkan ke kamar saja. Lalu di Jakara ia diberi kamar di Hotel Des Indes, berapa pun lamanya ia bisa menginap di sana, selama menunggu kepastikan jadwal bertemu Gunseikan.   Kabar penjemputan, kedatangan Hatta, dan pertemuannya dengan Gunseikanbu pun menjadi berita hangat di koran-koran Jakarta. Dari situlah keluarganya di Jakarta tahu dan menemuinya di hotel.

Hatta benar-benar melepas rindunya pada Jakarta. Baginya disediakan sebuah mobil dan supir. Ia menemui kakak perempuannya, bertemu paman-pamannya Etek Djohan, etek Djohor, dan bibinya Ma’ Etek Ayub Rais, memeluk keponakan-keponakannya, membeli prangko, dan mengukur pakaian karena menurut pamannya Etek Djohor, “Nak Gadang tak pantas berunding dengan pembesar-pembesar itu dengan mengenakan pakaian yang Nak Gadang pakai sekarang ini.”

 ***

 Apa nasihat pertama yang diminta oleh Pemerintah Militer Jepang dari Hatta? Soal seikere! Soal perintah untuk menundukkan badan seperti rukuk pada sembahyang ke arah Tokyo sebagai laku penghormatan kepada Tenno Haika.

“Ada orang Islam yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan tidak boleh. Mana yang sebenarnya benar?” tanya Miyoshi.

Jawab Hatta, “Orang Islam boleh membungkuk sebagai tanda penghormatan kepada seseorang yang ada di hadapannya. Tetapi seikere terhadap Tenno Haika yang jauh di Tokyo sana tidak dibolehkan. Itu berarti dalam Islam melebihkan Tenno Haika daripada Allah.”

Seperti yang diminta Miyoshi, Hatta kemudian menuliskan uraiannya itu dalam sebuah risalah. Soal itulah yang di sepanjang masa-masa kekuasaan Jepang di Indonesia menjadi sumber pemicu pemberontakan! Padahal sejak awal Hatta sudah memberi peringatan dengan jawaban yang tegas. | Hasan Aspahani

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s