Nasution, Poster Sukarno dan Sapaan “Halo!”

Namaku Abdul Haris. Margaku Nasution. Aku lahir di Kotanopan. Tapanuli. Di kampungku itulah pertama kali di seluruh Tapanuli berdiri ranting partai politik, Sarekat Islam. Lalu kemudian Partindo. Orang-orang kampungku punya kesadaran politik yang tinggi. Apa yang bergejolak di Batavia, pasti sampai kabarnya ke kampung kami. Waktu aku kecil bahkan ada tiga pemuda dari kampung kami yang dibuang ke Digul karena kegiatan politiknya.

Jenderal A.H. Nasution
Jenderal A.H. Nasution

Aku mengagumi Kemal Attaturk, pemimpin Turki yang membawa negerinya ke arah kemajuan. Posternya dengan ukuran besar dan dalam cetakan yang bagus, dalam pose yang gagah dijual sampai ke pasar di kampung kami. Ayahku membeli dan memasang poster itu di rumah kami. Bagiku yang masih kecil – waktu itu baru tujuh tahun umurku – bentangan gambar itu besar benar rasanya.

Keluarga Ayahku adalah keluarga bersorban. Mereka aktivis Sarekat Islam. Pamanku – Syeikh Musthafa – mendirikan pesantren tertua di Purba, Kotanopan. Dia menolak bintang mahaputera yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dalam keluarga dengan pandangan seperti itulah aku dibesarkan. Pagi sampai pukul setengah tiga sore aku sekolah di HIS. Pulang pergi naik bendi. Lalu sore harinya masuk maktab, pesantren, untuk mengaji Alquran, diajar oleh ayahku sendiri.

Tamat dari HIS, aku melanjutkan ke Sekolah Raja di Bukittinggi. Inilah satu-satunya sekolah yang paling terkemuka di Sumatera untuk mendidik para calon guru. Guru pada waktu itu adalah profesi dengan posisi yang sangat terhormat di masyarakat. Aku bercita-cita menjadi guru.

Di Sekolah Raja ada satu hal yang sangat berpengaruh pada pembentukan diriku. Sekolah ini punya satu perpustakaan yang lengkap. Buku-bukunya sebagian besar berbahasa Belanda. Di sinilah aku membaca sejarah Belanda, sosok-sosok tokoh pahlawan Belanda, admiral militer, tokoh Perang Kemerdekaan Belanda, juga sejarah Revolusi Prancis, juga roman dengan latar belakang zaman Tsar Rusia hingga revolusi negeri itu. Buku-buku itu sangat mempengaruhi dan membentuk wawasanku.

Di Bukittinggi pula aku mengenal wajah Bung Karno. Di Bukittinggi aku bersinggungan dengan aparat penguasa kolonial. Pada tahun-tahun itu, 1932, pemerintah Hindia-Belanda meninggikan tensi represi kekejamannya. Sukarno ditangkap. Dibuang ke Ende, Flores.

Di mataku pada waktu itu Bung Karno itu sedemikian hebatnya. Fotonya, lukisannya, diperbanyak orang, diperbesar dipasang di mana-mana juga di masjid. Orang mengaguminya bahkan ketika mereka bergambar, mereka sampai meniru bagaimana gaya Bung Karno tampil di gambar-gambarnya: menatap tajam seakan sedang berpikir keras, dengan pena terselip di saku baju.

Buku-buku di Sekolah Raja, situasi Kota Bukittinggi, dan informasi-informasi aktual yang aku serap kala itu mengalihkan arah cita-citaku. Jiwaku terbakar oleh cita-cita pergerakan nasional. Aku semakin tertarik pada perjuangan bangsa dan sejarah kemiliteran.   Dan yang paling penting adalah satu hal yang kualami sendiri. Aku diinterogasi intel Belanda, dan ditahan satu hari. Semua gara-gara sehelai kartu pos.

Ya, sehelai kartu pos.

Kartu pos itu dikirim oleh Bustami. Kawanku yang sudah bersekolah di Batavia. Di kartu pos itu dia bercerita soal perjuangan, dalam Bahasa Belanda. Aku kemudian tahu, kartu pos itu ditahan dulu sehari sebelum diserahkan kepadaku. Aku akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti ikut aktif dan tidak tercatat sebagai anggota partai.

