Sapardi dan Pemilu 1955: Telah Bertebaran Serbuk Baja

Pada usia 15 tahun cukup baginya untuk menyadari bahwa politik – wujudnya adalah pemilu pada tahun 1955 – telah memecah keluarga besarnya menjadi tiga bagian. Ayahnya seorang nasionalis yang seakan-akan mewajibkan diri untuk menyimpan stelan baju pemimpin seperti yang selalu dipakai pemimpin populer kharismatik yang gemar berpidato di radio itu dan kerap mengenakannya pada kesempatan resmi dan menempelkan di depan rumahnya gambar partai banteng yang sedang menyeruduk di dalam segitiga. Pada waktu itu belum ada larangan pegawai negeri untuk aktif di partai politik. Dan Sadyoko menjadi aktif anggota dan pengurus organisasi pegawai di kantornya.

Keluarga pamannya yang lain yang tinggal di Kampung Jagalan mengikut faham komunis – karena itu sering diberi cap ‘kapir’ oleh sayap keluarga lain. Salah seorang anggota keluarga besar dari aliran ini bahkan menikah dengan petinggi partai berlambang palu dan arit di Kota Solo.

Sementara sebagian lain keluarganya adalah ‘kaum sarungan’ yang memasang gambar bulan bintang, sebagaimana warga Kampung Kauman Solo lainnya. Istilah ‘kaum sarungan’ itu sesungguhnya adalah sebentuk olok-olok juga.

Diam-diam antara anggota keluarga itu saling mengejek, mengolok-olok keluarga lain yang berbeda-beda aliran itu – tapi tak pernah terjadi pertengkaran yang terbuka. “Itu mungkin karena ayah dianggap seorang sontoloyo. Konyol dan suka seenaknya, dan sering galak kepada kakak dan adik perempuannya,” kata Sapardi.

Saling serang PKI-Masyumi!
Saling serang PKI-Masyumi!

Itulah apa yang ia sebut sebagai ontran-ontran, keributan panjang yang terutama juga mengambil ajang tempur yang paling seru di suratkabar-suratkabar laris kala itu, yang berbuntut pada bulan September 1955, ketika dia mengantarkan, atau mendampingi ibunya ke tempat pemungutan suara di Solo, kota kelahirannya. Itulah rangkaian pertama dari pemilu pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Pemilu yang menghasilkan konstituante. Lembaga yang akan membahas konstitusi, menyempurnakan UUD 1945 yang sejak awal disepakati sebagai konstitusi sementara. Itulah pengalaman pertamanya yang berkaitan dengan demokrasi. Sapardi mengingat antrean panjang pemilih di pelataran luas milik seorang Kanjeng di Kampung Gajahan. Dia tidak memilih, karena belum cukup umur. Tapi dia dan anak-anak lain bebas menyaksikan hajatan itu. Lalu di bulan Desember tahun yang sama, peristiwa serupa terjadi lagi, kali ini untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ada seorang tukar cukur yang sangat dikenal Sapardi. Namanya Pak Wig. Mungkin singkatan dari Wiguno atau Wig yang lain, entahlah. Orangnya lucu. Pak Wig kadang ikut main kethoprak dan selalu bermain sebagai bolo dugangan, yaitu pemain yang bertugas untuk melucu, bahkan ketika berada dalam adegan sedang sekarat. Pak Wig pandai menembang. Kebagusan tembangnya dimanfaatkan oleh pengurus partai untuk berkampanye. Partai Nasional Indonesia (PNI), partai ayahnya, pernah meminta Pak Wig untuk itu. Di panggung secara sengaja, Pak Wig memplesetkan kata PNI menjadi PKI. Tentu saja sang ayah kesal.

Ora lucu!” kata beliau. Itu artinya, ketidaklucuan Pak Wig sebenarnya adalah sangat lucu. Sapardi ingat, setiap kali menceritakan itu, ayahnya justru tertawa terpingkal-pingkal. Sapardi juga tertawa, karena kelucuan orang-orang partai seperti Pak Wig itu, bukan kelucuan partainya. Demokrasi tidak lucu. Partai juga tidak lucu.

