Dan Menyerahlah Belanda: Makanan Tjoekoep Ada

KOTA BATAVIA SOEDAH DILEPASKAN!
 Pendoedoek Moesti Tinggal Tenteram
Barang Makanan Tjoekoep

              Timbangan militair telah berakibat bahoea kota Betawi aken diserahken tentara Djepang jang aken mendoedoeki kota tiap-tiap sa’at soedah boleh masoek ke Betawi ini.
              Terimalah dengan sabar dan tenang hati kedjadian itoe; dengan sikep begitoe paling baek toean2 sekalian memperhatiken keperloean kita semoea. Djangan toean keloear kedjalanan kaloe tida perloe sekali sekali dan djangan sekali-kali toean melawan atawa bikin demonstratie terhadep kepada jang memasoeki kota. Melawan moesoeh hanja kewadjiban tentara.
              Toeloenglah bersama-sama aken mendjaga tertib dan aman oemoem, dan pertjajalah bahoea pembesar kota selaloe aken berichtiar oentoek memeliharaken keperloean pendoedoek kota. Makanan tjoekoep ada. Moga-Moga toeroen lah berkat Ilahi kepada kita sekalian!
 

Residen dan Burgemeester Betawi.
Lembaran Extra Berita Oemoem, Kemis 5 Maart 1942.

KUNJUNGAN Mr. Amir Sjarifuddin kepada Hatta dan Sjahrir di Sukabumi untuk yang kesekian kalinya membawa kabar penting, yaitu soal pendaratan pasukan tentara Jepang. 28 Maret 1942.

“Mereka sudah mendarat di Banten, Bung. Mereka mulai bergerak ke Jakarta. Orang-orang di Pemerintahan Hindia Belanda pun sudah mengungsi ke Bandung,” ujar Mr. Amir Sjarifoeddin.

Berita utama tentang penaklukan Batavia di koran The New York Times.
Berita utama tentang penaklukan Batavia di koran The New York Times.

“Ya, kami sudah juga membaca kabar itu di surat kabar,” kata Hatta. “Lalu, menurut Bung, apa yang sebaiknya harus kita lakukan?”

“Begini. Pada hemat saya, ada baiknya Bung berdua membuat dan mengumumkan suatu maklumat, yang isinya mengimbau agar rakyat bersikap tenang saja.”

“Seperti yang dulu Bung Amir usulkan?”

“Ya, waktu itu untuk kepentingan Belanda.”

“Saya setuju soal maklumat itu. Tapi isinya saya kira harus lebih daripada sekadar imbauan agar rakyat tenang.”

“Apa tambahannya itu, Bung?”

Hatta telah berpikir lebih jauh. “Isinya hendaknya menganjurkan kepada rakyat untuk mendirikan suatu komite nasional dengan pimpinan yang tegas pada setiap tempat. Pimpinan itulah yang harus menemui tentara Jepang yang menduduki tempatnya dengan memberitahukan bahwa tujuan pergerakan nasional ialah mencapai Indonesia merdeka.”

“Apa yang harus dilakukan kepada tentara Jepang itu?”

“Rakyat hendaknya jangan menghalangi gerakan tentara Jepang, tetapi perang Asia Timur Raya adalah perang antara balatentara Jepang dan angkatan Perang Belanda.”

Sjahrir setuju soal mendirikan komite nasional itu, dan sepakat dengan isi maklumat yang menganjurkan pendirian itu. Mr. Amir Sjarifoeddin juga langsung menyetujuinya. Hatta dan Sjahrir berjanji akan menyusun maklumat itu untuk diambil usai tengah hari keesokan harinya.

“Kita akan perbanyak maklumat itu kira-kira 10 ribu lembar untuk dikirim ke berbagai daerah,” ujarnya, sambil berpamitan dan meninggalkan beberapa ribu gulden, bantuan untuk tambahan uang belanja bagi Hatta dan Sjahrir.

Amir Sjarifoeddin tak kembali ke Jakarta.

Tentara Jepang memasuki Batavia, 1942.
Tentara Jepang memasuki Batavia, 1942.

Ada sebuah buku diterbitkan oleh Dienst Oost- Aziatsche Zaken, dinas urusan Asia Timur, Hindia Belanda. Buku ini terbit dalam tiga bahasa: Bahasa Belanda, Bahasa Indonesia, dan Bahawa Tionghoa. Kecuali versi Bahasa Indonesia yang dijual dengan harga 1 gulden, dua versi lain dibandrol setengah gulden lebih mahal.

