Dengan Liburan Sapardi Menembus Jassin

MIMBAR Indonesia adalah majalah mingguan yang di bawah masthead-nya menyebutkan semboyan: Independent Non-Party. Terbit setiap Sabtu, 24 halaman. Selain sampul yang dicetak dengan spot colour – seringkali merah dan hitam saja – seluruh halaman isi dicetak hitam putih. Foto-foto yang ditampilkan lumayan bagus untuk ukuran kualitas cetak pada masa itu. Kualitas kertas? Tak konsisten, mungkin ini tergantung pada ketersediaan pasokan kertas.

Mimbar terbit sejak tahun 1947. Ini media tergolong perintis untuk kategori majalah berita yang terbit pascakemerdekaan. Awalnya terbit sebulan dua kali, tapi sejak terbitan awal, 10 November 1947, sudah diumumkan bahwa per 1 Januari 1948 akan terbit berkala setiap minggu. Janji itu kelak benar-benar dipenuhi.

Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono

Pada tahun 1958 itu, setelah terbit lebih dari sepuluh tahun, majalah ini dijual dengan harga bandrol Rp3,-. Sejak awal terbit Mimbar menjelaskan dirinya sebagai: Majalah bergambar, bebas dari pertalian partai atau golongan politik. Diselenggarakan untuk: Pembangunan Politik, Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan. Desainnya rapi. Satu halaman dibagi atas tiga kolom. Dan jika dilihat dari iklan-iklan yang dipasang, ini majalah punya reputasi bagus dan terpercaya sebagai tempat promosi. Iklan brand dunia seperti ban Goodyear – dengan ilustrasi gambar pertandingan tinju di atas ring, mentega Flamboom, tapal gigi Prodent, hingga merek-merek lokal seperti Bir Hitam “Tjap Serimpi” yang bikin badan kuat, dan handuk berleter nama tuan sendiri yang bisa dipesan dengan dasar warna putih dan tulisan merah atau hijau blao yang bisa dipesan di Perusahaan “Tepat”, sarung bugis asli, obat terbaik “Isamy”, hingga minuman ringan“Double Cola”. Bahkan ada satu iklan yang kalau dibaca sekarang terasa unik yang berulang kali dimuat yaitu iklan dari W. Lembeck, dengan alamat di Box 4 – Queens Village, New York 29, N.Y., U.S.A., yang berminat membeli kupu-kupu. Begini isi iklannya: Kupu2 (butterflies) dari Sumatra, Kalimantan, dan Maluku. Untuk Matjam2 kupu2 jang paling bagus kami sanggup membajar mahal. Jang berminat mendjual kupu2 tersebut harap berhubungan dengan: …. (disebutkanlah nama dan alamat di atas tadi).

Majalah yang dipimpin oleh Sutarto Ruslanputro ini diterbitkan oleh Yayasan Dharma yang dipimpin oleh Ir. Pangeran Moch Noor. H.B. Jassin – yang sejak edisi pertama telah menyumbang tulisan – kemudian duduk di dewan redaksi bersama beberapa nama lain: Mr. Gusti Majur, Sumantri Mertodipuro, Darsjaf Rachman. Adapun tokoh pers Sukarjo Wirjopranoto yang dulu memimpin satu-satunya surat kabar di Jakarta di zaman Jepang, Asia Raja dan nama besar Prof. Mr. Dr. Supomo duduk sebagai anggota Dewan Penasihat.

Nama Jassin disebutkan secara khusus di bawah kop sesi halaman (Daerah Pengembaraan bagi Pentjinta) Seni & Kebudajaan. Nama Jassin adalah jaminan mutu. Namanya segera menjadikan rubrik kebudayaan di Mimbar Indonesia jadi bergengsi. Sastrawan A.D. Donggo kemudian juga dicantumkan mendampingi Jassin di lembaran tersebut, sejak edisi 14 Juni 1958. Halaman ini memuat puisi, cerita pendek dan esai-esai. Mimbar Indonesia sangat suka memuat profil orang terkenal baik dalam maupun luar negeri. Karl Marx, M. Yamin, Ismail Marzuki, diulas dengan sama bergairahnya. Juga tokoh-tokoh politik nasional dan dunia. Mahatma Gandhi diulas dalam edisi khusus.

