PKI, Orang-orang Tak Berpartai, dan Protes NU

220px-Sakirman
Sakirman

Kelicikan – atau kecerdikan? – Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang Pemilu 1955 bisa dilihat dari cerita soal tanda gambar dalam surat suara ini. Ketegasan Nahdlatul Ulama (NU)  berupaya dan berhasil meredamnya.

Empat partai besar yang diramalkan bakal mendominasi perolehan suara, dan memang terbukti benar, adalah Partai Nasional Indonesia (PNI),  NU, Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), dan PKI.

Empat partai tersebut dan 50 partai lain, juga beberapa calon perorangan, memanfaatkan kesempatan berkampanye, menurunkan jago-jago orasi, menggelar rapat raksasa, berkeliling ke daerah, dan tentu juga memanfaatkan surat kabar masing-masing.

PNI punya Suluh Indonesia, Masyumi punya Abadi, NU dengan Duta Masyarakat, dan PKI dengan Harian Rakyat. Partai Sosialis Indonesia (PSI), yang nanti hanya mendapat sedikit suara, memanfaatkan Pedoman, surat kabar yang sebenarnya sangat berpengaruh.

Aidit
Aidit

Lalu soal tanda gambar dan nama partai yang dicantumkan pada surat suara. PNI sangat mudah dikenali dengan gambar banteng dalam segitiga. Masyumi dengan lambang bulan bintang, NU dengan bola dunia, dan PKI tentu saja dengan palu arit, simbol komunisme global itu.

Yang membangkitkan protes dari NU adalah ketika PKI mencantumkan nama “PKI dan orang-orang tak berpartai” di lambang partai untuk pemilu kala itu. Tambahan kalimat setelah PKI itulah yang membuat Departemen Dalam Negeri harus dua kali menggelar rapat.

Rapat diikuti oleh Menteri Dalam Negeri Mr. Soenaryo, dan Ketua Panitia Pemilihan Indonesia S. Hadikusumo. NU diwakili oleh Idham Chalid, dan PKI mengutus langsung D.N. Aidit, Sudisman, dan Ir. Sakirman.

“Tiap gambar dalam pemilu kecuali harus disepakati Pemerintah, juga disepakati oleh seluruh partai. Berhubung NU sangat berkeberatan atas tanda gambar PKI, maka Pemerintah perlu mengadakan perundingan di antara pihak-pihak yang bersangkutan,” ujar Menteri Soenaryo.

sudisman
Sudisman

Apa keberatan NU? Menurut pengetahuan partai itu selama ini lambang PKI itu cuma palu arit, tambahan kalimat “PKI dan orang-orang tak berpartai” adalah upaya mengelabui rakyat. “Dengan begitu, PKI hendak menjadikan begitu saja, semua orang yang tak berpartai ke dalam golongannya, tanpa dimintai persetujuan mereka. Ini adalah usaha mengelabui rakyat!” kata Idham Chalid.

“Saya keberatan kalau dengan begitu kami dianggap berusaha mengelabui rakyat,” kata D.N. Aidit.

Sudisman mempertegas, “Dari mana Saudara Idham dapat berkesimpulan PKI mengelabui rakyat?”

“Coba ambil misal. Di negeri kita masih banyak orang yang tak berpartai, mereka antikomunis. Lalu mereka dengan begitu saja dimasukkan ke dalam golongan PKI. Apakah ini bukan mengelabui mata rakyat? Bukan saja mengelabui, bahkan memperkosa hak seseorang dengan sangat merugikan!” papar Idham.

Idham masih memberi contoh lain: ada ulama tak berpartai, mereka tidak menjadi anggota NU, juga tidak Masyumi, PSSI atau Perti juga tidak. Lalu oleh PKI hendak dimasukkan ke golongan mereka. Padahal mereka haram memilih PKI, mereka anti-komunis. Mereka anti-PKI.

Idham Chalid
Idham Chalid

“Oh, PKI tidak mengelabui mata rakyat! Tentang kepada partai mana seseorang akan memilih itu tetap menjadi hak mereka,” kata Aidit mengelak.

“Ya, tapi dengan membubuhi kata-kata ‘dan orang tak berpartai’ itu saja sudah merupakan suatu propaganda untuk mengelabui mata rakyat…”

“Saudara Idham, saya tidak keberatan jika dalam tanda gambar NU dicantumkan ‘NU dan semua orang Islam’,” kata Aidit.

“Saudara ini bagaimana, sih? Bagaimana saya harus melakukan sesuatu yang sangat saya keberatan orang lain melakukannya? Saya tak akan pernah melakukan itu. Pokoknya, NU meminta keras kepada pemerintah agar kata-kata ‘PKI dan orang-orang tak berpartai’ dihapuskan!” kata Idham tegas.

Menteri Dalam Negeri akhirnya menerima protes NU. Kepada PKI diperintahkan untuk menghapus kata-kata “PKI dan orang tak berpartai” pada tanda gambar mereka.

Pemilu 1955 diikuti oleh 43.104.464 pemilih terdaftar dari 77.987.879 jiwa penduduk Indonesia, dan menghasilkan 37.785.299 suara sah. Partisipasi pemilih lebih dari 87 persen! Tetapi ini juga pemilu berdarah dan mencekam: 93 petugas pemilu tewas, 74 diculik oleh gerombolan!

Hasil pemilu, seperti yang banyak diduga: PNI memperoleh 8,4 juta suara dengan 57 kursi, Masyumi 7,9 juta suara meraih juga 57 kursi, NU 6,9 juta suara dengan 45 kursi, sedangkan PKI masuk empat besar dengan 6,1 juta suara dengan 39 kursi di parlemen. Parkindo dan Partai Katholik masing-masing mendapat 6 kursi. Sisa kursi diperoleh oleh beberapa partai kecil, termasuk PSI, dan calon perorangan.

Jejak-jejak kemenangan, kecenderungan ideologis pemilih dari pemilu tahun itu mungkin masih membekas hingga saat ini. Hanya tiga partai yang dominan di nyaris semua provinsi: PNI, NU, Masyumi. PNI merajai Jawa Tengah, NU dominan di Jawa Timur, dan Masyumi unggul di Jawa Barat dan beberapa provinsi lainnya. Tak ada satu pun provinsi di mana PKI memperoleh suara tertinggi, kecuali di beberapa kabupaten seperti Surakarta, dan Blitar. Di dua kota itu, PKI menang mutlak.  | Hasan Aspahani

Catatan sumber:
Cerita di atas diolah dari buku “Sudiro Pejuang Tanpa Henti” oleh Subagijo I.N. (Gunung Agung, 1981). Pengarang buku itu mengutip kisah ini dari “Guruku, Orang-Orang dari Pesantren” oleh K.H. Saifuddin Zuhri (P.T. Alma’arif, 1979).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s