10 November 1945: Surabaya, Surabaya, Oh, Surabaya!

Bung Tomo
Bung Tomo

Memang, setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, Inggris yang dilengkapi dengan pesawat terbang dan meriam di kapal-kapal perang mereka di pelabuhan, akhirnya berhasil menguasai kota Surabaya. Tetapi, Indonesia tetap dianggap memenangkan perang.

Indonesia telah memenangkan perang itu!

George M Cahin menuliskan penilaian tersebut di buku klasiknya Nasionalisme dan Revolusi Indonesia (Komunitas Bambu, 2013). Kenapa ahli sejarah berkebangsaan Amerika yang pada banyak peristiwa menjadi saksi mata langsung perjalanan revolusi Indonesia itu menilai demikian? “Karena Pertempuran Surabaya merupakan titik tolak perjuangan orang Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan,” ujar Kahin.

Apa yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 10 November 1945 itu? Hari ketika republik ini belum lagi berusia tiga bulan itu?

Cerita harus diurut ke bulan September 1943, bulan ketika di bawah organisasi besar bernama POETERA, Poesat Tenaga Rakjat, yang diketuai oleh Sukarno dibentuk Soekarela Tentara Pembela Tanah Air, alias PETA. Para soekarelawan, demikian sebutan resmi untuk prajurit-prajurit PETA itu, semula diberi latihan oleh Jepang dan dipersiapkan untuk membantu ‘saudara tua’ itu dalam melawan sekutu. Nyatanya, Jepang takluk, tanpa perlawanan! Sempat kacau dan kecewa ketika PETA dibubarkan pascatakluknya Jepang, mereka inilah yang menjadi tulang punggung tentara Indonesia dalam perang revolusi. Pada puncaknya, jumlah mereka telah mencapai kekuatan 120.000 dalam jumlah orang.

Sejak 29 Agustus 1945, Indonesia mulai menata kekuatan angkatan bersenjata. Mula-mula dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Lalu sejak 5 Oktober 1945 BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Doel Arnowo
Doel Arnowo

Dan mereka bersenjata.

Dan mereka sudah terlatih menggunakan senjata itu!

Tentara Sekutu yang di kawasan Asia Tenggara dipimpin oleh Inggris, setelah Amerika menolak, datang dengan satu misi: melucuti Jepang sebagai pihak yang kalah perang dan membebaskan para tawanan perang. Yang tak mereka bayangkan adalah para pemimpin dan pejuang Indonesia tak bisa dinihilkan. Para tentara eks-PETA merebut dan mempertahankan senjata yang ingin dilucuti oleh Jepang untuk diserahkan kepada Sekutu. Antara keduanya meletus pertempuran sepanjang bulan September 1945 itu, dengan skala yang makin lama makin meluas.

Puncaknya adalah pada dua minggu pertama Oktober. Pejuang Indonesia makin berani melawan Jepang untuk merebut penguasaan atas sejumlah kota penting, yaitu Garut, Bandung, Surakarta, Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya. Berhasilkah? Ya, Bandung, Garut, dan Surabaya sementara jatuh ke tangan para pejuang republik. Dan Yogyakarta pun berhasil dikuasai.

Itulah yang juga tak pernah diperhitungkan oleh Inggris. Tugas mereka lainnya yaitu memulihkan keamanan hingga pemerintahan bisa dikembalikan ke Hindia Belanda, mendapatkan perlawanan total! Siapa yang mau dijajah kembali? Tak ada! Demikian juga halnya arek-arek Surabaya.

Ketegangan hidup di Surabaya telah mulai meninggi sejak 1944. Pasukan Sekutu sudah menjatuhkan banyak bom di Surabaya untuk menaklukkan Jepang. Sejak itu kota digelapkan. Lampu jalan dimatikan. Lampu di rumah-rumah pun harus diredupkan dengan bungkus kertas.

Gubernur Surjo
Gubernur Surjo

Pada tanggal 22 Agustus, kelompok tempur yang menamakan diri Angkatan Muda Surabaya, menyerbu sentral listrik dan memaksa supaya lampu jalanan yang dimatikan dari sentral itu dihidupkan. Kota lalu menjadi terang benderang lagi. Keberanian para pemuda itu memvirus, menyebar, memberanikan seluruh kota.

Sementara itu, 19 September 1945, Inggris berhasil menguasai Semarang, dan terus bergerak ke timur. Mereka sama sekali tak menyangka akan mendapat perlawanan hebat di Surabaya. Perintah untuk menyerahkan senjata tentu saja tak digubris. Malahan, pada 28 Oktober 1945, pecah pertempuran pertama antara pemuda pejuang melawan Inggris.

Tiga hari bertempur.

Inggris keteteran.

Jakarta tak habis pikir. Begitu hebatnya perlawanan di Surabaya!