Kadang-kadang juga semacam berita boks pendek, semacam stopper, misalnya berisi berita singkat tentang pernikahan pengarang Francoise Sagan: Novelis wanita Perantjis Francois Sagan mengatakan pada hari Rabu di Paris, bahwa perkawinannya dengan pemimpin perusahaan penerbitan Guy Schoeller akan dilangsungkan di suatu tempat jang tidak mungkin didatangi wartawan2. Keterangan2 lebih landjut tidak diberikannja. Nona Sagan berusia 22 tahun dan belum pernah kawin, sedangkan Schoeller adalah seorang duda dan berusia 42 tahun.

Pada tahun 1958, nama-nama penyair yang karyanya sering muncul di Mimbar Indonesia adalah M. Junus Melalatoa, H.G. Sudarmin, Gerson Gubertus Poyk, M. Poppy Donggo Huta Galung, M. Zyrodah, Abraham I.M., Bedjo Kr., Muh. Dipalaga, J.E. Siahaan, Abdul Aziz, Asmar Tatang Amara, Djadjak M.D, dan Purwanto Yapung. Nama-nama itu pada tahun-tahun tersebut beberapa memang sudah dikenal sebagai penyair. Di Mimbar Indonesia, selain rubrik Seni dan Kebudayaan, juga ada halaman sastra khusus untuk penulis pemula, namanya Fadjar Menjingsing. Pada pengantar redaksi di tiap edisi disebutkan nama pengasuhnya adalah Kak Mimbar.

Menilik usianya yang pada tahun 1958 itu masih 18 tahun, masih duduk di kelas 2 SMA, Sapardi Djoko Damono mestinya tahu diri untuk mengirim karya agar dimuat di Fadjar Menjingsing saja. Tetapi itu tidak dia lakukan! Dia yakin bahwa karyanya pantas untuk dimuat di Seni dan Kebudajaan, dan memang ke sanalah ia mengirim. Dan dimuat! Edan!

“Itu kira-kira dua bulan sejak saya mulai belajar menulis sajak dan mengirim ke Mimbar Indonesia,” kata Sapardi. Ya, dua sajaknya Liburan dan Ulang Tahun dimuat di Mimbar Indonesia edisi 40, 4 Oktober 1958. Ini adalah momentum penting dalam kepenyairan Sapardi. Ia berhasil menaklukkan Jassin, Sang Paus Sastra Indonesia itu! Ia sudah dibaptis menjadi penyair!
             liburan ini kupunggah hatiku ke wadjah ibu menantiku
senjum selamat deraian setimbang angin mengelus daunan bambu

            pekarangan tua berpagar melanding tenteram dan kerinduan
            sedjak meripat bapa dan adik tumpah bagai tresna keduanya
 
            belimbing wuluh lagi berbunga wadjah ibu berbungalah pula
            bila lembut ditatapnya aku mengombak kasih di laut dadaku
 
            liburan ini kupunggah hatiku ke wadjah ibu menantiku
            musim duludulu kembalilah memangku tawa dan airmata
 
            bila malam singgah sehabis otjeh burung membungai sendja
            mengalunlah hati kerna selesai sudah masa botjah kini
            berbitjara ibu buat tanja jang tersodor di depannya:
            perawan itu mesti mengerti gawatnya lubuk tjintamu
 
            bersandar tanah dan kajal tersangkut atas hari tua
            dan ria keluarga jang meletakkanku dalam doa dan bangga
            kumesrakan sudah liburan ini di udjung masa sekolah
            merambatlah hatiku atasnya menemu harapan tak sia-sia

