Hudjan yang sudah Menyihir Jauh Sebelum Hujan Bulan Juni

             Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan — swaranya bisa dibeda-bedakan; kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela. Meskipun sudah kaumatikan lampu.

Sapardi Djoko Damono telah dengan unik dan mesra menyatukan dirinya dan sajak-sajaknya dengan hujan. Ia telah disihir oleh hujan. Ia telah menjadikan hujan menjadi semacam mantra yang membuat sajaknya mengandung daya sihir.

Penyair kita ini begitu terobsesi dengan hujan.

Di tangan penyair Sapardi hujan menjadi miliknya. Hujan menjadi identik dengan dirinya. Wahai penyair sedunia, mengutuklah! Maki-makilah dia! Tentu saja ini bukan hak istimewa Sapardi. Siapa saja boleh menyajakkan hujan dengan cara mereka sendiri. Dan itulah yang dilakukan oleh Sapardi. Ia telah mengolah, memperlakukan, menggarap hujan dengan caranya sendiri yang khas, yang kemudian jika kita menyukai sajak-sajaknya, itu artinya kita setuju dengan cara dia memaknai hujan itu.

            Hujan adalah selaksa rahasia yang diturunkan dari langit ke bumi; kau pun selalu mendengarnya berulang dan berulang kali tanpa mengerti. Hujan adalah wahyu-wahyu yang diturunkan tanpa lewat para nabi; bunga-bunga dalam kebun saling berbisik dengan suara santun. Kaupun pernah mendengarnya tanpa mengerti sama sekali tentang apa; dan hanya pada suatu hari nanti kapan dalam hujan deras kau terpaksa pergi saling berbisik dengan dirimu sendiri, akan kau temukan kembali sesuatu yang hampir tak bisa kaukenal lagi sebab sudah begitu sering kau mendengarnya.  

            Arsip naskah puisi tak bertanggal itu tersimpan di kotak-kotak arsip, terselip dalam map-map berlabel Sapardi Djoko Damono di PDS H.B. Jassin. Hujan yang huruf ‘j’-ya masih diketik dengan “dj”. Tanpa tahun. Mungkin ia terpisah dari naskah-naskah lain. Mungkin ada pengantar untuk sajak ini yang mencantumkan tahun. Ketika membaca lagi sajak itu Sapardi pun hanya menebak. “Kalau dilihat dari gaya bahasanya, mungkin itu sajak saya tahun 1960-an,” kata Sapardi.

            Hujan, kata Sapardi dalam sajaknya itu, sajak awalnya tentang hujan yang jauh ditulis sebelum Hujan Bulan Juni (1998) itu, adalah wahyu-wahyu yang diturunkan tanpa lewat para nabi. Ah, rasakanlah betapa sakral hujan itu dibuatnya! Jika wahyu diturunkan Tuhan lewat malaikat kepada nabi-nabi sebagai petunjuk untuk kebaikan manusia, maka dalam pemaknaan Sapardi, hujan juga seperti itu, turun sebagai sesuatu yang membawa kebaikan untuk manusia, wahyu tanpa lewat nabi, katanya. Aih…Perumpamaan yang tak mudah untuk diabaikan.

Betapa cermatnya Sapardi membayangkan bunga-bunga yang saling berbisik, dan kau – yaitu seseorang kepada siapa Sapardi bicara dalam sajaknya itu – pernah mendengar tanpa mengerti sama sekali apa yang dipercakapkan bunga itu. Hujan yang sangat kita kenal itu, yang terlalu sering kita jumpai itu, menjadi nyaris tak kita kenal sebab terlalu sering kita mendengarnya. Ah, berapa banyak hal dalam hidup kita yang kita perlakukan seperti kita memperlakukan hujan? Apa yang terlalu sering kita jumpai sehingga kita meremehkannya dan kita jadi tidak lagi mengenal dia?

 

Kuterka gerimis mulai gugur. Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu. Gerimis jatuh kau dengar suara di pintu. Seperti engkau berbicara di ujung jalan (waktu dingin, sepi grimis tiba-tiba, seperti engkau memanggil-manggil di kelokan itu untuk kembali berduka).

            Warnamu murung sewaktu gerimis menyulut pipiku terbakar: pulang pemburu.

            Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

            Kemudian daun bertahan pada tangkainya ketika hujan tiba. Hujan turun sepanjang jalan, hujan rinyai waktu musim berdesik-desik pelan kembali bernama sunyi. Hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar dan mekarlah bunga itu perlahan-lahan.

            Hutan kelabu dalam hujan lalu kembali kusebut kau pun kekasihku. Hujan senandung dalam hutan lalu kelabu, mengabut nyanyian… (Malam berkabut seketika) Barangkali menjemputku, barangkali berkabar penghujan itu.

            Undurlah perlahan (pastilah sudah gugur hujan di hulu sungai itu). Dan serbuk-serbuk hujan tiba dari arah mana saja.

