Pelarian Sukarno, Pasukan Jepang, Menggantang Asap Beracun

Hoofdredacteur “Radio” Ditahan
               Menoeroet soember Bode Hoofdredacteur dari harian Radio di Padang T. Madjid Oesman telah ditahan karena mempoenjai hoeboengan dengan bangsa Djepang. Ia beristri perempoean Djepang dan doeloe poen beberapa waktoe ia pernah tinggal di Djepang. Toean terseboet adalah seorang anggaoeta dari Gemeente Raad, istrinja dinterneer.
 Berita Oemoem, 2 Januari 1942.

JEPANG menyerbu Sumatera pada 12 Februari 1942. Mula-mula mereka mengusir Belanda dari Palembang. Penting bagi Jepang untuk segera menguasai kota kunci ini karena kilang-kilang besar minyak ada di sana, dan sebuah pertimbangan strategis militer: dari kota ini lalu lintas laut menuju Jawa bisa diawasi. Sukarno mengikuti setiap perkembangan perang itu dari Bengkulu, kota kecil di pesisir barat Sumatera, yang mengurungnya dalam radius 40 km, tempat pembuangan keduanya setelah Ende, Flores.  Palembang dan Bengkulu dipisahkan oleh kawasan pegunungan Bukit Barisan tapi bagi Jepang itu bukan halangan. Dan terhadap Jepang, Belanda sama sekali tak melakukan perlawanan. Dengan kekhawatiran serbuan Jepang meluas ke utara Sumatera, maka Belanda pun meninggalkan Bengkulu, menghancurkan fasilitas penting seperti stasiun penjualan bensin, dan membawa serta Sukarno. Tokoh interniran ini, kini statusnya entah tawanan perang atau kartu truf yang kelak dimanfaatkan untuk tawar-menawar dengan Jepang. Tapi, yang pasti adalah penting bagi Belanda untuk terus menguasai dan mengawasi Sukarno.

Beberapa malam sudah, Inggit Garnasih merasakan bahwa rumah mereka diawasi oleh polisi yang makin banyak dan dengan intensitas keawasan yang meningkat. Akhirnya, perintah untuk segera meninggalkan Bengkulu disampaikan ketika Sukarno dipanggil dan datang ke kantor polisi setempat. “Segera kemasi barang-barang, Tuan. Kami harus membawa Tuan keluar dari kota ini.”

“Kapan?”

Polisi berkulit coklat itu sama saja sombongnya. “Malam ini juga! Tuan jangan banyak tanya. Ikuti saja perintah.”

Sukarno dan keluarga akan dibawa diam-diam tengah malam itu. Ini pelarian yang dirahasiakan. Mereka hanya boleh membawa dua koper kecil untuk pakaian.

“Tuan jangan coba-coba melarikan diri,” kata si polisi pengawal itu. Hingga saat keberangkatan, rumah Sukarno dikawal lebih ketat.

Sukarno telah membayangkan perjalanan yang berat, ia mempertimbangkan Kartika, anak angkatnya yang saat itu baru delapan tahun. Inggit, istrinya, dan pembantu setianya Riwoe Ga, pemuda 20-an tahun asal Ende, tentu saja jauh lebih siap.

“Kalau boleh bertanya, kemana kami akan dibawa?”

“Ke Padang. Di sana tuan akan selamat dan aman. Tentara kita dipusatkan di sana untuk membantu pengungsian. Semua pelarian di Sumatera dikumpulkan di Padang,” jawab si Polisi.

Ada pelabuhan besar di Padang yang mengangkut pengungsi Belanda ke Australia. Sukarno dengan lekas memahami situasi itu. Ia sendiri tak tahu akan diapakan oleh Belanda. Apakah juga akan dibawa ke Australia? Mungkin.    Ia mendengar ada tujuh kapal yang akan datang menjemput. Bagi Sukarno, dengan mengkalkulasi semua risiko, tidaklah terlalu menguntungkan jika ia harus meninggalkan Indonesia. Ke Australia? Di sana mungkin dia aman, tapi itu sama saja ia dibuang lagi ke tempat yang jauh lebih jauh.

