Bekas Peluru di Dinding Catalina

Ambon Diserang dengan 20 Bom
Tadi malam ada beberapa tempat militair dan marine dekat Ambon diserang oleh delapan mesin perang Djepang. Bom jang didjatoehkan lebih dari 20 banjaknya dan lagi ditembaki dengan mitrailleur poela sehingga ada keroesakan sedikit. Seorang opzichter preman dari Militaire Luchtvaart dan seorang skelwak dapat loeka enteng. Di antara pendoedoek preman tiga orang mati dan doea orang loeka. Di beberapa tempat lain di tanah seberang seperti pada hari jang soedah2.
Berita Oemoem 8 Januari 1942

JIKA Hatta dan Sjahrir yang sudah delapan tahun dibuang – setahun di Digoel dan tujuh tahun di Banda, tiba-tiba hendak dikembalikan ke Jawa, maka tentu Pemerintah Hindia Belanda sudah menghitung apa untungnya tindakan itu buat mereka sendiri.

Begini situasinya: Jerman menyerbu dan empat hari kemudian menduduki kerajaan Belanda. Ratu Wilhelmina dan parlemen Belanda terusir dan terpaksa memerintah dari tempat pengungsiannya di London, Inggris. Bagaimana kegawatan seperti itu tidak menjalar hingga ke Hindia Belanda? Bagaimana kepanikan tidak menjalar ke negeri yang sudah tiga abad lebih mereka kuasai, yang serta-merta jadi terkucil, karena kiriman pos macet – dan orang pun tak bisa bepergian – dari dan ke Belanda (Maka batallah semua persiapan rencana indah kedatangan Maria “Mies” Duchateau, istri Sjahrir yang dulu di Medan direnggut darinya dan diusir ke Belanda)?

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Veilige_ligplaats_voor_schepen_te_Banda_Neira_TMnr_3728-863
Pemandangan Banda Neira (litograf yang didasarkan pada lukisan Josias Cornelis Rappard, 1883-1889).

Sementara Jepang yang bersekutu dengan Jerman dan Italia – meneken Pakta Tripartit di Berlin, 27 September 1940, membentuk blok poros fasis (Hatta ingat pada empat ekor kucing jantannya yang ia beri nama-nama penguasa otoriter Hitler, Musollini, Franco, dan Turky) – telah bergerak cepat menguasai Asia, dimulai dengan serangan mendadak di pangkalan Amerika Serikat Pearl Harbour di Hawaii, dan tak perlu waktu lama untuk sampai menyerbu wilayah yang dikuasai Hindia Belanda.

Tak pernah penguasa kolonial yang angkuh itu dilanda situasi semengancam itu. Mereka panik. Harga diri mereka sesungguhnya telah terhempas jatuh.  Melawan Jepang bagi Belanda saat itu ibarat membandarkan air ke bukit. Tentara yang dimiliki Hindia Belanda tak cukup untuk menahan Pasukan Kuning dari utara. Lagipula mereka juga tak pernah mempersiapkan rakyat di negeri jajahan untuk terlibat menghadapi ancaman semacam itu. Apa yang dulu diusulkan Mohammad Hoesni Tamrin di Volksraad dimentahkan.

Di akhir tahun-tahun kolonialisme Belanda, mereka justru mendirikan Koninklijke Militaire Academie (KMA), sekolah untuk para perwira tentara; Handel Hoge School atau Sekolah Tinggi Perdagangan); dan sebuah fakultas sastra, Letterkundige Faculteit. Bukan itu yang diminta oleh orang-orang Indonesia. Itu menegaskan bahwa Belanda hanya akan meneruskan politik kolonial. Tak ada perubahan sikap, meskipun itu sudah didesak, diminta, dan diperingatkan, untuk kepentingan Belanda sendiri. PNI-Pendidikan, dengan Hatta dan Sjahrir sebagai motornya, juga Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang digerakkan oleh Mr. Amir Sjarifoeddin dan A.K. Gani, sudah mengingatkan jauh-jauh hari bahaya fasis dan Jepang ada di poros itu. Tapi alih-alih peduli, para pemimpin ditangkapi dan diasingkan!

[Tulisan ini adalah bagian dari Roman Revolusi – 1945, Merdeka, Sekarang! ]

Seorang anggota Volksraad, pada tahun 1938, Soetardjo Kartohadikusum, pernah juga mengemukakan sebuah usulan resmi di dewan rakyat itu, tentang perlunya Belanda memberikan hak-hak baru kepada bangsa Indonesia untuk ikut menjalankan pemerintahan di Hindia Belanda, usulan apa yang kemudian terkenal dengan nama “Petisi Soetardjo’”.

