Indonesia Moeda, Soekarni, dan Buronan Berharga 100 Gulden

PEMUDA itu digerakkan oleh marah. Dia mengarahkan galah bambu berujung runcing yang bergetar di tangannya, tangan yang ditenagai oleh emosinya, menghantam dinding tepat pada foto Bung Karno.

Terkena hantaman keras, lalu terlepas dari gantungannya, foto itu terhempas ke lantai, menghamburkan pecahan-pecahan kacanya. Foto Bung Karno itu pun rusak terkoyak. Murid-murid di kelas itu terperanjat. Mereka tahu siapa Bung Karno dan kenapa fotonya dipajang di dinding depan kelas mereka. Tapi mereka tak tahu kenapa pemuda itu dengan marah menghancurkan foto itu?

Tan Malaka (kiri) dan Soekarni (kedua dari kiri).
Tan Malaka (kiri) dan Soekarni (kedua dari kiri).

“Soekarni?! Apa yang kau lakukan? Keterlaluan kalian!” guru yang sedang mengajar di kelas itu, yang juga tampak amat terkejut, berteriak menegur. Dan dengan isyarat tangan, dia meminta murid-muridnya untuk tenang.

Beberapa pemuda lain, kawan-kawan pemuda tadi, menunjukkan koran Bintang Timoer yang mereka bawa. Menuding pada judul besar sebuah berita. Pemuda tadi sementara itu tampak seperti tak peduli apa yang diteriakkan oleh si guru.

“Bung Amir sudah baca berita ini?! Pemimpin seperti apa yang memohon-mohon ampunan kepada penjajah seperti ini? Kami kecewa, Bung! Sangat kecewa!“

“Kita selidiki dulu apa betul Bung Karno benar-benar meminta ampun. Saya belum percaya. Kalian kan tahu, pemerintah penjajah itu akan melakukan apa saja untuk melemahkan tenaga perjuangan kita. Termasuk memfitnah Bung Karno.”

***

            Salah seorang dari murid yang terperanjat di kelas itu, beberapa bulan kemudian membaca di Majalah Indonesia Moeda, serial tiga buah artikel berjudul “Gempoer Lawanmoe Hantjoer! Ia juga membaca di surat kabar ramai diberitakan nama-nama anggota redaksi Indonesia Moeda itu ditangkap PID. Kecuali satu orang yang berhasil lolos! Dan menjadi buronan. Dialah pemuda yang ia saksikan menghantam bingkai foto Bung Karno di depan kelasnya, sekolah Perguruan Rakyat.

Sebagai buronan intel Politie Inlichtingen Dienst (PID), informasi tentang diri Soekarni dihargai 100 gulden. Nilai penawaran yang lumayan besar pada tahun 1936 itu. Foto wajahnya – ia adalah Clark Gable versi Jawa, dan keterangan tentang dirinya disebarkan di pos-pos, stasiun tram dan sepur, di dinding-dinding tahanan, dan kantor-kantor polisi kolonial.

Buronan itu menyamar kadang sebagai menjadi sepasang pengemis tua, dan dia dengan berjalan terseret menjadi perempuan tua dengan pakaian kebaya lusuh dan sarung, atau menjadi pedagang tembakau pikulan dengan baju cina dan celana hitam selutut dan destar mengikat kepala. Di pantai Cilincing ia menawarkan dagangannya kepada para pelaut-pelaut Bugis, awak kapal antarpulau yang bersandar di sana. Tujuannya sebenarnya cuma satu yaitu mencari tumpangan gratis untuk meninggalkan Batavia terutama, dan Jawa selebihnya, tempat yang tidak lagi aman baginya. Tak susah baginya untuk mendapatkan simpati para awak kapal itu, sebuah kapal ke Kalimantan pun ia tumpangi. Sebelum berangkat ia masih sempat pamit kepada beberapa kawan muda, kawan berjuangnya. Setelah itu diapun menghilang. Bertahun-tahun.