Kampanye dengan tembang dari Pak Wig – yang memplesetkan dengan sengaja N menjadi K, adalah salah satu bentuk keramaian demokrasi yang bisa dia ingat. Kelucuan lain, paling tidak itu masih lucu ketika ia mengenangnya sekian tahun kemudian, adalah kampanye arak-arakan. Ya, waktu itu sudah ada kampanye seperti itu. Kampanyenya partai palu arit. Salah satu peserta kampanye membawa seekor anjing kampung. Di leher anjing itu digantungkan lambang bulan bintang. Di sebuah pertigaan yang ramai, arak-arakan itu sengaja berhenti lebih lama. Anjing korepan dengan kalung berlambang bulan bintang menjadi bahan tertawaan orang-orang yang nonton di pertigaan itu. Sapardi dan kawan-kawannya tak tahan untuk tidak mengusili si anjing.

Seingat Sapardi, tak semua partai-partai itu suka menggelar kampanye dengan keramaian mengumpulkan orang dan arak-arakan seperti itu. Tentu saja, karena tidak semua partai punya dana untuk itu. Apakah waktu itu mereka yang ikut ramai-ramai kampanye itu diberi uang? Sapardi tidak tahu. Paling tidak, Pak Wig yang lucu itu tentu harus dibayar ketika tampil menembang. Meskipun ia suka dengan sengaja memplesetkan nama-nama partai – yang lambangnya macam-macam, dari aksara arab sampai setrika – yang membayarnya. Ora lucu!

 

Pemilu 1955.

Pemilu pertama.

Sepuluh tahun usia Republik Indonesia. Enam tahun setelah berakhirnya aksi polisionil Belanda.   Tak ada lagi pengeboman oleh Belanda di kampung-kampung yang dianggap sarang gerilyawan republik. Tak ada lagi suara-suara baku tembak, pertempuran antara pejuang republik dan prajurit NICA. Sapardi mengenang masa-masa itu sebagai masa-masa yang aman-aman saja. Bukan zaman yang enak memang, tapi ia mengenangnya sebagai masa yang bebas. Ekonomi memang masih sangat sulit, tapi rasa bebas itu tak ternilai. Ia dan kawan-kawannya melupakan kesulitan itu dan merayakan kebebasan itu dengan memainkan permainan anak-anak Jawa: benthik, dhelikan, gobak sodor. Keluasan pekarangan rumah di Hadiwijayan itu bagai tak pernah habis menampung kegembiraan Sapardi dan kawan-kawannya, anak-anak kampung dan mereka yang mager sari di komplek rumah keluarganya itu.

Kepada Nyak Caek yang punya toko, nama sebenarnya dalah Nyonya Tjay, keluarga Sapardi kerap ngebon bahan makanan. Berutang untuk mendapatkan bahan makanan sehari-hari adalah kelaziman. Nanti utang itu dibayar pas gajian. Dengan cara itupun, seingat Sapardi, ia sudah biasa dapat jatah makan sekali sehari saja. Atau makan dua kali, tapi beras yang mereka punya harus dihemat dengan memasaknya menjadi bubur.

Situasi itu membentuk seorang Sapardi. Membangun atmosfer pemikiran yang lain dalam pikiran dan proses berkreasinya. Sepuluh tahun sampai pemilu pertama itu datang, dan Sapardi remaja merenungkan apa yang disebut ‘Demokrasi’. Hingga nanti pada tahun 2014, menjelang Pemilu, Sapardi menulis buku, eh ia menyebutnya sebuah selebaran, sebuah pamflet berjudul “Tirani Demokrasi’” (Editum, Jakarta, 2014). Apa yang diceritakan ulang pada bab ini adalah pengalaman Sapardi yang ia tulis pada buku tersebut.

“Sampai dengan tahun pelaksanaan Pemilu 1955 kami merasakan kebebasan yang ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan Demokrasi,” tulis Sapardi.

Lalu datanglah Demokrasi itu. Ia mengajukan pertanyaan, demokrasi dikonsep pasti kait-mengait dengan kesejahateraan, kalau tidak untuk apa itu diciptakan, diyakini, dan dilaksanakan di berbagai belahan dunia? Tapi, masa-masa sepuluh tahun hingga pemilu pertama 1955 itu, ternyata ia melihat orang bisa merasa bebas tanpa sama sekali sadar bahwa mereka hidup tanpa demokrasi. Kenapa masa sebelum kemerdekaan itu disebut “zaman normal”? Ia mendengar frasa itu kerap diucapkan ketika orang-orang tua membandingkan dengan masa sebelum merdeka dengan masa ketika demokrasi hadir dalam bentuk pemilu pertama tersebut. Masa-masa yang membelah tiga keluarga besarnya. Masa-masa ketika di kalangan orang dewasa menjalar ketegangan, olok-olok, saling ejek, ketika mereka mulai suka kumpul-kumpul, bergabung dalam kelompok-kelompok organisasi masa yang dibentuk oleh partai ini dan partai itu.