 
                                                                  Solo, ‘58

           
            merapatlah lambat lambat senjum ke wadjah lesu
            belum lagi kiranya tjerita tua menemu akhir di mala mini
            dipapah dukana besok usia telah setahun kian menjingkat
            bila sadja aku menoleh: belum lagi apa apa
 
            biarlah mala mini tjuma bisa melandjutkan hidup sederhana
            di wadjah ibu dulu sedan putus asa singgah meminta
            dan kalau kini aku sendiri mesti menikmatkan puntung usia
            di sela djemari perhitungan jang asing telah menunggu
 
            ulang tahun ini kupeluk tiada terbit tepuk tangan
            dan sebuah pertolakan memang tiada perlu tawa menang
            sampai sekian aku hidup dengan disuburi kasih bunda
            terasalah anugerah Tuhan mengalir gemertjik bersama darah
 
            kupeluk malam dan tahun lama kuberi peluk penghabisan
            harapan jang berdjandji kulangkahlah dengan hati hati
            dan bemainlah di pelupuk mata:
            lelaki muda tiada rubuh ditikam kegagalan
 
                                                                   Solo, ‘58

Jassin di meja kerjanya.
Jassin di meja kerjanya.

            Dua sajak inilah yang menembus benteng tapisan Jassin. Dimuat di halaman 16 Mimbar Indonesia, mengisi penuh dua kolom, dan satu kolom di sisi kanan halaman di isi sambungan cerita pendek M. Zoebaid Al, “Gadis Dipertapaan” dari halaman sebelumnya.

Dua sajak itu muncul rubrik Seni dan Kebudayaan.

Bukan di rubrik Fadjar Menjingsing yang disediakan untuk penulis pemula!

“Makanya saya merasa tidak pernah merasa menjadi penulis remaja. Edan kok. Pertama kali dimuat langsung di rubrik sastra yang untuk penyair-penyair yang sudah punya nama itu,” kata Sapardi. Dan itu membuatnya jumpalitan karena sedemikian senangnya dia. Dia langsung ambil sepeda dan berkeliling-keliling kampung, lantas mengayuh kencang ke arah Kota Solo, dengan perasaan seakan-akan sudah menjadi penyair paling besar di dunia! Heran! Edan, kok dimuat!

Ini bukan publikasi pertamanya bagi sajak Sapardi, belum lama berselang, sajaknya juga telah dimuat di majalah Merdeka, yang halaman sastranya diasuh oleh S.M. Ardan. Tapi ini ‘kan Jassin. Ini Jassin yang menemukan Chairil Anwar itu, lho! Kawan-kawan Sapardi yang juga mulai belajar menulis tak ada yang berani mengirim ke Jassin.

“Makanya teman-teman heran, kok dimuat Pak Jassin? Mereka saya tahu ada yang beberapa dimuat di ruang remaja media-media nasional, kayak gitulah, nggak berani ngirim ke Pak Jassin,” kata Sapardi.

Dua sajak di atas adalah tipikal sajak-sajak awal Sapardi. Ia menulis dalam kwatrin yang tertib, meskipun ia tak terlalu disiplin pada rima di akhir baris, dan memang bukan itu yang benar-benar ia kejar. Ia membangun imaji-imaji yang kian diselami kian terasa mewah, dengan bahan sederhana yang tersedia di sekitarnya, apa yang kemudian menjadi kekuatannya.

Dua sajak Sapardi yang dipercaya Jassin untuk dimuat memang sajak yang matang! Ada rasa sajak lama yang berhasil ia poles dengan racikan baru. Tak kalah – bahkan boleh dikatakan telah menggungguli – sajak-sajak penyair lain yang dimuat sebelum dan sesudahnya. Sapardi telah berhasil mengatasi wabah sajak cinta yang cengeng yang menjangkiti remaja SMA yang baru belajar menulis!   Lihat saja, tema sajak itu dari judulnya: Ulang tahun dan liburan. Tapi apa yang ia tulis pada sajak di bawah judul dan tema itu? Ia mencomot imaji-imaji dari lingkungan yang akrab di sekitarnya: ibu, bapa, adik, bunga belimbing wuluh, musim memangku tawa dan airmata, perawan yang mesti mengerti gawatnya lubuk tjintamu, kajal yang tersangkut atas hari tua, dan tentang liburan itu ia katakan: kumesrakan sudah liburan ini. Atau kesimpulan yang kuat pada penutup sajak “Ulang Tahun”: lelaki muda tiada rubuh ditikam kegagalan! Setelah memberi perlakuan yang indah pada tahun yang lewat dan yang akan datang – kupeluk malam dan tahun lama kuberi peluk penghabisan, membuat frasa orisinil puntung usia. Ungkapan-ungakapanya seakan lahi dari seorang yang telah dewasa sekali. Tapi, hei, ini ditulis oleh seorang anak kelas 2 SMA!

