Banzai! Banzai! dan Raung Sirine di Kota Padang

Soerat Terboeka Teroentoek Padoeka J.M. Gobnor Djend. Hindia Belanda
 Excellentie,
            Kemarin telah dioemoemkan dengan opisil bahoea Palembang telah djatoeh. Kemoengkinan bahoea dalam waktoe jang pendek jatoehnya Palembang itoe kemoedian akan menjebabkan terpoetoesnja Soematera dari Tanah Djawa soenggoeh tidak sedikit.
            Kini di Bengkoelen dalam pengasingan masih berdiamlah Ir. Soekarno, jang oleh oemoem dan diakoei sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia.
            Bangsa Indonesia tentoe benar2 sanggoep memikoel beban dan menerima beberapa poekoelan berat, akan tetapi kalaoe sampai moengkin kehilangan soetu milik nasional jang berharga Ir. Soekarno itoe, tentoe keroegian jang tak dapat diperbaiki dalam beberapa poeloeh tahoen.
            Apalagi dalam hal memberi tempat jang aman pada pemimpin2 jang diasingkan itoe. Pemerintah baroe2 ini telah menoenjoekkan kebijaksanaan. Itoe dapat diboektikan dengan pemindahan Drs. Moh. Hatta dan Soetan Sjahrir baroe2 ini dari Banda ke Soekaboemi.
            Oentoek pemindahan itoe patoetlah kita mengoecapkan terima kasih banjak2.
            Maka maksoed soerat ini ialah tak lain memajoekan permohonan kepada pemerintah agar soepaja selekas2nya dapatlah diambil tindakan2 dan oesaha seperloenya soepaja Ir. Soekarno dengan keloearganja bisalah segera kembali ke Poelau Djawa.
 
Hormat Kami
Soekardjo Wirjopranoto
Berita Oemoem, Selasa 17 Februari 1942

BAGI Sukarno, hari-hari menunggu di Padang adalah masa yang sangat tidak nyaman. Betul-betul tak ada yang bisa ia lakukan, justru ketika kini ia sudah berstatus sebagai orang bebas. Bukan lagi interniran, bukan lagi orang buangan.  Sementara waktu, hanya kebaikan keluarga dr. Waworuntu yang membesarkan hatinya. Sang dokter beristrikan seorang perempuan Belanda yang kepada Inggit juga sangat bermurah hati. Mereka membagi makanan terbaik yang bisa mereka dapatkan, dan memberi pakaian ketika tahu betapa sedikit pakaian yang dibawah suami istri Sukarno-Inggit, dan Kartika.

Padang di bawah kuasa Jepang adalah kota yang penuh dengan hingar bingar pesawat tempur. Sirine tanda bahaya. Patroli tentara yang menunjukkan kekuatan dan ancaman berkeliling kota dengan teriakan, “Banzai! Banzai!”, dan razia di mana-mana, mencari dan menangkapi sisa-sisa orang Belanda atau siapa saja yang dicurigai. Jika hendak disebut sebagai balas budi, maka karena surat jaminan dari pemimpin Jepang yang diusahakan Sukarnolah, istri dr. Waworuntu tak ditangkap oleh tentara Jepang.

Sukarno menunggu. Terhadap Jepang ia belum tahu harus melakukan gerakan apa. Sampai Kapten Takaguchi menemuinya di rumah dr. Waworuntu . Mereka bercakap-cakap dalam Bahasa Prancis (beberapa kemudian Sukarno tahu, Takaguchi sangat fasih berbahasa Indonesia).

“Saya Takaguchi dari Sendenbu, Departemen Propaganda…”

“Apa yang Tuan kehendaki dari saya,” tanya Sukarno hati-hati.

Dengan formalitas yang terukur, dan keramahan senyum yang menjebak, Sakaguchi menjawab, “Tidak ada. Saya tahu bahwa Tuan Sukarno sudah ada di Padang, dan menginap di rumah ini, maka saya perlu bertemu untuk berkenalan dengan Tuan. Itu saja, saya datang tidak dengan sebuah perintah untuk Tuan.”

“Mengapa Tuan justru datang menemui saya?”

Masih melanjutkan senyum yang tadi ia kembangkan Sakaguchi menguraikan, “Kami tahu semua mengenai Tuan. Kami tahu Tuan adalah pemimpin rakyat yang punya pengaruh besar. Maka tugas pertama saya adalah menemui Tuan.”

“Kenapa Tuan tidak memanggil saya menghadap Tuan ke tempat Tuan?”

“Karena kami menghormati Tuan Sukarno. Tugas saya kedua adalah menjaga Tuan, dan memastikan keselamatan Tuan Sukarno.”

