Strukturalisasi Pengalaman, Imajinasi, dan Nilai

| Oleh Kuntowijoyo |

imagination

BURU-BURU harus dikatakan bahwa pada dasarnya seseorang menulis itu harus dengan intuisi, tidak dengan formula apapun. Artinya cerita rekaan begitu saja keluar secara langsung, alamiah, dan sederhana. Meskipun setiap penulis pasti mempunya kiat sendiri-sendiri, tetapi barangkali pengalaman saya di bawah ini ada kesamaannya dengan pendekatan teman-teman penulis lain.

Pada mulanya cerita-cerita selalu mulai dengan gagasan yang sangat sederhana. Gagasan cerita telah mengendap beberapa lama, menjadi satu dengan pikiran saya, kemudian menggoda untuk dituliskan. Gagasan-gagasan cerita timbul tenggelan dalam benak saya sejak lama, sehingga banyak cerita yang sudah terpikirkan dua puluh tahun yang lalu atau lebih tua lagi baru dituliskan pada tahun-tahun 90-an. Misalnya cerita saya Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Kompas, 1997) — yang berkisah tentang orang mencari jimat dengan menggigit telinga orang yang meninggal pada hari Selasa Kliwon — berasal dari gagasan cerita pada pertengahan pertama dasa warsa 1960-an. Setelah dipikir-pikir, saya ragu menuliskannya, sebab jangan-jangan gagasan itu tidak lagi realistis. Saya berani menuliskannya pada pertengahan 1990-an ketika tukang yang bekerja pada saya minta cuti untuk menjaga kubur orang yang meninggal pada hari Selasa Kliwon. Gagasan tentang jimat itu masih hidup di pedesaan sekitar Yogya pada tahun 1960-an. Demikianlah, maka saya berani menuliskannya.

Menyimpan gagasan cerita memang dapat menjadi beban apalagi kalau cerita-cerita itu menumpuk. Untunglah saya punya kebiasaan menulis sinopsis cerita dalam buku yang saya ‘Catatan Kecil’ sejak 1962, sehingga gagasan-gagasan itu tidak menjadi beban ingatan saya. Selain itu, ‘Catatan Kecil’ membuat saya tetap optimis bahwa saya masih akan mampu menulis, meskipun lama ‘pensiun’. Terbukti, saya mampu menulis kembali setelah lebih dari dua puluh tahun (1973-1993) tidak menulis, bahkan satu cerpen pun.

Sesungguhnyalah kebiasaan mengendapkan gagasan ‘beberapa lama’ itu ada segi positifnya dan ada segi negatifnya. Positifnya ialah bahwa gagasan-gagasan itu sudah benar-benar masak, dan saya pun sudah sangat ingin mengeluarkannya. Lagi pula, tampak bawha karya sastra lair dari lubuk jiwa yang terdalam, terasa suasana antik dan abadinya. Negatifnya ialah saya tidak bisa menulis cerita berdasarkan peristiwa-peristiwa yang aktual, sehingga tampak konservatif, ketinggalan zaman, dan sepertinya tidak berpartisipasi dalam sejarah yang sedang terjadi. Untuk menghibur diri, saya berpendapat bahwa memang seorang pengarang adalah sastrawan bukan jurnalis. Kebetulan saya juga belajar sejarah, sehingga ‘berapa lama’ itu tidak menggelisahkan.

Saya cenderung mengendapkan gagasan cerita untuk ‘beberapa lama’, sampai saya yakin bahwa cerita itu ada harganya untuk diketahui orang lain. Maka menoleh ke belakang terhadap pekerjaan saya, ternyata saya juga menggunakan semacam formula, tetapi tidak wantah begitu saja. Saya cenderung menunggu gagasan sampai matang betul. ‘Matang’ berarti bawha semua unsur cerita menjadi lengkap namun tetap terasa spontan, wajar, tanpa beban. Kelengkapan unsur-unsur cerita dapat dirumuskan sebagai three in one – persis seperti sampo dengan krim pembersih, kondisioner rambut, dan antiketombe. Ketika unsur itu ialah STRUKTURALISASI PENGALAMAN, STRUKTURALISASI IMAJINASI, dan STRUKTURALISASI NILAI.

