Tentang Masa Kanak, Sajak, dan Menjadi Penyair

Masa kecil Sapardi sangat biasa. Ia selalu mengatakan itu setiap kali mengenang masa kanak-kanaknya. Tetapi, yang sangat biasa itulah yang terbukti kelak menjadi sesuatu yang sangat istimewa.

Ia sekolah di Sekolah Rakyat Kasatriyan. Sekolah untuk anak-anak laki-laki di lingkungan Kraton Surakarta, para abdi dalem, dan orang-orang yang masih punya hubungan dengan kraton. Ia sangat menikmati masa-masa sekolah itu. Masa ketika belajar menulis pada sabak. Sekolah menyediakan semua buku-buku pelajaran. Buku yang bebas dibaca tapi tak boleh dan tak perlu dibawa pulang.   “Tidak ada PR. Belajar di sekolah saja sampai jam 12 setelah itu pulang, dan main sebebas-bebasnya,” kenang Sapardi.

Di situ – seperti semua murid lain – selain belajar menulis, membaca, berhitung, ia belajar menari, menembang, dan menabuh gamelan. Semua pelajaran diantar dalam Bahasa Jawa Kromo. Di sekolah inilah, kata Sapardi, dia merasakan benar diajar untuk benar-benar menjadi seorang Jawa. Menjadi seorang priyayi.

“Saya tidak bisa berbahasa Melayu, sampai nanti saya SMA baru saya bisa,” kata Sapardi.

Ketika SD ia murid yang baik, tapi bukan murid yang menonjol. Dalam hal menari, misalnya, adiknya lebih menonjol. Bersama Sardono W Kusumo, penari besar itu, adiknya jauh lebih berkembang kemampuan tarinya, dan kerap tampil di sendratari Ramayana di Candi Prambanan.

Sapardi bukan murid yang suka membantah guru, atau membolos. Tapi satu hal yang pasti ia tahu bahwa ia adalah anak yang pintar. Di Sekolah Kasatriyan, satu kelas hanya ada 20 murid. “Saya tak suka duduk di depan,” kata Sapardi. Ada satu aturan di sana, bahwa yang mengajar kelas enam adalah si kepala sekolah. “Beliau sangat keras. Kami harus pakai sepatu atau sandal. Kalau tidak, si murid disuruh pulang. ‘Mau sekolah apa mau angon bebek?’,” ujar Sapardi mengingat kalimat teguran sang Kepala Sekolah. Padahal, anak-anak di masa itu, di sekolah lain, jarang sekali ada yang pakai alas kaki. Kalau sedang tidak sekolah pun, Sapardi kemana-mana ya tidak pernah pakai sandal, apalagi sepatu.

Tidak semua murid SR tamat. Yang boleh ikut ujian terakhir pun ditentukan oleh kepala sekolah. Dari 20 orang murid, hanya 12 yang diizinkan untuk ikut ujian, dan 8 yang lulus ujian, salah seorang di antaranya adalah Sapardi.

Sapardi juga tumbuh menjadi anak yang punya kesadaran akan bahasa. Bayangkan, di sekolah dia harus berbahasa Jawa Kromo. Anak-anak teman sekelasnya berasal dari kasta kepriyayian yang berbeda dan kepada masing-masing anak itu ia harus menyesuaikan bahasa yang dipakai. Sementara di luar sekolah, ia berbahasa jawa ngoko. Di lingkungan rumah keluarga besarnya, ia juga sering mencereweti bahasa saudara-saudaranya, para saudara sepupu dari adik-adik ibunya, dan seorang sepupu dari ayahnya yang menumpang tinggal selama sekolah SMA di Solo. Ia akan menggerutu kalau ada yang bicara dengan kata yang tidak pas penempatan atau pemakaiannya. Kalau Sapardi mengritik bahasa saudara-saudaranya, mereka biasanya akan mengadukan kepada ibunya…”Damono iku lo….”

Selama SD dan SMP, Sapardi berjalan kaki ke sekolah. Kira-kira hampir tiga kilometer jauhnya. Ia tak pernah menimbang itu sebuah jarah yang jauh atau dekat. Pada waktu itu ia menempuh jarak itu dengan gembira. Ia menghayati dengan caranya sendiri peristiwa langkah demi langkah kakinya. Apa yang kelak bangkit secara subtil dalam sajak-sajaknya. Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang. Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan. Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang. Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.

