Kisah Anak Yatim Pencuci Bis

| Oleh  Fatih Muftih |

Suatu petang di tahun 1973.

Bocah sembilan tahun itu basah kuyup. Kaus kumal dan celana selutut yang ia kenakan tak lagi bisa menahannya dari hembusan kencang angin petang itu. Ia menggigil. Di tangan kirinya ember kecil berisi air sabun dan selembar kain lap.

“Dah selesai, Pak Ucup,” katanya.

Siswa kelas tiga SD itu melaporkan hasil pekerjaannya selama satu jam terakhir kepada Pak Ucup, sopir bis Dinas Penerangan Kabupaten Riau Kepulauan. Saat melapor, senyum tak hilang-hilang dari wajah bocah itu. Pak Ucup mengerti. Saatnya menyodorkan sekadar upah kepada tukang cuci bus langganannya itu.

Serecehan dari kocek celana Pak Ucup berpindah tangan yang setengah bergetar menahan dingin. “Terima kasih, Pak Ucup. Besok kalau busnya kotor, panggil saya lagi, ya, Pak.” Bocah itu sadar, Pak Ucup adalah sumber uang jajannya. Tak boleh sampai ia beralih langganan ke tukang cuci lain.

Pak Ucup mengangguk dari balik kemudi. Mengacungkan jempol. Senyum si bocah semakin lebar seiring asap pekat knalpot bus. Bis Pak Ucup melaju. Dari balik spion, Pak Ucup melihat sekelabat bayang tukang cuci bus langganannya itu melambaikan tangan.

Receh demi receh dari kemurahan hati Pak Ucup itu dibawa pulang. Diambil sekenanya untuk jajan. Sisanya disimpan dalam celengan sederhana yang sesekali ditariknya untuk membeli buku tulis, pensil, dan penghapus.

Sebagai anak keempat dari lima bersaudara, bocah itu sudah diberkahi kesadaran: tak mungkin menggantungkan uang jajannya setiap hari kepada Ijah, ibunya yang bekerja serabutan. Mulai dari berjualan apa saja yang bisa menghasilkan uang sampai menjadi tukang cuci pakaian. Terlebih, bocah itu adalah anak laki-laki pertama yang lahir dari pasangan keluarga sederhana Abdul Ahad dan Ijah.

Kemandirian adalah pelajaran pertama yang ditanamkan ibunya, sejak sang ayah menutup mata untuk selama-lamanya. Tak banyak ingatan apalagi pesan dari ayah yang ditemuinya hingga usia dua tahun saja.

Namun, ilmu pertama sekaligus utama itu lebih dari cukup baginya sebagai bekal di dunia. Karena kemudian ilmu itu menjadikan sang bocah pencuci bus ini sebagai orang besar.

Besar dan terus membesar. Menerobos halangan. Menaklukkan ketakmungkinan. Benar-benar besar.

*

Ansar Ahmad yang tak berjarak dengan orang biasa.
Latar belakang Ansar Ahmad sebagai orang biasa membuatnya  tak berjarak dengan orang biasa.

Mentas dari bangku SD, SMP Negeri 4 Tanjungpinang jadi tempat menempuh ilmu selanjutnya. Sudah lama dilepaskan pangkatnya sebagai ‘tukang cuci bus langganan’ Pak Ucup, si sopir bus Dinas Penerangan.

Dengan tenaga yang lebih berisi dari sekadar tukang cuci, remaja ini beralih profesi. Jadi tukang bangunan. Ajakan untuk mengisi waktu senggang ini ia sanggupi. Kerasnya kehidupan memang sudah dijadikan teman sedari kecil. Kalau usia sembilan tahun saja sanggup mencuci bus, apa susahnya kalau sekarang sekadar menjadi tukang bangunan. “Kecil itu,” katanya mantap.

Mengangkat adukan semen atau mendorong bak pasir memang meletihkan badan. Ia tak menyangkal badannya terasa pegal tak keruan ketika mandi. Tapi hidup tak boleh berhenti. Ia mandi buru-buru. Karena corong masjid sudah mengumandangkan azan Magrib.

Padatnya aktivitas sekolah dan keletihan seorang tukang bangunan tak lantas melenakan. Apalagi untuk memenuhi panggilan Tuhan. Dikenakannya kopiah beludru hitam yang tak lagi halus bulu-bulunya, disalami ibunya, dan kemudian berlari.

Ilmu agama adalah obat yang menyembuhkan letih seharian. Usai mendirikan salat berjamaah, tukang bangunan muda ini tak lantas pulang. Duduk bersila seraya memangku Alquran. Diulang-ulangnya cara melantunkan ayat-ayat yang sudah diajarkan.

Dibandingkan teman sebaya, ia punya nilai lebih urusan melantukan ayat suci Alquran. Sudah berulang kali namanya masuk sebagai peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Kedekatannya secara intens dengan masjid membuat waktu malamnya lebih banyak dihabiskan di sana. Sampai-sampai Ijah, ibunya, tak heran bila anak keempatnya itu pulang telat di malam hari. Tak lain dan tak bukan pasti masih berada di masjid.

Maka tak heran ketika telah duduk di bangku SMA Negeri 2 Tanjungpinang, ia kemudian dipercaya sebagai pengurus remaja masjid. Tak tanggung-tanggung, pensiunan tukang cuci bus Pak Ucup ini diamanahi sebagai wakil ketua remaja Masjid Raya Al-Hikmat. Keilmuan dan kepribadinnya menjadi tolok ukur tak tertandingi ketimbang remaja sebayanya. Kendati berdarah muda, pembawaannya cenderung kalem dan santun. Didahulukannya berpikir sebelum berbicara.