Apa yang dihasilkan oleh pemilu pertama 1955 itu adalah empat partai utama yang keluar sebagai pemenang; Partai Nasional Indonesia, Partai Masyumi, Nahdlatul Ulama, dan Partai Komunis Indonesia.   Tapi Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante yang dihasilkan dari pemilu 1955 itu bekerja dengan gaduh. Anggota-anggota kabinet yang berlainan partai, bahkan yang separtai, gontok-gontokan. Caci maki dilanjutkan di surat kabar- surat kabar yang jadi alat masing-masing partai, dalam bentuk berita, rubrik pojok, karikatur, dan tajuk rencana.

Nanti Sapardi sebagai sastrawan pun terseret ke dalam pusaran kekacauan politik itu, sebagai akibat dari keyakinannya untuk mempertahankan apa yang ia yakini benar. Ayahnya pun kerap mengingatkannya dengan cemas agar berhati-hati mengambil keputusan.

Demokrasi yang hadir sebagai bagian dari mimpi kemerdekaan ternyata membawa juga gangguan-gangguan dan ketidaknyamanan. Zaman menjadi ‘tidak normal’. Zaman normal itu justru dikenang ada pada masa ketika dulu kemerdekaan belum ada, ketika bahkan kata ‘demokrasi’ itu sendiri terlarang untuk diucapkan. Paradoks-paradok situasi yang ia hadapi, ambiguitas realitas yang ia temukan, sepertinya itulah yang membimbing Sapardi kelak pada satu ruang privasi bernama Puisi, ruang bahasa, tempat ia mencerna segala paradoks dan ambiguitas tersebut.

Sindir-menyindir, polemik yang kasar, yang seringkali cuma asbun, sering kali diserap oleh Sapardi sebagai sebentuk kejenakaan. Media – surat kabar dan radio-radio, juga teater rakyat – mendapat bahan dari situasi itu. “Itu mungkin yang menyebabkan zaman yang amat sangat pahit dan bising sekali sehabis revolusi itu terasa segar dan indah dalam ingatan,” kenang Sapardi. Ia membuat ukuran kepantasan sebuah berita dengan jenaka. Orang menggigit anjing memang bahan berita yang halal dalam ukuran pemberitaan media.

“Tapi orang yang saling menggigit adalah jenis berita yang sulit ditentukan halal tidaknya. Itulah yang terjadi pada waktu itu,” katanya. Ia membentuk paradoks di dalam pikirannya sendiri. Dan situasi yang gaduh dan tak produktif itu berakhir – atau dicoba untuk diakhiri – oleh tindakan Sukarno membubarkan konstituante dan DPRD hasil pemilu pertama, pemilu 1955 itu. Tindakan yang terbukti kelak membikin politik dan demokrasi di negeri ini menjadi bertambah gaduh.

Apa yang ia saksikan dengan kesadaran yang mulai tumbuh sebagai bagian dari rakyat negeri muda ini, apa yang ia alami kemudian di tahun-tahun ketika ia sepenuhnya menjadi warga negara yang sadar dengan segala risiko atas sikap yang diambil dan diyakininya, tampaknya membuat ia makin yakin dengan kekuatan liris sajak-sajaknya. Ia memilih dan memiliki sajak imajis – tetapi kemudian juga mempermainkannya dengan nakal – yang seakan memilih jalan tepi dari semua keramaian dan kekacauan yang harus ia lewati.

            Kemudian aku berjalan-setengah-bermimpi menembus udara yang semakin tebal asapnya, (kolam-kolam yang penuh ganggang dan ikan mas itu masih tersimpan rapih dalam kedua telapak tanganku) menyusur tiang-tiang listrik dua belas warna; “hei, siapa mengatakan bahwa telah bertebaran serbuk baja dalam dendang nina bobo nenek tua?”  Begitulah, memasuki tahun-tahun sulit itu, bertahun-tahun kemudian Sapardi menggambarkannya dalam larik-larik lirik yang sublim dan efektif, ya, masih ada kolam dan ikan mas di sana, tapi juga udara yang makin tebal asapnya, dan yang mengejutkan adalah tiang-tiang listrik dua belas warna – apa yang tak biasa hadir dalam lirik-lirik klasik, lebih industrial daripada natural – dan tentu saja, tebaran serbuk-serbuk baja, frasa ini menutup dan mengutuhkan imaji yang liris yang sekaligus juga pedih! | Hasan Aspahani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s