Yogyakarta dan Tangis Pertama Seorang Ibu

Sapardi Djoko Damono lulus SMA sebagai pelajar teladan Se-Karesidenan Surakarta. Nilai-nilainya untuk pelajaran bahasa asing sembilan – dia Jurusan Bahasa – kecuali untuk bahasa Indonesia, dia dapat nilai 7. Pelajaran bahasa Inggris, Jerman, Prancis, di SMA pada waktu itu memikat Sapardi, dan nanti menentukan pilihan jurusannya di universitas.

“Di halaman pertama buku teks pelajaran bahasa waktu itu kita sudah ketemu puisi, jadi kita belajar menelaah puisi. Pelajaran komposisi kalimat itu contoh-contohnya ya puisi,” kata Sapardi.

Dengan rata-rata di atas delapan Sapardi bisa masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa tes. Dia bebas memilih universitas mana saja, tapi sampai ia lulus tak pernah ada rencana dia akan kuliah, apalagi terpikir untuk melanjutkan kuliah ke mana.

sapardi-djoko
Sapardi Djoko Damono

“Saudara-saudara bapak dan ibu saya semuanya bilang, ‘Damono itu langsung kerja saja, supaya nggak bikin susah’,” ujar Sapardi mengenang saat-saat ia lulus SMA. Mungkin, katanya, mereka kasihan dengan bapaknya yang cuma seorang pegawai negeri yang tidak akan bisa mengongkosi biayanya kuliah. Dengan langsung bekerja, dalam pikiran keluarga besarnya, Sapardi langsung bisa membantu kehidupan keluarganya.

Sapardi sendiri tahu diri. Ia tak akan memaksa orangtuanya. Untunglah, sang kepala sekolah SMA datang ke rumahnya, menemui ibunya untuk meyakinkan supaya Sapardi – sang siswa teladan se-Karesidenan Surakarta itu – melanjutkan kuliah. Pilihan terbaik baginya adalah UGM. Si kepala sekolah tahu betul potensi muridnya itu. Adalah kebanggaan baginya, jika muridnya itu melanjutkan dan mengembangkan potenti akademiknya yang besar sekali itu.

“Ada tiga orang bintang pelajar yang lulus dari sekolah saya waktu itu. Bertiga kami sama-sama masuk UGM. Saya nomor dua, kawan saya laki-laki nilainya di atas saya, dia masuk jurusan Bahasa Indonesia, dan yang nomor tiga di bawah saya, perempuan, ya anak kepala sekolah saya itu,” kata Sapardi.

Yogyakarta bukanlah kota yang asing bagi Sapardi. Solo-Yogya tidak jauh. Ia pernah sebelumnya beberapa kali ke sana. Dan UGM adalah mimpi besarnya. Bagi orang-orang tua di Solo, UGM itu sudah menjadi nama generik bagi universitas. UGM, u-ge-em adalah kata lain dari universitas. “Nenek saya itu kalau ngomong ya gitu, kuliahmu nanti di UGM Yogya aja, nggak usah UGM Bandung, atau UGM Jakarta,” ujar Sapardi.

Kunjungan kepala sekolah itu meyakinkan keluarga Sapardi. Ayahnya tak terlalu banyak bicara dan kepada anaknya hanya berjanji untuk memberi uang untuk pondokan, dan mungkin numpang makan seadanya: sekitar Rp200 per bulan. Selebihnya, Sapardi harus bertahan hidup sendiri. “Djoko kan sudah jadi penulis, dia nanti bisa cari uang dengan menulis,” kata kepala sekolahnya.

Hanya ibunya yang mengantar Sapardi ke Yogyakarta, sampai ke pondokannya yang “waah, banyak tikusnya!”. Kamar itu adalah bagian dari rumah di Jalan Pengek, rumah satu keluarga yang disewakan untuk mahasiswa.   Ketika pulang, ibunya menangis.