Seperti sebuah tawaran perlingungan. Tapi Sukarno merasakan hal lain, ia seperti sedang dijerat dan ditawan dengan cara yang sangat halus.

Apapun, Sukarno kini merasa sangat bersyukur karena tidak dibawa Belanda ke Australia, atau Suriname di mana pejuang nasionalis berdarah Belanda Edward Douwes Dekker dibuang. Akibatnya memang kini ia harus berhadapan dengan Jepang. Ia tak tahu Jepang akan memperlakukan dia sebagai apa, tawanankah atau pihak yang akan diajak bekerja sama? Sementara itu Kota Padang dengan serta-merta merayakan hengkangnya Belanda. Toko-toko, kantor-kantor, rumah penduduk, orang-orang di pasar mengibarkan bendera merah putih. Itulah ekspresi paling murni dari kebebasan negeri yang mereka kira telah mereka dapatkan. Perkiraan itu sepenuhnya salah. Jepang segera menguasai suratkabar-suratkabar di Padang dan memerintahkan untuk menurunkan bendera merah putih. Hanya bendera Jepang yang boleh dikibarkan. Segera rakyat Padang tahu, kemerdekan belum ada di tangan mereka. Jepang hanyalah penjajah baru yang menggantikan Belanda.

`Sakaguchi seakan-akan ingin menguji Sukarno. Di tempat di mana Sakaguchi berkantor, ketika Sukarno menemuinya keesokan harinya, ia meminta agar Sukarno bicara kepada rakyat di Padang untuk menurunkan bendera merah putih. Inilah rupanya arti senyum Sakaguchi kemarin.

“Ini perintah yang sangat berat untuk kami dan akan memperburuk keadaan yang sedang kacau. Kenapa tidak dibiarkan saja?” ujar Sukarno.

“Tidak bisa, Tuan. Kami ingin Tuan membantu kami, meminta rakyat Tuan untuk menurunkan bendera negeri Tuan,” kata Sakaguchi.

“Kalau tidak dilakukan dengan bijaksana dapat memberi akibat yang serius bagi Jepang dan bagi kami,” kata Sukarno.

Sakaguchi dengan halus mengancam. “Ya, barangkali benar begitu, Tuan Sukarno, tapi hendaknya jangan terlalu lama menunda hal ini.”

Sukarno bekerja dengan sangat hati-hati. Ia menyinggahi masjid-masjid, bersembahyang berjamaah di sana, lalu bicara kepada iman dan jamaah tentang situasi yang sedang dihadapi. Bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya ada di tangan mereka, dan belum saatnya mengibarkan bendera sendiri. Itu akan tiba masanya nanti. Bahwa perkembangan situasi masih belum tentu hendak kemana arahnya, dan kekuatan-kekuatan perjuangan harus ditata sebaik-baiknya. Rakyat Padang mengerti. Dengan berat hati rakyat menurunkan kembali bendera merah putih. Dan di mata Jepang Sukarno lulus ujian pertama.

Tiga hari kemudian Sukarno diundang ke Bukit Tinggi, ke Fort de Kock, menemui Panglima Tentara ke-25 Angkatan Darat Jepang Kolonel Fujiyama. Dialah yang memimpin pasukan Jepang menduduki Padang, dan seluruh Sumatera.  Inilah kota kelahiran Muhammad Hatta yang jadi markas militer Jepang di Sumatera Barat. Kantor yang ditempati Kolonel Fujiyama adalah gedung mewah milik saudagar kaya Belanda.

Fujiyama bicara kepada Sukarno dalam Bahasa Jepang, lewat perantara seorang penerjemah berkebangsaan Amerika, yang ditawan dari Singapura. Ia menjelaskan bahwa perang yang sedang digencarkan Jepang adalah perang melawan kolonialisme Barat untuk membebaskan bangsa-bangsa Asia. Pembicaraan yang hati-hati, diselingi asap dari rokok yang ditawarkan oleh Fujiyama. Bukit Tinggi adalah kota yang amat sejuk. Tak cukup rokok, teh hangat pun disuguhkan. Sukarno bertanya tentang perang. Kedatangan Jepang. Soal kebebasan. Kebebasan Asia. Kebebasan Indonesia. Fujiyama menjelaskan hal yang sama, hal-hal yang ingin dipastikan oleh Sukarno.

“Kalau begitu, Tuan Fujiyama, Jepang datang untuk membebaskan Indonesia?”

“Tepat. Begitulah, Tuan…”

Sukarno
Sukarno

Sukarno mencoba menebak kemana arah pembicaraan itu hendak digiring oleh Fujiyama. Kemana pun itu, Sukarno sadar betul ia harus berhati-hati menanggapi, menjawab, menyiayakan atau menolak. Ini bukan lagi soal hidup mati dirinya pribadi. Ini soal nasib bangsa Indonesia. Dan Sukarno benar-benar sendiri memutuskan itu.