            Apakah yang kita harapkan dari hujan? Apakah yang kautangkap dari swara hujan, Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit? Mula-mula ia di udara tinggi, lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ke bumi.

            Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkamu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah terbatuk dan nampak putih. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi. Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.

            Hujan juga jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan kecil. Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan…. Dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya: terpisah dari hujan.

            Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. “Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah….”

            Kusebut kenanganmu nyanyian (dan bukan matahari yang menerbitkan debu jalanan, yang menajamkan warna-warni bunga yang dirangkaikan) yang menghapus jejak-jeka kaki, yang senantiasa berulang dalam hujan.

            Kau pun di beranda, mendengar dan tak mendengar kepada hujan, sendiri. Dan kau sebut hidupmu sore hari (dan bukan siang yang bernafas dengan sengit, yang tiba-tiba mengeras di bawah matahari) yang basah, yang meleleh dalam senandung hujan, yang larut.

            Aku terjaga di kursi ketika cahaya bulan jatuh di wajahku dari genting kaca, adakah hujan sudah reda sejak lama? Ada yang terpekik di balik semak dan gemanya menyentuh sekuntum bunga lalu tersangkut pada angin dan terbawa sampai ke laut tetapi ia tidak mendengarnya dan ia membayangkan rahang-rahang langit kalau hari hampir hujan.

            Ia memperhatikan ekor srigunting yang senantiasa bergerak dan mereka yang berjanji mengajaknya ke seberang sungai belum juga tiba lalu ia menyaksikan butir-butir hujan mulai jatuh ke air. “Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!”

            Kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan.

            Kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, “jangan berisik, menganggu hujan!” Hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam, hardiknya, “lepaskan daun itu!”

            Tajam hujanmu, ini sudah terlanjur mencintaimu: payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku; air yang menetes di pinggir-pinggir payung itu.

            Sembilu hujanmu.

            Hujan pun sudah selesai sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habis-habisnya bercakap.

            Sehabis hujan seekor rama-rama keluar dari tanah melihat cahaya terang di dalam sebuah rumah lalu terbang ke arahnya. Jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis – aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air dalam kertak bulu burung dalam goyang anggrek…

            Selamat tidur.

            Amin.

 

Dan, hujan juga yang membawa Sapardi mendunia. Setidaknya jejak kepenyairannya untuk melampaui batas wilayah Indonesia telah ia mulai ketika buku kumpulan puisinya “Sihir Hujan” menang di perhelatan Anugerah Puisi Putra II yang diadakan oleh Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena) Malaysia, November 1983.  Buku itu kemudian diterbitkan kembali di Malaysia pada tahun 1984.

“Wah, jadi jutawan baru ya?” wartawan surat kabar Sinar Harapan, menuliskan kalimat pancingan dan godaan itu dalam berita yang ia tulis untuk rubuk Siapa dalam Berita terbit pada Sabtu, 18 Februari 1984.

Biasalah, yang juga dihebohkan koran-koran pada waktu itu adalah besar hadiahnya. Waktu itu Sapardi berhak atas hadiah sebesar RM15.000 setara dengan sekitar Rp6 juta. Ini bukan jumlah yang sedikit. Hadiah Buku Utama, di Indonesia, pada tahun itu hanya senilai Rp1 juta.

“Saya mengirim satu naskah buku berisi 50 sajak, terbagi dalam kategori, sebagian sudah diterbitkan dan setengahnya lagi belum. Itu sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan. Tentang kreriteria pemenang tentu tim juri yang lebih tahu,” kata Sapardi tentang bukunya yang menang itu, kepada Minggu Merdeka, Minggu, 4 Desember 1983. Ketika mengirim, Sapardi tak berpikir mutlak untuk memenangkan penghargaan itu, karena pada waktu itu, “pengetahuan saya tentang kesusasteraan Malaysia terbatas sekali,” katanya.

Dua pemenang lain yang masing-masing mendapat hadiah RM4.000 (kira-kira setara Rp1,6 juta), yaitu B.Y. Tand lewat buku kumpulan puisi “Sketsa”, penyair Indonesia kelahiran Asahan, Sumatera Utara, dan Zurinah Hassan lewat “Keberangkatan”. Pemenang lain yang berhak atas hadiah RM1.000 adalah dua penyair Malaysia Muchtar Awang dan Lim Swee Tin. Pada tahun itu sayembara ini diikuti oleh 83 buku dari 83 penyair dari Malaysia, Singapura, bahkan Amerika Serikat, dan 49 di antaranya adalah penyair-penyair Indonesia.

Dan penyair kita ini menjadi jutawan baru? Bagi Sapardi, uang itu tentu besar! Tapi yang jauh lebih besar artinya buatnya tentu saja pengakuan atas kekuatan sajak-sajaknya. “Uang sebesar itu cukup untuk membeli satu mobil kecil. Tapi, uangnya waktu itu habis saya bagi-bagi dan membeli seperangkat sound system,” kata Sapardi.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan dan selokan — menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan. | Hasan Aspahani

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s