Pertama, karya sastra saya adalah strukturalisasi pengalaman. Pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, pengalaman kolektif, dan pengalaman hasil riset. Saya sendiri belum pernah menulis berdasarkan hasil riset, karena selama ini rasanya sudah cukup sibuk dengan pengalaman sendiri, orang lain, dan kolektif.

Pengalaman yang menjadi bahan dasar suatu cerita itu berserakan, terletak di sana-sini, tidak pernah utuh, dan selalu sepotong-sepotong. Tidak pernah terjadi satu pengalaman menghasilkan satu cerita. Pengalaman yang utuh– yang disebut satuan kajian– lalu diberi struktur hanya mungkin dalam tulisan ilmiah, seperti sejarah, sosiologi, politik, psikologi, dan sebagainya.

Lihatlah misalnya cerita pendek saya, “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” (Pustaka Firdaus, 1992) yang saya buat pada tahun 1968. Seingat saya hanya ada tiga pengalaman pribadi, yaitu “pekerja keras”, “berpindah-pindah”, dan “laki-laki pencinta bunga”. Pekerja kerasnya adalah tetangga saya. Dia orang Jepang, tidak kembali setelah Jepang kalah, mengawini perempuan tetangga saya, dan berganti nama dengan Saleh. Dia bekerja di bengkel kereta api, entah kapan berangkatnya, tetapi selalu pulang selepas Magrib lewat depan rumah. Jalannya tampak bergegas, tidak peduli orang lain, sehingga saya pun tidak pernah menegurnya. Berpindah-pindah adalah pengalaman keluarga saya. Sebagai pegawai rendahan di perusahaan Negara Garam, ayah selalu berpindah-pindah tempat. Terakhir sekali ayah pindah ke kota Yogyakarta, sebuah kota kedua. Sedangkan laki-laki pencinta bunga adalah kawan saya di tingkat pertama universitas. Di kamarnya selalua da kembang setaman, warna-warni bunga dengan mawar yang dominan. Pengalaman itu tersebar di sana-sini tidak pernah utuh. Pengaranglah yang harus membuat pengalaman yang hanya berupa potongan itu menjadi sebuah struktur yang utuh dan bermakna.

Kedua, karya sastra adalah strukturalisasi imajinasi. Pengarang itu seperti tukang batu. Di hadapannya ada batu bata, pasir, semen, kayu-kayu, dan genteng tanah yang harus dibuat menjadi sebuah rumah. Dengan sendirinya dia harus punya imajinasi tentang bentuk rumah itu. Demikian juga seorang pengarang harus mempunya  imajinasi mengenai struktur cerita yang akan dibuatnya. Dalam Dilarang Mencintai Bunga-bunga saya membayangkan adanya seorang tua, pagar tembok, anak laki-laki usia sekolah, ibu yang bijaksana, dan ayah yang suka kerja keras. Dengan imajinasi saya melengkapi, mengubah, merangkai, merekat dan menyulap pengalaman itu menjadi sebuah satuan yang punya makna.

Ketiga, karya sastra adalah strukturalisasi nilai. Nilai dapat berasal dari agama, filsafat, ilmu, kata-kata mutiara, kebijaksanaan sehari-hari, peribahasa, atau dari mana saja. Secara kebetulan di universitas waktu itu saya sedang belajar Max Weber. Weber di antaranya membedakan aksketisme surgawi dan asketisme duniawi. Tokoh orang tua adalah dari tipe asketisme surgawi (ketenangan jiwa, kebahagiaan batin) dan tokoh ayah yang dari tipe asketisme duniawi (Kerja, kerja). Anak lelaki itu terjepit di tengah-tengah.

Jadi dalam cerita itu, nilai itu diambil dari sosiologi klasik. Jangan sampai nilai itu membebani karya sastra, membuat pengarang lupa akan pentingnya strukturalisasi. Sebaliknya, jadikanlah nilai sebagai nilai tambah sebuah karya sastra.

Memakai atau tidak memakai formula, perlu diingat bahwa pada hakikatnya cerpen adalah strukturalisasi adalah karya sastra adalah fiksi adalah “Dunia yang Mungkin”; bukan fakta, jurnalisme, karya ilmiah atau esai filsafat.

Sumber: Kompas Minggu 22 November 1999.

Gambar ilustrasi dicomot dari Sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s