Bagi Inggit ini juga perjalanan yang berat. Rumah tangganya dengan Sukarno ibarat piring keramik lama yang indah dengan retak yang mencari belah. Mereka bertengkar, dan pertengkaran itu belum terselesaikan. Sukarno telah meminta izin padanya untuk menikahi Fatmawati, gadis seumur Ratna Djuami – anak angkat Sukarno dan Inggit – putri seorang tokoh Muhamadiyah di Bengkulu. Inggit mengizinkan, hanya jika ia diceraikan terlebih dahulu. Ia tak meragukan cinta Sukarno padanya. Tapi ia telah berpantang untuk dimadu.

Perjalanan membawa lari Sukarno dimulai dengan sebuah truk pikap yang sejak siang sudah disembunyikan di belukar tak jauh dari rumah Sukarno. Empat polisi, Sukarno, Inggit, anak angkat, dan pembantunya, ditambah barang-barang yang dibawa segera membuat kendaraan itu penuh. Ketika menemui fajar mereka harus menyeberangi sungai dengan rakit, memberi mereka waktu untuk sembahyang subuh.

Perhentian pertama adalah Muko-Muko, kota paling utara di Karesidenan Bengkulu, tepat berbatasan dengan wilayah Sumatera Barat. Itu artinya sudah 240 km ditempuh, dengan menyeberangi belasan sungai yang dangkal dan tak berjembatan, dan baru tiba ketika hari sudah di ujung petang. Tak penuh semalam bermalam, pukul 3 pagi mereka memulai lagi perjalanan. Kali ini dengan pedati beratap yang ditarik sapi yang hanya memuat barang bawaan. Adapun mereka harus berjalan kaki. Empat polisi bersenjata mengawal mereka. Juga dua ekor dutchhound – anjing Jerman berkaki pendek dan berbadan panjang, yang oleh Sukarno diberi nama lucu Ketuk Satu dan Ketuk Dua, sudah mereka bawa sejak mulai berangkat dari Bengkulu.

Hutan yang harus mereka lalui hanya mempertemukan mereka dengan primata liar Sumatera, siamang, beruk, dan kera. Ratusan jumlahnya. Bergelantungan. Melompat. Bising dengan suara teriakan mereka yang asing. Dan menakutkan bagi yang tak terbiasa. Inggit merasakan itu. Nyalinya ciut. Apalagi ketika jejak-jejak sekawanan harimau tampak di jalanan yang becek. Jejak yang menandakan bahwa kawanan itu baru saja melintas. Sukarno menenangkan diri, dengan cara itu ia menenangkan keluarganya. Jika salah satu dari mereka – atau sapi si penarik pedati – lelah, maka mereka beristrirahat. Sesekali si kecil Kartika ditumpangkan pada pedati.

Mereka sampai di sebuah dusun kecil, hanya ada lima gubuk di sana, ketika magrib telah meremang-remangkan jalan di hutan itu. Tak ada yang mengenal Sukarno di dusun di tengah hutan itu. Penghuni salah satu gubuk menyingkir malam itu untuk memberi tumpangan pada mereka.

Bagi tubuh yang lelah, tidur beberapa jam di tempat yang tak nyaman tak akan pernah terasa cukup. Sukarno membangunkan keluarganya – juga polisi pengawal – untuk melanjutkan perjalanan lagi. Subuh masih sangat muda. Apa yang mereka lihat di hutan yang mereka lalui adalah sama saja, hanya pengulangan dari perjalanan hari sebelumnya, kecuali tenaga yang sudah sangat berkurang. Maka, ketika siang harinya mereka menemui sungai, Inggit menggembirakan diri dengan mandi, tak peduli dengan itu basah semua pakaian yang ia kenakan. Lalu dengan pakaian yang basah itu pula ia melanjutkan perjalanan, ia biarkan begitu, sekeringnya nanti saja di perjalanan.

Inggit tidak tahu apa nama kota kecil yang mereka temui selepas dari perjalanan dua malam menembus hutan itu.  Ia terlalu gembira. Ia juga tak terlalu peduli ketika mereka diserahterimakan seperti tawanan saja, di sebuah kantor polisi. Mereka tak bermalam di situ, tapi dengan pengawal baru, mereka langsung ke Kota Padang. Mereka menginap di sebuah hotel. Dua hari di sana. Di hari kedua, barulah Inggit merasa heran, mereka tak lagi dikawal. Mereka seperti dilepaskan begitu saja.