Sapardi sangat suka membaca. Kakak sepupunya yang menumpang di rumah usianya beberapa tahun di atasnya. “Saya SMP, dia sudah SMA. Bagusnya waktu itu, murid-murid SMA wajib berlangganan majalah Kisah. Itu bukan majalah sembarangan. Nah, saya selalu ikut membaca majalah kakak saya itu,” kata Sapardi. Kisah adalah majalah sastra yang dikelola Jassin. Terbit antara tahun 1950-1955. Sapardi menilai, betapa waktu itu Bahasa Indonesia waktu diajarkan dengan benar. “Ya, benar kan? Murid-murid disuruh membaca karya sastra. Benar itu. Hebat gurunya. Di situ saya membaca sajak-sajak Rendra, dan lain-lain,” kenang Sapardi.

Kegemaran membaca itu juga mungkin tidak istimewa, karena banyak anak-anak lain di kotanya pada waktu itu juga suka membaca.  Akan tetapi, penghayatan atau reaksi batinnya yang khas atas apa-apa yang dibacanya itulah yang membuat Sapardi berbeda, dan kelak membawanya ke jalan kepengarangan dan menjadikannya penulis besar.

Rasa hausnya pada buku membawa Sapardi menyinggahi perpustakaan dan kios-kios persewaan buku yang pada waktu itu banyak diusahakan penduduk di Solo. Salah satu kios yang paling dia ingat adalah kios milik Pak Amir, di kampung tetangga Kratonan, yang paling populer waktu itu. Dia membaca kisah petualangan Old Shatterhand dan Winnetou karya Karl May, terharu biru oleh Andang Teruna karya Sutomo Djauhar Arifin, melahap novel terjemahan karya William Saroyan Komedi Manusia, dan cerita pendek Amerika yang diterjemahkan oleh Mochtar Lubis.

Sepulang sekolah, setiap hari, Sapardi juga blusukan ke perpustakaan kota di Jalan Slamet Riyadi membaca majalah-majalah dan surat-kabar terbaru yang tersedia di sana. Di majalah-majalah dan surat-kabar itu, Kisah, Konfrontasi, Mimbar Indonesia, ia memburu puisi-puisi yang terbit. Ia bertemu sajak-sajak Ajip Rosidi, Hartojo Andangdjaja, dan tentu Rendra, dan sederet nama-nama lain. Di sekolah ia juga membaca sajak-sajak Pujangga Baru dan Chairil Anwar. Dari buku-buku dan pelajaran di sekolahnya Sapardi belajar tentang bagaimana sajak yang sudah dianggap jadi sebagai sajak, lepas dari baik buruk dan suka atau tidak sukanya dia pada sajak itu. Dari puisi-puisi di majalah dan surat kabar itu dia memperhatikan bagaimana penyair bereaksi atau menanggapi situasi yang sedikit-banyak ia juga ketahui. Ini adalah bagian penting dari proses belajarnya menjadi penyair.

Kios-kios sewa buku sudah muncul sejak zaman penjajahan Belanda.   Mungkin ini fenomena yang berlanjut dari ikhtiar Belanda mengadakan bacaan rakyat lewat buku-buku terjemahan berbahasa Melayu yang diterbitkan dengan subsidi penguasa lewat penerbit Balai Pustaka. Kelak Sapardi pernah ingin melamar kerja di penerbit plat merah ini, tapi baru saja melawati pintunya ia sudah ditolak.

Di kios Pak Amirlah dia menemukan dan membaca buku sajak Rendra Ballada Orang-Orang Tercinta, dan buku drama Murder in Chatedral karya T.S. Eliot. Itu terjadi pada tahun 1957.