Jassin tidak salah.  

Ia telah menemukan seorang penyair: Sapardi Djoko Damono… Eh, tunggu dulu. Nama yang baru muncul ini tampaknya menarik juga dalam khazanah nama-nama penyair lain yang sudah berkibar. Terdengar agak tidak lazim. Di Mimbar Indonesia, dalam kemunculan pertamanya nama itu ditulis sebagai Sapardi Djoko Darmono. Ya, Darmono, bukan Damono. Padahal di daftar isi, ejaannya sudah benar, Damono bukan Darmono!

“Ha ha ha, nama saya memang sering ditulis salah, kok. Sapardi itu benar, seringkali di majalah lain malah Supardi,” kata Sapardi. Tapi, Sapardi adalah Sapardi, hanya satu Sapardi. Yang banyak dan lazim itu Supardi dan itu bukan Sapardi. Damono juga hanya ada satu Damono, bukan Darmono. Nama ini sudah gagah dan elok sebagai nama penyair sejak pertama kali tercantum bersama sajak-sajak pertamanya: Sapardi Djoko Damono.

Tak pernahkah Sapardi memakai nama samaran dalam tulisan-tulisannya? “Bukan nama samaran, ya, tapi saya utak-atik gitu lo, saya pernah pakai nama S. Djoko Damono, atau Sapardi D. Damono, pernah juga Dam Sadyoko. Itu pakai singkatan nama saya, dan nama bapak saya,” kata Sapardi.

Sastra Indonesia – juga puisi Indonesia – adalah sastra majalah, atau lembaran budaya di koran-koran. Sapardi hanyalah satu model dari proses umum yang ditempuh oleh penyair Indonesia untuk jadi menjadi. Mula-mula ia harus menembus media-media itu.

Ketika pada tahun 1968, Pusat Dokumentasi H.B. Jassin mendata riwayat karya para penyair, Sapardi menulis sajak-sajak hingga tahun itu dimuat di Mimbar Indonesia (dimuat beberapa kali di sepanjang tahun 1958-1960), Indonesia (1961), Budaya (1961), Sastra (1961), Basis (1959-1967), Gelanggang (1966), Gelora (1962-1963), Horison (1967-1968), dan beberapa majalah lain serta lembaran-lembaran kebudayaan dalam koran-koran yang terbit di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, dan suratkabar di kota-kota lain. Data itu dirangkum sendiri oleh Sapardi dan dia isikan pada borang isian dari PDS H.B. Jassin pada tanggal 6 April 1968.

Halaman sastra di majalah atau surat kabar umum sejak dulu ya timbul tenggelam. Upaya melacak sajak Sapardi yang dimuat di majalah Merdeka justru membuktikan fenomena itu. Halaman Genta, yaitu lembaran sastra dan budaya di Merdeka yang dikelola sastrawan S.M. Ardan dan Asnawi Idris dihentikan pada edisi 22 (31 Mei 1958), sementara majalah yang dikelola suami istri B.M. Diah dan Herawati Diah itu jalan terus dengan konsep rubrik baru.

Nama Ardan sama sekali hilang dari susunan redaksi, sementara Asnawi menjadi redaktur rubrik lain. Apakah ada pengaruh redaktur pengasuh dengan karya-karya yang masuk? Apakah Ardan kalah gengsi dibanding Jassin misalnya? Tidak juga, di halaman Genta, nama-nama yang dimuat juga sastrawan-sastrawan yang cukup mentereng: Mansur Samin, J.E. Siahaan, Suprijadi Tomodihardjo, juga Oyon Subroto Basuki, Awang Shabrianyah, Nyoman Bawa, dan Harkam Effendi Hamyar. | Hasan Aspahani

Iklan

2 pemikiran pada “Dengan Liburan Sapardi Menembus Jassin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s