Sukarno lalu menemui dr. Waworuntu, seorang dokter nasionalis yang sudah ia kenal sejak di Bengkulu. Ia dan keluarganya – anaknya sepantaran usia Kartika, dan ketika di Bengkulu adalah teman sekolah – kini menetap di daerah Belatung Kecil, Padang, dan dengan keramahan penuh memberi tumpangan pada keluarga Sukarno. Kepindahan dari hotel ke rumah kerabatnya itu dengan sepengetahuan Belanda.

Beberapa hari hidup menumpang, Sukarno belum tahu apa rencana Belanda. Meskipun tak lagi diawasi, sesekali polisi Belanda masih datang menemuinya. Pada suatu kunjungan, polisi itu memerintahkan Sukarno berkemas. Malam itu juga dia akan diterbangkan atau dibawa berlayar ke Australia atau Suriname. Di Suriname ada dr. Douwes Dekker yang dibuang karena dituduh menjalin kerjasama dengan Jepang. Penangkapan dan pembuangannya terjadi setelah ada satu misi dagang Jepang datang ke Batavia, dan satu hal paling dibicarakan dari apa-apa yang mereka lakukan adalah menemui dua anggota Volksraad dr. Doewes Dekker dan Moehamad Hoesni Thamrin di akhir 1940. Tak berselang lama, awal 1941, PID menggeladah rumah kedua tokoh nasionalis itu. Thamrin mendadak meninggal, lima hari setelah penggeledahan meninggalkan satu kabar angina bahwa beliau telah diracun.   Hoesni Thamrin adalah anggota Volksraad yang terkenal sangat berani. Kematiannya, dalam rangkaian kejadian yang mencurigakan itu, adalah kehilangan besar, dan mengeskalasi kebencian makin besar kepada Belanda.

Tak ada rencana yang pasti. Sukarno pun bersiap-siap lagi. Mereka menunggu lagi. Malam itu, hingga tengah malam tak ada pihak Belanda yang menjemput. Mereka tertidur. Lalu terbangun oleh kumandang azan subuh dan igau dari mimpi buruk Kartika. Tak datang juga si penjemput. Keesokan harinya, Sukarno diberi tahu bahwa kapal yang sedianya akan membawa mereka diserang Jepang dan tenggelam di Pelabuhan Teluk Bayur.

Episode singkat, bulan-bulan terakhir Sukarno di Sumatera, dimanfaatkan juga oleh penguasa Hindia Belanda untuk melancarkan fitnah padanya. Ia dikabarkan pernah meminta agar diamankan ke Australia, karena takut Jepang akan membunuhnya sebab seperti Hatta di Banda, ia juga menulis artikel yang anti-Jepang. Benar bahwa Sukarno menulis analisa bernada anti-Jepang, tapi selebihnya tuduhan yang berbau fitnah itu tak pernah terbukti.

Padang, pada hari-hari itu menjadi pusat kepengecutan dan keciutan Belanda di Sumatera. Mereka panik, kota ini menyambut Sukarno dengan kekacauan. Toko-toko ditutup dan ditinggalkan. Sebagian dibongkar dan dijarah. Belanda masih berupaya membawa Sukarno ke Australia dengan pesawat lain, tapi semua pesawat terpakai, penuh, dan yang tersisa pun tak bisa diterbangkan. Sukarno sementara itu terus berusaha menghubungi kontak-kontaknya di Jawa. Ia ingin tahu kabar anak angkat Ratna Djuami, yang tentu sudah menikah dengan Asmara Hadi. Ia ingin tahu bagaimana kabar Jakarta.

Dan, ketika Jepang sampai di Padang, rakyat menyambut mereka sebagai pembebas! Kota itu mengibarkan bendera merah putih. Pada kesempatan pertama, Kapten Sakaguchi, komandan pasukan Jepang yang memasuki Sumatera Barat menemui Sukarno. Harapan mendapatkan kebebasan dari penjajah baru ternyata cuma menggantang asap. Asap beracun pula! |

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s