Jadi sudah sangat terlambat ketika Perang Pasifik berkobar, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan wajib militer kepada penduduk pribumi, untuk memperkuat pertahanan Hindia Belanda. Ada yang namanya Stads-en Landswacht, Inheemse Militie, Lucht Beschermings Dienst! Apapun namanya, upaya memiliterkan rakyat sipil itu ditolak mentah-mentah. Para pemuda, yang jadi sasaran utama ajakan itu tak mau menjadi tameng dan korban sia-sia untuk melindungi tentara Belanda.

 

Belanda makin panik. Salah satu bentuk kepanikan itu adalah rencana mengembalikan Mohamad Hatta dan Sutan Sjahrir ke Jawa. Jika Hatta dan Sjahrir jatuh ke tangan Jepang, maka kedua tokoh itu bisa dimanfaatkan untuk propaganda melawan Belanda. Maka, adalah penting bagi Belanda untuk selekasnya mengamankan dan memanfaatkan mereka berdua terlebih dahulu.

Hatta dan Sjahrir mula-mula nanti masih ditahan lagi di Sukabumi. Tempat yang cukup aman. Cukup jauh dari Batavia sehingga pengaruh mereka kepada orang-orang pergerakan di Batavia bisa diawasi, tetapi juga cukup dekat sehingga jika mereka diperlukan bisa dengan lekas dihubungi. Lagi pula, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang lebih dahulu dibuang ke Banda dan lebih dahulu pula dikembalikan karena sakit, telah berada di kota di selatan Jawa Barat itu.

Di luar kepentingan Belanda sendiri, ikhtiar memulangkan Hatta dan Sjahrir ke Jawa sesunguhnya juga telah dilakukan oleh beberapa orang pergerakan di Batavia. Juga atas pendekatan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang sebelum dipulangkan sempat memimpin unjuk rasa di Makassar menentang fasisme Jepang. Itu satu hal. Hal lain adalah sebuah tulisan Hatta yang dimuat beberapa surat kabar tentang sikapnya yang mendukung Sekutu. Hatta memang seorang pembenci fasis sampai ke tulang. Ia seorang demokrat yang sesungguhnya. Tersiarnya artikel itu bisa jadi semacam kecelakaan juga. Ketika Sjahrir mendapatkan ringkasannya dari Hatta, ia menyarankan agar sebaiknya itu tak usah dipublikasikan. “Saya kira ini tulisan bisa berakibat macam-macam pada pergerakan kita yang tak bisa kita ramalkan,” kata Sjahrir. “Tak ada gunanya menulis sesuatu yang bisa ditafsirkan sebagai dukungan kepada Belanda dengan cara seterbuka itu.”

“Aduh, celaka! Saya sudah suruh kirim artikel ini sejam yang lalu,” kata Hatta. Upaya untuk menahan surat tersebut dengan mengejarnya ke kantor pos sia-sia. Surat berisi artikel itu telah terbawa kapal pos.

Sementara Hatta masih di Banda, ia tahu, artikel itulah yang diterjemahkan oleh pihak Belanda ke beberapa bahasa daerah sebagai bahan propaganda melawan Jepang.

***

Terhadap tawaran untuk pulang ke Jawa itu, keduanya mula-mula tak langsung mengiayakan. Bukankah dulu mereka ditangkap lalu dibuang sama sekali tanpa proses pengadilan dan hanya dengan secarik surat, bahwa mereka: ….menyebarkan kebencian dan berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum, menurut pasal 37 Indische Staatsregeling, dan bersesuaian dengan Dewan Hindia (Raad van Indie)? Sjahrir ingin kebijakan menginternir dihapuskan. Dan semua orang-orang yang dibuang dikembalikan, terutama yang tengah berada di Digoel.

Perintah resmi itu akhirnya datang pada 10 Desember 1941, langsung dari Gubernur Hindia Belanda Tjarda van Stakenbourg-Stakenhauer. Hatta dan Sjahrir minta agar mereka boleh membawa anak-anak angkat mereka, Lily, Mimi – keduanya cucu dari Said Baadillah, Does – keturunan Pangeran Diponegoro yang bercampur darah dengan dr. Heyder, Ali, dan Des Alwi. Tampaknya merepotkan, tapi tanpa banyak tawar-menawar permintaan para lelaki lajang itu disetuju.

Sampai akhir bulan Desember itu, belum ada kepastikan kapan, dan bagaimana mereka berangkat dari Banda Naira ke Jawa. Penerbangan KNILM Maluku- Makassar sudah ditiadakan. Jadi rasanya tak mungkin mereka pulang dijemput pesawat. Dalam masa menunggu kepastian keberangkatan itu ada kabar tak sedap bahwa kedua tahanan politik itu akan dijemput Fomalhaut, atau kapal putih, yang akan membawa mereka ke Australia, negara di mana para petinggi penguasa Belanda di Hindia Belanda mengungsi.