Sapardi sudah menjadi remaja berusia 17 tahun, duduk di kelas dua SMA II Margoyudan. Sajak-sajak Rendra memikatnya, balada tokoh-tokoh dalam sajak Rendra menarik karena si penyair memilih bentuk narasi, bercerita, tetapi tetap memertunjukkan kemampuannya membangun imaji-imaji puitik unggul. Sebelum membaca bukunya, Sapardi sudah bertemu sajak-sajak Rendra di majalah dan surat kabar, karena Rendra sejak tahun 1951 sudah menembus media-media nasional. Sosok Rendra sendiri membuatnya penasaran, karena ternyata si penyair itu rumahnya hanya berjarak kira-kira 500 meter dari rumah Sapardi sewaktu keluarganya tinggal di Ngadijayan, Solo. Anak Solo yang usianya lima tahun lebih tua dari Sapardi itu pada waktu itu melejit bak meteor di langit sastra Indonesia. Sangat wajar jika pada waktu itu bangkit hasrat dan keyakinan dalam diri Sapardi bahwa ia bisa melakukan hal yang sama. Tapi ia tahu diri, dia bukan sosok remaja yang akan tumbuh menjadi flamboyan dan urakan seperti Rendra.

Pada tahun 1957 itulah Sapardi dengan sadar memulai proses belajar menulis. Ia belajar sendiri. Otodidak. Tentu dia tidak pernah menimbang apakah bekal bacaannya pada waktu itu sudah cukup atau tidak, atau merancang akan menjadi pengarang seperti apa nantinya.

“Saya belajar menulis pada bulan November 1957. Yang saya maksud dengan belajar itu adalah saya mencoba menulis apa saja, pokoknya tidak mengutip, dan bukan menerjemahkan,” kata Sapardi. Ia diam-diam rupanya sering menerjemahkan sajak-sajak atau bacaan apa saja yang ia sukai atau mengutip, menulis ulang bagian-bagian tertentu dari bacaan yang ia sukai. Sampai ia sendiri tergerak untuk menuliskan karyanya sendiri.

Itulah yang ia sadari sebagai proses awalnya belajar menulis.

Sapardi saat itu mungkin sudah bisa meraba, bahwa sementara Rendra menulis puisi yang bercerita, pada Eliot, Sapardi menemukan hal yang sebaliknya: cerita yang berpuisi. “Murder…” adalah drama yang dialog-dialognya berbentuk syair.

Bayang-bayang sajak-sajak Rendra bisa kita lacak pada sajak “Lagu Gunung Kidul” (Mimbar Indonesia, XII, 25 Februari 1959) ini: Hidup hari berayun pada cangkul cangkul, lagu sederhana bibir gemetar dari gunung kidul, sudut kerontang tanahair yang kupertahankan. Mari kunyanyikan senandung belas kasihan, hidup biasa atgas kerja yang membakar badan, kalau kaukata sehari muput berteduh mentari, kasih keluarga kan menebalkan ketabahan lelaki. Telah tumbuh cinta tanahair di manamana, telah telungkup penyair sambil menyerukan setia. Mari kuhitung bayi lahir tapi tak makan nasi, dan timangan ibu memanjat langit yang pasti, mari kupeluk tepuk bagi lelaki berperang atas kecintaan. Hidup hari bernapas atas tanahtanah gundul, tapi betapa susah kurasa kuraba, cintanya cinta keluarga teramat dalam membiru. Tak tertahan kuulurkan keduabelah tangan, menerima usia atas tanah teramat tua renta, mari bersiul buat hari depan gunung kidul.

Siapakah Thomas Stearns (T.S.) Eliot (1888–1965)? Dia adalah kritikus, dramawan, dan penyair Amerika berdarah Inggris kelahiran St Louis, Misouri. Tak hanya penting di negeri kelahirannya, T.S. Eliot juga sosok penting dalam khazanah sastra dunia. Tahun 1948 dia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra. Dia mengaji ilmu di sejumlah perguruan tinggi penting, Harvard, Sorbonne dan Oxford. Tahun 1914 dia menetap di London dan tahun 1927 menjadi warga negara Inggris.

Nah, lihatlah, seorang siswa kelas 2 SMA yang belajar dalam Bahasa Indonesia – bahasa yang masih amat muda, penduduk kota Solo yang bicara Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, warga negeri yang baru tujuh tahun merdeka, yang sedang belajar menulis apa saja – ia tak terlalu peduli bentuk, tapi yang ia tulis pada waktu itu adalah dasar-dasar puisinya yang kelak berkembang – membaca karya drama tokoh terkemuka gerakan modernis Eropa?

Apa yang terjadi?