 *

            Soekarni Kartodiwirjo sudah melibatkan dirinya dalam pergerakan bangsa – dan itu artinya sudah menyeret dirinya sendiri ke arah dan ke dalam bahaya – sejak masih sangat muda. Beruntung ia bisa mengambil pendidikan di Sekolah Mardisiswo – yang memang tak seterkenal Taman Siswa – tapi sekolah yang diasuh oleh Moh. Anwar, seorang nasionalis dari Banyumas ini, adalah sekolah radikal yang menanamkan semangat nasionalisme ke dalam dada murid-muridnya. Soekarni kecil, sering melompat dari dokar yang mengantarnya dan saudara-saudaranya pergi ke dan pulang dari sekolah untuk berkelahi dengan anak-anak Belanda yang berpapasan dan mengolok-olok mereka. Anak-anak Belanda itu adalah anak-anak pegawai pabrik gula di desa Garum.

Pada usia 14 tahun, di tahun 1930, keturunan Eyang Onggo seorang juru masak dalam pasukan perang Pangeran Diponegoro ini, sudah menjadi ketua Persatuan Pemuda Kita di Blitar, kota kelahirannya. Pada usia semuda itu ia sudah menjadi orator hebat, sehingga suatu kali polisi Belanda pernah menghentikan pidatonya, memaksanya turun dari podium, dan Sukarno kemudian diinterogasi oleh Residen Blitar Van der Plas. Tubuh yang tegap, paras yang tampan, ya bayangkan lagi seorang Clark Gable versi Jawa, dan keberaniannya untuk menampilkan diri dengan gagah di hadapan orang banyak itu ia warisi dari ayahnya, Kartodiwirjo, yang terkenal sebagai seorang pemain warok Ponorogo.

Ada sebuah organisasi pemuda nasional yang memikat hati Sukarni, yaitu Indonesia Moeda (IM). Ini adalah gabungan semua perkumpulan pemuda kedaerahan sebagai wujud nyata dari tekad Soempah Pemoeda 1928. Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Celebes, semua melebur kedalam Indonesia Moeda. Masalahnya, IM dipandang sebagai organisasi elitis, tidak merakyat. Mungkin itu terjadi karena anggotanya adalah pemuda-pemuda terpelajar yang bersekolah minimal setingkat MULO.

Soekarni – anak keempat dari 9 bersaudara itu – menikmati pendidikan yang baik, berkat ekonomi keluarganya yang lumayan mapan, dan kesadaran orangtuanya akan pentingnya pendidikan, sebuah kesadaran yang langka kala itu. Setelah menikahi Supiah, dan meninggalkan dunia warok, Dimun, nama kecil Kartodiwirjo, mulai berdagang kecil-kecilan, kemudian menjajal jual beli sapi, sebelum akhirnya menjadi seorang jagal. Kehidupan keluarga Kartodiwirjo menanjak membaik setelah membuka kios berjualan daging sapi di desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Blitar. Pelanggan mereka adalah pekerja di pabrik gula Belanda yang dibangun tak jauh dari desa mereka.

*

            Reaksi atas ekslusivisme IM adalah pembentukan Suluh Pemuda Indonesia (SPI), setahun berselang, di Malang oleh para pemuda rakyat yang merasa tak pantas untuk bergabung dengan IM, sementara keinginan untuk mempertautkan diri dengan organisasi perjuangan tak bisa mereka tahan. Pada tahun yang sama, di Semarang juga terbentuk Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia (Perpri). Di Perpri Cabang Purwokerto itulah Soekarni bergabung.

Masuknya Soekarni ke IM, adalah juga upaya kawan-kawannya yang gelisah dengan benteng elitisme yang terbangun di sekitar organisasi potensial itu. Ia menjadikan IM merakyat. Soekarni berhasil. Dalam Kongres IM di tahun 1936 ia terilih menjadi ketua Pengurus Besar IM. Di tangan Soekarni IM menjadi organisasi yang revolusioner. Ia faham benar apa arti Soempah Pemoeda yang menjiwai leburnya organisasi-organisasi pemuda kedaerahan kedalam IM.

Soekarni, semasa belajar di Bandung, tidak asing bagi keluarga Bung Karno. Ia kenal baik dengan Bu Inggit, karena sering menginap di rumahnya. Ia aktif di asrama pelajar yang secara tak resmi diberi nama Ashrama Indonesia Merdeka di Bandung, yang menggelar kegiatan pengkaderan di mana Sukarno adalah salah seorang pengajarnya.