Rakyat mengepung tentara Inggris yang bertahan di beberapa titik di Surabaya, Gubeng, Wonokromo, Gedung HBS, Gedung Internatio. Enam ribu tentara Inggris terjepit. Di tengah-tengah pertempuran itulah siaran radio yang terus-menerus mengudarakan orasi Bung Tomo menemukan momentum sejarahnya.

Kalimat “Merdeka atau mati!” saat itu benar-benar menyala pada jiwa para pemuda Surabaya. Mati sebagai syuhada adalah harga yang pantas dan ikhlas mereka bayar untuk mempertahankan kemerdekaan.

Inggris lantas meminta Jakarta untuk mengendalikan Surabaya. Bung Karno, Bung Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin tiba di Surabaya pada hari kedua pertempuran, 29 Oktober 1945.

“Bagaimana ini orang Surabaya? Ini ‘kan Sekutu! Senjata-senjata itu ‘kan hak internasional?” kata Bung Karno. Sehari setelah kedatangan pemimpin republik, pertempuran redam. Di ruang kerja Gubernur Surjo perundingan digelar. Roeslan Abdoelgani, yang dari memoarnya di majalah Tempo, 24 Juni 1989, kisah ini bisa dibaca, menjadi sekretaris pihak Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta dan Amir Sjarifuddin ikut dalam perundingan. Dari pihak Inggris antara lain diwakili oleh Jenderal Mallaby.

Roeslan Abdulgani
Roeslan Abdulgani

Apa hasil perundingan itu?

Inggris harus menarik tentaranya dari daerah Darmo dan sekitarnya – ke arah Selatan, dan ditempatkan di pelabuhan. Pejuang Surabaya harus membuka kepungan, karena penarikan mundur pasukan Inggris itu tak boleh dihalangi. Untuk itu dibentuk sebuah biro kontak yang menjamin komunikasi di kedua belah pihak. Di biro itu duduk antara lain Jenderal Mallaby dari pihak Inggris, dan Jenderal Sudirman dari pihak Indonesia.

Hasil perundingan itu bisa diterima para pemuda Surabaya. Mereka bersedia mundur kecuali yang menguasai Gedung Internatio. Seharian gedung itu tetap diduduki. Dalam ingatan Roeslan di sekitar gedung itu memang didominasi oleh pemuda-pemuda Madura yang terkenal pemberani dan nekad. Sementara itu Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta.

Melihat kekerashatian para pemuda itu tim dari biro kontak turun tangan. Mallaby, Sungkono – sosok yang dianggap sebagai komandan, tapi pada dasarnya arek-arek itu bergerak spontan, Roeslan, dan beberapa tokoh lain datang untuk membujuk. Di tengah upaya meluluhkan hati para pemuda itulah tiba-tiba serentetan tembakan dilepaskan. Tak jelas siapa yang lebih dahulu menembak, tapi menurut kesaksian para pemuda, Inggrislah yang menyulut. Roeslan Abdulgani sendiri menyelamatkan diri dengan terjun ke Kali Mas dekat Jembatan Merah.

Dalam tembak-menembak itu Mallaby tewas! Mobil yang ia tumpangi dibakar!

Siapa yang menembak? Tak ada yang tahu. Dan ini belum lagi mencapai puncak. Ini justru menajdi awal dari pembuktian lain soal keberanian Surabaya.

Inggris marah dan mengeluarkan pengumuman yang mengancam: Ini adalah pembunuhan yang kejam. Maka, kita akan mengambil tindakan tegas terhadap ekstrimis-ekstrimis!

Mallaby lalu digantikan Jenderal Manserg yang luar biasa angkuhnya. Diam-diam Inggris mendaratkan 24.000 tentara tambahan. Menteri Amir yang masih berada di Surabaya menganggap informasi itu hanyalah hasutan. “Jangan kena provokasi. Inggris tidak akan mendaratkan lagi tentaranya!” ujar Amir berusaha menenangkan rakyat.

Sejak 6 November, Manserg sudah menyampaikan undangan kepada Gubernur Surjo untuk berunding. Tapi, perilaku angkuhnya membuat Soerjo – nama lengkapnya Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo –  menolak undangan itu. Tiga hari kemudian, Manserg mengulang lagi undangannya. Soerjo mengutus Roeslan, dan beberapa nama lain untuk datang ke kapal Batavia Wecht. Utusan ini membawa surat yang isinya antara balasan dan teguran atas sikap kasar Manserg. Surjo menulis, antara lain: Saya tidak mau lagi terima Tuan, kalau Tuan tidak bersopan santun!”

Mobil Jenderal Mallaby yang dibakar oleh pejuang-pejuang Surabaya, di dekat Jembatan Merah.
Mobil Jenderal Mallaby yang dibakar oleh pejuang-pejuang Surabaya, dalam peristiwa di dekat Jembatan Merah. Mallaby tewas tertembak.

