Telepon Nasution dan Sarwo Edhi Setelah Pranoto Dibebaskan

Sampul Buku Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra. Foto di sampul itu ia bersalaman dengan Soeharto.
Sampul Buku Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra. Foto di sampul itu ia bersalaman dengan Soeharto.

JIKA negara ini harus minta maaf pada seseorang atas apa yang terjadi setelah peristiwa G30S/PKI, mungkin maaf itu harus dimintakan salah satunya kepada Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra.

Tanpa sidang, tanpa proses verbal, beberapa kali diinterogasi, dan beberapa kali menjadi saksi untuk persidangan tersangka lain, 15 tahun dia menghuni penjara sebagai tahanan politik. Ia adalah satu dari tiga tapol terakhir yang dibebaskan, tanpa pernah tahu apa persisnya kesalahan yang telah ia lakukan untuk negeri yang ikut ia pertahankan dengan mempertaruhkan nyawa.

Pranoto ditahan dengan tuduhan terlihat dalam G30S PKI atas perintah Menteri Panglima Angkatan Darat Soeharto, dengan surat perintah penangkapan/penahanan No.37/2/1966, tertanggal 16 Februari 1966. Padahal Pranotolah orang yang ditunjuk oleh Presiden Sukarno untuk mengemban jabatan Menteri Panglima Angkatan Darat itu menggantikan Jendral A. Yani yang terbunuh pada dinihari 1 Oktober 1965 itu.

Ia mula-mula ditahan di Blok P, Kebayoran Baru, Jakarta. Lalu di RTM Boedi Oetomo. Sejak itu, tanpa pemeriksaan apalagi pengadilan, Jenderal Pranoto ditahan selama 15 tahun, hingga dibebaskan pada 16 Februari 1981. Apa yang ia alami sebelum, selama, hingga ia dibebaskan ia ceritakan dalam buku “Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra” (Penerbit Kompas, 2014).

Pranoto punya nazar kalau bebas dari tahanan militer akan pulang berjalan kaki. Dan hanya ditemani Handri Utomo, anak lelaki tertuanya. Karena nazar itu Handri datang ke Makodam Jaya di daerah Cawang, masuk tidak lewat pintu utama, namun melalui pintu samping sebelah kanan. Ia dan adiknya, Soni menunggu ayahnya yang datang dari Inrehab Nirbaya di area Taman Mini, beserta dua jendral lainnya Mayjen Suharyo dan Mayjen Rukman.

Handri sempat menyaksikan acara pelepasan dalam sebuah upacara kecil di aula Kodam Jaya Cawang. Turun dari mobil Mayjen Pranoto mengenakan peci, baju batik lengan pendek, celana panjang dan sepatu sandal. Handri merasa sangat bangga melihat ayahnya yang berjalan dengan langkah yang tetap tegak. “Bapak terlihat sehat dan simpatik, ia menyalami para perwira militer yang menyambut dan ikut serta dalam acara pelepasan,” kata Handri.

Pranoto Reksosamodra
Pranoto Reksosamodra

Handri membawa kamera. Ia tahu itu momentum penting bagi dia, ayahnya dan keluarganya. Tapi pada saat baru sekali kamera itu digunakan ia ditegur oleh petugas militer di Kodam, ia dilarang untuk mengambil foto dan petugas itu mengatakan nanti keluarga akan diberikan foto resmi dari Kodam.

Pranoto langsung menuju ke aula Kodam. Dia dilepas dalam upacara pelepasan di sana yang dipimpin oleh Majen TNI Nurman Sasono. Handri melihat ayahnya membaca ikrar mewakili kedua temannya, sangat tenang dan berwibawa, bahkan Pangdam V Jaya waktu itu sangat hormat pada Mayjen Pranoto.

Saat itu kurang lebih jam 11.00 saat selesai upacara, karena  staf Kodam mengetahui kalau Pranoto akan berjalan kaki, mereka menawarkan mobil untuk diantar pulang, karena kedua Jenderal temannya semua dijemput keluarga dengan kendaraan.Mereka berjalan kaki mulai 11.30 siang.

