Penghuni Sel Nomor 233 di Penjara Sukamiskin

Senin, 18 Agustus 1930, Sukarno mulai disidang.

Ia sudah delapan bulan ditahan di Penjara Bantjeuy, dengan tuduhan melanggar tiga pasal dalam kita undang-undang pidana yang berlaku pada waktu itu. Tiga pasal ‘de Haatzaai Artikelen’, pasal penyebaran kebencian. Sebuah pasal karet yang lentur, yang digunakan seringkali dengan sewenang-wenang oleh penguasa. Sukarno dituduh, “…mengambil bagian dalam suatu organisasi yang mempunya tujuan menjalankan kejahatan…. Usaha menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda…”

Sidang hari itu jadi perhatian luas.

Gedung pengadilan di Jalan Landraad penuh manusia. Hari itu Sukarno membacakan pembelaan, yang naskahnya kemudian diterbitkan dalam manuskrip berjudul “Indonesia Menggugat”.

Sel yang ditempati Sukarno di Penjara Sukamiskin.
Sel yang ditempati Sukarno di Penjara Sukamiskin. Foto-foto dari blog Primbon Donit.

“Pengadilan menuduh kami melakukan kejahatan. Kenapa? Dengan apa kami menjalankan kejahatan, Tuan-Tuan Hakim yang Terhormat? Dengan pedang? Bedil? Atau bom? Senjata kami adalah rencana! Rencana untuk mempersamakan pemungutan pajak, sehingga rakyat Marhaen yang mempunyai penghasilan maksimum 60 rupiah setahun tidak dibebani pajak yang sama dengan orang kulit putih yang mempunyai penghasilan minimum 9 ribu rupiah setahun!”

Sidang di pengadilan, berlangsung hingga 19 kali, justru menjadi panggung bagi Sukarno untuk mengobarkan nasionalisme. Koran-koran menjadikannya berita utama, mereka membahasnya dalam tajuk rencana.

Pro dan kontra merebak.

Ada yang bernada membela, ada yang mengecam. Dan pledoinya menyebar, diperbanyak, bahkan sampai ke negeri-negeri Eropa, sampai juga Belanda.

Sukarno akhirnya divonis empat tahun. Itu vonis terberat dibandingkan vonis bagi kawan-kawannya sesame pengurus PNI, Gatot Mangkupradja, Maskun, Supriadinata. Mereka berempat pun lalu dipindahkan dari Penjara Bantjeuy – penjara kelas kecoa, di mana rambutnya dipotong nyaris gundul – ke Penjara Sukamiskin.

Sukarno menempati sel nomor 233. Di Sukamiskin ada tiga kelas sel. Pertama sel untuk mereka yang ditahan untuk hukuman satu tahun. Kemudian sel untuk mereka yang dihukum dari satu tahun hingga maksimal sepuluh tahun. Dan yang ketiga, dan ini yang paling banyak, mereka yang dihukum lebih dari sepuluh tahun.

Di Sukamiskin, Sukarno dipisahkan dari kawan-kawannya.

Toilet di bawah ranjang lipat di sel Sukarno.
Toilet di bawah ranjang lipat di sel Sukarno.

Sel yang ditempati Sukarno tempatnya di pojok, yang harus melewati tangga ke lantai dua untuk mencapainya. Satu blok pada deretan sel itu dikosongkan. Sukarno dijauhkan dari tahanan lain. Tetangga sel terdekatnya adalah seorang blasteran Belanda dan perempuan Sunda. Orangnya ramah, paling tidak ia mencoba ramah kepada Sukarno.

“Saya membunuh ayah saya. Ia kejam, selalu menyiksa ibu saya,” kata si tahanan itu.

Tahanan lain dihukum 15 tahun karena merampok dan membunuh korbannya.

Dari sel isolasi, ia diberi kesempatan keluar setengah jam di pagi hari, dan setengah jam di sore hari. Bahkan pada jam makan pun Sukarno tak bertemu dengan kawan-kawannya. Ia dikumpul dengan tahanan orang-orang Belanda tingkat tinggi: para pejabat yang menyelewengkan anggaran dan mereka yang korupsi.

Di dalam penjara Sukarno dipekerjakan pada percetakan. Ruang kerjanya dekat dengan ruang direktur penjara, supaya mudah diawasi. Apa yang dia kerjakan adalah menyeret berim-rim kertas, membuat garis potongan, memotongnya pada mesin yang belepotan gemuk, menjilidnya, menjadi buku catatan. Itulah yang ia kerjakan dari hari ke hari.

Menggaris.
Memotong.
Menggaris.
Memotong.

Banyak kebiasaan hidup di penjara Sukamiskin yang terbawa dalam hidup Sukarno selanjutnya. Misalnya, ia selalu makan dengan cepat. Tak peduli kelak di jamuan makan kenegaraan pun, sebagai presiden, ia sudah menyelesaikan makannya meskipun tetamu lain belum lagi beres. Itu kebiasaannya yang terbawa dari penjara.