Apa isinya? Propaganda anti-Jepang. Tapi bagi sebagian pembaca dari kalangan nasionalis itu seperti promosi untuk mendukung Jepang. Ini bisa ditilik dari judulnya: 10 Jaren Japansch Gewroet. Ketika diiklankan di surat kabar Berita Oemoem pada tanggal 14 Februari 1942 versi Bahasa Indonesia buku itu disebutkan berjudul: Sepoeloeh Tahoen Pekerdjaan Rahasia Jepang. Dengan sedikit deskripsi: Seboeah boekoe jang menerangkan pekerdjaan rahasia bangsa Djepang dalam 10 tahoen achir ini di Hindia. Pekerdjaan persiapan akan menjerang Hindia Belanda.

Siapa yang membaca buku itu akan menyimpulkan bahwa Belanda sudah sangat tahu bahwa Jepang dari jauh hari sudah menyiapkan langkah menduduki Indonesia jauh-jauh hari dengan menyebar intel dan penetrasi ekonomi. Ini justru menimbulkan simpati dan kekaguman pada Jepang.

Dengan kerja sistematis Jepang mempengaruhi pers, radio, agar pro-Jepang. Radio Tokyo dan Radio Jepang di Formosa, Taiwan, menyiarkan berita-berita propaganda juga dalam bahasa Indonesia agar ditangkap pendengar di Hindia Belanda. Isinya adalah hasutan halus dan kadang terbuka untuk menentang penguasa Hindia Belanda.

Konsulat-konsulat Jepang di Batavia, pada masa damai diam-diam aktif dalam kegiatan spionase. Misi-misi dagang telah dikirim Jepang ke Hindia Belanda sebelum mengirim pasukan perang. Di akhir 1940 dan awal 1941, dua misi yang sama dibawah dua tokoh yang berbeda tetapi ada satu nama penting yang menjadi anggota misi dagang tersebut: Kolonel Laut atau Laksamana Mayeda. Dia adalah bekas atase angkatan laut Jepang di Den Haag dan teman jenderal Jerman Wenninger, orang yang merancang serangan Nazi Jerman ke Belanda. Wenninger juga yang berada di Tokyo beberapa lama membantu Jepang menyusun rencana perang di Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda dan Laksamana Mayeda terlibat banyak menyusun rencana serangan itu.

Apa yang disiarkan NIROM berbeda dengan apa yang terjadi di Laut Jawa. Penyiar bilang pertempuran tidak mengecewakan! Nyatanya seluruh kapal perang Belanda ditenggelamkan oleh Jepang. Beberapa yang kehabisan amunisi kabur ke Australia lewat Cilacap.

Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborch Stachouwer sempat-sempatnya merekam pernyataan yang menghibur Laksamana Helfrich, sang panglima Angkata Laut Hindia Belanda merangkap Panglima Angkatan Laut Sekutu untuk Asia Tenggara. Laksamana Helfrich itulah yang mengerahkan kapal-kapal perang Hindia Belanda membantu Inggris melawan Jepang di Indochina. Tujuannya supaya Jepang tertahan untuk merangsek maju. Nyatanya perang yang tak seimbang itu tak terhindarkan.

NIROM mengulang-ulang siaran penggalan kalimat Gubernur Jenderal Tjarda: Ini adalah akhir yang menyedihkam dari suatu perjuangan yang gigih, Admiral! Peristiwa ini menggetarkan hati saja. Saya tetap akan berada di sini dan mendoakan keberhasilan perjuanganmu!

Diselingi kalimat pendek Panglima Angkatan Darat Hindia Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten (yang gagah, tapi sia-sia): Lebih baik mati tegak berdiri, daripada hidup bertekuk lutut!

Sampai sembilan hari kemudian, siaran itu masih juga diulang-ulang meskipun pada tanggal 8 Maret 1942 itu Jenderal Tjarda dan Letnan Jenderal Ter Poorten di hadapan Panglima Balatentara Dai Nippon menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat, di Kalijati. Mereka hanya diberi waktu sepuluh menit untuk berpikir menerima atau menolak permintaan itu. 35 ribu tentara KNIL, bukan tandingan 55 ribu tentara Jepang.