Keinginan belajarnya sedari kecil memang tinggi. SMA telah tamat. “Kalau nak melanjutkan kuliah, lanjutlah. Tapi Mak cuma dapat bantu doa,” kata ibunya. Bukannya patah semangat, tekadnya justru makin bulat. “Cuma ilmu yang dapat mengubah nasik kehidupan, Mak.”

Ia berangkat.

*

Di balik kaca kapal feri yang kabur, terlintas dalam benaknya bayang-bayang Tanjungpinang. Ia memikirkan keberlangsungan hidup emaknya sebagai tulang punggung keluarga. Ia merindukan masjid yang sudah dianggapnya sebagai rumah kedua. Ia menitikkan air mata.

Tangannya meraba-raba saku celana. Seikat uang kertas lusuh masih ada di sana. Uang tunai Rp 90 ribu hasil tabungannya dari upah tukang bangunan dan menjual buah itu adalah satu-satunya modal yang dipunya. Selebihnya hanya sekadar buku bacaan dan pakaian di tas yang teronggok di bawah kursi. Dalam hati, ia mengikat janji akan pulang dengan keadaan yang jauh lebih baik dari ini.

Pekanbaru. Perguruan tinggi nomor satu sedang dituju. Universitas Riau adalah kawah candradimuka yang menggodok kepribadian bocah yang betah berlama-lama di masjid ini. Lapar tak boleh menangis. Lelah tak boleh mengeluh. Mantra-mantra yang menguatkannya selama di kota rantau.

Fakultas Ekonomi kian mendadarnya sebagai pemuda berjiwa pengusaha. Segala kemampuan dikerahkannya untuk menyambung hidup di sana. Ilmu mengaji yang sudah ditekuni sedari dini membuahkan hasil. Oleh beberapa kenalannya di kampus, ia dipercaya mengajar mengaji secara privat. Dari rumah ke rumah. “Tak bisa kalau terus begini.” Insting pengusahanya berbicara.

Upahnya yang telah terkumpul, digunakannya untuk menyewa sebuah rumah kecil. Jadi tempat tinggal sekaligus tempat mengajar mengaji. Lambat-laun semakin banyak yang mempercayai dia. Pamornya di kalangan kampus semakin membahana. Di tahun kedua, pemuda kelahiran 10 April ini terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Riau. Sebuah jabatan yang tak mudah. Tapi ia berpikir jabatan adalah amanah yang harus dituntaskan. Sebaik-baiknya.

Pekanbaru yang semula rimba jadi terang setelahnya. Beasiswa pendidikan menyinggahinya. Makin ringan beban hidupnya. Tak boleh jadi kacang lupa kulit. Ia punya tiga kakak perempuan dan satu adik di Tanjungpinang. Juga satu ibunda yang luar biasa dan tak tergantikan. “Beasiswa ini masih banyak sisa,” katanya dalam hati dan tindakan nyatanya adalah mengirimkan sisa beasiswa tersebut ke kampung halaman.

Di ujung masa kuliahnya, jabatan prestisius kembali menempel di balik namanya. Ia dipercaya sebagai Ketua Koperasi Mahasiswa UNRI. Mental pengusahanya makin diasah lewat amanah ini. Koperasi mahasiswa yang semula hidup segan mati tak mau, perlahan menggeliat dan tak pernah sebesar ini sebelum-belumnya. Sentuhan guru ngaji ini bertaji.

*

Selasa 10 Agustus 2010. Pukul 08.45 WIB

Gedung DPRD Bintan riuh. Tenda-tenda sudah didirikan di luar gedung. Papan-papan bunga ucapan selamat sudah berbaris sejak pagi buta. Tamu-tamu yang hadir berpakaian rapi. Semua ingin jadi saksi.

Seorang pria sedang mematut diri di muka cermin. Dipas-paskannya pakaian setelan putih yang telah dimilikinya sejak lima tahun lalu. Ada sedikit gusar. Khawatir masa lima tahun telah membuat badannya tambun. Tapi olahraga yang telah rutin menjadi bagian hidupnya, menangkal kegusarannya. Butang-butang tetap pada tempat yang pantas dan sebagaimana mestinya. Tak terlalu ketat. Tak begitu longggar. Pas!

“Saya tidak ada mempersiapkan khusus dalam menghadapi pelantikan nanti. Saat ini saya hanya mempersiapkan menguruskan atau mengurangi berat badan. Karena baju pelantikan nanti akan menggunakan baju lama,” katanya menjawab pertanyaan wartawan.

Setelah memastikan rambutnya tersisir rapi, dikenakannya topi. Bentuknya seumpama topi polisi. Ada lambang garuda tersemat di sana. “Ayo, Pak. Pak Gubernur sudah datang,” kata istrinya dari balik punggungnya.

Pria itu melangkah tegap. Senyumnya secerah matahari pagi itu. Berkali-kali menerima jabat tangan yang diulurkan tamu undangan. Selamat. Selamat. Selamat. Terus dan terus berulang. Sebuah ucapan yang pantas dialamatkan bagi pria yang dilimpahi kesempatan menjabat kali kedua. Tak banyak yang begitu. Tapi dia memang menjadi anomali. Ia menyayangi masyarakat. Masyarakat mencintainya.

Kepalanya sudah sejengkal di bawah kitab suci. Pensiunan tukang cuci bus dan guru ngaji ini diambil sumpahnya sebagai seorang bupati untuk kali kedua. Suaranya mantap.

“Saya Ansar Ahmad, Demi Allah saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban saya sebagai Bupati Bintan dengan sebaik-baiknya dan seadil–adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus–lurusnya, serta berbakti kepada masyarakat, nusa dan bangsa.”  |

Fatih Muftih adalah seorang wartawan, tinggal di Tanjungpinang. Kunjungi blognya fatihmuftih.blogspot.co.id.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s