“Mudah diduga, penguasaan Bahasa Inggris murid kelas dua SMA yang pas-pasan tidak akan mampu memahami buku itu,” kata Sapardi. Paling-paling, katanya, hanya 25 persen dari isi buku itu yang ia mengerti. Tapi, ia mengakui, ada semacam magnet yang memaksa ia terus membaca buku itu. Buku itu nempel terus padanya. Kelak ia jadikan buku itu sebagai bahan skripsinya. Ia juga menerjemahkan drama itu utuh, lewat bantuan Proyek Penerjemahan Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1970-an. Pada awalnya, ketika menemukan buku itu, Sapardi sesungguhnya tak tertarik pada isi drama itu. Ia terpikat pada cara pengucapannya. Eureka!

“Sejak itu, masuklah apa yang boleh disebut sebagai ‘pengaruh’ ke dalam puisi yang saya tulis, terutama dalam hal penciptaan metafora, suasana, dan penggunaan repetisi – yang kemudian saya ketahui sebagai ciri utama gerakan Modernis dalam puisi,” kata Sapardi dalam pengantar eh catatan pribadi pada buku “Pembunuhan di Katedral”, yang ia terbitkan Editum pada 2015. Pengaruh itu, pastilah tidak masuk dengan serta-merta dan lancar. Keterpengaruhan itu pun pasti tidak seperti obat yang disuntikkan lalu mengalir dalam darah dan kemudian bekerja, menjadi bagian dari proses metabolisme. Pengaruh itu tersaring, terserap, menyesuaikan diri, terolah, sementara ada bagian-bagian lain yang ditolak, diabaikan, diremukkan! Lalu menjadi semacam fomula. Bukan. Bukan formula kaku dan baku, bukan kredo yang mengekang Sapardi sebagai penyair.

.           “Saya bisa terharu membaca novel, tetapi membaca beberapa sajak modern itu ternyata telah menyebabkan saya merasa seperti ada yang mengganjal di tenggorokan. Saya tidak pernah merasa bisa menangkap makna sajak-sajak itu sepenuhnya, namun terasa bahwa apa yang pernah gagal saya tulis menjadi cerita dulu itu membayang dalam beberapa di antaranya,” kata Sapardi tentang proses belajarnya menjadi penyair.

Jika ketika membaca “Murder…” ia tak sepenuhnya mengerti karena bahasanya, maka kenapa ia juga tak mengerti ketika membaca sajak modern Indonesia kala itu? Begitukah puisi? Puisi boleh tidak masuk akal?

Dalam ketegangan, berbekal bahan-bahan aktual, dan cadangan kenangan masa kecil itulah, Sapardi memulai menulis: kali ini puisi. Dan jalannya terbuka. Pada tahun itu juga sajaknya dimuat di sebuah majalah yang terbit di Semarang. Dengan majalah berisi puisinya di tangan, ia ngebut berkeliling jalan-jalan di kota Solo, seakan-akan hendak mengumumkan kepada semua orang Solo tahu bahwa seorang penyair telah lahir. Esoknya dia melangkah ke sekolah dengan kepala besar. Tapi, tentu saja, di sekolahnya, tak banyaka juga yang tahu soal pemuatan puisi itu.

Sementara itu, pembaca, mari kita kembali lebih dahulu ke masa kecil Sapardi yang tidak istimewa tapi sangat istimewa tadi. Ini penting sebab dari masa-masa itulah ia memanen bahan untuk membangun imaji sajak-sajaknya. Apa yang biasa tapi luar biasa itu menjadi fosil, mengendap bertahun-tahun, tertimbun perisitwa-peristiwa di tahun-tahun berikutnya, dan kelak ketika ia gali ia menemukan bahan yang kaya. Tak habis-habisnya.

Seperti anak-anak lain di kampungnya, di luar jam-jam sekolah, ia main layang-layang, gobak sodor, main kelereng, mengadu jengkerik, mencari belut, petak umpet, main bola, hujan-hujanan, nonton wayang kulit, dhelikan, nonton film Tarzan atau film Koboi yang dibintangi John Wayne, dan mencuri tebu.