Tentara Sekutu itu nama resminya adalah Komando Kesatuan Sekutu atau ABDA-Command (America-British-Dutch-Australia-Command) yang dibentuk pada akhir 1941. Jenderal Sir Archibal Wavell dari Inggris diangkat menjadi panglima tertingginya. Sejak 15 Januari 1942 sang komandan sudah berkantor di Lembang, melapis pertahanan Belanda. Australia dan Amerika menyiagakan tentara angkatan darat dan udaranya. Tetapi kepanikan Belanda sepertinya membuat koordinasi antarpasukan sekutu menjadi kacau. Ketika Komandan KNIL Letnan Jenderal Hein Ter Poorten menyatakan menyerah kepada Jepang, delapan hari setelah Jepang mendarat di Banten dini hari tanggal 1 Maret 1942, pada saat itu sesungguhnya ada sekitar delapan ribu tentara sekutu di Jawa. Mayor Jenderal Sitwell yang ditugaskan memimpin pasukan itu telah siap mengerahkan pasukannya melawan Jepang. Ter Poorten telah mengambil keputusan tanpa berbicara dengan ABDA. Sebulan dan sepuluh hari kemudian, pada tanggal 25 Februari 1942, Wavell meninggalkan Lembang ke India yang masih dikuasai Inggris.

Parade pasukan Jepang memasuki kota Jakarta dengan menebar simpatik. Dengan berjalan kaki, dan bersepeda, mereka membagi-bagikan bendera dua bendera kecil: Merah Putih dan Hinomaru.

Apa yang hendak dikesankan adalah: kami sudah tiba sebagai pembebas. Radio Tokyo yang siarannya bisa ditangkap di Jakarta – bahkan sebelum kedatangan itu – menyiarkan lagu “Indonesia Raya”, dan mempopulerkan slogan “Asia untuk Orang Asia”. Ketika Belanda sudah takluk, Jepang, lewat siaran radionya mengumumkan bahwa tujuan perang adalah membebaskan Asia dari kolonialisme Barat. Ada pemimpin politik di Jakarta yang beraksi antara ambisius atau inisiatif yang terburu-buru dan sebuah langkah yang tak matang diperhitungkan: mereka menemui Jenderal Hitoshi Imamura, panglima tentara pendudukan. Abikoesno Tjokrosoejoso, bersama Mr. Tadjoeddin Noor, dan dr. Sam Ratulangi, datang ke Kalijati. Mereka membawa hasil perundingan sejumlah partai politik, yaitu rumusan Pemerintahan Indonesia dengan sejumlah tokoh – yang sayangnya tanpa konsultasi lebih dahulu – didudukkan sebagai menteri. Nama Hatta dan Sukarno juga masuk dalam kabinet itu, padahal mereka belum ada di Jakarta, dan sama sekali tidak dihubungi.

Jenderal Imamura menerima mereka dengan ramah. Tapi apa yang mereka usulkan ditolak.

“Kami tidak mempunyai kepentingan apapun dalam soal-soal yang berhubungan dengan politik. Tugas kami hanya mewujudkan tujuan-tujuan perang. Apa yang Tuan-Tuan sampaikan akan kami tanyakan ke pemerintah Tokyo,” kata Jenderal Imamura.

Kegagalan delegasi Abikusno, dan kejelasan sikap penguasa militer Jepang yang tidak akan membentuk pemerintahan sipil yang diurus oleh orang-orang Indonesia, membuat Soebardjo memasukkan kembali ke laci rancangan penting yang ia siapkan bersama Supomo, dan A.A. Maramis. Dua kolega jeniusnya, sama-sama alumni Universitas Leiden. Sebagai para pemikir hukum, mereka sudah membaca situasi, bahwa jika Belanda kalah dari Jepang maka akan terjadi kekosongan hukum. Karena itu mereka menyiapkan tiga konsep yaitu Undang-Undang Kemerdekaan dari Indonesia, Peraturan tentang Pemerintahan Sementara dari Indonesia, dan Rencana Permulaan dari Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. Soebardjo tahu, apa yang mereka persiapkan itu akhirnya hanya menjadi dokumen sejarah. Tapi pasti itu tidak sia-sia.

Ketika pada tanggal 20 Maret 1942, Jepang memerintahkan pembubaran seluruh partai politik di Indonesia, maka dengan demikian, fasisme Jepang telah dipertontonkan.