“Wong cuma ke Yogya aja kok nangis, Bu. Ini kan dari Solo nggak jauh…,” kata Sapardi menanangkan ibunya. Pasti bukan jarak itu yang membuat Sapariah menangis. Mungkin airmata itu berasal dari keharuan lain, bahwa inilah saatnya ia melepas anak lelakinya, dan membayangkan kehidupan berat yang akan ditempuh anaknya. Mungkin tangis itu disebabkan oleh kenyataan bahwa untuk anak lelakinya itu, ia dan suaminya hanya bisa membekali uang sewa pondokan. Apapun alasannya tangisan ibunya itu, seingat Sapardi, itulah pertama kalinya ia melihat ibunya menangis.

Sapariah adalah perempuan Jawa yang kuat.

Ia anak sulung dari tiga bersaudara. Sebagaimana Sadyoko, suaminya, ia lulusan HIS. Secara sosial, tingkat kebangsawanannya lebih tinggi dariapada suaminya, tetapi sesungguhnya ia tak peduli dengan itu, bahkan dengan kebangsawanannya sendiri, kecuali pada batas di mana adat-adat harus ia hormati.

Suasana di Yogyakarta ada diseludupkan Sapardi dalam novelnya “Trilogi Soekram” pada bagian “Pengarang Belum Mati”.

Tapi sebelum lebih jauh kita masuki novel itu baiklah kita tinjau dulu situasi novel itu. Novel itu ditulis Sapardi, dengan bingkai-bingkai cerita yang berlapis-lapis. Soekram adalah tokoh dalam sebuah cerita yang dikarang oleh seorang pengarang. Pengarang itu mati di bagian sebelumnya. Soekram lalu menemui Sapardi eh bukan, tepatnya si aku sang pengarang, kawannya pengarang yang sudah mati itu. Di bagian kedua, eh, si pengarang yang mati tadi ternyata masih hidup. Lalu meninggalkan disket berisi kisah Soekram tersebut. Kenapa kau percaya saja pada apa yang dikatakan tokoh bodoh itu?” Si pengarang yang mati tapi ternyata belum mati itu mengeluhkan semacam virus yang suka mengubah-ubah file cerita tanpa sepengetahuan dia seabgai pengarang.

Ribetkan? Memang! Nah, tambah ribet lagi, karena sekarang kisah itu dikisahkan lagi di sini. Begitulah, pokoknya Soekram itu kuliah di Yogya dan kita bisa mengintip kisah-kisah periode Yogya yang disusupkan Sapardi ke dalam karyanya itu.

            Ia mandi setelah mengisi bak mandi dari sumur senggot. Ember di ujung batang bambu untuk menimba air di sumur yang dalamnya beberapa meter. Kreot-kreotnya tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Soekram tidak tahu mengapa ia semakin menyukai menimba dengan senggot itu. Suara bambu yang diberati batu di pangkalnya itu seperti mengingatkannya pada suara-suara dari masa purba.

            Sumur di Yogya, dan tentu saja sumur di rumahnya di Solo, banyak sekali menginspirasi sajak-sajak Sapardi. Di satu sajak dia menulis: Di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan dan kakinya. Di sajak lain: Ia menjenguk ke dalam sumur mati itu dan tampak garis-garis patah dan berkas-berkas warna perak …. Ia melemparkan batu ke dalam sumur mati itu dan mendengar suara… Mereka bilang sumur mati itu tak pernah keluar airnya.

            Dan lewat paragraf berikutnya kita bisa dapat gambaran bagaimana Sapardi menjalani hari-harinya dan keadaan kamar rumah kosnya di Yogyakarta:

Soekram tersentak dari tidurnya, merentangkan tubuhnya. Jam sebelas malam. Dinyalakannya lampu belajar di mejanya yang berantakan karena buku dan berbagai jenis selebaran partai. Ia baru menyadari bahwa kalender yang di dinding mambu kamar kontrakannya itu masih menunjukkan bulan lalu. Lantai kamarnya lembab sebab dekat sumur, ada sarang laba-laba di salah satu sudutnya. Ia ingin merokok tapi rokoknya habis dan sudah terlalu malam untuk keluar membeli rokok. Ia melihat ada beberapa puntung rokok di asbak. Dibukanya satu demi satu lalu tembakau sisa itu dilintingnya dengan kertas koran. Dilihatnya selintas sobekan koran itu, kabar tentang Pemimpin Besar Revolusi. Sambil merokok ia mencoba mengingat-ingat apa yang harus dilakukannya besok. Kampus, rapat, ceramah, diskusi – ia tidak bisa memusatkan perhatian. Mungkin diskusi lagi. Sisa kopi yang dimejanya diminum, dingin dan terasa basi.