Pertemuan di atas kapal itu berlangsung hingga pukul sebelas, lalu kembalilah para utusan itu dengan surat balasan yang sama sekali tak diduga: sebuah ultimatum! Kalau hingga jam enam sore polisi, pemuda, pemimpin pemerintahan, dan orang-orang radio tiak datang di dua tempat, yaitu Perak dan Darmo, dengan angkat tangan membawa bendera putih, menyerahkan senjata, kemudian menandatangani penyerahan tanpa syarat, maka akan kami gempur Surabaya! Untuk membersihkan kaum ekstremis, membersihkan perampok-perampok!

“Kurang ajar!” Cak Doel Arnowo memaki! Dia salah satu perwakilan yang bersama Roeslan datang ke Batavis Wecht.

Pesawat sekutu keesokan harinya, 9 November 1945, menderu di atas Surabaya, menghujankan pamflet ancaman: Kalau jam enam sore tidak menyerah, maka Surabaya akan digempur!

Jenderal Mallaby
Jenderal Mallaby

Satuan-satuan pasukan tempur, anggota BKR, tentara pelajar yang tergabung dalam TRIP, pemimpin para pemuda, juga Bung Tomo, berkumpul membahas ancaman Inggris itu. Hasil perundingan: Surabaya tak akan menyerah! Tapi, Jakarta harus diberi tahu lebih dahulu. Doel Arnowo menelepon Menteri Luar Negeri Achmad Subardjo.

“Bagaimana ini?”

“Sabar dulu. Ini baru diadakan perundingan dengan Inggris supaya mereka mencabut ultimatumnya!”

Jam yang ditetapkan dalam ultimatum Inggris terlewati. Ketegangan meninggi. Belum ada kabar soal hasil perundingan dan apakah Inggris mau mencabut ultimatumnya. Tak sabar menunggu, Cak Doel menelepon Bung Karno.

Wong Suroboyo iki bongo,” kata Sukarno. Bongo, keras kepala. “Pokoknya tunggu, masih diadakan perundingan.”

Pukul sebelas malam, ada kabar dari Jakarta, Inggris tak mau mencabut ultimatum. Lalu apa instruksi Jakarta? “Terserah Surabaya!” kata Menteri Subardjo. Jawaban ini mengecewakan para pemimpin Surabaya yang menunggu berkumpul di Hotel Maraike. Mereka sepakat untuk meminta Gubernur Surjo pidato radio, saat itu juga.

“Segala usaha kita untuk mengusahakan perdamaian tidak berhasil. Apa boleh buat. Sekarang kita siap menghadapi segala-galanya,” ujar Gubernur Surjo. Usai pidato itu rakyat langsung membangun barikade.

Kota dikosongkan.

Pasien rumah sakit dibawa ke tempat aman.

Keluarga diungsikan.

Para pemuda sama sekali tak menyimpan keraguan untuk bertahan, mempertahankan Surabaya.

sir robert manserg
Jenderal Manserg

Pagi, pukul 6 pagi, 10 November 1945, bom pertama jatuh di Gedung Kempetai. Lalu menyusul berapa bom lagi, menyebar, mengincar titik-titik penting kota Surabaya. Pertempuran pecah di mana-mana. Tunjungan banjir darah. Inggris dengan 30 ribu tentara dengan jumawa meramalkan akan bisa menaklukkan kota dalam tiga hari. Keangkuhan yang nyaris membuat mereka putus asa. Pemuda Surabaya membeli tunai dengan perlawanan yang tak terperhitungkan: 21 hari pertempuran habis-habisan, meskipun harus dibayar dengan 16 ribu nyawa rakyat Surabaya. Inilah gerilya kota paling dahsyat dalam sejarah perang revolusi kita, sampai-sampai Inggris menyebutnya sebagai inferno, neraka! Ribuan nyawa tentara Inggris melayang.

George M Cahin, tentu sangat yakin ketika ia sampai pada kesimpulan yang dikutip diawal narasi ini, yang ingin kita ulangi lagi disini: setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, Inggris yang dilengkapi dengan pesawat terbang dan meriam di kapal-kapal perang mereka di pelabuhan, akhirnya berhasil menguasai kota Surabaya. Tetapi, Indonesia tetap dianggap memenangkan perang.

Tepatnya: Arek-arek Surabaya telah memenangkan perang itu!

Jakarta yang merasa bersalah karena gagal menyelesaikan kemelut Surabaya dengan perundingan, dan kegagalan itu harus dibayar dengan belasan ribu nyawa rakyat Surabaya, pada tahun 1946 dengan serta-merta menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan! Dan Surabaya pun menjadi kota Pahlawan. Sebuah sebutan yang sangat pantas! | Hasan Aspahani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s