“Saat melewati pintu samping, saya melihat Bapak langsung mengadah keatas mengucpkan  doa bersyukur karena Allah memberi kebebasan,” kenang Handri.

Terik matahari seperti tidak terasa dalam perjalanan pulang menuju ke Kramatjati. Handri masih teringat apa yang dikatakan ayahnya, “Handri, Bapak ini bukan penjahat. Bukan pencuri uang rakyat, bapak bukan koruptor. Bapak tidak pernah merugikan negara ini. Bapak ini adalah mengabdi dan berjuang demi bangsa ini sebagai tentara nasional.”

Pranoto mengutip kata-kata Ronggowarsito. “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti” Kekuasaan dan angkara, dapat lebur dikalahkan dengan sifat panembah, kesabaran dan kelembutan. Ini adalah salah satu bait Pupuh Kinanthi dalam Serat Witaradya.

Sampai di Cililitan, banyak kawan Handri, para supir angkot menyapa. Mereka mengajak Handri dan Jendral Pranoto untuk naik angkot saja. Tak ada yang tahu bahwa yang ditemani oleh Handri adalah bapaknya, Jenderal Pranoto yang baru saja bebas.

“Saya tidak mengetahui apa yang ada di benak Bapak saat memasuki Gang Dato Tonggara Kramatjati, Bapak meminta adik saya Soni untuk memotret kami berdua, tepat di lorong gang,” ujar Handri.

Di rumah, tak ada pesta atau upaca penyambutan. Suprapti, istrinya, hanya menyiapkan sayur lodeh dan tempe makanan kesukaan Jenderal Pranoto.

Selama di rumah tahanan Nirbaya, Jenderal Pranoto membuat banyak catatan dalam beberapa buku tulis, termasuk pertanyaan para pemeriksa dan jawaban-jawaban yang ia berikan. Buku-buku catatan Jendral Pranoto itu disimpan oleh Handri. Tak ada yang mengetahui, bahkan keluarga sendiri. Handri tak pernah memberikan atau membiarkan orang lain membaca buku catatan bapaknya, sebagaimana yang dipesankan oleh ayahnya.

Nirbaya adalah rumah rehabilitasi tahanan politik di dekat Taman Mini Indonesia. Penghuninhya adalah para tahanan politik golongan A dan B.

Peraturan bezuk di Nirbaya cukup ketat. “Kami hanya bisa menemui Bapak di ruang kecil, hanya bisa untuk empat orang. Lama-lama karena banyaknya orang yang ditahan, bezuk atau kunjungan di Nirbaya diterima di aula, dengan menggelar tikar. Jadi ramai. Ada Subandrio. Omar Dhani. Sempat ditahan juga di sana sahabat Bapak, Pak Mochtar Lubis dan Pak Adnan Buyung Nasution,” kata Handri.

Catatan-catatan Pranoto semula diketik, dengan tinta merah. Lalu ada larangan untuk membawa mesin ketik ke dalam tahanan.

Pada masa awal ditahan di Nirbaya, semua makanan yang dikirim pun diperiksa, dibongkar. Lama-lama pemeriksaan melonggar. Ia minta satu buku tulis ABC, setiap bezuk. Kalau waktu bezuk sudah selesai maka buku catatan Pranoto dibawa pulang oleh Handri secara diam-diam. Demikian terus-menerus hingga akhirnya sepuluh buku tulis penuh berisi catatan ayahnya disimpan oleh Handri.

Jenderal Pranoto mencatat banyak hal penting, tapi masih ada banyak hal yang tak diceritakan di buku disampaikan secara lisan. Misalnya, mulai tawaran dari Cendana kepada Pranoto, namun hal itu dengan tegas ditampik oleh Pranoto, karena akan merasa malu bila mencederai namanya di mata para teman-temannya sesama tahanan.

Yang pertama-tama menelepon setelah Pranoto bebas dari tahanan adalah Jenderal A. Haris Nasution. Banyak yang mereka bicarakan, tapi satu hal yang disampaikan oleh Pranoto kepada Handri anaknya adalah permintaan maaf dari Nasution.

“Maaf Jenderal, kalau saya salah menilai pribadi Jenderal selama ini, Mohon Jenderal lebih berhati-hati setelah Jenderal berada di luar,” kata Nasution.