Ada seorang opsir muda KNIL, lulusan Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Bandung. Namanya Tahi Bonar (TB) Simatupang. Dia adalah satu dari sedikit nama – termasuk Abdul Haris Nasution – yang masuk KMA dan kelak menjadi peletak dasar organisasi militer Indonesia. Ketika Jepang masuk, semua pendidikan di KMA diberhentikan dan para tarunanya menjadi militer aktif di KNIL, menjadi calon perwira dengan pangkat pembantu letnan. Bila Nasution ditempatkan di Jawa Timur, maka Simaputang ditempatkan di Resimen Pertama di Jakarta. Ia sudah membayangkan akan menghadapi pertempuran melawan Jepang, artinya ia akan mempraktekkan ilmu dan latihan-latihan militenyanya selama menjadi pelajar di KMA. Ia membantu di bagian perhubungan militer. Tapi, tak pernah ada pertempuran. Belanda mundur hingga ke Ciranjang. Belanda memang bersiap menghadapi Jepang dengan basis di Ciranjang, suatu titik di antara Cianjur dan Bandung. Ada benteng pertahanan dibangun di sepanjang sungai yang menahan serangan dari Jakarta. Simatupang mengenang, betapa ini adalah sebuah strategi yang salah, karena Jepang masuk melalui pantai utara Jawa.

Setelah Belanda menyerah, KNIL dibubarkan begitu saja. Simatupang sempat ditawan oleh Jepang, lalu dibebaskan.   Dengan bekal pengetahuan militer, dia meneliti situasi Pulau Jawa. Ia membeli buku-buku berbahasa Jepang, lalu menyamar sebagai pedagang buku, ia melakukan perjalanannya sendiri, menyinggahi Bogor, Bandung, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogya, Malang, sampai ke Surabaya. Kembali ke Jakarta, seseorang mempertemukannya dengan Sutan Sjahrir. Pertemuan penting bagi keduanya. Sjahrir mendapatkan gambaran situasi dari seorang anak muda yang mengerti militer, dan Simatupang mendapatkan wawasan soal pergerakan dan ideologi.

“Apa yang saudara lihat dalam perjalanan saudara?” tanya Sjahrir.

“Saya membuat dua kesimpulan. Pertama, Belanda benar-benar sudah habis. Tidak mungkin mengembalikan kekuasaan mereka di negeri ini,” kata Simatupang.

“Bagaimana dengan Jepang?”

“Itu kesimpulan saya kedua: Jepang itu sesungguhnya dibenci rakyat!”

“Apa arti sambutan-sambutan rakyat terhadap kedatangan mereka?”

“Kegembiraan sesaat. Lebih sebagai luapan rasa gembira karena bebas dari Belanda. Di luar itu, dari pengetahuan militer saya, saya yakin Jepang tidak akan menang dalam perang ini. Gerak maju mereka berhenti di sini. Mau kemana lagi?”

Sjahrir mengangguk tanda setuju dengan analisa itu. “Saudara sempat di KNIL, bukan? Apa yang terjadi pada saat Jepang masuk?”

“Ah, waktu itu KNIL cuma bangkai mati. Mati tanpa mengucurkan darah.” Simatupang adalah anak muda yang saat itu gamang bagaimana menempatkan posisinya pada situasi itu. Di mata Jepang, apakah dia masih dianggap sebagai bagian dari pihak Belanda? Di mata tokoh pergerakan yang menyambut kerjasama dengan Jepang apakah juga menganggapnya sebagai lawan? Pandangan yang ia dapat dari berdiskusi dengan Sjahrir sangat membantunya keluar dari kegamangan itu.

“Perjuangan kita sekarang adalah perjuangan demokrasi melawan fasisme. Jadi soalnya adalah bagaimana memperjuangkan demokrasi, dan bagaimana menempatkan Indonesia dalam dunia baru nanti apabila demokrasi menang dari fasisme. Persoalan itu lebih luas daripada persoalan Jepang melawan Belanda, atau perjuangan kita melawan atau bekerja sama dengan Jepang…,” kata Sjahrir.

Kata-kata Sjahrir dan diskusi-diskusi kelompok pemuda yang dia ikuti meyakinkan T.B. Simatupang untuk memilih langkah perjuangannya. Ketika ada kursus bea cukai diselenggarkaan Jepang ia ikuti, lulus dengan nilai terbaik, dan bekerja di badan bea cukai yang kemudian dibentuk oleh Jepang. Tak banyak yang ia kerjakan di sana, dan karena itulah ia makin rajin mengikuti diskusi-diskusi dengan kelompok-kelompok perjuangan. | Hasan Aspahani

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s