Bandung adalah kota lain yang kemudian banyak membentuk diriku.

Pada tahun ke-3 saya di Bukittinggi, Sekolah Raja dibubarkan. Kalau hendak menempuh kelas terakhir, aku harus melanjutkan pendidikan ke Bandung. Itupun lebih dahulu harus mengikuti ujian yang sangat ketat karena kami akan dapat bantuan pendidikan dan ikatan dinas. Hanya aku dan tiga orang kawan lain yang lolos. Di Bandung aku tinggal di asrama. Di sini aku bertemu kawan-kawan dari seluruh Indonesia.

Setelah lulus dari Sekolah Raja di Bandung aku menjadi guru di Bengkulu. Di sinilah aku mengenal langsung Bung Karno yang sedang menjalani hukuman buangan. Sukarno memang segagah sosoknya yang dulu saya kagumi di gambar poster. Rumah Bung Karno di Bengkulu ada di antara sekolah tempat aku mengajar dan pondokan. Tiap hari aku lewat di depan rumahnya dan beliau selalu menyapa, ‘Halo!” Sekali waktu aku singgah dan berbincang dengan Bung Karno. Beliau bicara berapi-api, seperti saat dia berpidato. Aku semakin kagum dengan beliau.

Hidup terus membawa aku berpindah. Tahun 1938 aku mengajar di Tanjungraja, tak jauh dari Palembang. Lalu tak berselang lama Perang Dunia I pecah. Belanda kalah dan diduduki Jerman. Sebuah pengumuman di surat kabar juga mengubah jalan hidup saya berikutnya. Pengumuman tentang rencana pendidikan perwira di Bandung. Belanda yang kalah perang membutuhkan pasukan cadangan. Sebenarnya aku tak mencukupi syarat, yaitu harus lulus sekolah menengah atas eksakta. Aku memaksa diriku untuk belajar sendiri, ikut ujian yang dipersyaratkan dan melamar ke Bandung.

Lalu pecahlah Perang Pasifik. Jepang masuk ke Indonesia. Aku ikut membantu Otto Iskandar Dinata yang memimpin Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho. Aku diberi tugas mengurus kesejahateraan para prajurit PETA. Tugas ini memungkinkan saya untuk terus berkeliling di kota-kota penting: Jakarta, Semarang, Solo, Surabaya.

Kami di kalangan militer waktu itu diam-diam mempersiapkan PETA menjadi Tentara Nasional. Menurut perhitungan kami Amerika dan sekutunya pasti akan masuk ke wilayah Indonesia. Jawa akan menjadi medan Perang Dunia II. Jika ada kekosongan kekuasaan maka itulah saatnya untuk mengumumkan Pemerintah Nasional dan Tentara Nasional! Yang terjadi adalah Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki! Ini di luar perkiraan.

Aku sedang mengurus PETA di Bandung ketika Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Baru keesokan harinya kami dari PETA diberi tahu. Aku kecewa ketika Sukarno-Hatta tidak langsung mengumumkan PETA menjadi Tentara Nasional. Seandainya itu dilakukan saat itu juga Republik Indonesia punya kekuatan militer antara 50 hingga 60 batalyon. Satu batalyon adalah pasukan tempur dengan 700-1.000 prajurit.

Peta saat itu malah dibubarkan oleh Jepang.

Kami dilucuti.

Semua senjata dikumpulkan.

Lalu muncul laskar-laskar swasta, tak terlatih, yang justru sulit dikendalikan.

Lima hari setelah proklamasi, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dipimpin oleh Kasman Singodimedjo membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kami sesungguhnya tidak terlalu puas dengan pembentukan BKR ini karena posisinya juga tidak langsung di bawah KNIP. BKR adalah lembaga di Badan Pembantu Korban Perang (BPKP). BPKP inilah yang secara struktur berada di bawah KNIP. Kami tidak puas tapi sementara BKR inilah yang menampung bekas anggota Heiho, Peta, juga rakyat dan pemuda lain yang ingin menajdi tentara.

Aku menjadi penasihat BKR Bandung yang diketuai oleh Mayor Suhari, kawanku.

Pada 5 Oktober 1945, sebuah maklumat resmi pemerintah diumumkan, BKR berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Tanggal inilah yang ditetapkan sebagai hari lahir TNI. | Hasan Aspahani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s