Yang kedua menelpon Jenderal Pranoto adalah Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, yang jika dirunut silsilahnya, masih keponakannya, dari keluarga yang tinggal di Banyuurip, Purworejo. Kepada Pranoto Sarwi Edhie menyapa dengan Om.

“Om, aku ternyata hanya menjadi alat, aku mohon nanti kalau aku mati jangan dimakamkan di taman pahlawan ya, Om. Aku mau dikubur disamping Bapakku saja,” ujar Sarwo Edhi setelah percakapan panjang lewat telepon.

Bapak saat itu langsung menghentikan pembicaran Jenderal Sarwo Edhie, “Jangan ditelepon, kita nanti ada yang menyadap. Kamu mampir saja ke rumah.”

“Iya, Om, aku nanti ke rumah, Om.”

Namun setelah itu Sarwo Edhie sakit, dan meninggal di MMC janjinya untuk berkunjung dan menemui Jenderal Pranoto tidak pernah bisa ia penuhi.

Orang  ketiga tidak menelepon tapi datang ke rumah Jendral Pranoto di Gang Dato Tonggara. Sangat senang sekali waktu itu Jendral Pranoto didatangi sahabat yang tidak melihat kondisi menjabat atau tidak menjabat. Kedatangan itu sangat memberikan nilai tersendiri karena keadaan Jenderal Pranoto.

Handri bercita-cita menjadi Jenderal juga seperti ayahnya. Dia masuk Akabri. Dan sempat masuk menjadi  Calon Taruna. Ia diberhentikan karena mereka mengetahui kalau dia anaknya Pranoto. Handri tak menyesal berhenti dari tentara. Ia yakin bisa menjadi tentara yang baik seperti ayahnya, tapi ia tak yakin bisa menghadapi permainan politik sebagai akibat dari apa yang dialami oleh ayahnya, Jenderal Pranoto.

“Kawan-kawan seangkatan saya sudah pada jadi jenderal. Saya juga jenderal. GM itu kan General Manager. Jenderal juga kan,” kata Handri.

Ketika Penerbit Kompas ingin menerbitkan catatan-catatan Pranoto dalam sebuah buku memoir, cukup lama juga Handri dan anak-anak Pranoto lainnya menimbang-nimbang. Akhirnya dengan pertimbangan bahwa ada banyak hal yang bisa diluruskan dengan penerbitan buku itu karena catatan Jenderal Pranoto akan menjadi bagian dari kepingan puzel yang sedikit-sedikit dikumpulan bisa membuka takbir tragedi G30S, juga bisa menjadi pelajaran bagi generasi sekarang, akhirnya mereka setuju buku itu diterbitkan. | Hasan Aspahani

Iklan

7 pemikiran pada “Telepon Nasution dan Sarwo Edhi Setelah Pranoto Dibebaskan

  1. Pahlawan sejati tak pernah memamerkan apa yang telah ia berikan untuk bangsa dan negaranya…pengabdian yang tulus seperti halnya kebenaran yang mengalir seperti air. Jenderal pranoto bangsa ini lebih banyak membutuhkan pribadi sepertimu.

    Suka

  2. Tuhan tak pernah tidur, Tuhan jg tahu mana pahlawan sejati dan mana para pengkhianat bangsa. Pranoto salah satu dari Beberapa pejuang tanpa pamrih. Tuhan akan memberikan tempat yg istimewa untuk mereka yg berjuang di jalan kebenaran. Dan Tuhan pun akan memberikan neraka jahanam bagi mereka yg berkhianat. Go to Hell…Soeharto!!! Forever!!! Amin.

    Suka

  3. Pak Pranoto, menjadi contoh seorang pemimpin, seorang lelaki, dan seorang bapak, yang tak menyimpan rasa dendam meski telah dizolimi oleh rezim soeharto.

    Suka

  4. Yang namanya sejarah sudah terjadi , begitu banyak yang jadi korban penahanan tampa diproses , baik jaman Sukarno Orla maupun jaman Suharto Orba …….. biarlah Tuhan yang membalasnya nanti dihati akhir 🙏🙏🙏🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s