Jika itu benar, Hatta akan menolak. Ia tak akan mau dibawa ke Australia.

Banda yang hendak ditinggalkan oleh Hatta dan Sjahrir adalah Banda yang bersiap menghadapi serangan Jepang. Keadaan serba kacau. Di wilayah sekecil itu, kontroleur membentuk Badan Antiserangan Udara dan Badan Distribusi Makanan. Penduduk diharuskan membangun bunker bawah tanah (dengan ancaman keras dari Kloosterhuis: Barangsiapa tak membuat tempat perlindungan bawah tanah akan diberi hukuman berat!). Gong dan tifa disiapkan untuk ditabuh serentak sebagai peringatan jika ada serangan udara.

Tak ada sawah dan hutan sagu di Banda. Beras didatangkan dari luar daerah. Karena itu tiap jengkal tanah kosong ditanami, keladi, singkong, atau ubi.

Sampai akhir Januari 1942, belum juga ada kepastikan keberangkatan Hatta dan Sjahrir. Sementara mereka sudah lama bersiap. Buku-buku Hatta sudah dikemas dalam peti-peti, saking banyaknya, lebih banyak daripada peti yang ia bawa dulu waktu pertama berangkat dibuang ke Digoel. Buku-buku yang harus dikemas selama tiga hari.

Akhirnya, subuh, 31 Januari 1942, sebuah Catalina yang dicat hitam – itu sebabnya ia dijuluki black cat – menderu di atas Banda. Berputar-putar sebelum mendarat di Teluk Naira dan berhenti di dekat dermaga. Catalina adalah pesawat amfibi yang didesain untuk mendarat di air – yang mengambil banyak peran untuk Amerika selama perang. Banyak pekerjaan militer yang dikerjakan dengan pesawat ini: pengeboman di daerah musuh, melawan kapal selam, pengangkutan, dan kerja-kerja pencarian dan penyelamatan.

Dua orang awak Catalina tadi mendayung sendiri perahu karet ke dermaga. Tak ada yang menjemput. Lalu kedua pilot Amerika yang amat jangkung itu berjalan kaki ke rumah Kontroleur.

“Ini dia. Ini saatnya. Semua bersiap. Kita segera berangkat!” kata Sjahrir membangunkan anak-anak angkatnya dari tidur terakhir mereka di Banda.

Terlambat sedikit saja, jemputan pesawat itu akan sia-sia. Lewat serangan laut dan udara Jepang saat itu sudah menguasai Minahasa dan Kendari. Sehari sebelumnya juga sudah terdengar kabar bahwa Jepang sudah mendarat di Ambon. Mereka hanya punya waktu bersiap selama 30 menit. Sebelum pukul 07.00 waktu setempat pesawat sudah harus terbang membawa mereka. Hatta menenteng tas dan dua kotak karton kecil. Meski kepergian itu sudah disiapkan lama, masih saja berat bagi penduduk Banda melepas Hatta dan Sjahrir. Dua tokoh ini telah dengan bangga mereka terima menjadi bagian dari hidup mereka, mengajar anak-anak mereka, berlayar keliling pulau, dan membangun klab sport. Dua tokoh ini bagi orang Banda Naira telah menjadi selauk senasi, sekain sebaju.

“Tuan-tuan, tolong jangan tinggalkan kami,” kata Kepala Desa.

Dan seorang perempuan meratap, meraungkan tangisannya, tak ikhlas melepas dua tokoh yang sudah tujuh tahun hidup di Banda. Di jalan-jalan kampung, di rumah kedua tokoh itu selama ini menetap, juga di dermaga, mereka berkumpul melepas Hatta, Sjahrir, dan anak-anak angkat mereka. Tapi, Hatta dan Sjahrir harus mengatasi segala kecengengan itu.

Mereka harus kembali ke Jawa. Semua calon penumpang ditimbang dahulu, juga barang-barang yang akan dibawa. Hatta harus merelakan dua peti bukunya ditinggalkan dulu untuk mengurangi 130 kg beban yang melebihi kapasitas angkut pesawat. Hatta masih sempat mengeluarkan dua buku dari peti itu: Netherlandes Indie dan Lekkerkerker. Mimi dan Lily harus meninggalkan satu koper masing-masing. Sjahrir pun harus berpisah dengan mesin ketik Remington kesayangannya, dan gramofon beserta piringan hitam lagu-lagu klasik Chopin, Brahm, Mozart dan Tsakowsky, dan jazz dari Benny Goodman, Joe Loss, juga Artie Shaw, serta kenangan akan Jojy, anjing setianya yang menggonggong setiap kali ada PID mendekat ke rumah, yang kemudian ditembak polisi Belanda, dan dengan luka tembakan itu masih bisa tertatih pulang ke rumah menemui tuannya.