Nyatanya, tanpa uang bekal kecuali untuk bayar pondokan, Sapardi bisa bertahan hidup di Yogyakarta. Bagaimana dia bertahan? “Wah, iya ya? Bagaimana ya? Kok bisa ya?” kata Sapardi, mencoba mengingat lagi masa-masa mahasiswanya di Yogyakarta. Dia tidak lupa. Mungkin, pada saat itu, bahwa bisa dia kuliah saja sudah suatu kegembiraan besar. Dia tak terlalu berpikir tentang hal-hal lainnya.

Sapardi adalah perokok berat. Pada masa-masa puncaknya sebagai perokok ia bisa menghabiskan tiga bungkus Gudang Garam merah sehari. Rokok kretek itu – dan makan yang tak pernah cukup – membuat tubuhnya senantiasa kerempeng.

Nasi goreng tanpa minyak. “Minyak semakin susah, Nak Soekram,” kata ibukosnya selalu.”Anggap saja tempe gembus bakar ini sebagai sate ati,” katanya melanjutkan. Soekram tertawa, memahami sedalam-dalamnya dan setulus-tulusnya apa yang di balik kata-kata ibu itu. Setidaknya dua kali seminggu ibu setengah baya itu berangkat ke kelurahan untuk antre minyak goreng dan, kadang-kadang, gula.

 

Ia mulai dengan kenyataan bahwa ketika masuk kampus, bahkan ketika mengikuti masa-masa perploncoan, namanya sudah sangat dikenal oleh mahasiswa dan dosen. Ia adalah Sapardi Djoko Damono, penyair asal Solo, yang sajak-sajaknya sudah diterbitkan di Genta, Mimbar Indonesia, yang sudah menembus seleksi ketat seorang H.B. Jassin. Lebih dari seorang mahasiswa baru, dia adalah sastrawan yang mulai diperhitungkan. Ia tak bisa menghindar dari dinamika politik yang merangsek masuk ke kampus di tanah air, juga di UGM.

Keadaan memang terasa semakin susah, kata orang. Soekram memahami juga, meskipun radio selalu menyiarkan lagu-lagu perjuangan, puji-pujian untuk para pemimpin bangsa, dan warta berita yang mengabarkan keberhasilan pemerintah dalam menegakkan martabat bangsa dengan cara menolak neokolonialisme bersama-sama nefos dan melanjutkan revolusi yang belum selesai. Dan memperkuat poros Jakarta-Peking.

           

            Sapardi melukiskan suami ibu kos tempat Soekram menumpang tinggal itu seorang juru tulis di apotek, lima kilometer dari rumahnya, dan ia selalu berjalan kaki. Adapun Soekram punya sepeda bekas pemberian pamannya. Dari si bapak kos itulah Sapardi eh Soekram mendapat penjelasan tentang makna ketoprak, yang seminggu sekali disiarkan radio lokal. Juga menyarankannya untuk menontok kesenian rakyat khas Yogya, Dagelan Mataram, yang jadi medium penyebaran kritik sosial.

Politik pada tahun-tahun pertama Sapardi di UGM memang sedang jadi panglima.

Ia meluaskan wilayah peredarannya tidak hanya lingkungan kampus UGM, tapi ia bergaul dengan sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman Yogyakarta.

“Dengan sesama seniman itu kan seperti keluarga, kalau makan ya sama-sama makan. Mungkin itu ya, saya juga nggak terlalu mikir itu, bagaimana dapat makan, pokoknya tiap hari ya ada aja yang bisa dimakan,” kenang Sapardi. | Hasan Aspahani

Iklan

2 pemikiran pada “Yogyakarta dan Tangis Pertama Seorang Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s