Akhirnya pertanyaan besar itu diajukan oleh Fujiyama. “Rasanya kita sudah mencapai satu kesepakatan. Yang kami ingin tahu adalah sikap Tuan Sukarno, apakah Tuan punya keinginan untuk memberikan bantuan kepada tentara Dai Nippon?”

Bukan pertanyaan yang mudah. Soal bekerja sama atau tidak bekerja sama dengan Belanda dulu telah menjadi pertentangan yang tak selesai di antara para nasionalis penggerak kemerdekaan. Kini Sukarno harus memutuskannya sendiri. Ia belum sempat menghubungi siapa-siapa di Jawa. Ia belum banyak tahu apa perkembangan di Jakarta.

“Dengan cara bagaimana saya bisa membantu?”

“Bantu kami memelihara ketentraman.”

“Bagaimana caranya saya seorang diri bisa memelihara ketentraman untuk tentara Jepang?”

“Kami tahu Sukarno menguasai massa rakyat. Kami tidak perlu mendekati mereka yang berjuta-juta. Kami cukup memerlukan seorang Sukarno. Itu yang kami harapkan dari Tuan, untuk kepentingan kami dekatilah mereka, rakyat Tuan sendiri.”

Sukarno membayangkan percakapan itu seperti permainan voli. Beberapa kali bola dilambung. Lalu diseberangkan. Lalu dengan kalimat terakhir itu, Kolonel Fujiyama sedikit menukikkan pembicaraan, melayangkan sebuah bola smes. Ini saatnya membalas, ia mengatur kalimat.

“Baiklah, saya sudah tahu apa keinginan Tuan. Saya kira Tuan juga sudah tahu apa yang saya inginkan.”

“Tidak, Tuan Sukarno. Saya tidak tahu apa yang diinginkan oleh rakyat Indonesia.”

Sukarno yang kali ini menjawab dengan sebuah pukulan keras. “Merdeka! Kami ingin merdeka.”

Tentu saja Kolonel Fujiyama sudah menebak jawaban itu. “Ya. Itu hanya bisa dicapai kalau Tuan mau bekerja sama dengan Jepang.”

Jika kelak Sukarno dituduh sebagai kolaborator Jepang, bahkan penjahat perang karena bersekutu dengan poros fasis, percakapan di Bukit Tinggi inilah pangkal soalnya. Tentu Sukarno tak pernah menganggap bahwa dia terjebak dalam sebuah tawaran yang sulit, tapi apa yang ia putuskan adalah yang terbaik pada situasi itu.

Bulan-bulan berikutnya di Padang Sukarno pun menyibukkan dirinya dengan kerja-kerja membantu penguasa militer Jepang. Nyatanya, kehadiran Sukarno di Padang sangat membantu. Ketika tentara Jepang membutuhkan beras, Sukarno mendapatkannya dari beras yang dikumpulkan oleh rakyat dan saudagar beras di Padang dan kota-kota sekitarnya. Sukarno bahkan diminta mengatasi persoalan kebutuhan seksual tentara Jepang. Atas nama keadaan darurat, situasi yang gawat, sebuah asrama yang memencil di luar kota, dan sejumlah 120 perempuan yang dengan bayaran tertentu menyediakan diri untuk pelayanan itu. Rakyat membantu Sukarno sepenuhnya. Sebuah Buick hitam disediakan untuk Sukarno dengan bantuan bensin secukupnya, bisa ia isikan di mana saja. Seorang wartawan, Suska namanya, dengan ikhlas menjadi supir suka rela bagi Sukarno. Bila ada keperluan Sukarno, misalnya tablet kalsiumnya habis, tiba-tiba saja sudah ada yang mengantarkannya.   Bahkan baju untuk Inggit, Sukarno dan anak-anak angkatnya disumbang oleh orang-orang di Padang.

Yang juga sangat disadari oleh Sukarno adalah tindakannya bekerja sama dengan Jepang pasti dibenci oleh sekelompok pejuang lain yang menempuh jalan perang, menebarkan sabotase terhadap penguasa baru, dan melancarkan perlawanan terang-terangan. Sukarno menyaksikan sendiri kekejaman polisi militer Jepang, Kempetai, tanpa ia bisa berbuat apa-apa. Seakan hendak memberi contoh, seseorang yang tertangkap karena menentang Jepang, diikat pada sebatang pohon dan seseorang lain dikenal baik oleh Sukarno, Anwar namanya, disiksa di depan umum.

Kuku jari tangannya dicabut!

Dan, Sukarno menyaksikan penyiksaan itu.|

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s