“Ini pesawat harus terbang 12 jam, tanpa refuelling, langsung ke Tanjungperak, Surabaya,” kata Kapten Pilot. Ternyata masih ada kelebihan berat beban 70 kg.

Does tiba-tiba menghilang diculik pamannya. Des Alwi memutuskan untuk tidak ikut. Sjahrir yang paling terpukul dengan keputusaan itu. “Des, anak baik. Kau boleh tinggal sekarang. Jagalah buku-buku kami yang tertinggal. Tapi secepat mungkin susullah kami ke Jawa. Tak lama lagi, akan ada kapal Belanda yang seharusnya menjemput kami. Ikut kapal itu,” kata Sjahrir.

Des menangis.

Tadinya, dia sudah punya alasan untuk tak meninggalkan Banda.

Barang-barang bawaan dan penumpang diangkut dengan orambai, perahu kecil milik penduduk. Catalina itu tampak menyimpan lubang-lubang bekas tembakan di beberapa tempat di sepanjang badannya.

Hanya satu jam setelah Catalina berangkat, badai besar melanda Banda. Lalu disusul hujan lebat dan gempa. Pohon-pohon besar tumbang, dan atap-atap rumah terlepas. Sore hari, ketika badai itu berhenti, tiba-tiba turun pula hujan debu. Ada gunung api yang meletus, tak jauh dari pulau itu.

Dan, pada 1 Februari 1942, pesawat-pesawat Jepang menyerang Banda. Pesawat bertanda merah pada sayap gandanya, melesat dengan kecepatan yang selama hanya 15 menit, menggentarkan hati penduduk Banda, menjatuhkan sedikitnya 12 bom, dan serentetan tembakan senjata otomatis. Lalu deru enam mesin tempur udara itu lenyap. Benteng Nassau dan stasiun radio menjadi sasaran pengeboman. Selebihnya serangan itu hanya sebagai peringatan bahwa tentara Jepang sudah ada di Ambon.

Catalina yang menjemput Hatta dan Sjahrir adalah satu-satunya yang tersisa dari enam pesawat sejenis milik Amerika Serikat yang berpangkalan di Ambon. Pesawat itu pun sebenarnya telah diperintahkan untuk segera kembali ke Jawa. Dalam perjalanan pulang itulah, sang pilot diminta untuk menjemput Hatta dan Sjahrir. Sejak berangkat di Ambon, pesawat ini sudah diserang. Lubang-lubang bekas peluru yang tadi dicermati oleh Sjahrir, yang melukai dinding pesawat di beberapa tempat adalah bekas peluru senapan mesin pesawat tempur Jepang!

Hatta dan Sjahrir mendapat gambaran dari si awak dan si pilot Amerika bahwa ini adalah penerbangan yang berbahaya. Berbahaya karena mereka akan melewati udara Kendari yang sudah dikuasai Jepang. Dan ketika nanti mereka mendarat di Surabaya ada ancaman bahaya lain karena posisi Bali yang sedemikian terbuka. Setiap saat Jepang bisa menguasai pulau di sebelah timur Surabaya itu. Beberapa kali, Catalina penjemput itu menemui pesawat Jepang yang sedang terbang lebih rendah. Benar-benar 13 jam yang menegangkan! Tapi ketenangan luar biasa yang ditunjukkan pilot dan awak pesawat tempur itu meneduhkan. Sjahrir mengambil kesempatan untuk bercakap dengan prajurit-prajurit Amerika itu. Gerak serang Jepang tak akan bisa ditahan, kata mereka. Jepang terlalu unggul dalam pertempuran di laut dan di udara.

“Tapi semakin jauh mereka bergerak ke Selatan, semakin jauh mereka dari negeri mereka, semakin panjang jalur komunikasi yang harus mereka bangun. Maka akan semakin lemah koordinasi mereka,” kata Si Pilot. Hatta mencatat itu dalam pikirannya. Memperkaya bahan analisanya.

Sjahrir dan Hatta dan anak-anak angkat mereka sesungguhnya juga bergairah dengan penerbangan itu. Inilah penerbangan pertama mereka. Inilah kontak pertama mereka dengan dunia luar setelah bertahun-tahun diasingkan. Dan inilah juga kontak pertama mereka dengan perang dunia yang mengubah dunia.

Mengubah arah perjuangan, nasib, dan sejarah Indonesia. |  Hasan Aspahani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s