Jauh sebelum ia dengan sadar memulai prosesnya belajar menulis ia sudah menulis, pada waktu masih SMP, sekolahnya adalah SMP di wilayah Mangkunegaran, ia menulis sesuatu yang sebutlah itu sebagai prosa. Saya itu sebenarnya ingin menjadi penulis prosa. Ia menulis pengalamannya dilepas oleh ibunya, pergi bersama ayahnya, untuk menginap beberapa hari di rumah ibu tirinya, istri lain ayahnya. Soal ini penting dan menarik, seperti apa hubungan ayah dan ibu Sapardi? Apa pengaruhnya terhadap perkembangan dirinya? Tapi, nanti ini akan kita ceritakan pada bagian lain.

Nah, Sapardi menulis pengalaman yang benar-benar ia alami itu. Cerita itu lalu ia kirim ke sebuah suplemen untuk anak-anak bernama Taman Putra, di majalah berbahasa Jawa amat terkenal Panyebar Semangat. Redaktur pengasuh halaman kanak-kanak itu adalah Subagio Imam Notodidjojo yang selalu menampilkan dirinya sebagai Pak Sin. SIN, inisial namanya. Pak Sin menolak karangan Sapardi, dengan catatan ceritanya tidak masuk akal.

“Penolakannya diumumkan di majalah itu. Jadi disebutkan gitu, bahwa redaksi menerima beberapa karangan, judulnya ini, pengarangnya ini. Nah, karangan saya itu ditolak, dengan alasan tak masuk akal. Itu ditulis di majalah itu,” kenang Sapardi.

            Tentu saja Sapardi kecewa atas penolakan itu. Sangat kecewa. Alasan tidak masuk akal, sama saja menuduh Sapardi berbohong. Dusta. Padahal apa yang ia tulis benar-benar nyata, kejadian yang ia alami. Sapardi bukan anak yang suka berbohong. Ia anak yang jujur. Ia orang yang selalu menghindari konflik. Kebohongan baginya adalah tindakan yang membuat hidup menjadi rumit. Anak yang kecewa ini berhenti menulis. Ia kehilangan alasan untuk menulis. Apa yang harus ia tulis? Usaha menulisnya yang pertama, yang dia pikir menarik, bahan karangan yang ada pada dirinya divonis sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan ditolak. Pintu masuk pertama yang ia ketuk tak membuka diri padanya.

Ya, ia berhenti menulis tapi untungnya ia tak berhenti membaca. Sampai kemudian ia menemukan Rendra dan terutama Eliot di tahun 1957, saat dia kelas 2 SMA tadi.

Kelak kepada Sapardi, dalam kesempatan mereka bertemu pertama kali, Pak Sin meminta maaf karena pernah menolak karangannya itu. “Wah, saya nggak enak, hahaha. Nggak apa-apa, wong waktu saya masih anak-anak kok, kata saya. Justru penolakan itu ada gunanya,” ujar Sapardi.

Penolakan Pak Sin, menyadarkannya satu hal: bahwa di dalam hidupnya yang masuk akal itu ada yang tidak masuk akal! Ketika ia menuliskan apa yang tidak masuk akal itu, maka orang lain berhak menolak, tetapi dia sendiri tak bisa menolak karena ia sudah mengalaminya. Ia menjadi semacam beban dalam pikirannya, yang ia sendiri tak mengerti. Ia kecewa, tapi mungkin juga senang, karena ada juga yang istimewa dalam hidupnya yang tidak istimewa itu. Pak Sin menolaknya, dan penolakan itu mengajarkannya satu hal: sudut pandang! Apa yang nyata, yang masuk akal, dari sudut pandang lain bisa dilihat sebagai dongeng!

“Ketika mula-mula sekali menulis puisi, terasa bahwa sudut-sudut luput dari teriak dan siul masa kecil mulai hidup kembali dalam kata-kata,” ujar Sapardi. Sedikit demi sedikit keinginannya untuk mengungkapkan apa yang tak masuk akal itu muncul kembali.

Aha!

Aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku. Satu per satu terbuka, bagai daun-daun pintu, hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi yang bernama rahasia; begitu sederhana: sama sekali terbuka dan engkau selalu menjumpai dirimu sendiri di sana, bersih dan telanjang, tanpa asap dan tirai yang bernama rahasia.