*

            Di mata Latief Hendradiningrat, Soekarni adalah sosok Sukarno dalam bentuk lain. Keduanya sama-sama seorang orator. Pilihan kata-kata dan muatan pidato dan bicaranya selalu terasa ekstrem. Dan itulah yang menarik bagi Latief. Pada saat mereka bertemu pertama kali di Kongres IM di Surabaya, Soekarni masih 18 tahun, dan Latief lima tahun lebih tua. Pada masa itu, pemuda pejuang yang jago bicara, bisa membakar semangat pemuda lain sangat dihargai. Soekarni punya kemampuan itu, ditambah wawasan tentang sejarah dan pengetahuan politik yang ada padanya membuat pidato-pidatonya berisi.

Latief dan Soekarni bertemu lagi di Perguruan Rakyat di Jakarta, di Jalan Kramat, dalam hubungan yang lain: Latief guru, dan Soekarni murid. Perguruan Rakyat membuka sekolah dasar, Pergoeroean Rendah, Perguruan Rendah Oemoem Loeas (setingkat MULO), dan Perguruan Oemoem Pendidik (POP). Pada sekolah yang disebut terakhir itulah Soekarni menjadi murid. Murid yang berbagi waktu antara ruang kelas dan ruang sel penjara. Seminggu disel. Seminggu sekolah. Di sekolah itu Latief mengajar Bahasa Inggris, menggantikan Mr. Amir Sjarifoeddin yang kena larangan mengajar.

Soekarni tahu bahwa sepak terjangnya makin berisiko. Ia dan IM baru makin populer. Ia dan IM baru seakan mengisi kekosongan perjuangan, menyinambungkan apa yang sudah dilakukan tokoh pergerakan sebelumnya yang sedang dibungkam. Pada tahun-tahun itu, artinya sudah tiga tahun Sukarno dibuang ke Ende, dan Hatta dan Sjahrir juga sudah dibungkam nun jauh di Boven Digoel.

Tapi, pada tahun itu juga IM pun dibungkam! Pengurus-pengurusnya ditangkap. Soekarni sendiri dengan kelicinannya, berhasil meloloskan diri dari PID. Dan sejak itu sosoknya menghilang dari kancah pergerakan nasional di Jawa. Menghilang dari sekolah Perguruan Rakyat yang hanya sempat satu tahun ia tempuh. Ia hidup berpindah tempat, juga berganti-ganti identitas.   Pernah menyamar menjadi perempuan, lalu menjadi pedagang tembakau keliling, dan setelah singgah di Surabaya dan menyerahkan kepemimpinan kepada Roeslan Abdoelgani, ia menumpang kapal phinisi menyeberang ke Kalimantan, menjadi penjual es dan pedagang soto di Banjarmasin, lalu ia menghilang lagi ke Murungpudak dan bekerja sebagai kuli di Bataafsche Petroleum Maatschaapij (BPM). Ia berpindah lagi ke Sanga-sanga di mana ia bekerja sebagai jongos di rumah Terreinchef BPM, lalu ke Balikpapan dan bekerja sebagai kuli ukur alias opnemer pada Topografische Dienst BPM.

Sejauh itu, pelariannya sesungguhnya tak terlalu menyulitkan dirinya. Identitasnya pun tak terendus. Karirnya sebagai pekerja – meskipun dengan identitas diri yang disembunyikan – menanjak karena baru kemudian dia mengaku bisa baca tulis, tetapi justru karena itu pula maka kedoknya terungkap. Ia ditugaskan di daerah sekitar Sanga-sanga, Kutai Lama, Muara Badak, Sangatta, Bontang, mengikut sebuah tim pengukuran dan eksplorasi minyak. Tak banyak orang yang cakap bekerja, dan pandai baca tulis. Latar belakang dirinya mulai diselidiki oleh perusahaan Belanda itu. Tahun 1940, polisi PID dari Batavia terbang ke Balikpapan untuk menangkap Soekarni. Ia dibawa kembali ke Jawa dan menjadi penghuni tahanan di Seksi III Kepolisian Passer Baroe, Batavia. | Hasan Aspahani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s