Di penjara yang diisi 900 orang, waktu itu, hanya ada 25 meja makan yang masing-masing bisa diduduki 10 orang. Makan harus cepat karena waktu makan terbatas dan ruang makan harus dipakai bergantian.

Hal lain yang tak banyak diketahui adalah kebiasaan Sukarno tidur di lantai, bukan di tempat tidur empuk. Ia lebih nyenyak tidur di lantai. Menggelatak begitu saja. “Aku terbiasa berbaring di atas tempat yang keras dan tipis,” ujarnya, dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Adams, 1966).

Setelah beberapa bulan dijebloskan ke sel isolasi, Sukarno diperbolehkan menerima kiriman kue dan telur dari luar. Bagi Inggit – yang dibolehkan berkunjung dua kali seminggu – dalam situasi seperti itulah dia menunjukkan bakti dan kecerdasannya – bukan telur dan kue itu yang penting, tapi bagaimana ia mengirim berita lewat itu kepada Sukarno.

Tentu saja tiap kiriman yang masuk akan diperiksa dengan ketat. Bagaimana meloloskan informasi menembus pemeriksaan itu? Sukarno tahu, jika Inggit mengirim telur asin, berarti kabar buruk sedang terjadi di luar. Sebaliknya jika yang dikirim adalah kue.

Inggit terus mengembangkan cara menyampaikan informasi ke dalam penjara. Kali ini lewat Alquran. Jika misalnya dia membawa Alquran untuk Sukarno pada tanggal 24 April, maka Sukarno tahu pada Surah ke-4, ayat 24 ada tertulis pesan dalam kalimat pendek yang diterakan Inggit dengan tusukan jarum, dalam aksara Braile.

Juga kode-kode lain:
Kabar baik — satu tusukan peniti.
Seorang kawan ditangkap — dua tusukan peniti.
Penyergapan besar-besaran — tiga tusukan peniti.

Sukamiskin adalah penjara kelas satu. Para penjahat kelas kakaplah yang dijebloskan di sana. Di sana Sukarno melihat kenyataan lain, betapa orang dengan mudah membunuh, dan betapa nyawa nyaris tak berharga.

Dengan bayaran dua batang rokok narapidana yang dihukum seumur hidup mau disuruh membunuh. Mereka toh tak punya harapan untuk bebas. Jadi percuma berkelakuan baik.

Sukarno menyaksikan sendiri transaksi itu.

“Kau lihat orang di sana yang ada tanda di kuduknya?”

“Ya.”

“Bunuh dia. Dan ini bagianmu.” Si pemberi perintah, memberi sesuatu pada si pembunuh.

“Baik.”

Dan tak lama kemudian penjara pun dikagetkan oleh tahanan yang tewas dengan perut tertikam pisau.

Di penjara Sukamiskin, Sukarno melihat bagaimana tahanan yang putus asa, tak bisa mengendalikan hasrat seksual, berubah orientasi seksualnya.

Apa saja yang berbau politik dijauhkan dari Sukarno. Maka di dalam penjara Sukarno punya kesempatan banyak untuk memperdalam pelajaran agama. Ia menemukan sendiri Islam pada usia 15 tahun. Pada usia 28 tahun, setiap kali terbangun di dalam tahanan, yang pertama ia baca adalah Alquran.

Sementara itu, pledoi “Indonesia Menggugat” semakin luas tersebar di Eropa. Para ahli hukum di sana, juga di Belanda, mengkajinya, membahasnya, mendiskusikannya, dan setuju dengan banyak hal dalam pembelaan itu. Mereka mengajukan protes pembelaan. Bahkan Pengadilan Austria menyatakan hukuman pada Sukarno harus dibatalkan, tidak berperikemanusiaan, karena tuduhan atasnya tidak pernah bisa dibuktikan. Tekanan meluas, sampai Gubernur Jenderal Hindia Belanda memotong hukuman Sukarno menjadi dua tahun.

Dengan masa hukuman yang telah diperpendek itu, dipotong masa tahanan sebelum sidang, Sukarno akhirnya dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931. Ada tulisan yang secara luas disebarkan oleh penguasa colonial Hindia Belanda menjelang Sukarno bebas. Judulnya: Saya Memulai Kehidupan Baru. Isinya uraian tentang Sukarno yang berubah jika kelak dibebaskan.

Itulah yang jadi bahan Direktur Penjara Sukamiskin untuk menekan Sukarno ketika ia dibebaskan.

“Ir. Sukarno, dapatkah Tuan menerima kebenaran dari kata-kata ini? Apakah Tuan betul-betul akan memulai hidup baru?”

Sukarno menjawab, “Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama.”

Ia memang tidak berubah.

Penjara tidak mengubah seorang Sukarno. | Hasan Aspahani

Catatan: Tulisan ini diolah dari buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karangan Cindy Adams (Gunung Agung, 1966).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s