            Jangan terkejut: memang dirimu sendirilah yang kau jumpa di pintu yang terbuka itu – begitu sederhana jangan gelisah, itulah tak lain engkaumu sendiri, kenyataan yang paling sederhana tapi barangkali yang menyakitkan hati.

            Aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu dan engkau pun masuk, untuk mengenal dirimu sendiri di sana.

            Sajak “Penyair” (Basis, No. 10, Tahun XV, Juli 1966) adalah sebuah pernyataan, pengakuan, tentang penemuan, tentang kesadaran diri Sapardi sebagai seorang penyair, Jangan terkejut, katanya mengingatkan dirinya sendiri, memang dirimu sendirilah yang kau jumpa di pintu yang terbuka itu!

Jika Sapardi mulai belajar menulis secara sadar pada 1957, maka proses belajarnya sampai dia merasa bisa – kita pakai sajak “Penyair” ini sebagai patokan, dan tahun 1966 sebagai batas waktunya, maka proses belajar itu berlangsung selama 9 tahun! Betapa sabarnya. Ya, ya, pada tahun 1961 pun sesungguhnya Sapardi sudah menyiarkan sajaknya yang lain, sajak yang berjudul “Sajak Orang Gila” (Sastra, No.7 Tahun 1, November 1961). Sajak ini sepertinya belum membuat si penyair kita ini yakin dengan kepenyairannya. Mudah sekali kita melihat aroma baladanya Rendra pada sajak tersebut – terdiri dari enam bagian dan amat naratif. Sapardi yang sedang mencari, belum merasa menemukan sesuatu dengan sajak itu.

Ia belum sepenuhnya menjadi penyair yang jadi. Tapi ia sudah masuk jauh ke dalam sajak. Ke dunia sajak. Ke dunia sajak-sajaknya. Jauh sebelum meninjau kepenyairannya dengan “Penyair”, tujuh tahun sebelumnya, dia sudah merumuskan apa itu sajak baginya dalam “Tentang Sadjak” (1959): Sekali aku ingin masa bocah kembali, siang dolanan dan istirahat pada malam hari, pada kasih ibu lembut dongengan lembut, tapi di ranjang ini kini sajaksajak ria menyambut.

            Betapa aku selalu doakan hidup sederhana, pagi berangkat dan pulang letih setiap senja. Istrianak menanti kasih menantinanti. Tapi selalu saja sajak membangunkan diri.

            Kau kutolak rindu bagai gaib burung hantu. Perlahanlahan mengarungi hatinya sendiri. Tapi kalau saja mau kurebahkan badanku. Sajaksajak datang memelukku perih sekali.

            Terentak aku terkejut suaranya mengusap muka. Sajak yang bangkit dan menyepoi lewat jendela. Usia dimintanya atas malamku ia merebah. Penuh napsu kukecup keningnya yang indah.

            Penyair berusia 19 tahun itu, dengan sangat bagus merumuskan apa arti sajak baginya. Bagaimana ia bisa sampai pada permenungan dengan taraf setinggi itu? Ia telah punya kesempatan untuk masuk ke gebalau kehidupan, dan ia masuki itu, kemudian ia beruntung punya waktu untuk mengambil jarak, menyepi, mempermenungkan apa yang ia saksikan dan ia alami itu. Inilah hasilnya: Sajak, menyajak, bagi Sapardi bukan sesuatu yang nyaman. Sajak adalah apa yang memeluknya perih, yang menjauhkannya dari kebahagiaan dongengan lembut ibu dan keceriaan dolanan masa kanaknya, tapi sajak yang tak membahagiakannya itulah yang ia kecup keningnya yang indah dengan penuh napsu.

           

Nyatanya, “Sajak Orang Gila” , dan “Tentang Sadjak” , bahkan sajak “Penyair” pun tidak ia sertakan di buku sajaknya yang pertama, “Dukamu Abadi”, yang terbit tahun 1969, yang hanya memuat sajak-sajak yang ia tulis tahun 1966-1967. Inilah buku pertama, semacam laporan hasil kerja pencariannya sebagai penyair kepada publik pembaca. Wajar jika ingin menyusun laporan yang meyakinkan, yang sebagus-bagusnya. Dan untuk itu dia harus memilih sajak dengan kejam! | Hasan Aspahani

Baca juga:  Yogyakarta dan Tangis Pertama Seorang Ibu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s